เข้าสู่ระบบSaat cinta mematikan logika, aku menganggap Shanti adalah sebaik-baik istri. Tapi, ternyata dia tega berbuat zalim di belakangku. Sepasang penumpang yang memesan taksiku rupanya adalah istriku sendiri bersama dengan selingkuhannya. Aku marah. Marah sekali, merasa terhina dan harga diriku seperti ditelanjangi. Aku merencanakan sesuatu untuk membuat peringatan. Tapi ragu, karena ada hati yang harus dilindungi. Apa yang akan aku katakan pada Fikri, anak semata wayang kami tentang hubungan kami nanti?
ดูเพิ่มเติมMiranda Ferrer
—Esta muy distraída hoy ¿Qué te sucede? Debes enfocarte, tu futuro depende de esta prueba. — Regaña la profesora a su estudiante favorita Miranda Ferrer.
Si logra enfocarse será una de las mejores bailarinas del país
—Lo siento. —Se disculpa la joven de veinte años, sacudiendo su cabeza para ordenar sus caóticos pensamientos, sabe que su profesora tiene la razón
Mientras continúa practicando su nueva coreografía durante horas, la disciplina es muy importante en esa profesión, las demás bailarinas se marchan agotadas, pero Miranda continúa ensayando hasta muy tarde, para ella las cosas se hacen perfectas o no se hacen.
Horas después la música se detiene y ella voltea la mirada con el ceño fruncido molesta porque alguiense atrevió a interrumpir su práctica.
—Suficiente por hoy. — Pronuncia su hermanastro con los brazos cruzados.
— ¿Qué haces acá?— Logra balbucear la joven, un poco nerviosa por la presencia de la persona que tiene su mundo de cabeza.
—Nuestros padres me pidieron que pasara por ti, es tarde y hoy tenemos una cena especial. — Le responde.
Ella no reacciona por un instante, él da media vuelta y comienza a avanzar, ella se apresura a recoger sus cosas para seguirlo
El siempre ha sido el hombre más bello para ella, nunca desde que su familia la adopto, logro verlo como un hermano, aunque él se empeña en llamarla hermana cada vez que tiene oportunidad.
Darién, tiene la piel dorada contrasta con unos exóticos ojos grises y además practica varios deportes razón por la cual es una pared de músculos de un metro noventa.
—Apresúrate. — Ordena desde la puerta de la salida del edificio, sin voltear a mirarla.
—Voy. — Responde entre dientes Miranda casi corriendo detrás de él.
El sube a su auto sin abrirle la puerta, cosa que hace con sus novias, pero Miranda no puede reclamar nada ya que ella es solo su hermanita.
Cuando ella sube a su lado en el puesto de copiloto, no puede evitar suspirar cuando el olor amaderado del perfume de el inunda sus fosas nasales.
—Deberías hacer otra cosa, ese mundo de las bailarinas es muy competitivo. — Comenta, pero aprieta el volante con fuerza, él finge que la conversación que está iniciando no le interesa mucho.
—Soy la mejor de mi clase, estoy segura que conseguiré ese contrato. — Asegura Miranda tratando de controlar el temblor de su voz, no puede creer que precisamente él no crea en ella.
—No soporto la idea de que te vayas. — Admite él en voz tan baja que ella se pregunta si en realidad el acaba de decirlo o es una alucinación de su parte.
Darién enciende la música para no escuchar lo que ella tiene que decir al respecto, para Miranda el ballet es su pasión y no renunciara por nada, ni siquiera por él, que en secreto es la persona más importante de su vida.
Ella no sabe cómo interpretar las palabras que el acaba de pronunciar, pero su corazón comienza a latir a un ritmo apresurado, llenándose de ilusiones y esperanzas.
Lo observa manejar y sus ojos inevitablemente se quedan prendados en los labios de él, son rojos y carnosos, siempre se ha preguntado cuál será su sabor…
—Llegamos. —Anuncia él, y ella se despabila, el tiempo pasa volando cuando él está cerca.
Apenas el mayordomo abre la puerta, la señora Ferrer se queja — ¿No puedes ser puntual una vez en tu vida?— Reclama.
—Lo siento—. Titubea Miranda.
Cuando entra al comedor se encuentra con que el socio mayoritario de la empresa de su padre está allí, con toda su familia.
Durante la cena los ojos de Darién y Miranda se cruzan en varias oportunidades, ella enrojece y trata de disimular lo mucho que le afecta la presencia de él, las mariposas en su estomago casi no la dejan probar bocado.
Miranda teme que alguien se percate de la forma que ve a Darién, ¡que alguien en su familia se dé cuenta que está enamorada de su propio hermano!
Los ojos de Miranda por poco se salen de sus orbitas cuando Darién se pone de rodillas ante Alma la hija del socio de su padre, ¡no puede creer que eso está ocurriendo!
— ¿Te quieres casar conmigo?— Cuestiona, la otra mujer asiente con los ojos llenos de lágrimas
Miranda siente que su mundo se rompe en mil pedazos, quiere gritar, las lágrimas recorren su rostro, sabía que ese día llegaría pero no tenía idea que tan pronto.
