Share

Rumah yang Tak Pernah Menyambutku
Rumah yang Tak Pernah Menyambutku
Author: Yubo

Bab 1

Author: Yubo
Melihat wajah mereka yang penuh kebingungan, aku hanya tersenyum dan berkata, "Aku datang buat kasih selamat pada Kak Reina."

"Baik banget kamu. Uang buat naik busnya cukup, nggak? Kalau kurang, Ibu kasih."

Aku menatap uang empat ribu di tangan Ibu, lalu menundukkan kepala dan menjawab pelan, "Cukup, Bu."

Pintu mobil pun langsung tertutup tanpa keraguan.

Saat aku mengangkat kepalaku lagi, bahkan jejak asap knalpot mobil itu pun sudah menghilang.

Aku mengusap hidungku yang mulai terasa perih, lalu mengeluarkan ponsel dan mencari:

[Apakah bisa mulai kuliah lebih awal di Universitas Altara?]

….

Seperti biasanya, aku pulang naik bus.

Sopir bus melihatku dan sempat tertegun. "Nak, habis ujian masuk perguruan tinggi, kok nggak ada yang jemput?"

Aku tersenyum sambil menggeleng, lalu memilih duduk di kursi dekat jendela.

Ponselku bergetar. Ada pesan dari Ibu.

Katanya, ujian Reina berjalan cukup baik dan malam ini seluruh keluarga akan makan malam di hotel bintang lima.

Aku menatap kata "seluruh keluarga" itu cukup lama, lalu membalas:

[Busku akan sampai di rumah lima belas menit lagi.]

Di seberang sana, tampak pesan beberapa kali dihapus dan diketik ulang, sebelum akhirnya terkirim satu kalimat.

[Kamu nggak usah ikut, ya. Nanti kalau giliran kamu yang ujian, Ibu akan ajak kamu makan berdua.]

Aku menatap kartu peserta ujian di tanganku. Saat masih ragu apakah harus memberi tahu Ibu bahwa tahun ini aku juga mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, sebuah pesan dari Rafael masuk.

[Vinna, kamu juga sudah besar. Harusnya kamu sudah mengerti, 'kan?]

[Sebelum kamu umur tujuh tahun, kondisi kesehatanmu buruk, jadi perhatian seluruh keluarga selalu tertuju sama kamu.]

[Hari ini hari penting bagi Reina karena dia baru selesai ujian masuk universitas. Jadi, jangan bertengkar sama dia.]

[Lagi pula, kamu sudah terlalu banyak berutang sama dia.]

Rasa tak berdaya kembali menyelimutiku. Aku tahu Rafael pasti akan mengungkit lagi kejadian saat usiaku tujuh tahun, ketika Reina hampir diculik.

Semua itu hanya karena hari itu aku tiba-tiba pingsan saat pertunjukan Reina.

Tanpa ragu, Ibu langsung menggendongku dan meninggalkan bangku penonton.

Saat aku tersadar lagi, yang kulihat hanya mata Ibu yang bengkak karena menangis.

"Reina hilang."

"Kamu sengaja, 'kan? Ibu sudah begitu perhatiannya ke kamu, kenapa kamu nggak bisa duduk saja baik-baik sama Ibu nonton pertunjukan Reina?"

Tiga hari kemudian, Reina akhirnya ditemukan. Dia menangis tersedu-sedu dalam pelukan Ibu.

Aku memberanikan diri mendekat, berniat memberikan boneka kesayanganku kepadanya.

Namun, Rafael justru mendorongku dengan keras.

"Mau pura-pura sakit lagi, ya? Cepat pergi!"

Sejak hari itu, aku dicap sebagai anak yang selalu mencari perhatian.

Reina yang berhasil kembali dengan selamat mendapatkan seluruh perhatian dan kasih sayang keluarga.

Sementara aku di rumah bagaikan orang yang tidak terlihat.

Bahkan ketika aku benar-benar sakit, mereka tetap menganggapku hanya berpura-pura.

"Kamu sudah sembuh sejak lama. Mau pakai cara yang sama lagi buat nakut-nakutin kami?"

