공유

Bab 3

작가: Summer
Saat tengah malam, karena kelelahan berkemas, aku langsung merebahkan diri di tempat tidur.

Ponselku berdering karena sebuah pesan dari Ronaldo. Dia juga mengirimkan beberapa foto dengan gambar Viera dan Lina yang sedang berpose bersama boneka milik Susan. Lina memeluknya seperti sahabat baru.

[Lina menyukai boneka itu. Viera menyuruhku mengirim pesan ini untuk mengucapkan terima kasih.]

Sudah tengah malam dan suamiku masih bersama wanita lain, dia bahkan memanfaatkan Ronaldo untuk mengucapkan terima kasih padaku.

Aku tertawa hambar, dan bahkan sudah tidak bisa marah lagi. Apa gunanya?

Aku membalas: [Sama-sama. Tapi aku tidak memberikan boneka itu untuk Viera. Dan asal kau tahu saja, boneka itu adalah hadiah ulang tahun favoritnya Susan. Susan memperlakukan boneka itu seperti adiknya sendiri. Dia menunggumu untuk bermain pesta teh bersama, dengan boneka itu. Jadi, bawa kembali boneka itu.]

Lalu, aku mematikan ponsel dan pergi tidur.

Aku tidak peduli seperti apa ekspresi wajah Ronaldo ketika membaca pesan tersebut.

Keesokan paginya, Ronaldo pulang lebih awal, di jam delapan pagi, sesuatu yang jarang terjadi padanya.

Ronaldo melangkah masuk, melepas jaketnya, dan langsung tersentak saat melihat deretan koper yang sudah berjejer rapi di ruang tamu. "Apa kau butuh koper sebanyak itu untuk liburan?"

Aku sedang membantu Susan berpakaian dan tidak mendongak. "Kami akan pergi jauh."

Ronaldo menatap Susan, yang dibalas dengan anggukan kecil. Ekspresi wajah Ronaldo kembali rileks, dia lalu melempar jaketnya ke samping dan mengeluarkan tiga lembar tiket ke Universal Studios.

"Kau marah karena aku tidak pernah mengajak Susan ke Universal Studios, kan? Aku sudah membeli tiketnya untuk hari ini, dan kita bertiga akan pergi bersenang-senang bersama."

Ronaldo memegang tiket-tiket itu dengan bangga, seolah-olah sedang memamerkan sebuah piala kemenangan.

Aku hampir mengira sudah salah dengar. Sudah hampir sebulan berlalu, dan tiba-tiba saja Ronaldo mengingatnya?

Kemudian, aku teringat pada deretan pesan tak terbaca di ponselku pagi ini. Ah, ini pasti sebuah persembahan atas rasa bersalahnya.

Aku tidak mengatakan apa-apa dan terus mendandani Susan.

Namun, Susan tampak sangat bersemangat. Susan melirik ke arahku dan berkata, "Mama, aku mau pergi ke sana."

Aku tersenyum dan hendak menjawab ketika Ronaldo tiba-tiba menambahkan dengan ragu-ragu, "Tapi, ada satu hal. Viera tahu kita akan mengadakan acara keluarga hari ini. Walaupun hanya memasak di rumah, dan tidak ada yang spesial, tapi Viera khawatir Lina akan merasa tersisih, jadi mungkin kita bisa masak bareng di lain waktu saja."

Susan langsung terpaku, binar cahaya di matanya terlihat jelas semakin meredup.

"Oh," kata Susan lirih. Dia langsung menundukkan kepala, dan bahunya terkulai lemas.

Ronaldo sama sekali tidak menyadarinya. "Itu hanya satu permintaan kecil. Aku sudah memikirkannya, dan seharusnya itu tidak akan menjadi masalah besar. Benar kan, Susan?"

Ronaldo tidak tahu bahwa besok, Susan dan aku akan pergi.

Ini adalah kesempatan terakhir bagi Ronaldo.

Tak satu pun dari kami mengatakan apa pun. Kami hanya mengangguk pasrah.

"Iya."

"Oke."

