ログイン
"Maaf, kami tidak bisa mempekerjakan mantan napi di sini," ucap Pria berumur 55 tahun yang sedang duduk di depan Kiran.
“Saya bisa melakukan pekerjaan apa saja, Pak. Cleaning service juga boleh,” balas Kiran meyakinkan. Pria itu menggeleng dengan pelan. "Kami tetap tidak bisa menerimamu. Catatan hitammu akan merusak reputasi perusahaan kami nanti.” Raut wajah Kiran seketika berubah menjadi sendu. “Baik, Pak. Terima kasih.” Setelah keluar dari kantor itu, Kiran menengadah ke atas, menatap nama gedung yang baru saja dia masuki. Dia mengangkat tangan kanannya untuk menghalau sinar matahari yang menerpa wajahnya. Ini adalah kantor kelima yang dia datangi hari ini untuk melamar pekerjaan, dan untuk kesekian kalinya dia mendapatkan penolakan seperti kantor sebelumnya. Alasan utama penolakan itu adalah karena Kiran pernah mendekam di penjara. Tepatnya seminggu yang lalu, dia baru saja bebas dari penjara setelah menjalani hukuman selama 4 tahun. Hukuman itu lebih ringan dari tuntutan jaksa, mengingat ada beberapa pertimbangan yang meringankan hukuman Kiran. “Aku harus melamar ke mana lagi,” gumam Kiran dengan wajah lesu. Hampir semua tempat yang tidak jauh dari kontrakannya sudah dia datangi, tapi tidak ada satu pun yang mau mempekerjakannya. “Nanti aku cari di internet deh, siapa tau ada lowongan yang cocok untukku." Sebelum pulang, Kiran memutuskan untuk mencari warung makan yang tidak jauh dari sana. Sudah seharian ini dia berkeliling mencari pekerjaan, tapi dia belum makan nasi sama sekali. Hanya roti saja yang dia makan pagi tadi untuk mengganjal perutnya. Setelah membeli nasi bungkus, dia menyeret kakinya yang pincang menuju halte angkutan umum. Sambil melangkah, Kiran mencari-cari lowongan pekerjaan di salah satu situs terkenal melalui ponselnya. "Sepertinya ini cocok untukku, syarat juga tidak terlalu sulit." Tepat setelah mengatakan itu, bahunya menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah, hingga membuat ponsel dan nasi bungkus yang dia pegang terjatuh. “Kamu buta, ya!” hardik wanita yang memakai setelan kantor yang tadi bertabrakan dengan Kiran. “Maaf. Saya tidak sengaja.” Merasa tidak puas dengan permintaan maaf Kiran, wanita itu kembali berkata dengan nada marah, “Makanya, kalau jalan itu pake mata! Lihat, bajuku jadi kotor karena kamu.” Kiran menatap kemeja kerja wanita yang terkena noda minuman yang tadi dia pegang, kemudian kembali beralih pada wanita itu. "Maaf, saya ..." Ketika berniat membersihkannya, wanita justru mendorong Kiran dengan kasar, hingga membuatnya terjatuh dengan posisi duduk setelah kehilangan keseimbangan akibat kakinya pincang. “Jangan pegang-pegang! Aku tidak sudi dipegang sama orang miskin seperti kamu.” Setelah mengatakan itu, wanita itu melangkah pergi dengan ekspresi jijik, tidak lupa dia menendang nasi bungkus yang tadi dibeli oleh Kiran, hingga bergeser sejauh beberapa meter. Melihat wanita itu sudah menjauh, Kiran akhirnya berdiri dengan susah payah. Setelah membersihkan bajunya, dia melangkah dengan kaki pincang dan memungut ponsel juga nasi bungkus yang tadi tendang oleh wanita itu. Meski bentuknya sudah tidak utuh, tapi nasi itu masih bisa dimakan, jadi dia memutuskan untuk mengambilnya kembali. Lagi pula, uangnya tersisa sedikit, jadi dia harus berhemat demi kelangsungan hidupnya ke depan, apalagi dia belum mendapatkan