Share

Bab 12

Penulis: Jiriana
last update Tanggal publikasi: 2026-05-29 01:01:42
Melihat dia akan terjatuh ke bawah, Kiran berusaha menggapai pegangan di pinggir tangga. Namun, gagal karena tangannya licin.

Sebelum Kiran sempat terjungkal di anak tangga pertama, Stevi dengan cepat maju dan menarik tangan Kiran dan menukar posisinya menjadi terbalik.

"Kiran, tolong aku."

Kiran yang berhasil selamat tampak membelalakkan mata dengan tangan terulur ke arah Stevi ketika melihat wanita itu terjungkal ke bawah dengan tubuh menggelinding.

Sementara Vania yang sejak tadi berd
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 110

    Usai dirinya tertangkap, Hutomo pasti menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari Stevi, dan Raka sengaja membawa Stevi diam-diam ke tempat yang jauh agar orang suruhan Hutomo tidak bisa menemukannya. “Baik, Pak.” Selesai berbicara dengan Doni, Raka masuk ke dalam vila dan pergi ke kamar utama yang biasa dia tempati saat liburan di sana. Dia mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang. “Pa, aku mau meminta bantuanmu.” “Bantuan apa?” tanya Ayah Raka di seberang telpon. “Ini mengenai Om Hutomo.” Raka berbicara dengan ayahnya selama kurang lebih 10 menit. Setelah itu, dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Pukul setengah 8 malam, Raka mengajak Stevi untuk makan malam berdua saja di samping villa. Di sana, sudah terdapat satu meja dan dua kursi. Di tengah-tengah meja terdapat bunga mawar serta beberapa lilin yang menyala. “Kak, kamu sengaja mempersiapkan makan malam romantis ini untukku?” tanya Stevi dengan ekspresi gembira. “Tentu saja.” Stevi yang merasa sang

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 109

    “Kak, kenapa kita ke sini?” tanya Stevi setelah mobil Raka berhenti di depan villa milik pria itu yang berada di Bandung. Mereka baru saja tiba di kota itu pukul 7 malam setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 3 jam dari Jakarta. “Liburan,” jawab Raka usai mematikan mesin mobilnya. “Kita sudah lama tidak liburan bersama, kan?" Mata Stevi seketika berbinar. “Jadi, kamu bukan sengaja mengajakku ke sini untuk liburan berdua saja?” Tadinya, Stevi berpikir kalau Raka akan mengajaknya berkencan ke tempat romantis, ternyata Raka justru mengajaknya liburan. “Kenapa? Tidak mau?” “Mau, Kak. Aku mau,” jawab Stevi bersemangat. Mana mungkin dia tidak mau, apalagi kalau mereka liburan hanya berdua saja. “Tapi ... apa kamu tidak takut Kak Kiran marah kalau tahu kamu membawaku liburan ke sini?” “Dia tidak berhak mengaturku. Biarkan saja dia marah, aku tidak peduli padanya.” Ketika mendengar itu, perasaan Stevi menjadi sangat bahagia. Perkataan itulah yang selama ini dia tunggu-tunggu

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 108

    Setelah pergi dari sana, Raka pergi ke perusahaan Hutomo. Stevi yang mengetahui Raka sedang berada di kantor sang ayah, bergegas ke sana dengan perasaan gembira.“Raka, tumben kamu ke sini, ada apa?” tanya Hutomo setelah mempersilahkan Raka duduk di sofa ruangan kerjanya.Tanpa menjawab pertanyaan Hutomo, Raka melemparkan sejumlah foto di atas meja. Foto itu adalah foto orang-orang yang tadi baru saja dia temui. “Kenapa Om menyuruh orang-orang ini untuk menyiksa Kiran di penjara?”Hutomo melirik sekilas foto-foto itu, lalu kembali menatap Raka dengan santai. “Dia sudah membunuh Mia, Om hanya memberikan sedikit pelajaran padanya,” jawabnya acuh tak acuh. “Tidak ada yang salah dengan itu.""Tapi, Om hampir membuatnya meninggal do penjara," seru Raka tidak terima, tangannya mengepal hingga urat-urat di sekitar telapak tangannya menonjol."Tapi, nyatanya dia masih hidup," balas Hutomo santai. Tidak nampak rasa bersalah sedikit pun di wajahnya ketika mengatakan itu. "Jangan karena kamu sud

