ANMELDENKiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya.
"Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan." Setelah Raka pergi, Bi Rum menghampiri Kiran dengan wajah iba. Ketika melihat wajah pucatnya, Bi Rum langsung bertanya dengan lembut, "Non Kiran, sakit?" Kiran menggeleng. "Tidak, Bi." Merasa ragu dengan jawaban Kiran, Bi Rum menempelkan tangan di dahinya. Matanya membelalak ketika merasakan suhu di tubuh Kiran sangat panas. "Non Kiran, demam. Biar Bibi bilang sama Den Raka dulu." Ketika Bi Rum akan pergi, Kiran menahan lengannya. "Jangan, Bi. Kiran cuma demam biasa. Nanti juga sembuh habis minum obat." Dengan hati-hati, Kiran turun dari ranjang dibantu oleh Bi Rum. "Kiran mandi dulu, Bi." Setelah selesai mandi, Kiran pergi ke ruangan makan, di mana Raka sedang berada. "Bi Rum, hari ini biar Kiran yang mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini," ucap Raka setelah selesai sarapan. "Lalu, bagaimana dengan saya, Den?" "Bi Rum cukup mengawasi pekerjaannya aja." Bi Rum melirik sekilas pada Kiran dengan tatapan mengiba, kemudian berkata, "Tapi Den, Non Kiran sedang ..." "Jangan membantah, Bi. Turuti apa yang saya bilang tadi." "Baik, Den." "Saya berangkat ke kantor dulu." Setelah itu, Raka berdiri dan pergi dari sana tanpa mengatakan apa pun pada Kiran yang sejak tadi hanya diam. "Bi, apa yang harus saya kerjakan lebih dulu?" tanya Kiran. "Nanti aja, Non. Mendingan Non sarapan dulu." Melihat mata sendu dan wajah pucat Kiran, Bi Rum menjadi semakin iba. "Panggil Kiran aja, Bi. Saya bukan tamu atau majikan di sini, saya sama seperti Bi Rum." "Bibi panggil Nak Kiran aja, ya?" Kiran tersenyum tipis, kemudian mengangguk. "Kenapa tadi Nak Kiran tidak bilang sama Den Raka kalau lagi sakit?" Tadinya, Bi Rum ingin mengatakan itu pada Raka, tapi sudah dipotong lebih dulu oleh majikannya. "Kiran tidak apa-apa, Bi. Habis ini Kiran mau minum obat biar cepet sembuh." Mungkin karena semalam dia tidak minum obat pereda nyeri, jadi Kiran mengalami demam akibat menahan sakit pada punggungnya yang sempat terkena pukulan dan cidera di pergelangan kakinya. "Kalau begitu, sarapan dulu, Nak Kiran. Nanti baru mulai kerja." Bi Rum mengajak Kiran untuk pergi ke dapur. Di meja dapur, Kiran makan sendirian karena Bi Rum sudah sarapan lebih dulu. Selesai makan, Kiran pergi ke kamar untuk meminum obat. Namun, setelah mencari-carinya di dalam tas, dia tidak menemukan obatnya. Setelah mengingat-ingat kembali, ternyata dia baru sadar kalau obatnya terjatuh di parkiran ketika Raka memaksanya masuk ke dalam mobil. Karena obatnya tidak ada, Kiran akhirnya keluar kamar dan mulai bekerja. Meski kepalanya pusing dan badannya masih panas, dia tetap harus bekerja. Jika sampai Raka tahu dia tidak melakukan tugasnya dengan baik, takutnya pria itu akan marah dan akan semakin lama menahannya di sana. "Nak Kiran, istirahat saja dulu," ucap Bi Rum sambil menatap iba pada Kiran yang baru saja menyeka keringatnya setelah mengepel seluruh lantai 1. "Nanti aja, Bi. Saya mau bersih-bersih di belakang dulu." Bi Rum hanya bisa menatap iba pada Kiran yang baru saja berbalik pergi. Ketika melihatnya berjalan dengan kaki pincang, hatinya seketika terenyuh. Sebenarnya, dia ingin sekali membantu Kiran, tapi dia takut Raka akan marah nanti, jadi dia hanya bisa mengawasinya saja. "Nak Kiran, itu kakinya bengkak, apa tidak sebaiknya diperiksa ke dokter?" Bi Rum yang baru sama memasuki dapur tampak terkejut ketika melihat