pekerjaan semenjak bebas dari penjara. Tiba di kontrakan yang berada di perkampungan kumuh, Kiran langsung merebahkan diri karena merasa lelah setelah berjalan cukup jauh dari jalan raya menuju kontrakannya. Setelah berisitirahat selama satu jam, Kiran akhirnya bangun dari tidurnya, kemudian membuka bungkus nasi yang tadi dia beli. Beruntung isi di dalamnya tidak kotor, jadi dia masih bisa memakannya. Ketika melihat lauk hanya 1 tempe goreng dan sambal, tiba-tiba saja sorot matanya meredup. Dulu, dia tidak pernah kesulitan hanya untuk makan. Apa pun yang dia inginkan, bisa dia beli dengan mudah, sangat jauh berbeda dengan sekarang. Demi bisa bertahan hidup, dia itu terpaksa makan dengan laut seadanya. Bahkan, wanita berusia 29 tahun itu pernah makan hanya dengan nasi dan kerupuk selama 3 hari setelah keluar dari penjara karena tidak memiliki uang. Jika bukan karena menjual cincin miliknya, dia tidak mungkin memiliki uang untuk menyewa kontrakan dan juga untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Ketika sedang merenungi nasibnya, ponsel Kiran tiba-tiba berbunyi, dengan segera dia menjawab panggilan tersebut. “Baik, Kak. Aku akan datang ke sana besok. Terima kasih banyak, Kak.” Setelah panggilan terputus, Kiran menggenggam ponsel bututnya dengan senyuman bahagia. Baru saja kenalan lamanya memberitahukan kalau ada pekerjaan untuknya. ======== “Kiran, antarkan minuman ke ruangan VIP 101,” perintah Reno-supervisor di bar tersebut. “Baik, Pak.” Kiran melangkah menuju ruangan khusus VIP 101 setelah mengambil pesanan orang yang berada di ruangan tersebut. Sudah seminggu Kiran bekerja di salah satu bar yang berada di tengah kota. Pekerjaan yang dimaksud oleh kenalan lamanya adalah menjadi waitress di bar. Sebenarnya, tidak pernah terpikirkan dalam hidupnya kalau dia akan bekerja di bar, tapi dengan kondisinya yang sulit seperti sekarang, mau tidak mau dia harus menerimanya. Sebelum memasuki ruangan di depannya, Kiran menarik napas panjang, lalu mendorong pintu ruangan itu, kemudian masuk ke dalam sambil menundukkan kepala. “Ini pesanan Anda, Tuan,” ucap Kiran setelah meletakkan minuman di atas meja. “Apa masih ada yang bisa saya bantu?” Ketika Kiran mengangkat kepala, matanya langsung bertabrakan dengan mata pria yang sedang duduk di sofa melingkar. Tubuhnya seketika membeku ketika melihat tatapan pria itu. Mata segelap obsidian itu adalah mata yang pernah menatapnya penuh kebencian 4 tahun lalu. Pemilik mata itulah yang pernah dia renggut kebahagiaannya secara tidak sengaja, hingga merubah hidup pria itu dan juga hidupnya. “Kenapa diam?” Suara berat pria itu menyadarkan Kiran dari keterkejutannya. “Kaget melihatku di sini?” Bagaimana tidak kaget. Pria itu adalah orang yang selama ini berusaha dia hindari setelah bebas dari penjara. “Ternyata kamu bebas lebih cepat dari dugaanku.” Kiran menelan salivanya ketika melihat pria itu melangkah ke arahnya. Dia perlahan melangkah mundur seiring dengan pria di depannya yang terus berjalan mendekatinya. Ketika tubuhnya membentur tembok di belakang, Kiran sontak menoleh dengan panik dan saat kembali menoleh ke depan, pria itu sudah mengurung tubuhnya menggunakan dua tangan yang bertumpu di tembok. Bersambung...."Aku ingin menanyakan tentang Kiran. Siapa tau, mereka sudah mendapatkan informasi keberadaannya." Hannah mendekati putranya, lalu