Ronaldo menghela napas lega. "Aku akan pergi memberi tahu Viera. Kita akan bertemu jam tiga di Universal Studios ya. Sampai jumpa di sana."

Ronaldo berbalik dan berjalan menuju pintu. Tepat sebelum Ronaldo sampai di sana, Ronaldo menoleh ke belakang dan berkata, "Niki, Susan, kalian memang yang terbaik."

Kami tidak menjawab.

Setelah Ronaldo pergi, Susan mengambil Bunga Lili yang dibawa Ronaldo kemarin. Susan berjalan ke tempat sampah dan membuangnya tanpa ragu.

"Ma," kata Susan. "Aku tidak ingin bertemu Om Ronaldo lagi. Apa kita bisa pergi lebih awal?"

Aku pun mengubah jadwal penerbangan kami menjadi hari ini, jam tiga.

Setelah mengkonfirmasi tiket kami, aku pun langsung melakukan persiapan terakhir.

Jam delapan pagi, aku membuat sarapan di rumah itu untuk terakhir kalinya. Telur orak-arik sederhana dan roti panggang. Susan menyantapnya dengan tenang.

Jam sembilan lewat tiga puluh menit, aku mengambil surat perjanjian cerai yang telah ditandatangani dari pengacaraku. Baris pertama berbunyi: [Hak asuh anak sepenuhnya jatuh kepada pihak ibu.]

Saat berada di sana, aku melihat unggahan terbaru Viera. Foto-foto makanan rumahan yang tampak nyaman dan hangat. Viera, Ronaldo, dan Lina terlihat duduk di sekitar meja dengan pasta dan minuman. Keterangan fotonya berbunyi: [Makan bersama keluarga. Lina ikut membantu menyiapkan meja. Aku sangat bersyukur atas keluarga kecil ini].

Susan yang sedang melipat pesawat kertas di sampingku sempat melirik dan melihat unggahan tersebut, dia tidak berkata apa-apa, dan hanya mendesakku, "Ma, cepat tanda tangani surat-suratnya sekarang juga."

Pukul sebelas lewat tiga puluh menit, setelah menyelesaikan makan siang ringan, kami mengambil tas dan koper, lalu naik taksi menuju bandara. Kami tiba dua jam lebih awal dari jadwal penerbangan.

Di dalam taksi, Susan memegang gawainya dan menelusuri foto-foto lama Ronaldo. Ada satu foto saat momen pembaptisan Susan. Ronaldo tampak sedang menggendong Susan yang mengenakan gaun putih di depan gereja, tersenyum ke arah kamera. Foto lain dari momen ulang tahun ketiga Susan, mereka berdua mengenakan topi bajak laut yang sama di pesta bertema. Dan sebuah video dari dua tahun lalu, sebelum Viera muncul kembali, Ronaldo mendorong Susan di ayunan taman, dia tertawa setiap kali Susan berteriak, "Lebih tinggi, Papa!"

Susan menonton rekaman itu berulang kali. Dia tidak menangis, tetapi ekspresi kesedihan yang mendalam mulai memenuhi seluruh isi taksi.

Aku duduk di samping Susan dan tidak berkata apa-apa.

Pukul satu lewat tiga puluh menit, tepat saat kami akan melewati pemeriksaan keamanan bandara, Ronaldo menelepon.

"Niki, apa kau bisa sampaikan permintaan maafku pada Susan? Lina mendadak demam tinggi sampai empat puluh derajat. Aku harus membawanya ke rumah sakit. Aku tidak tahu apakah bisa sampai sana sebelum jam tiga nanti. Kalau kalian tidak melihatku di sana, pulang saja. Sampaikan permintaan maafku pada Susan."

Ronaldo menutup telepon sebelum sempat mendengar suara pengumuman bandara yang menggema samar di latar belakang.

"Ayo kita pergi," kataku, sambil menggenggam erat tangan Susan.

Susan mengangguk. Dia langsung memilih semua foto Ronaldo dan menekan tombol hapus.