Todos felicitan a la pareja Darién sonríe y abre los brazos hacia ella — ¿No piensas felicitarme hermanita?— Cuestiona.
Ella lo abraza y esconde su rostro bañado en lágrimas en el pecho de su amado, siente un dolor tan profundo como un puñal clavado en su pecho.
Dua di antara empat pembegal itu tanpa aba-aba langsung menyerangnya. Terlihat pria itu sedikit kewalahan. Tetapi akhirnya dia bisa membuat dua orang tadi terkapar. Maka, dua orang yang semula membekapku juga turun tangan. Salah satu di antara mereka mengeluarkan sebilah pisau.Mereka menyerang secara membabi buta. Dua orang ini terlihat nekat dan semakin brutal. Hingga naas, pria itu terkenal sayatan pisau. Tidak hanya mengaduh, dia juga setengah terkapar di jalanan.Saat itu, Udin punya kesempatan untuk mengambil balok di pinggir jalan, kemudian memukulkannya pada salah seorang pembegal yang memegang pisau. Melihat itu, mereka langsung lari. Apalagi apa yang mereka inginkan sudah mereka dapatkan.Aku dan Udin buru-buru membawa pria itu ke rumah sakit terdekat. Dia mendapatkan luka yang cukup serius, dua puluh jahitan sepanjang bahu kiri hingga lengan.Aku hanya menunggu di mobil, karena masih syok dengan kejadian yang baru saja kualami.Udin lah yang mengurus pria itu.Saat Udin mem
“Kamu pasti heran kenapa saya menjadikan kamu orang kepercayaan saya?”Pertanyaan yang tidak perlu kujawab. Dia paham ekspresi wajahku seperti apa saja ini. Dan aku hanya bisa mengangguk saja.“Ya, karena kamu punya kemampuan. Ketika beberapa kali melihatmu membantu Renata, saya yakin kamu bisa. Hanya saja, saya butuh faktor pendukung lainnya untuk memutuskan apakah saya memilihmu atau tidak.”Setiap tuturnya, seperti membawa hawa sejuk di hatiku. Aku merasa disanjung. Tapi, aku yakin pak Baskoro memutuskannya bukan karena hanya melihatku pernah membantu putrinya. Dia pasti punya maksud terselubung. Otak politikus, mudah ditebak.“Maaf, saya masih belum mengerti maksud pak Baskoro,” ujarku.“Oke. Terang-terangan saja saya bicaranya. Jadi begini, Rohan.” Pak Baskoro memindahkan tangannya ke atas meja, menatapku dengan tajam, lalu mulai bertutur kembali.“Saya hentikan kamu dari sopir pribadi. Kamu saya angkat menjadi orang kepercayaan saya. Tugas kamu, memegang data penting perusahaan
POV RohanHidup memang dihadapkan pada banyak pilihan. Kehidupan yang dijalani pada dasarnya merupakan hasil dari pilihan-pilihan.Aku sendiri tidak selalu bisa membuat keputusan yang tepat, kendati sudah melakukan banyak pertimbangan. Apapun keputusan akhirnya, pasti membawa ke dalam jurang penyesalan.Betapapun kusadari, bahwa melalui kesalahan dan kegagalan dalam hidup, maka bertambah kedewasaan itu. Jadi, tidak guna terus menyesali pilihan. Mestinya, belajar dari kegagalan dan menjadi lebih bijaksana ke depannya.Itu harapku.Tetapi lagi-lagi, tinggal bijaksana seperti apa dulu yang sudah menjadi keputusan saat ini. Walaupun mungkin, Shanti masih menganggapku tidak adil karena tidak memberinya pilihan. Tapi, yang jelas, luka batinnya tidak begitu dahsyat jika dibandingkan dengan lukaku..Kuantarkan Shanti ke terminal, sekadar menjalankan tugasku yang terakhir. Mungkin setelah ini, kutemui dirinya sebagai sosok yang lain, yaitu sang mantan.Aku mengamati dari kejauhan. Shanti meno
POV ShantiKupandangi foto di atas meja. Seorang anak yang tersenyum sedang bergandengan dengan empat teman lainnya. Pakaian yang dikenakannya membuat sejuk, mengenakan baju koko putih, memakai sarung dan lengkap dengan pecinya. Tampan, sepert bapaknya.Tidak ada foto lain yang tersisa. Bang Rohan hanya membawa foto Fikri seorang ke kontrakan barunya. Sedangkan foto kami bertiga, foto-foto pernikahan dan foto-foto kebersamaan keluarga kecilnya, tidak tampak lagi saat ini.Mungkin bang Rohan sudah menyembunyikannya, atau bahkan mungkin sudah membakarnya.Maafkan aku, bang . Aku merusak bangunan rumah tangga yang sudah susah payah kita bangun berdua. Batinku merintih.Tak dapat lagi kubendung air mata ini.Menyesal, dan sangat sakit menerima kenyataan pahit ini.Berkali-kali kusentuh handphone. Berharap ada sebuah panggilan atau pesan yang tertinggal di sana, tapi tak ada. Harapanku musnah. Bang Rohan enggan menghubungiku, bahkan ketika aku tinggal di rumah kontrakannya.Bang, tak adaka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น