berdiri di hadapannya. "Kamu sedang demam, wajahmu juga pucat sekali. Lebih baik hari ini istirahat di rumah, nanti saja setelah sehat baru ke sana." "Tidak bisa, Ma. Aku harus ke sana hari ini." "Raka, kamu ke sana pun, belum tentu mendapatkan informasi tentang Kiran. Lebih baik telpon saja daripada ke sana." "Aku ingin bertanya langsung pada mereka." Melihat sika keras kepala putranya, Hannah menjadi kesal. "Raka, apa kamu tidak sayang dengan badanmu sendiri? Setidaknya, pikirkan dirimu dulu sebelum memikirkan orang lain." Raka yang baru selesai mengancingkan bajunya, akhirnya menatap sang ibu. "Aku tidak apa-apa, Ma. Hanya sedikit lelah saja." "Lelah katamu," seru Hannah marah. "Kamu pikir, Mama tidak tahu, setelah Kiran pergi, kamu sering minum-minum di bar dan selalu pulang dini hari sampai kamu pernah tidak sadarkan diri karena minuman."
"Akhirnya kamu pulang juga, Sayang," ucap Raka sambil memeluk Sofia. "Aku sangat merindukanmu. Jangan pergi lagi." "Raka, aku bukan Kiran, kamu salah orang," seru Sofia sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Raka. "Cepat lepaskan aku." "Aku tidak mau," tolak Raka. "Kamu pasti akan pergi lagi jika aku lepaskan," katanya sambil memeluk sofia erat. Merasa kesulitan untuk bernapas, Sofia akhirnya tidak bergerak lagi. "Raka, tolong lepaskan aku." Raka mengabaikan ucapan Sofia dan tetap memeluknya erat. "Kamu cuma salah paham, Sayang. Aku tidak pernah berniat menceraikanmu. Tolong maafkan aku." "Raka, kamu mabuk." Merasa semakin sesak, Sofia akhirnya memberontak. Raka yang takut Kiran pergi lagi, secara tiba-tiba mengubah posisi keduanya hingga dia berada di atas Sofia. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi," kata Raka dengan mata memerah sambil menahan kedua tangan Sofia di sisi kanan dan kiri. "Aku akan membuatmu mengandung anakku agar kau tidak bisa meninggalkanku." Melihat Rak
Raka mematikan rokok di tangannya, kemudian menegak minuman berwarna coklat di hadapannya. "Dia hanya salah paham padaku.""Itulah bodohnya kau. Seharusnya kau langsung menjelaskan pada Kiran setelah menelponnya agar dia tidak salah paham padamu.""Aku bermaksud menjelaskannya secara langsung setelah selesai mengurus semuanya, tapi ....""Tapi ternyata dia justru mengambil kesempatan itu untuk meninggalkanmu dan pergi dengan pria lain," potong Gery sambil tersenyum. "Kau terlalu percaya diri Raka. Kau pikir Kiran pasti tidak akan berani meninggalkanmu setelah kau bilang ingin memulai awal lagi dengannya."Raka hanya diam dengan pandangan lurus ke depan sambil memainkan gelas yang ada di tangan kanannya."Kiran pasti berpikir kau hanya mempermainkannya, makanya dia memilih pergi," ujar Gery. "Tapi, aku mendukung keputusan Kiran pergi meninggalkanmu. Lebih baik dia bersama dengan pria itu daripada dengan pria sepertimu."Raka meletakkan gelasnya dengan kasar di meja, lalu menatap Gery d
