Share

08. Ketakutan

Penulis: HaniHadi_LTF
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-04 18:12:09

Reyhan yang melihat Nilna cemas, jadi bingung.

"Bukan apa-apa hanya mengganti saja, biar orang yang telah tahu kode sini, tak bisa masuk."

"Memangnya siapa orang yang kamu maksud?" tanya Nilna tak berani menebak, walau ia dapat merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Reyhan.

Reyhan terlihat aneh saat menatap Nilna. "Bukan siapa-siapa. Kamu aman di sini," katanya, seolah meyakinkan diri sendiri.

Reyhan memakai sepatu tanpa duduk, lalu menyambar kunci mobil di meja dan berlari kecil ke pintu, seolah-olah panggilan ibunya adalah hal yang penting. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, ia menoleh sekali lagi.

"Ada yang ketinggalan, Mas?" tanya Nilna saat ia menatap Reyhan yang gusar.

Sebuah senyum dipaksakan Reyhan.  "Aku pasti cepat balik. Kamu kunci pintu dari dalam saja. Jangan buka ke siapa pun." Reyhan menatap Nilna serius, seakan ada sesuatu yang ia khawatirkan.

"Cara nguncinya?"

"Begini... " Reyhan menjelaskan dengan sabar, bahkan berulang kali.

Nilna manggut-manggut.

Reyhan akhirnya pergi. Pintu benar-benar tertutup. Suara langkah menjauh. Sunyi merayap pelan.

Nilna berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Apartemen terasa terlalu luas, terlalu asing. Ia menarik napas dalam, memikirkan wajah Reyhan yang terlihat khawatir. Dengan cepat ia mengunci pintu dari dalam.

Satu hal yang masih diingat Nilna adalah perkataan Reyhan. "Kenapa dia berkata soal mengganti kode? Apa maksudnya?" batin Nilna bingung, sekaligus takut.

Nilna mengingat cara yang diajarkan Reyhan. Ia menutup pintu perlahan. Kunci berbunyi pelan, mengunci sendiri. Ia ragu sejenak, lalu menggeser pengunci besi dari dalam. Baru setelah itu dadanya terasa sedikit longgar.

Pandangan Nilna jatuh ke lantai yang masih berantakan. Pakaian kotor terkumpul di dalam kamar Reyhan yang terbuka sedikit. Gelas dan piring kotor yang tidak hanya baru saja mereka pakai makan. Debu tipis pun menempel di perabotan mewah seperti yang Nilna jumpai di rumah Renji.

Tangannya bergerak tanpa rencana. Ia mengambil gelas yang masih ada di meja menuju dapur. Air mengalir. Bunyi keran menenangkan. Satu gelas dicuci, lalu dua, lalu semuanya. Rak piring tertata kembali.

Nilna menyingsingkan lengan baju. Ia beranjak ke kamar Reyhan yang terkesan lebih mewah dari kamar yang ia tempati.

Di sebelah ranjang kingsize itu penuh dengan pakaian kotor yang tadi dilempar Reyhan dengan asalan. Namun, tampak satu kresek merah besar berada di atas ranjang. Rupanya itu pakaian Reyhan dari loundry.

Nilna membuka kresek itu. Dengan cekatan ia memasukkannya ke almari. Almari panjang yang penuh dengan jas formal.

Nilna lalu membuka pintu satunya, Kemeja Reyhan digantung agar tak kusut. Kaus-kaus disatukan. Celana dipisah. Gerakannya pelan, teratur, seperti sedang menenangkan pikiran sendiri.

Nilna lalu membawa pakaian kotor keluar. Mesin cuci berdiri di sudut dapur kecil. Tutup ia buka. Ternyata sudah ada pakaian kotor di sana, sepertinya sudah lama.

Nilna mengeluarkan semua pakaian itu. Kuatir ada pakaian warna putih yang harus ia pisahkan.

