LOGIN"Kalau begitu, jangan pernah berani memperlakukanku seperti itu lagi." Kiran menunduk, kemudian berkata dengan lirih, "Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi." Melihat wajah menyesal Kiran, raut wajah Raka perlahan melembut. "Kemari." Dengan patuh, Kiran mendekati Raka. Ketika sudah berada tepat di depannya, tiba-tiba saja tangannya ditarik hingga dia terduduk di pangkuan pria itu. Tatapan keduanya bertemu. Refleks Kiran memegang kedua bahu Raka saat pinggangnya ditarik mendekat oleh pria itu. Selama beberapa saat, mereka saling menatap dengan lekat hingga akhirnya Kiran menunduk karena tidak tahan terus ditatapan oleh Raka. "Besok langsung kembalikan uang pria itu," titah Raka. "Gunakan kartu yang aku berikan padamu untuk membayar utangmu." "Iya," jawab Kiran lirih. Karena terus menunduk, Raka akhirnya mencubit pelan dagu Kiran, kemudian mengangkatnya. "Jangan terlalu dekatnya, aku tidak suka." "Kami hanya teman." "Meski begitu, aku tetap tidak suka." Kiran te
"Raka, aku ingin mengembalikan sesuatu padamu." Raka sedang duduk bersandar tanpa mengenakan baju, seketika mendongak ketika mendengar ucapan sang istri. "Mengembalikan apa?" tanyanya setelah Kiran berdiri di sisi kanan depannya. Waktu menunjukkan pukul 10 malam ketika Kiran memasuki kamar. "Ini," ucap Kiran sambil menyodorkan kartu pada Raka. "Kenapa kamu memberikan kartu ini padaku?" tanya Raka lagi tanpa meraih kartu itu. "Kamu masih marah karena foto tadi?" Sebelum Kiran sempat menjawab, Raka sudah menunjukkan layar ponselnya pada Kiran. "Lihat, aku sudah mengganti wallpaper ponselku." Ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya usai melihat foto dirinya dijadikan wallpaper oleh Raka. Tidak bisa dipungkiri kalau dia merasa senang karena Raka sudah mengganti wallpapernya dengan foto dirinya. "Kita tidak memiliki foto berdua semenjak menikah, jadi aku pakai fotomu saja." Kiran termenung sambil menatap foto dirinya. 'Dari mana pria itu mendapatkan foto dirinya saat remaja?
"Ayo, Raka masuk," ucap Ibu Kiran setelah membuka pintu rumahnya. "Iya, Ma." Raka membiarkan ayah Kiran mendorong kursi roda ayahnya, baru mengikuti dari belakang. "Maaf, ya kalau rumahnya berantakan, Mama belum sempat membereskan." "Tidak apa-apa, Ma." Ayah Kiran langsung dibawa ke kamar oleh Kiran untuk beristirahat, sementara Raka duduk di ruangan keluarga. "Kamu bersihkan kamar tamu dulu, lalu bawa suamimu untuk istirahat. Dia pasti lelah," ucap Yulia setelah memasuki kamar. "Jangan lupa buatkan makanan," tambahnya lagi sebelum sang putri keluar dari kamar. "Iya, Ma." Sebelum membereskan kamar yang akan ditempati mereka berdua, Kiran terlebih dahulu membuatkan kopi untuk Raka dan membawakannya camilan. "Kamu tunggu di sini, aku mau membereskan kamar dulu." Raka hanya mengangguk. Setelah Kiran pergi, pria itu mengeluarkan ponselnya
Setelah tiba di hotel, Raka langsung pergi ke restoran, di sana masih ada Glen yang duduk di mejanya."Aku akan langsung pada intinya. Jauhi istriku, aku tidak suka kau menempel terus padanya."Meski Raka berbicara dengan wajah tidak ramah, tapi Glen tetap tersenyum tipis. "Setahuku, kamu menikahinya bukan karena cinta, kan?"Kemarin pagi, Glen pergi menemui orang tua Kiran dan bertanya mengenai Raka. Dari sanalah mendapatkan semua informasi mengenai kehidupan Kiran, termasuk pernikahannya dengan pria itu."Itu bukan urusanmu.""Masalah Kiran menabrak calon istrimu, aku percaya bukan dia pelakunya. Akan kucarikan bukti untuk membuktikan kalau dia tidak bersalah, tapi setelah itu kamu harus melepasnya."Ketika mendengar itu, Raka berdecih dengan senyuman mengejek. "Atas dasar apa kamu memintaku untuk melepasnya? Dia istriku, sekalipun aku sudah tidak menginginkannya, aku tetap tidak akan membiarkannya dimiliki orang lain.""Kamu tidak mencintainya, kenapa tidak mau melepasnya?""Kata s