"Selama tujuh tahun pertama, seluruh keluarga selalu ngurusin kamu. Sekarang kami harus kasih perhatian itu sama Reina."

"Itu baru adil."

Lamunanku kembali pada kenyataan.

Aku menarik napas panjang, menahan rasa perih di hidung, dan membalas dengan satu kata saja, [Baik.]

Saat turun dari bus, mobil keluarga kebetulan melintas di depanku.

Kaca mobil perlahan diturunkan. Aku melihat Reina mengenakan gaun putri, bersandar dalam pelukan Ibu sambil tersenyum begitu ceria.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 10

    Ibu segera berkata, "Ibu sudah ngirim uang buatmu, Vinna. Seharusnya cukup, 'kan?"Uang 200 juta masuk ke rekeningku.Perasaanku bercampur aduk."Bu.""Apa Ibu masih ingat waktu aku kelas dua SMP, sekolah ngadain acara piknik dan minta kami bayar 400 ribu?""Ibu bilang itu terlalu mahal, 'kan?""Bahkan saat aku lulus dan kelas ngadain acara perpisahan, Ibu juga nggak ngizinin aku pergi.""Dulu bahkan Ibu bilang, aku sudah ngabisin begitu banyak uang kalian karena sakit."Aku tersenyum lalu mengembalikan uang itu."Aku sudah nggak berani nerima uang Ibu lagi."Mendengar itu, Nenek menangis dan berkata, "Vinna, Nenek akan kasih kamu uang. Pulanglah.""Semua orang sedang menunggumu.""Nggak perlu. Aku cuma seorang peraih nilai tertinggi.""Kalau saja Ayah dan Ibu ngasih sedikit lebih banyak perhatian, mereka pasti tahu bahwa nilai ujian percobaanku selalu berada di peringkat pertama."Setelah menutup telepon, aku menerima surat penyesalan panjang yang ditulis oleh Ibu.Di bagian akhir, di

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 9

    Aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah.Aku hanya tahu, begitu turun dari pesawat, ponselku dipenuhi banyak panggilan tak terjawab.Aku tidak menghiraukannya.Sambil membawa tas sendiri, aku berjalan menuju kampus."Vinna, terima kasih sudah memilih kampus kami. Kami pasti akan membimbingmu dengan baik."Aku tidak menyangka rektor datang menjemputku secara langsung, hingga membuatku sedikit tersipu malu."Terima kasih juga karena kampus ini bersedia ngasih pengecualian dan menerima saya lebih awal.""Itu hanya hal kecil."Rektor membawaku menuju gedung asrama.Dia berkata bahwa setelah mengetahui kondisiku, pihak kampus telah mengajukan kamar asrama pribadi untukku.Dia bahkan mentraktirku makan.Kampus juga memberiku sejumlah beasiswa.Dengan uang beasiswa itu, aku membeli berbagai perlengkapan hidup yang kubutuhkan.Setelah berbaring di ranjang baru yang kurapikan sendiri, akhirnya aku bisa merasa tenang dan tidur dengan nyenyak.Namun, getaran ponselku tidak berhenti.Melihat ada

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 8

    Di dalam kamar tidur yang sempit itu hanya terdapat sebuah tempat tidur dan beberapa kotak kardus.Dilihat dari mana pun, kamar ini jelas lebih mirip gudang untuk menyimpan barang-barang lama.Begitu melihatnya, Bibi langsung berteriak, "Kalian biarin Vinna tinggal di tempat seperti ini?""Bukankah Vinna punya kamar sendiri? Di mana kamarnya?"Ibu tersipu malu lalu berkata pelan, "Ka-kamarnya sudah kuubah jadi ruang pakaian Reina."Takut disalahkan oleh semua orang, Ibu buru-buru menjelaskan, "Itu karena Vinna ngambil uang kakaknya, jadi ....""Ngambil uang?""Kenapa Vinna sampai ngambil uang?" tanya Kakek dengan heran.Sementara itu, Nenek mengernyitkan dahi lalu masuk ke dalam kamarku.Di sana, dia melihat selembar catatan medis yang tergeletak di dekat kepala tempat tidur.Tertulis bahwa sepuluh hari sebelumnya, aku menghabiskan hampir satu juta untuk mengobati alergi.Sebelum Nenek sempat mengatakan apa pun, Bibi tiba-tiba berseru, "Ada tulisan di dinding!"Mendengar itu, para wart