Setelah itu, ia masukkan pakaian satu per satu. Warna gelap, warna terang. Nilna ragu sejenak, lalu mencampur semua. Sabun dituang secukupnya.

Saat tangannya mengambil kaus dari tumpukan, jarinya berhenti saat ia memegangnya. Pakaian itu terasa berbeda dari yang tadi. Lebih kecil. Juga bau parfum yang ia kenal dengan baik.

Nilna mengangkatnya. Kaus abu-abu dengan garis tipis di kerah. Ia mengenalinya. Terlalu mengenal. Dadanya mengencang.

"Kenapa pakaian ini ada di sini?" batin Nilna bingung. Tangannya gemetar. Ia membalik kaus itu, menelitinya dengan seksama.

"Apakah dia sering kemari sampai meninggalkan pakaian kotor di sini?"

Nilna dengan gemetar memasukan kembali pakaian yang lain. Kembali ia mendapati celana jeans berukuran yang lebih kecil, dan Nilna tahu, itu pakaian siapa.

Nilna terduduk pelan di lantai dapur. Mesin cuci terbuka, menunggu. Bunyi jam dinding berdetak keras di telinga.

"Kenapa pakaian Renji ada di apartemen Reyhan?"

Pikirannya berlari, tersandung kekhawatiran yang ditampakkan Reyhan baru saja.

Nilna menelan napas. Kaus itu teremas di tangannya, seperti bukti yang tak ia minta, kalau Renji sudah biasa di sini, dan mungkin bisa sewaktu-waktu akan datang.

Ia menutup mata sebentar, lalu berdiri. Kaus itu ia masukkan ke mesin cuci bersama yang lain. Tutup diturunkan. Tombol ditekan. Mesin menyala. Air berputar. Pakaian bercampur tanpa suara.

Sambil menunggu mesin cuci bekerja, Nilna membersihkan apartemen. Menyapu lantai. Mengepelnya. Mengelap meja. Merapikan rak sepatu. Tangannya bekerja, pikirannya kosong.

Waktu merayap. Cahaya matahari bergeser di dinding. Nilna melihat pintu yang tak kunjung terbuka.

Nilna lalu duduk di sofa. Tangannya terlipat di pangkuan. Sesekali matanya menatap pintu, lalu jendela, lalu lantai.

"Apakah Renji tahu kode apartemen ini? Bagaimana jika sewaktu-waktu ia masuk karena kode yang belum diganti seperti kata Reyhan tadi?" Nilna begitu cemas. Kecemasannya sampai membuat dia tak ingat makan.

Suara mesin cuci berhenti. Nilna segera beranjak dan membuka pintunya. Uap hangat keluar. Nilna mengeluarkan pakaian satu per satu, masih terasa suam.

Kaus abu-abu dan celana jeans itu kembali terlihat jelas, bercampur dengan yang lain. Entah kenapa dadanya justru makin sesak.

Dengan bergegas, Nilna mengambil setrika dan menyetrika semuanya.

"Selesai juga," guman Nilna merebahkan tubuhnya di lantai. "Ternyata begin rasanya hidup tentram." Nilna tersenyum menatap langit-langit apartemen. Baru kali ini ia merasakan semua itu.

Tiba-tiba saja, terdengar bel berbunyi.

Nilna menoleh cepat. Lalu mendekat ke arah pintu dengan dada berdebar.

"Siapa yang membunyikan bel? Reyhan kah? Atau jangan-jangan dia Renji?"

Nilna panik. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia tak tahu bagaimana caranya agar tahu siapa orang yang sedang berada di balik pintu itu.

Bel berbunyi lagi.

Nilna masih bingung. Ia lalu beranjak ke dekat dapur, mengambil alat seadanya untuk memukul.

Tiba-tiba, dari balik pintu terdengar suara. Tenang. Tidak tergesa.

“Nilna,” panggilnya pelan. “Ini aku. Reyhan.”

Nilna menghembuskan nafas. Lalu membuka pintu.

Reyhan masuk dengan napas terengah. Rambut ikalnya sedikit basah.  Wajahnya tegang.

