Home / Romansa / Revenge (Derita Tersembunyi) / Bab 2 Menebus Kesalahan

Share

Bab 2 Menebus Kesalahan

Author: Jiriana
last update publish date: 2026-05-08 19:56:15

“Kiran Avriyadi, beritahu aku, bagaimana kehidupanmu selama di penjara?” Pria bernama Raka itu meraih dagu Kiran, lalu berkata penuh penekanan, “Baik atau buruk?”

Ketika melihat seringai jahat pria itu, kaki Kiran mendadak gemetar dan lemas. Saking lemasnya sampai dia tidak bisa berkata-kata lagi.

“Sepertinya kehidupanmu sangat baik di dalam penjara,” lanjut Raka lagi.

Kiran ingin menyanggah, tapi tidak berani membuka suara.

Jika saja pria itu tahu, apa yang terjadi padanya selama 4 tahun hidup di penjara, dia tidak mungkin mengatakan itu saat ini. Tidak ada sehari pun yang dia lewati tanpa penyiksaan dari teman satu selnya. Bahkan, dia hampir saja mati di dalam sana jika tidak ditolong tepat waktu.

“Tapi tenang aja, aku akan membuatmu hidup seperti di neraka setelah ini. Hutangmu di masa lalu, aku akan menghitungnya mulai sekarang. Takkan kubiarkan kamu hidup tenang setelah bebas dari penjara.”

Mata Kiran seketika membelalak dengan kaki gemetar. Saat melihat pria itu semakin memajukan tubuhnya, Kiran menjadi panik.

Ketika melihat itu, sudut bibir kiri Raka tertarik ke atas. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Kiran, lalu berbisik, "Jangan takut, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu, setidaknya untuk sekarang."

Raka menarik kembali tubuhnya ke belakang dan menjauh dari Kiran. "Masih banyak waktu. Kamu bisa menebus kesalahanmu secara perlahan."

Bulu mata Kiran bergerak naik turun dengan cepat. Dia meremas kedua tangannya dengan kuat guna mengumpulkan keberaniannya. "Tapi, aku sudah mendapatkan hukuman atas kesalahanku."

"Tapi kamu masih hidup, kan?" ujarnya, "sementara Mia tidak."

Kelopak mata Kiran melebar.

Selain di penjara, apa pria di depannya itu menginginkan nyawanya juga?

"Hukuman yang kamu terima, tidak sebanding dengan apa yang sudah kamu perbuat."

Kaki Kiran kembali gemetar ketika melihat seringai pria 31 tahun itu. "Aku minta maaf atas kejadian 4 tahun lalu, aku memang salah, tapi ..."

"Percuma kamu meminta maaf. Semuanya tidak akan kembali seperti semula. Mia juga tidak akan bisa hidup lagi."

Kiran juga tahu itu, tapi setidaknya dia sudah menerima hukuman atas kesalahannya, dan dia juga sudah menyesal, sangat menyesalinya. Jika saja pria itu tahu, selama 4 tahun ini, dia juga tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak karena merasa bersalah.

"Menyiksaku pun, tak akan membuatnya kembali."

Mata hitam Raka seketika menyala. Dia mencengkram leher Kiran dengan kuat, hingga membuat Kiran meringis. "Kamu benar, tapi setidaknya kamu harus merasakan hidup bagai di neraka."

"Raka, sakit ..." Kiran berusaha melepaskan tangan Raka dari lehernya, tapi tidak bisa.

"Ini belum seberapa. Aku akan membuatmu merasakan sakit yang lebih dari ini."

Urat halus di wajah Kiran tampak menonjol, wajahnya pun terlihat memerah seiring dengan cengkraman di lehernya yang semakin kuat. Ketika dia hampir kehabisan napas, tiba-tiba saja Raka melepaskannya.

Kiran terbatuk selama beberapa detik, kemudian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sambil memegang lehernya yang terasa sakit. "Raka, kamu ingin membunuhku?"

Belum sempat Raka menjawab, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Pria itu menjauh dari Kiran kemudian mengangkat panggilan itu.

Kiran hanya memperhatikan punggung Raka sambil mengusap lehernya yang terasa sakit.

Selesai menelpon, Raka langsung berjalan keluar dengan terburu-buru tanpa mengatakan apa pun. Sepertinya, ada sesuatu yang sedang terjadi yang membuat pria itu terlihat panik.

========

"Kiran, maaf. Kamu tidak bisa bekerja di sini lagi," ucap Agnes—wanita yang membatu Kiran bekerja di bar itu.

Saat ini, keduanya sedang berada di ruangan kerja Agnes.

"Kenapa, Kak? Apa aku melakukan kesalahan?"

Seingatnya, selama bekerja hampir sepuluh dari di bar itu, dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia merasa tidak pernah melakukan kesalahan.

"Sekarang aku tanya sama kamu, selama bekerja di sini, apa kamu pernah menyinggung tamu VIP di sini?"

Bar itu adalah salah satu bar yang terkenal di kota itu. Orang-orang yang datang ke sana rata-rata berkantong tebal, dan bisa dipastikan tamu yang memesan ruangan VIP berasal dari kalangan atas dan orang yang berpengaruh.