"Bagaimana?" tanya Raka setelah melihat Doni memasuki ruangan kerjanya. "Sudah tahu ke negara mana istriku pergi?""Belum, Pak."Wajah Raka yang memang sudah lesu, semakin lesu setelah mendengar itu. Bagaimana tidak lesu, semenjak sang istri menghilang 5 hari yang lalu, Raka tidak pernah bisa tidur nyenyak. Setiap hari dia hanya tidur selama kurang lebih 3 jam. Pikirannya terus tertuju pada sang istri.Selama 5 hari itu, Raka memang tetap bekerja setiap hari, tapi tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa dia kerjakan dengan benar sampai dimarahi oleh sang ayah. Pada akhirnya, karena tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, Raka meminta sekretarisnya untuk membantunya memeriksa pekerjaannya."Pak, sepertinya Bu Kiran sudah mengganti nomor ponselnya, makanya tidak bisa dilacak lagi."Raka terdiam dengan alis mengerut. Matanya yang setajam elang menatap lurus ke depan seperti sedang mengintai mangsanya. "Mungkin dia tidak mau ditemukan olehku."Bukan mungkin lagi, tapi Kiran memang tid
Tubuh Raka mendadak lemas. Jantungnya yang semula berdebar kencang, seolah berhenti saat itu juga. Dia langsung berpegangan pada tempok ketika tubuhnya hampir saja kehilangan keseimbangan. "Ma, Kiran mau pergi ke mana?" tanya Raka setelah berhasil menghilangkan keterkejutannya "Maaf, Mama tidak bisa memberitahumu," jawab Yulia lirih. "Kiran bilang kamu tidak perlu mencarinya lagi untuk masalah perceraian. Semuanya dia serahkan padamu. Dia juga tidak akan datang saat persidangan nanti. Kamu bisa menghubungi Mama setelah akta cerainya keluar." Kedua tangan Raka mengepal kuat hingga urat-urat di lengannya tampak menonjol. "Ma, aku tidak pernah berniat menceraikan Kiran. Dia hanya salah paham. Aku akan menjelaskan langsung padanya, jadi tolong beritahu aku ke mana dia pergi." Yulia terdiam dengan wajah bingung. Dia meremas kedua tangannya sembari berpikir, apakah dia akan memberitahu Raka atau tidak. Di satu sisi, dia ingin memberitahu di mana keberadaan putrinya agar keduanya bisa m
Usai berbicara dengan sang ayah, Raka mengajak Doni untuk pergi ke kantor polisi untuk membuka kasus kecelakaan 4 tahun lalu. Pengacara Raka sendiri sudah tiba lebih dulu di sana. Setelah urusan di sana selesai, Raka mengajak Doni pergi ke mall. "Menurutmu, cincin mana yang cocok untuk istriku?" tanya Raka pada Doni setelah mereka berada di dalam toko perhiasan. "Saya kurang mengerti mengenai cincin yang disukai wanita, Pak," kata Doni dengan jujur. Karena merasa bingung, Raka pun meminta rekomendasi kepada pegawainya. "Ini model cincin yang tidak pasaran dan hanya ada satu di toko kami." Raka menatap cincin berlian di depannya sejenak, kemudian berkata, "Baik. Saya pilih yang ini." Kebetulan ukurannya cocok dengan jari Kiran, jadi Raka mengambil cincin itu. Kenapa Raka bisa tahu ukuran cincin wanita itu, karena sebelumnya dia pernah bertanya sebelum kembali ke Jakarta. Setelah selesai membeli cincin, Raka meminta diantar pulang oleh Doni, dia ingin berbicara dengan sang ibu men
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Raka menantang Alfan dengan wajah arogan. "Maka, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini dengan membawanya," jawab Alfan tak kalah arogan. Kiran menjadi panik sekaligus bingung ketika melihat ketegangan di antara keduanya. Dia ing
Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya. "Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan." Setelah Raka pergi,
"Ini rumah siapa?"Kiran menatap rumah besar di depannya dengan heran setelah turun dari mobil Raka."Rumahku." Tanpa melirik pada Kiran, Raka berjalan melewatinya dengan acuh tak acuh.Kiran yang tidak tahu alasan Raka membawanya ke sana, akhirnya bertanya, "Kenapa aku dibawa ke sini?"Raka menghe
"Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit.