Pukul tiga sore, pesawat kami pun lepas landas.

Aku memasangkan perangkat jemala pada Susan dan memperhatikan hamparan awan di balik jendela pesawat. Aku pun menghela napas panjang dan perlahan.

Selamat tinggal, Ronaldo.

Sementara itu, Ronaldo tampak berlari kencang keluar dari rumah sakit, mengabaikan segala permohonan Viera dan bergegas menuju Universal Studios dengan kecepatan tinggi.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Rumah Tanpa Sosok Papa   Bab 9

    Sedangkan mengenai Ronaldo, dia benar-benar tidak menyerah.Awalnya, dia selalu mengirimkan berbagai macam barang setiap hari. Boneka, figur kartun edisi terbatas, sepeda, gawai belajar yang mahal, kelas les piano, sampai voucer perkemahan musim panas. Aku tidak ingin menerima semua itu, tetapi Susan berkata dengan sangat serius, "Ma, ini semua adalah utang Om Ronaldo padaku. Dia berutang padaku dulu."Aku sempat tertegun sejenak. Namun kemudian, aku menyetujuinya. Kami menerima hadiah-hadiah itu, tetapi Susan tidak pernah memanggil Ronaldo dengan sebutan papa lagi. Setiap kali Ronaldo berkunjung, Susan akan mengangguk sopan dan berkata, "Halo, Om Ronaldo."Wajah Ronaldo akan pucat setiap kali mendengarnya, tetapi dia tidak pernah berani mengoreksi ucapan Susan. Tidak akan pernah berani lagi.Sebelumnya, aku dan Susan yang selalu mengejar Ronaldo. Bertanya kapan dia akan pulang ke rumah. Bertanya apakah dia bisa menghabiskan waktu bersama Susan. Bertanya apakah dia benar-benar mencinta

  • Rumah Tanpa Sosok Papa   Bab 8

    Keesokan paginya, Ronaldo sudah pergi.Di beranda rumah, dia meninggalkan sebuah surat. [Niki, aku mohon padamu. Jangan buang apa yang pernah kita miliki. Aku akan menunggu selamanya. Kumohon.]Aku membaca surat itu dan langsung membuangnya ke tempat sampah.Susan sedang duduk di tempat tidur sambil makan roti panggang. Dia melirik ke arahku. "Ma, ada apa? Apa yang ditulis Om Ronaldo?"Aku tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Ini cuma brosur iklan saja."Susan juga ikut tersenyum. Itu adalah senyuman tulus pertamanya sejak kami pergi meninggalkan Ronaldo.Selama setahun berikutnya, banyak hal yang terjadi.Pertama, kejahatan Viera akhirnya terungkap. Seorang perawat di rumah sakit diam-diam telah merekam aksi Viera saat memaksa Lina untuk minum sup makanan laut. Video tersebut diserahkan kepada pihak kepolisian. Viera akhirnya didakwa atas tuduhan penganiayaan anak. Dia sempat mencoba berbohong dan berdalih bahwa itu hanyalah sebuah kecelakaan. Tetapi, rekaman kamera pengawas rumah sakit, ke

  • Rumah Tanpa Sosok Papa   Bab 7

    Ronaldo mengemudi sepanjang malam menuju bandara. Penerbangan paling awal ke Losanare sudah habis terjual. Ronaldo terpaksa duduk di terminal bandara hingga fajar menyingsing, mencoba meneleponku puluhan kali dan mengirimkan ratusan pesan teks.[Niki, aku tahu aku sudah salah.][Di mana kau? Biarkan aku menemuimu.][Apa Susan baik-baik saja?][Aku tidak bermaksud menyakiti kalian berdua.][Tolong, angkat teleponnya.]Aku tidak membaca satu pun pesan itu.Saat pesawat mendarat di Losanare, Susan sedang tertidur pulas. Kepala kecil Susan bersandar di bahuku, menyisakan bekas air mata yang mengering di bulu matanya. Aku menggendong Susan turun dari pesawat dan naik taksi menuju rumah lama mendiang ibuku. Itu adalah sebuah rumah kecil di pinggiran kota yang tenang. Tidak ada yang mewah, hanya terdiri dua kamar tidur, dan sebuah beranda yang dilengkapi kursi goyang. Cat dindingnya sudah mulai mengelupas, tetapi rumah itu milik kami. Ibuku mewariskannya bertahun-tahun yang lalu.Udara malam

