Share

Bab 7 Demam

Author: Jiriana
last update publish date: 2026-05-26 17:57:51

Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya.

"Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan."

Setelah Raka pergi, Bi Rum menghampiri Kiran dengan wajah iba. Ketika melihat wajah pucatnya, Bi Rum langsung bertanya dengan lembut, "Non Kiran, sakit?"

Kiran menggeleng. "Tidak, Bi."

Merasa ragu dengan jawaban Kiran, Bi Rum menempelkan tangan di dahinya. Matanya membelalak ketika merasakan suhu di tubuh Kiran sangat panas. "Non Kiran, demam. Biar Bibi bilang sama Den Raka dulu."

Ketika Bi Rum akan pergi, Kiran menahan lengannya. "Jangan, Bi. Kiran cuma demam biasa. Nanti juga sembuh habis minum obat."

Dengan hati-hati, Kiran turun dari ranjang dibantu oleh Bi Rum. "Kiran mandi dulu, Bi."

Setelah selesai mandi, Kiran pergi ke ruangan makan, di mana Raka sedang berada.

"Bi Rum, hari ini biar Kiran yang mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini," ucap Raka setelah selesai sarapan.

"Lalu, bagaimana dengan saya, Den?"

"Bi Rum cukup mengawasi pekerjaannya aja."

Bi Rum melirik sekilas pada Kiran dengan tatapan mengiba, kemudian berkata, "Tapi Den, Non Kiran sedang ..."

"Jangan membantah, Bi. Turuti apa yang saya bilang tadi."

"Baik, Den."

"Saya berangkat ke kantor dulu."

Setelah itu, Raka berdiri dan pergi dari sana tanpa mengatakan apa pun pada Kiran yang sejak tadi hanya diam.

"Bi, apa yang harus saya kerjakan lebih dulu?" tanya Kiran.

"Nanti aja, Non. Mendingan Non sarapan dulu."

Melihat mata sendu dan wajah pucat Kiran, Bi Rum menjadi semakin iba.

"Panggil Kiran aja, Bi. Saya bukan tamu atau majikan di sini, saya sama seperti Bi Rum."

"Bibi panggil Nak Kiran aja, ya?"

Kiran tersenyum tipis, kemudian mengangguk.

"Kenapa tadi Nak Kiran tidak bilang sama Den Raka kalau lagi sakit?"

Tadinya, Bi Rum ingin mengatakan itu pada Raka, tapi sudah dipotong lebih dulu oleh majikannya.

"Kiran tidak apa-apa, Bi. Habis ini Kiran mau minum obat biar cepet sembuh."

Mungkin karena semalam dia tidak minum obat pereda nyeri, jadi Kiran mengalami demam akibat menahan sakit pada punggungnya yang sempat terkena pukulan dan cidera di pergelangan kakinya.

"Kalau begitu, sarapan dulu, Nak Kiran. Nanti baru mulai kerja."

Bi Rum mengajak Kiran untuk pergi ke dapur. Di meja dapur, Kiran makan sendirian karena Bi Rum sudah sarapan lebih dulu. Selesai makan, Kiran pergi ke kamar untuk meminum obat. Namun, setelah mencari-carinya di dalam tas, dia tidak menemukan obatnya.

Setelah mengingat-ingat kembali, ternyata dia baru sadar kalau obatnya terjatuh di parkiran ketika Raka memaksanya masuk ke dalam mobil. Karena obatnya tidak ada, Kiran akhirnya keluar kamar dan mulai bekerja.

Meski kepalanya pusing dan badannya masih panas, dia tetap harus bekerja. Jika sampai Raka tahu dia tidak melakukan tugasnya dengan baik, takutnya pria itu akan marah dan akan semakin lama menahannya di sana.

"Nak Kiran, istirahat saja dulu," ucap Bi Rum sambil menatap iba pada Kiran yang baru saja menyeka keringatnya setelah mengepel seluruh lantai 1.

"Nanti aja, Bi. Saya mau bersih-bersih di belakang dulu."

Bi Rum hanya bisa menatap iba pada Kiran yang baru saja berbalik pergi. Ketika melihatnya berjalan dengan kaki pincang, hatinya seketika terenyuh. Sebenarnya, dia ingin sekali membantu Kiran, tapi dia takut Raka akan marah nanti, jadi dia hanya bisa mengawasinya saja.

"Nak Kiran, itu kakinya bengkak, apa tidak sebaiknya diperiksa ke dokter?"

Bi Rum yang baru sama memasuki dapur tampak terkejut ketika melihat pergelangan kaki Kiran yang tampak memerah dan bengkak. Saat ini, Kiran sedang duduk sambil mengompres kakinya yang terasa sangat sakit.

Sejak pagi tadi, sebenarnya Bi Rum ingin bertanya pada Kiran mengenai kakinya saat melihatnya berjalan dengan kaki yang pincang. Namun, karena masih ada Raka, dia terpaksa mengurungkan niatnya.

