Share

SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS
SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS
Penulis: HaniHadi_LTF

01. Malam tanpa rasa

Penulis: HaniHadi_LTF
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-01 14:55:16

“Uhh … M–Mas?” gumam Nilna setengah sadar ketika merasakan tubuhnya diambil kendali oleh orang lain.

Ranjang bergoyang semakin kencang. Sementara tubuh Nilna juga semakin bergetar hebat, bukan karena rasa nikmat atas sentuhan itu, tapi karena demam di tubuhnya yang sejak pagi ia rasakan hingga kini.

“M–mas … sakit,” rintih Nilna lirih, suaranya parau nyaris hilang karena keringnya tenggorokan.

Namun, Renji, suami Nilna seolah menulikan telinganya. Ia terus bergerak tanpa kenal ampun. Menjamah tiap jengkal tubuh Nilna yang terus meronta.

Tadi, Nilna sedang menunggu Renji pulang kerja. Namun, sampai hampir tengah malam belum juga ada kabar, hingga akhirnya Nilna tertidur karena sebenarnya tubuhnya juga terasa kurang sehat.

“Diamlah, sebentar lagi aku selesai,” kata Renji penuh penekanan, tatapannya hampir kabur karena mabuk, tapi tubuhnya tak berhenti bergerak.

Ranjang kembali berderit pelan setiap kali tubuh Renji bergerak.

Nilna menggigit bibirnya sendiri, berusaha menahan suara rintih yang hampir keluar. Bukan karena ia ingin menahan nikmat, melainkan menahan rasa nyeri yang menjalar sampai ke punggungnya. Pandangannya mulai berkunang, napasnya tidak teratur.

“Aku… lagi sakit, Mas…” bisiknya lagi, kali ini lebih lemah.

Renji berhenti sepersekian detik, bukan untuk memeriksa keadaan Nilna, tapi hanya untuk menghela napas jengkel.

“Itu kewajiban istri. Mau sakit atau tidak tetap harus. Jangan macam-macam, nanti malah jadi dosa.”

Nilna menggeleng kecil. “Tapi aku benar-benar nggak kuat…”

Belum sempat kalimatnya selesai, Renji sudah menarik lengannya dengan paksa, membuat tubuh Nilna bergeser di atas kasur.

Nilna meringis, rasa pusingnya makin menjadi. Kepalanya terasa berputar, pandangannya kabur, air matanya tak bisa lagi dibendung.

Selama ini, ia hanya dinikahi siri oleh Renji.  Setiap kali wanita itu meminta pernikahan yang sah dalam mata hukum, Renji selalu mengelak.

Bahkan, dalam keseharian entah sosok Nilna ini benar-benar dianggap sebagai istri atau tidak. Karena nyatanya, Nilna lebih banyak diperintah ini dan itu ketimbang didengarkan dan diperhatikan.

Padahal, dulu ketika Renji mengajak Nilna menikah siri, perilakunya sangat berbeda, Dulu Renji penuh perhatian, sangat menyayangi Nilna. 

“Mas … s–sakitt …”

Dan ketika Renji akhirnya berhenti bergerak dengan nada puas yang selalu ia dengar, keheningan jatuh tanpa sisa kehangatan.

Tidak ada kecupan penutup, tidak ada sentuhan lanjutan. Tubuh lelaki itu menjauh begitu saja, seperti selesai menggunakan sesuatu yang tak lagi perlu diperhatikan.

Nilna menatap suaminya dengan getir. Sejujurnya, ia juga ingin dikecup setelah melakukan tugasnya, ia ingin dipeluk dengan aman. Namun, semua itu sama sekali tak pernah ia dapat.

Jika Nilna berani meminta, jelas akan langsung dibalas dengan nada ketus oleh Renji.

Pada akhirnya, Nilna hanya bisa menerima. Ia merasa tak memiliki keluarga lagi, sejak kecil ia hanya hidup di rumah budenya, keluarga yang justru memperlakukan dia dengan tak manusiawi. Jika sekarang ia memilih pergi dari Renji, entah bagaimana nasibnya nanti, tanpa pekerjaan, tanpa rumah, tanpa keluarga yang menyayangi.

***

Ketika pagi datang, cahaya matahari menembus tirai tipis kamar, namun Nilna masih terbaring lemas di ranjang. Tubuhnya terasa panas dingin, keringat tipis membasahi pelipisnya.

Di sisi lain kamar, Renji sudah rapi dengan kemeja kerja, aroma parfum menyengat bercampur dengan suara gesekan ikat pinggangnya.