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 107

    Pukul 8 pagi, taksi yang dipesan Raka tiba di depan rumah orang tua Kiran. Raka diantar sampai depan rumah oleh Kiran dan orang tuanya."Setelah urusanku selesai, aku akan ke sini lagi menjemputmu," ucap Raka sebelum memasuki mobil. "Aku harap kamu mau memberikanku kesempatan untuk memperbaiki pernikahan kita.""Iya."“Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamit Raka pada Kiran.“Iya, hati-hati.”Setelah berpamitan pada orang tua Kiran, Raka melangkah menuju taksi yang sejak tadi sudah menunggu. Namun, baru saja akan membuka pintu, Raka tiba-tiba berbalik dan kembali menghampiri Kiran.“Kenapa? Apa ada yang tertinggal?” tanya Kiran heran setelah Raka berdiri di depannya.“Iya, aku melupakan sesuatu,” jawab Raka. Setelah itu, dia membungkuk, kemudian mengecup bibir sang istri. "Aku melupakan ini."Kiran tersipu, sementara orang tua Kiran hanya tersenyum tipis melihat pemandangan itu."Cepatlah pergi, nanti kamu terlambat," kata Kiran dengan wajah memerah."Iya, aku pergi dulu," balas Raka den

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 106

    Sepanjang mengobrol dengan Glen, Kiran terus melirik pada Raka yang sejak tadi sedang mengawasinya dari ruang keluarga. Pandangan pria itu terlihat tajam, dan raut wajahnya kaku. Tidak ada senyuman sama sekali di bibir saat Kiran melemparkan senyuman tipis pada pria itu.Oh, ya. Ngomong-ngomong soal Glen, dia tiba-tiba muncul di rumah orang tua Kiran karena diundang oleh ibu Kiran. Saat Kiran mengirimkan pesan pada Glen, pria itu sudah berada dalam perjalanan menuju rumah orang tua Kiran. Sengaja dia tidak membalas karena ingin memberikan kejutan pada wanita itu."Lama sekali mengobrolnya. Betah ya bicara dengannya?"Kiran yang baru saja memasuki kamar terperanjat mendengar suara Raka dari balik pintu yang sejak tadi terbuka. "Raka, kamu mengagetkanku," ujarnya sembari memegang dada."Di mana dia? Sudah pergi?" tanya Raka sembari berjalan menuju ranjang."Ada di depan, mengobrol dengan Papa."Tadi, saat menyadari Raka sudah tidak

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 105

    "Kamu sedang apa?" Ketika mendengar suara Kiran dari belakang, Raka seketika menoleh sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Baru selesai bicara dengan Doni," Raka, setelah itu dia menghampiri Kiran. "Mandilah. Setelah ini kutemani kamu menemui pria itu." "Tidak perlu," tolak Kiran. "Biar aku temui dia sendiri saja." "Aku tidak izinkan kamu menemuinya sendirian," balas Raka. "Nanti kalian malah lupa waktu." Kiran mengerutkan kening ketika Raka menyodorkan ponsel padanya. "Apa?" "Minta rekening pria itu. Langsung transfer dari sini, jadi kamu tidak perlu bertemu dengannya." Meski Kiran memegang salah satu kartu Raka, tapi mobile mbankingnya tetap ada di ponsel pria itu. Kiran hanya bisa menggunakan kartu itu di mesin ATM atau langsung bertransaksi di toko atau mechant lainnya. "Raka, aku harus menemuinya. Aku meminjam uang yang jumlahnya besar, tidak enak jika aku mengembalikannya seperti itu." Rasanya tidak sopan. Bagaimanapun, Glen sudah berbaik hati meminjamkan

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 5 Dibawa Pergi

    "Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit.

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 4 Mengalami Cidera

    "Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya."Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menol

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 3 Bertemu Preman

    WARNING ....!!!!!Adegan kekerasan di bab ini TIDAK PATUT DICONTOH dan TIDAK BOLEH DITIRU. Khusus untuk usia 21+, usia di bawah itu, harap SKIP. Terima kasih.==================================="Kenapa saya harus pindah, Pak?" protes Kiran pada pria berumur sekitar 50 tahun yang sedang berada di h

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 2 Menebus Kesalahan

    “Kiran Avriyadi, beritahu aku, bagaimana kehidupanmu selama di penjara?” Pria bernama Raka itu meraih dagu Kiran, lalu berkata penuh penekanan, “Baik atau buruk?”Ketika melihat seringai jahat pria itu, kaki Kiran mendadak gemetar dan lemas. Saking lemasnya sampai dia tidak bisa berkata-kata lagi.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status