  • Rumah Tanpa Sosok Papa   Bab 6

    Ketika Viera menyadari air matanya sudah tidak lagi berguna, dia pun berhenti menangis. Dia menyeka wajahnya dan tertawa dingin."Iya, aku memang melakukannya dengan sengaja. Tapi apa lagi yang harus kulakukan? Aku ini seorang janda, Sandi sudah mati. Aku menikahinya demi kekuasaan, bukan cinta. Dia adalah bos Mafia, dan bisa menjadi istrinya berarti mendapatkan perlindungan, uang, dan rasa hormat. Tapi dia tidak pernah benar-benar membiarkanku menikmati semua itu. Dia selalu mengikatku. Waktu dia terbunuh dalam perang antar geng itu, aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada status, apalagi uang. Hanya seorang anak yang wajahnya mirip dengannya."Dia menyilangkan tangan di dada. "Jadi, aku mencarimu. Lebih muda, lebih bodoh, dan lebih mudah dikendalikan. Seseorang yang bisa mengembalikan semua yang sudah hilang dariku."Ronaldo menatap Viera seolah baru melihatnya untuk pertama kali. "Jadi, semuanya hanya kebohongan? Janda yang menangis di kuburannya? Kisah-kisah sedih tentang mem

  • Rumah Tanpa Sosok Papa   Bab 5

    Ronaldo melaju kencang meninggalkan rumah sakit, menuju Universal Studios.Kondisi jalanan macet dan dipadati kendaraan. Ronaldo mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya tampak memutih. Dia memeriksa ponselnya, dan waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat empat puluh satu menit. Sembilan belas menit lagi sebelum pukul tiga sore.Dia meneleponku, namun tidak ada jawaban. Dia mencoba menelepon berulang kali dan mengirimkan pesan suara. Dan saat mencoba untuk ketiga kalinya, nomornya sudah diblokir.Ronaldo mengira aku sengaja mengabaikannya. Dia mengetik dengan satu tangan sambil mengemudi.[Niki, Lina hanya demam biasa, tidak ada yang serius. Aku sedang dalam perjalanan.][Tolong jangan pergi. Aku akan segera sampai sana.][Aku bersumpah aku tidak akan membatalkannya lagi kali ini.]Tidak ada respon sama sekali.Dia lalu mencoba menghubungi jam tangan pintar milik Susan, namun tak bisa terhubung.Jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. D

  • Rumah Tanpa Sosok Papa   Bab 4

    Satu jam sebelumnya.Viera menangis lirih, jari-jarinya mencengkeram lengan baju Ronaldo. "Ronaldo, gimana ini? Lina demam sampai empat puluh derajat. Tubuhnya sangat panas. Aku takut sekali."Lina berbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan kompres dingin di dahinya, merintih pelan. Kedua pipinya memerah karena demam.Wajah Ronaldo tampak pucat. Sambil menggenggam tangan Lina, dia meneleponku. Begitu aku mengangkatnya, Ronaldo langsung bergegas jalan keluar ke koridor. "Niki, sampaikan permintaan maafku pada Susan. Lina mendadak demam tinggi dan aku harus menemaninya di rumah sakit. Aku tidak tahu apakah bisa sampai sana sebelum jam tiga nanti. Kalau kalian tidak melihatku di sana, pulang saja. Sampaikan permintaan maafku pada Susan."Lalu, Ronaldo langsung menutup telepon seperti biasanya.Ronaldo selalu menyerahkan beban untuk menjelaskan padaku dan membiarkan Susan menanggung rasa kecewa itu sendirian. Ronaldo mengira kami akan selalu setia menunggu. Ronaldo mengira permintaan ma

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status