“Kenapa kamu masih tidur?” tanyanya datar sambil menggoyangkan bahu Nilna sedikit lebih keras dari seharusnya. “Cepat siapkan sarapan. Aku harus ke kantor.”

Nilna mengerjap pelan. Pandangannya kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok suaminya. Tenggorokannya terasa kering saat ia berusaha bicara.

 “Mas… aku kayaknya beneran sakit. Badanku lemas banget, kepalaku berat…” suaranya serak. “Apa kamu bisa antar aku ke dokter sebelum berangkat?”

Renji menghela napas panjang, jelas tidak sabar. Ia melirik jam tangannya lalu kembali menatap Nilna dengan alis berkerut.

“Ah kamu ini ada-ada aja. Cuma pusing sedikit dibesar-besarin,” gumam Renji ketus. “Pergilah sendiri. Aku sibuk.”

Nilna mencoba bangun, tapi tubuhnya langsung limbung. Ia kembali bersandar di bantal, napasnya pendek. “Tapi Mas… aku takut pingsan di jalan. Badanku benar-benar nggak enak…”

Renji mendecak kesal, mengambil tas kerjanya dengan gerakan cepat. “Sudah kubilang, aku nggak punya waktu ngurus begituan pagi-pagi. Kamu kan bisa naik ojek atau apa kek. Masa hal kecil begitu aja harus nunggu aku?”

Nilna terdiam. Jarinya mencengkeram ujung selimut, seolah mencari sedikit kekuatan dari kain tipis itu. “Aku cuma minta ditemenin sebentar…”

“Sudahlah, gak jadi aku sarapan di rumah,”  potong Renji cepat, lalu pergi meninggalkan Nilna begitu saja.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   08. Ketakutan

    Reyhan yang melihat Nilna cemas, jadi bingung."Bukan apa-apa hanya mengganti saja, biar orang yang telah tahu kode sini, tak bisa masuk.""Memangnya siapa orang yang kamu maksud?" tanya Nilna tak berani menebak, walau ia dapat merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Reyhan.Reyhan terlihat aneh saat menatap Nilna. "Bukan siapa-siapa. Kamu aman di sini," katanya, seolah meyakinkan diri sendiri.Reyhan memakai sepatu tanpa duduk, lalu menyambar kunci mobil di meja dan berlari kecil ke pintu, seolah-olah panggilan ibunya adalah hal yang penting. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, ia menoleh sekali lagi."Ada yang ketinggalan, Mas?" tanya Nilna saat ia menatap Reyhan yang gusar.Sebuah senyum dipaksakan Reyhan. "Aku pasti cepat balik. Kamu kunci pintu dari dalam saja. Jangan buka ke siapa pun." Reyhan menatap Nilna serius, seakan ada sesuatu yang ia khawatirkan."Cara nguncinya?""Begini... " Reyhan menjelaskan dengan sabar, bahkan berulang kali.Nilna manggut-manggut.Reyhan akhirn

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   07. Baru sekarang

    Reyhan membuka pintu mobil. Menyuruh Nilna masuk dengan mengambil tas Nilna terlebih dulu.Nilna sempat tertegun menatap Reyhan sebelum masuk mobil dan mendekap tasnya kembali setelah diserahkan Reyhan. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain, khususnya Renji."Mas, terimakasih, " ucapnya canggung sambil menunduk.Reyhan hanya tersenyum mengangguk.Mobil terus melaju. Sampai di sebuah apartemen."Sudah sampai," ucap Reyhan tersenyum menoleh ke Nilna.Nilna tersentak kecil. Mobil melambat, lalu berhenti mulus. Reyhan mematikan mesin. Sunyi jatuh sejenak sebelum pintu dibuka.Nilna menoleh ke luar. Gedung itu menjulang, kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi. Tinggi. Terlalu tinggi. Lampu-lampu lobby terlihat dari kejauhan, putih bersih, dingin."Mas..." Suara Nilna nyaris tak terdengar. "Rumah kamu... di sini?""Iya," jawab Reyhan sambil turun lebih dulu. Ia berjalan memutari mobil, membuka pintu Nilna. Tangannya sigap mengambil tas besar dari pangkuan Nilna