Bi Rum baru bisa melihat dengan jelas pergelangan kaki Kiran membengkak karena sejak tadi tertutupi oleh celana panjangnya. Tadinya, Bi Rum pikir mungkin kaki Kiran hanya terkilir saja saat melihatnya berjalan pincang, ternyata lebih parah dari itu.

"Tidak perlu, Bi. Nanti Kiran mau beli obat aja di apotik."

Jika harus ke dokter lagi, dia pasti akan mengeluarkan biaya yang mahal lagi. Biaya rumah sakit yang semalam saja belum dia bayar pada Alfan, jadi dia tidak mau menambah pengeluaran yang besar lagi.

"Biar Bibi beliin aja, ya?" tawar Bi Rum.

"Jangan, Bi. Nanti Kiran keluar sendiri."

Disaat mereka sedang mengobrol di dapur siang itu, bel rumah tiba-tiba berbunyi. Dengan segera Bi Rum berjalan ke depan setelah meminta Kiran untuk istirahat.

Ketika membuka pintu, dia melihat majikannya datang bersama dengan anak bungsunya yang perempuan.

"Nyonya," ucap Bi Rum dengan wajah terkejut.

"Pak Hasan bilang Raka bawa perempuan ke sini, apa benar?" tanya Hannah-ibu dari Raka.

Pak Hasan adalah penjaga keamanan di rumah Raka.

"Be-benar, Nyonya."

Raut wajah ibu Raka seketika berubah. "Di mana dia?"

"A-ada di dalam, Nyonya. Silahkan masuk."

Bersambung .....

.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 121

    "Aku ingin menanyakan tentang Kiran. Siapa tau, mereka sudah mendapatkan informasi keberadaannya." Hannah mendekati putranya, lalu berdiri di hadapannya. "Kamu sedang demam, wajahmu juga pucat sekali. Lebih baik hari ini istirahat di rumah, nanti saja setelah sehat baru ke sana." "Tidak bisa, Ma. Aku harus ke sana hari ini." "Raka, kamu ke sana pun, belum tentu mendapatkan informasi tentang Kiran. Lebih baik telpon saja daripada ke sana." "Aku ingin bertanya langsung pada mereka." Melihat sika keras kepala putranya, Hannah menjadi kesal. "Raka, apa kamu tidak sayang dengan badanmu sendiri? Setidaknya, pikirkan dirimu dulu sebelum memikirkan orang lain." Raka yang baru selesai mengancingkan bajunya, akhirnya menatap sang ibu. "Aku tidak apa-apa, Ma. Hanya sedikit lelah saja." "Lelah katamu," seru Hannah marah. "Kamu pikir, Mama tidak tahu, setelah Kiran pergi, kamu sering minum-minum di bar dan selalu pulang dini hari sampai kamu pernah tidak sadarkan diri karena minuman."

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 120

    "Akhirnya kamu pulang juga, Sayang," ucap Raka sambil memeluk Sofia. "Aku sangat merindukanmu. Jangan pergi lagi." "Raka, aku bukan Kiran, kamu salah orang," seru Sofia sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Raka. "Cepat lepaskan aku." "Aku tidak mau," tolak Raka. "Kamu pasti akan pergi lagi jika aku lepaskan," katanya sambil memeluk sofia erat. Merasa kesulitan untuk bernapas, Sofia akhirnya tidak bergerak lagi. "Raka, tolong lepaskan aku." Raka mengabaikan ucapan Sofia dan tetap memeluknya erat. "Kamu cuma salah paham, Sayang. Aku tidak pernah berniat menceraikanmu. Tolong maafkan aku." "Raka, kamu mabuk." Merasa semakin sesak, Sofia akhirnya memberontak. Raka yang takut Kiran pergi lagi, secara tiba-tiba mengubah posisi keduanya hingga dia berada di atas Sofia. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi," kata Raka dengan mata memerah sambil menahan kedua tangan Sofia di sisi kanan dan kiri. "Aku akan membuatmu mengandung anakku agar kau tidak bisa meninggalkanku." Melihat Rak

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 119

    Raka mematikan rokok di tangannya, kemudian menegak minuman berwarna coklat di hadapannya. "Dia hanya salah paham padaku.""Itulah bodohnya kau. Seharusnya kau langsung menjelaskan pada Kiran setelah menelponnya agar dia tidak salah paham padamu.""Aku bermaksud menjelaskannya secara langsung setelah selesai mengurus semuanya, tapi ....""Tapi ternyata dia justru mengambil kesempatan itu untuk meninggalkanmu dan pergi dengan pria lain," potong Gery sambil tersenyum. "Kau terlalu percaya diri Raka. Kau pikir Kiran pasti tidak akan berani meninggalkanmu setelah kau bilang ingin memulai awal lagi dengannya."Raka hanya diam dengan pandangan lurus ke depan sambil memainkan gelas yang ada di tangan kanannya."Kiran pasti berpikir kau hanya mempermainkannya, makanya dia memilih pergi," ujar Gery. "Tapi, aku mendukung keputusan Kiran pergi meninggalkanmu. Lebih baik dia bersama dengan pria itu daripada dengan pria sepertimu."Raka meletakkan gelasnya dengan kasar di meja, lalu menatap Gery d