Gerah karena pagi-pagi sudah membahas Glen. Kiran sebenarnya ingin keluar kamar mandi dan membiarkan Raka mandi lebih dulu, tapi karena dia tidak memiliki tenaga untuk berjalan, akhirnya dia memilih untuk masuk ke bathtub dan membiarkan Raka mandi di bilik kaca. Setelah jam kemudian, keduanya selesai memakai baju. Saat melihat Kiran mengenakan dress baru, Raka mengernyit. Seingatnya, Kiran tidak pernah menggunakan kartu kreditnya untuk membeli sesuatu, juga tidak ada laporan uang keluar dari kartu debit yang dipegang wanita itu. "Dari mana kamu dapatkan baju itu?" Kiran yang sedang duduk di tepi ranjang, menunduk sejenak, kemudian menjawab dengan jujur, "Dari Glen. Dia yang membelikanku." "Lepas," titahnya dengan wajah tidak senang. "Tapi aku tidak memiliki baju lagi." Baju lainnya masih di laundry, belum sempat dia ambil, jadi yang tersisa hanya baju yang dibelik
"Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku tadi," ucap Raka sambil menatap wajah lelap Kiran. "Aku tidak suka melihatmu bersamanya. Aku ..." Raka menjeda ucapannya sejenak, kemudian berkata, "Aku cemburu. Aku cemburu melihatmu sangat akrab dengannya." Akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulut Raka, tapi sayangnya Kiran tidak mendengarnya karena wanita itu sudah tertidur setelah digempur habis-habisan oleh pria itu. "Mungkin kamu menganggapku aneh, tapi aku tidak suka kau dekat dengan laki-laki lain." Setelah mengatakan itu, Raka menarik Kiran dalam pelukannya. "Seandainya kamu memang terbukti tidak bersalah, aku tetap tidak akan membiarkanmu pergi. Jika nanti sudah tidak ada alasan lagi bagiku untuk menahanmu, maka akan kuciptakan sejuta alasan untuk menahanmu di sisiku." Raka menatap wajah Kiran sejenak, lalu memberikan kecupan singkat di kening Kiran, Raka memejamkan mata. Kiran yang sejak tadi berada dalam dekapan Raka, tampak membenamkan wajahnya di dada pria itu dengan m
“Kiran Avriyadi, beritahu aku, bagaimana kehidupanmu selama di penjara?” Pria bernama Raka itu meraih dagu Kiran, lalu berkata penuh penekanan, “Baik atau buruk?”Ketika melihat seringai jahat pria itu, kaki Kiran mendadak gemetar dan lemas. Saking lemasnya sampai dia tidak bisa berkata-kata lagi.
"Maaf, kami tidak bisa mempekerjakan mantan napi di sini," ucap Pria berumur 55 tahun yang sedang duduk di depan Kiran. “Saya bisa melakukan pekerjaan apa saja, Pak. Cleaning service juga boleh,” balas Kiran meyakinkan. Pria itu menggeleng dengan pelan. "Kami tetap tidak bisa menerimamu. Catatan
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Raka menantang Alfan dengan wajah arogan. "Maka, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini dengan membawanya," jawab Alfan tak kalah arogan. Kiran menjadi panik sekaligus bingung ketika melihat ketegangan di antara keduanya. Dia ing
Melihat dia akan terjatuh ke bawah, Kiran berusaha menggapai pegangan di pinggir tangga. Namun, gagal karena tangannya licin. Sebelum Kiran sempat terjungkal di anak tangga pertama, Stevi dengan cepat maju dan menarik tangan Kiran dan menukar posisinya menjadi terbalik. "Kiran, tolong aku." Ki