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   06. Jalan keluar

    Sopir angkot itu ikut menoleh, tapi bukannya takut, ia malah tetap memaksa Nilna masuk ke dalam angkotnya.“Mas, tolongin saya,” pinta Nilna pada Reyhan sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sopir angkot itu.“Aku bilang sekali lagi, lepasin dia!” Suara tegas Reyhan kembali terdengar.Akhirnya, cengkeraman tangan kasar pada bahu Nilna mengendur. Lelaki berseragam angkot itu menatap Reyhan setengah malas, lalu menyeringai ketika melihat Reyhan maju beberapa langkah.“Ada masalah, Mas? Ini cuma salah paham saya sama istri saya, kenapa Masnya gak suka gitu?” kata sopir angkot itu dengan enteng."Istri? " tanya Reyhan. Nada suaranya menurun, justru lebih berbahaya.Nilna menelan ludah. Bahunya masih terasa nyeri. Tangannya mencengkeram tali tas lusuhnya kuat-kuat, seolah itu satu-satunya penopang agar ia tak jatuh."Iya, dia istri saya, memangnya kamu siapa?" kata sopir angkot itu tak kalah berani."Dia tetangga saya, masih lajang," kata Reyhan datar, dengan senyum remeh.Tentu

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   05. Tak ada rencana

    Nilna terkejut. Tangannya refleks menutup bahunya. “Aku nggak sengaja, Mas. Bajunya memang sudah—”“Alasan!” potong Renji kasar.Pandangan Renji turun lagi ke bajunya.“Kenapa kamu nggak beli baju baru? Aku kan udah kasih uang belanja ke Mami. Emang mami nggak ngasih uang ke kamu?” tanyanya sinis.Nilna menghela napas pelan, lalu menjawab lirih, “Dikasih, Mas. Tapi itu kan cuma buat belanja kebutuhan rumah. Gak cukup kalau untuk beli yang lain.”Renji tertawa pendek. “Alasan. Bilang saja kamu memang gak bisa mengatur keuangan. Atau … kamu berharap dibelikan baju sama aku, kan?”Nilna kembali menunduk. Tidak ada bantahan, tidak ada air mata yang jatuh. Ia hanya diam, menelan tuduhan demi tuduhan, sementara sisa harga dirinya runtuh perlahan di lantai dapur itu.“Buang baju itu!” kata Renji sebelum melangkah pergi. “Jangan sampai aku pulang nanti masih lihat kamu pakai baju kayak gitu!”Setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan Nilna yang masih menunduk di dapur sendirian.****Malam

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   04. Saat Renji datang

    Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menegaskan betapa kecil dan tidak berharganya Nilna di mata Renji. Seketika, semua ini seperti menjadi jawaban kenapa dulu Renji memperlakukannya begitu manis.Nilna menoleh ke luar jendela, memaksa dirinya diam. Sekali lagi ia teringat, setidaknya di rumah itu ia masih diberi makan. Masih punya atap untuk berteduh. Tidak seperti di rumah budenya dulu, tempat teriakan dan tangan kasar sudah jadi keseharian yang tak pernah bisa ia hindari.Nilna menelan pahit. Menerima nasib ini terasa hina, tapi bertahan masih terasa lebih aman. Ia hanya bisa menggenggam harapan kecilnya sendiri.Jika ibunya yang suatu hari akan pulang dari negeri orang, atau jika dirinya yang kelak punya pekerjaan, cukup untuk berdiri tanpa bergantung pada siapa pun. Karena Nilna tahu, berharap dinikahi secara sah oleh Renji hampir mustahil.****Hari berganti, sementara aktivitas Nilna masih terus sama. Ia baru saja pulang dari pasar setelah berbelanja keperluan dapur.Tadi,

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   03. Ke Bidan

    Nilna tak punya pilihan. Akhirnya ia beranjak dengan langkah sedikit berat menuju kamar untuk berganti pakaian.Begitu selesai berganti pakaian, Nilna kembali ke ruang tengah. Ternyata Ayaka juga sudah bersiap di sana.Nilna merasa semakin bingung. Jika hanya ke bidan, kenapa ibu mertuanya harus ikut. Namun, ketika ia ingin bertanya, Renji sudah lebih dulu melempar tatapan tajamnya.“Ayo cepat, lama sekali kamu ini,” ketus Renji sambil berjalan lebih dulu keluar rumah.Akhirnya, Nilna hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Di belakangnya, Ayaka mengikuti.“Bu, memangnya kenapa sih kita harus ke bidan? Badan saya sudah mendingan juga kok,” tanya Nilna sedikit ragu pada mertuanya. Terlebih, ia juga merasa ada firasat aneh ketika mendengar Renji mengajaknya ke bidan.“Kamu ini kenapa banyak tanya sih?! Tinggal nurut aja kok susah!” gerutu Ayaka dengan tatapan menusuknya.Nilna bergidik, lalu menunduk. Di rumah ini, ia memang benar-benar tak punya kesempatan untuk mendapat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status