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 118

    "Bagaimana?" tanya Raka setelah melihat Doni memasuki ruangan kerjanya. "Sudah tahu ke negara mana istriku pergi?""Belum, Pak."Wajah Raka yang memang sudah lesu, semakin lesu setelah mendengar itu. Bagaimana tidak lesu, semenjak sang istri menghilang 5 hari yang lalu, Raka tidak pernah bisa tidur nyenyak. Setiap hari dia hanya tidur selama kurang lebih 3 jam. Pikirannya terus tertuju pada sang istri.Selama 5 hari itu, Raka memang tetap bekerja setiap hari, tapi tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa dia kerjakan dengan benar sampai dimarahi oleh sang ayah. Pada akhirnya, karena tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, Raka meminta sekretarisnya untuk membantunya memeriksa pekerjaannya."Pak, sepertinya Bu Kiran sudah mengganti nomor ponselnya, makanya tidak bisa dilacak lagi."Raka terdiam dengan alis mengerut. Matanya yang setajam elang menatap lurus ke depan seperti sedang mengintai mangsanya. "Mungkin dia tidak mau ditemukan olehku."Bukan mungkin lagi, tapi Kiran memang tid

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 117

    Tubuh Raka mendadak lemas. Jantungnya yang semula berdebar kencang, seolah berhenti saat itu juga. Dia langsung berpegangan pada tempok ketika tubuhnya hampir saja kehilangan keseimbangan. "Ma, Kiran mau pergi ke mana?" tanya Raka setelah berhasil menghilangkan keterkejutannya "Maaf, Mama tidak bisa memberitahumu," jawab Yulia lirih. "Kiran bilang kamu tidak perlu mencarinya lagi untuk masalah perceraian. Semuanya dia serahkan padamu. Dia juga tidak akan datang saat persidangan nanti. Kamu bisa menghubungi Mama setelah akta cerainya keluar." Kedua tangan Raka mengepal kuat hingga urat-urat di lengannya tampak menonjol. "Ma, aku tidak pernah berniat menceraikan Kiran. Dia hanya salah paham. Aku akan menjelaskan langsung padanya, jadi tolong beritahu aku ke mana dia pergi." Yulia terdiam dengan wajah bingung. Dia meremas kedua tangannya sembari berpikir, apakah dia akan memberitahu Raka atau tidak. Di satu sisi, dia ingin memberitahu di mana keberadaan putrinya agar keduanya bisa m

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 116

    Usai berbicara dengan sang ayah, Raka mengajak Doni untuk pergi ke kantor polisi untuk membuka kasus kecelakaan 4 tahun lalu. Pengacara Raka sendiri sudah tiba lebih dulu di sana. Setelah urusan di sana selesai, Raka mengajak Doni pergi ke mall. "Menurutmu, cincin mana yang cocok untuk istriku?" tanya Raka pada Doni setelah mereka berada di dalam toko perhiasan. "Saya kurang mengerti mengenai cincin yang disukai wanita, Pak," kata Doni dengan jujur. Karena merasa bingung, Raka pun meminta rekomendasi kepada pegawainya. "Ini model cincin yang tidak pasaran dan hanya ada satu di toko kami." Raka menatap cincin berlian di depannya sejenak, kemudian berkata, "Baik. Saya pilih yang ini." Kebetulan ukurannya cocok dengan jari Kiran, jadi Raka mengambil cincin itu. Kenapa Raka bisa tahu ukuran cincin wanita itu, karena sebelumnya dia pernah bertanya sebelum kembali ke Jakarta. Setelah selesai membeli cincin, Raka meminta diantar pulang oleh Doni, dia ingin berbicara dengan sang ibu men

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 6 Tinggal Serumah

    "Ini rumah siapa?"Kiran menatap rumah besar di depannya dengan heran setelah turun dari mobil Raka."Rumahku." Tanpa melirik pada Kiran, Raka berjalan melewatinya dengan acuh tak acuh.Kiran yang tidak tahu alasan Raka membawanya ke sana, akhirnya bertanya, "Kenapa aku dibawa ke sini?"Raka menghe

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 5 Dibawa Pergi

    "Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit.

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 4 Mengalami Cidera

    "Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya."Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menol

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 3 Bertemu Preman

    WARNING ....!!!!!Adegan kekerasan di bab ini TIDAK PATUT DICONTOH dan TIDAK BOLEH DITIRU. Khusus untuk usia 21+, usia di bawah itu, harap SKIP. Terima kasih.==================================="Kenapa saya harus pindah, Pak?" protes Kiran pada pria berumur sekitar 50 tahun yang sedang berada di h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status