pergelangan kaki Kiran yang tampak memerah dan bengkak. Saat ini, Kiran sedang duduk sambil mengompres kakinya yang terasa sangat sakit. Sejak pagi tadi, sebenarnya Bi Rum ingin bertanya pada Kiran mengenai kakinya saat melihatnya berjalan dengan kaki yang pincang. Namun, karena masih ada Raka, dia terpaksa mengurungkan niatnya. Bi Rum baru bisa melihat dengan jelas pergelangan kaki Kiran membengkak karena sejak tadi tertutupi oleh celana panjangnya. Tadinya, Bi Rum pikir mungkin kaki Kiran hanya terkilir saja saat melihatnya berjalan pincang, ternyata lebih parah dari itu. "Tidak perlu, Bi. Nanti Kiran mau beli obat aja di apotik." Jika harus ke dokter lagi, dia pasti akan mengeluarkan biaya yang mahal lagi. Biaya rumah sakit yang semalam saja belum dia bayar pada Alfan, jadi dia tidak mau menambah pengeluaran yang besar lagi. "Biar Bibi beliin aja, ya?" tawar Bi Rum. "Jangan, Bi. Nanti Kiran keluar sendiri." Disaat mereka sedang mengobrol di dapur siang itu, bel rumah tiba-tiba berbunyi. Dengan segera Bi Rum berjalan ke depan setelah meminta Kiran untuk istirahat. Ketika membuka pintu, dia melihat majikannya datang bersama dengan anak bungsunya yang perempuan. "Nyonya," ucap Bi Rum dengan wajah terkejut. "Pak Hasan bilang Raka bawa perempuan ke sini, apa benar?" tanya Hannah-ibu dari Raka. Pak Hasan adalah penjaga keamanan di rumah Raka. "Be-benar, Nyonya." Raut wajah ibu Raka seketika berubah. "Di mana dia?" "A-ada di dalam, Nyonya. Silahkan masuk." Bersambung ..... .“Raka, apa maksudmu membawa Kiran ke rumahmu?”Raka mengangkat kepala dengan malas begitu tahu kalau ibu dan adiknya yang masuk ke ruangannya. “Tidak bisakah Mama mengetuk pintu dulu?” Setelah mengatakan itu, dia kembali menatap dokumen di depannya, mengabaikan ibunya yang sedang berjalan mendekati meja kerjanya.“Raka, Mama sedang tidak ingin berbasa-basi. Kenapa kau membawa Kiran ke rumahmu?”“Benar, Kak. Untuk apa Kakak menampung si pembunuh itu. Dia—"Vania langsung mengatupkan bibirnya dengan rapat setelah mendapatkan tatapan tajam dari ibu dan kakaknya.“Mama baru pulang dari rumahmu dan bertemu Kiran di sana. Dia bilang, kau sengaja menahan dan menjadikannya pembantu di sana.”Raka akhirnya menutup dokumen di tangannya, kemudian menatap sang ibu dengan malas. “Aku hanya memberikan pekerjaan dan tempat tinggal padanya. Tidak ada yang salah dengan itu.”“Raka, jangan pikir Mama tidak tahu apa yang ada di pikiranmu. Kau tidak mungkin sebaik itu terhadap orang yang sudah menyebabka
Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya."Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan."Setelah Raka pergi, Bi Rum menghampiri Kiran dengan wajah iba. Ketika melihat wajah pucatnya, Bi Rum langsung bertanya dengan lembut, "Non Kiran, sakit?"Kiran menggeleng. "Tidak, Bi."Merasa ragu dengan jawaban Kiran, Bi Rum menempelkan tangan di dahinya. Matanya membelalak ketika merasakan suhu di tubuh Kiran sangat panas. "Non Kiran, demam. Biar Bibi bilang sama Den Raka dulu."Ketika Bi Rum akan pergi, Kiran menahan lengannya. "Jangan, Bi. Kiran cuma demam biasa. Nanti juga sembuh habis minum obat."Dengan hati-hati, Kiran turun dari ranjang dibantu oleh Bi Rum. "Kiran mandi dulu, Bi."Setelah selesai mandi, Kiran pergi ke ruangan makan, di mana Raka sedang berada."Bi Rum, hari ini biar Kiran yang mengerjaka