"Tidak, Kak. Aku—"

Ucapan Kiran seketika teringat dengan pertemuannya dengan Raka 3 hari yang lalu. Pria itu bilang akan membuat hidupnya sengsara dan menderita, mungkin saja ini salah satu dari rencananya untuk membalas dendam.

Tadinya Kiran pikir, pria itu tidak datang ke bar itu selama beberapa hari ini karena sudah lupa padanya, ternyata pria itu diam-diam menyiapkan kejutan tak terduga untuknya.

"Kenapa?" tanya Agnes sambil menatap Kiran dengan heran karena tak kunjung menyelesaikan ucapannya

"Tidak apa-apa, Kak," jawab Kiran sambil menggeleng.

"Maaf, Kiran. Aku tidak bisa membantumu lagi. Ini perintah langsung dari pemilik bar ini."

Melihat wajah bersalah Agnes, Kiran berusaha menampilkan senyuman di bibirnya agar dia terlihat baik-baik saja. "Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti."

Meski kecewa karena harus berhenti di bar itu, tapi Kiran tidak punya pilihan lain selain menerimanya.

"Kalau begitu, aku permisi, Kak. Terima kasih sudah membantuku."

"Kiran, tunggu."

Kiran yang baru saja berdiri, seketika menatap Agnes ketika wanita itu menyodorkan amplop putih padanya.

"Ini adalah gajimu selama bekerja di sini."

Ternyata dia masih mendapatkan gaji. Awalnya, dia pikir tidak akan mendapatkan gaji karena baru bekerja berapa hari di sana, ternyata pemilik bar itu masih memiliki sedikit hati nurani dengan memberikan gaji sesuai dengan jumlah hari dia bekerja.

"Terima kasih, Kak."

Setelah selesai berganti pakaian, Kiran keluar dari bar, kemudian berjalan menuju halte yang lokasinya tidak jauh lumayan jauh dari bar itu.

Setibanya di rumah, Kiran kembali mendapatkan kejutan, seseorang tampak sudah menunggu di depan kontrakannya.

Bersambung ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 121

    "Aku ingin menanyakan tentang Kiran. Siapa tau, mereka sudah mendapatkan informasi keberadaannya." Hannah mendekati putranya, lalu berdiri di hadapannya. "Kamu sedang demam, wajahmu juga pucat sekali. Lebih baik hari ini istirahat di rumah, nanti saja setelah sehat baru ke sana." "Tidak bisa, Ma. Aku harus ke sana hari ini." "Raka, kamu ke sana pun, belum tentu mendapatkan informasi tentang Kiran. Lebih baik telpon saja daripada ke sana." "Aku ingin bertanya langsung pada mereka." Melihat sika keras kepala putranya, Hannah menjadi kesal. "Raka, apa kamu tidak sayang dengan badanmu sendiri? Setidaknya, pikirkan dirimu dulu sebelum memikirkan orang lain." Raka yang baru selesai mengancingkan bajunya, akhirnya menatap sang ibu. "Aku tidak apa-apa, Ma. Hanya sedikit lelah saja." "Lelah katamu," seru Hannah marah. "Kamu pikir, Mama tidak tahu, setelah Kiran pergi, kamu sering minum-minum di bar dan selalu pulang dini hari sampai kamu pernah tidak sadarkan diri karena minuman."

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 120

    "Akhirnya kamu pulang juga, Sayang," ucap Raka sambil memeluk Sofia. "Aku sangat merindukanmu. Jangan pergi lagi." "Raka, aku bukan Kiran, kamu salah orang," seru Sofia sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Raka. "Cepat lepaskan aku." "Aku tidak mau," tolak Raka. "Kamu pasti akan pergi lagi jika aku lepaskan," katanya sambil memeluk sofia erat. Merasa kesulitan untuk bernapas, Sofia akhirnya tidak bergerak lagi. "Raka, tolong lepaskan aku." Raka mengabaikan ucapan Sofia dan tetap memeluknya erat. "Kamu cuma salah paham, Sayang. Aku tidak pernah berniat menceraikanmu. Tolong maafkan aku." "Raka, kamu mabuk." Merasa semakin sesak, Sofia akhirnya memberontak. Raka yang takut Kiran pergi lagi, secara tiba-tiba mengubah posisi keduanya hingga dia berada di atas Sofia. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi," kata Raka dengan mata memerah sambil menahan kedua tangan Sofia di sisi kanan dan kiri. "Aku akan membuatmu mengandung anakku agar kau tidak bisa meninggalkanku." Melihat Rak