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 7

    Setelah memastikan bahwa orang yang hendak diwawancarai para wartawan adalah aku, Ibu menggigit bibir bawahnya dan berkata kesal, "Anak ini, ternyata dia juga ikut ujian masuk perguruan tinggi tahun ini tanpa ngasih tahu kami. Gara-gara dia, kami jadi dipermalukan kayak begini."Setelah mengalami gejolak emosi yang begitu besar, Reina bersandar di pelukan Rafael sambil menangis tanpa henti."Bu, Vinna pasti sengaja ngelakuin ini!""Sudahlah. Terlepas dari dia sengaja atau nggak, Vinna menjadi peraih nilai tertinggi tetaplah kabar baik."Nenek menatap Ibu dengan tidak senang. "Kamu juga. Selama ini, apa kamu nggak pernah datang ke pertemuan orang tua kelas Vinna?""Masa sampai nggak tahu anakmu sudah kelas berapa?"Ibu terdiam. Saat itu barulah mereka teringat, setiap kali aku meminta bantuan soal pelajaran, mereka selalu menunjukkan wajah tidak sabar.Sejak saat itu, aku pun berhenti bercerita kepada mereka.Ketika guru mengatakan akan mengadakan pertemuan orang tua murid, aku selalu m

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 6

    Kamera diarahkan tepat ke layar komputer. Semua orang menantikan detik-detik pengumuman nilai.Pertanyaan tentang berapa nilai yang diperoleh Reina terus terdengar dari berbagai arah.Namun, tiba-tiba Reina tercekat. Dia bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Melihat itu, Ibu membelalakkan mata. "Gimana ... gimana bisa begini?"Ayah berkata panik, "Apa mungkin nilainya salah catat? Ayo kita telepon Dinas Pendidikan."Stefan yang berdiri di belakang belum sempat melihat hasilnya.Sambil tersenyum, dia menjelaskan, "Apa nilainya nggak terlihat? Biasanya nilai peringkat teratas tingkat provinsi memang disembunyikan."Sambil berkata begitu, Stefan menyelip maju ke barisan depan.Begitu melihat angka yang tertera di layar, dia langsung mundur selangkah."Apa mungkin salah masukin nomor peserta ujiannya?"Para wartawan juga terpaku. Mereka mencocokkan foto yang ada di tangan mereka, lalu baru hendak bertanya apakah nama di kartu itu adalah Vinna SubrataTiba-tiba, Kakek dan Nenek d

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 5

    "Kalian nyari siapa?"Ayah dan Ibu saling berpandangan dengan wajah kebingungan.Sekeras apa pun Reina berusaha, mustahil dia bisa masuk universitas terbaik, apalagi sampai membuat para wartawan datang untuk mewawancarainya.Para wartawan itu tersenyum lalu menjelaskan, "Memangnya kalian belum mengecek hasil ujian?""Anak dari keluarga kalian menjadi peraih nilai tertinggi!"Mendengar itu, Reina segera berlari menghampiri mereka.Bibirnya sedikit bergetar. Dia tidak mampu menyembunyikan rasa kagetnya sekaligus kegembiraannya. "Nggak mungkin. Apa kalian nggak salah orang?""Oh, aku tahu. Kalian pasti datang untuk mewawancara Kak Stefan, 'kan?"Dia langsung berlari ke rumah sebelah dan mengetuk pintunya."Kak Stefan, ada wartawan yang mau wawancara kamu!"Teriakannya bukan hanya membuat Stefan keluar, tetapi juga menarik perhatian para penghuni lantai atas dan bawah.Kabar bahwa dari Blok 13 ada seorang siswa peraih nilai tertinggi pun segera menyebar.Setelah Stefan membuka pintu, tatap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status