"Ini rumah siapa?"Kiran menatap rumah besar di depannya dengan heran setelah turun dari mobil Raka."Rumahku." Tanpa melirik pada Kiran, Raka berjalan melewatinya dengan acuh tak acuh.Kiran yang tidak tahu alasan Raka membawanya ke sana, akhirnya bertanya, "Kenapa aku dibawa ke sini?"Raka menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Kiran. "Sudah waktunya kamu menebus kesalahanmu."Kiran mematung seketika.Menebus kesalahan? Pria itu ingin aku menebus kesalahan dengan cara apa?"Jangan diam saja. Ikut aku ke dalam.""Aku tidak mau."Kiran tidak mau mengikuti Raka masuk ke dalam rumah pria itu karena dia tidak tahu apa yang akan Raka lakukan padanya nanti. Bagaimana jika pria itu berbuat yang tidak-tidak padanya."Sebaiknya kamu masuk ke dalam selagi aku memintanya baik-baik."Kiran menelan salivanya ketika mendapatkan tatapan tajam dari Raka. Kakinya sampai gemetar karena merasa terintimidasi oleh tatapan pria itu."Aku tidak memiliki kesabaran lebih padamu, jadi cepat ikuti aku," la
"Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit. Meski keluargamu berpengaruh, tapi kau tidak bisa bertindak sesukamu."Dengan raut wajah tidak sabar, Raka berkata, "Diam dan lihat saja apa yang akan kulakukan." Setelah itu Raka melangkah masuk. Namun, suara ponsel di sakunya seketika menghentikan langkahnya. Dia memutar arah dan mengangkat panggilan itu.Sementara itu di dalam ruangan IGD, Kiran kembali duduk di brankar setelah sempat hampir terjatuh akibat tidak bisa menjejakkan kaki dengan baik di lantai."Sebaiknya kamu dirawat semalam di sini. Kamu tidak bisa pulang dalam kondisi kaki yang cidera," saran Alfan."Aku tidak apa-apa. Dokter sudah meresepkan obat, aku hanya perlu meminumnya dan setelah itu akan sembuh.""Cidera di kakimu
"Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya."Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menolongnya?""Tidak bisa," jawab Raka datar. "Biarkan orang lain yang menolongnya."Gery menggeleng lemah, kemudian berkata, "Raka, kau sudah membuatnya kehilangan pekerjaan, kau juga sudah membuatnya diusir dari kontrakannya, apa itu belum cukup untuk memuaskan hatimu?""Itu tidak sebanding dengan apa yang sudah dia lakukan padaku. Dia sudah membuatku kehilangan orang yang aku cintai. Dia menghancurkan kebahagianku."Gery menghela napas panjang dengan wajah frustrasi. "Dia memang salah, tapi dia sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya, memangnya itu belum cukup?""Empat tahun adalah hukuman yang sangat ringan baginya. Ini tidak adil bagi Mia.""Iya, aku tahu, tapi dia juga sudah kehilangan
WARNING ....!!!!!Adegan kekerasan di bab ini TIDAK PATUT DICONTOH dan TIDAK BOLEH DITIRU. Khusus untuk usia 21+, usia di bawah itu, harap SKIP. Terima kasih.==================================="Kenapa saya harus pindah, Pak?" protes Kiran pada pria berumur sekitar 50 tahun yang sedang berada di hadapannya.Ternyata, orang yang sudah menunggu Kiran di depan kamar adalah pemilik kontrakannya."Kamar ini udah ada yang nyewa, jadi kamu harus segera pindah.""Tapi saya sudah bayar selama sebulan, Pak."Bapak pemilik kontrakan itu merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan uang dari sana. "Ini saya kembalikan uang sewa kamu. Masih utuh, saya minta kamu harus pindah malam ini juga."Kiran menatap uang yang disodorkan padanya sebentar, kemudian menatap kembali sang pemilik kontrakan. "Apa boleh saya tinggal semalam lagi di sini, Pak? Saya janji akan pindah besok pagi.""Tidak bisa. Saya harus membersihkan tempat ini sekarang, besok pagi-pagi sekali orang yang menyewa kamar ini mau datang.""Tap