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 119

    Raka mematikan rokok di tangannya, kemudian menegak minuman berwarna coklat di hadapannya. "Dia hanya salah paham padaku.""Itulah bodohnya kau. Seharusnya kau langsung menjelaskan pada Kiran setelah menelponnya agar dia tidak salah paham padamu.""Aku bermaksud menjelaskannya secara langsung setelah selesai mengurus semuanya, tapi ....""Tapi ternyata dia justru mengambil kesempatan itu untuk meninggalkanmu dan pergi dengan pria lain," potong Gery sambil tersenyum. "Kau terlalu percaya diri Raka. Kau pikir Kiran pasti tidak akan berani meninggalkanmu setelah kau bilang ingin memulai awal lagi dengannya."Raka hanya diam dengan pandangan lurus ke depan sambil memainkan gelas yang ada di tangan kanannya."Kiran pasti berpikir kau hanya mempermainkannya, makanya dia memilih pergi," ujar Gery. "Tapi, aku mendukung keputusan Kiran pergi meninggalkanmu. Lebih baik dia bersama dengan pria itu daripada dengan pria sepertimu."Raka meletakkan gelasnya dengan kasar di meja, lalu menatap Gery d

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 118

    "Bagaimana?" tanya Raka setelah melihat Doni memasuki ruangan kerjanya. "Sudah tahu ke negara mana istriku pergi?""Belum, Pak."Wajah Raka yang memang sudah lesu, semakin lesu setelah mendengar itu. Bagaimana tidak lesu, semenjak sang istri menghilang 5 hari yang lalu, Raka tidak pernah bisa tidur nyenyak. Setiap hari dia hanya tidur selama kurang lebih 3 jam. Pikirannya terus tertuju pada sang istri.Selama 5 hari itu, Raka memang tetap bekerja setiap hari, tapi tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa dia kerjakan dengan benar sampai dimarahi oleh sang ayah. Pada akhirnya, karena tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, Raka meminta sekretarisnya untuk membantunya memeriksa pekerjaannya."Pak, sepertinya Bu Kiran sudah mengganti nomor ponselnya, makanya tidak bisa dilacak lagi."Raka terdiam dengan alis mengerut. Matanya yang setajam elang menatap lurus ke depan seperti sedang mengintai mangsanya. "Mungkin dia tidak mau ditemukan olehku."Bukan mungkin lagi, tapi Kiran memang tid

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 117

    Tubuh Raka mendadak lemas. Jantungnya yang semula berdebar kencang, seolah berhenti saat itu juga. Dia langsung berpegangan pada tempok ketika tubuhnya hampir saja kehilangan keseimbangan. "Ma, Kiran mau pergi ke mana?" tanya Raka setelah berhasil menghilangkan keterkejutannya "Maaf, Mama tidak bisa memberitahumu," jawab Yulia lirih. "Kiran bilang kamu tidak perlu mencarinya lagi untuk masalah perceraian. Semuanya dia serahkan padamu. Dia juga tidak akan datang saat persidangan nanti. Kamu bisa menghubungi Mama setelah akta cerainya keluar." Kedua tangan Raka mengepal kuat hingga urat-urat di lengannya tampak menonjol. "Ma, aku tidak pernah berniat menceraikan Kiran. Dia hanya salah paham. Aku akan menjelaskan langsung padanya, jadi tolong beritahu aku ke mana dia pergi." Yulia terdiam dengan wajah bingung. Dia meremas kedua tangannya sembari berpikir, apakah dia akan memberitahu Raka atau tidak. Di satu sisi, dia ingin memberitahu di mana keberadaan putrinya agar keduanya bisa m

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 116

    Usai berbicara dengan sang ayah, Raka mengajak Doni untuk pergi ke kantor polisi untuk membuka kasus kecelakaan 4 tahun lalu. Pengacara Raka sendiri sudah tiba lebih dulu di sana. Setelah urusan di sana selesai, Raka mengajak Doni pergi ke mall. "Menurutmu, cincin mana yang cocok untuk istriku?" tanya Raka pada Doni setelah mereka berada di dalam toko perhiasan. "Saya kurang mengerti mengenai cincin yang disukai wanita, Pak," kata Doni dengan jujur. Karena merasa bingung, Raka pun meminta rekomendasi kepada pegawainya. "Ini model cincin yang tidak pasaran dan hanya ada satu di toko kami." Raka menatap cincin berlian di depannya sejenak, kemudian berkata, "Baik. Saya pilih yang ini." Kebetulan ukurannya cocok dengan jari Kiran, jadi Raka mengambil cincin itu. Kenapa Raka bisa tahu ukuran cincin wanita itu, karena sebelumnya dia pernah bertanya sebelum kembali ke Jakarta. Setelah selesai membeli cincin, Raka meminta diantar pulang oleh Doni, dia ingin berbicara dengan sang ibu men

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 7 Demam

    Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya. "Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan." Setelah Raka pergi,

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 6 Tinggal Serumah

    "Ini rumah siapa?"Kiran menatap rumah besar di depannya dengan heran setelah turun dari mobil Raka."Rumahku." Tanpa melirik pada Kiran, Raka berjalan melewatinya dengan acuh tak acuh.Kiran yang tidak tahu alasan Raka membawanya ke sana, akhirnya bertanya, "Kenapa aku dibawa ke sini?"Raka menghe

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 5 Dibawa Pergi

    "Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit.

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 4 Mengalami Cidera

    "Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya."Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menol

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status