"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya cepat.

Nilna berdiri. "Nggak."

Reyhan menatap Nilna. "Kamu kok bawa sapu?"

"E, ini, Mas. Aku pikir tadi bukan kamu, tapi..."

"Tapi siapa?'

Nilna menunduk. "Apa bener Renji sering kemari sampai pakaian dia pun ada di sini?"

"Pakaian Renji?" Mata Reyhan menyapu pandangan ke sekitar. Alisnya terangkat. Apartemen jauh lebih rapi. "Kamu... beresin semua?" tanyanya pelan.

Nilna mengangguk. "Maaf kalau lancang."

"Enggak." Reyhan mengusap tengkuk. "Terima kasih."

Reyhan segera melangkah ke arah pintu kamar, lalu berhenti mendadak. "Kamu juga cuci bajuku?"

Nilna mengangguk.

"Nilna, kenapa kamu lakukan ini?" Reyhan lalu menatap Nilna. " Apa karena itu kamu jadi bertanya soal Renji?"

Nilna kembali mengangguk.

Reyhan beranjak ke pintu. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan ponsel.

"Aku ganti kode sekarang," katanya. "Biar aman."

Belum sempat ia menekan layar, bel pintu berbunyi.

Satu kali terdengar pendek, membuat tubuh Reyhan menegang. Tatapannya terangkat ke pintu.

Nilna membeku.

Bel berbunyi lagi. Kali ini lebih lama.

Reyhan melangkah pelan, mendekati pintu. Tangannya terangkat, ragu menyentuh gagang.

Suara dari balik pintu terdengar. Datar. Dikenal.

"Rey. Aku tahu kamu di dalam."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   08. Ketakutan

    Reyhan yang melihat Nilna cemas, jadi bingung."Bukan apa-apa hanya mengganti saja, biar orang yang telah tahu kode sini, tak bisa masuk.""Memangnya siapa orang yang kamu maksud?" tanya Nilna tak berani menebak, walau ia dapat merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Reyhan.Reyhan terlihat aneh saat menatap Nilna. "Bukan siapa-siapa. Kamu aman di sini," katanya, seolah meyakinkan diri sendiri.Reyhan memakai sepatu tanpa duduk, lalu menyambar kunci mobil di meja dan berlari kecil ke pintu, seolah-olah panggilan ibunya adalah hal yang penting. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, ia menoleh sekali lagi."Ada yang ketinggalan, Mas?" tanya Nilna saat ia menatap Reyhan yang gusar.Sebuah senyum dipaksakan Reyhan. "Aku pasti cepat balik. Kamu kunci pintu dari dalam saja. Jangan buka ke siapa pun." Reyhan menatap Nilna serius, seakan ada sesuatu yang ia khawatirkan."Cara nguncinya?""Begini... " Reyhan menjelaskan dengan sabar, bahkan berulang kali.Nilna manggut-manggut.Reyhan akhirn

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   07. Baru sekarang

    Reyhan membuka pintu mobil. Menyuruh Nilna masuk dengan mengambil tas Nilna terlebih dulu.Nilna sempat tertegun menatap Reyhan sebelum masuk mobil dan mendekap tasnya kembali setelah diserahkan Reyhan. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain, khususnya Renji."Mas, terimakasih, " ucapnya canggung sambil menunduk.Reyhan hanya tersenyum mengangguk.Mobil terus melaju. Sampai di sebuah apartemen."Sudah sampai," ucap Reyhan tersenyum menoleh ke Nilna.Nilna tersentak kecil. Mobil melambat, lalu berhenti mulus. Reyhan mematikan mesin. Sunyi jatuh sejenak sebelum pintu dibuka.Nilna menoleh ke luar. Gedung itu menjulang, kaca-kacanya memantulkan cahaya pagi. Tinggi. Terlalu tinggi. Lampu-lampu lobby terlihat dari kejauhan, putih bersih, dingin."Mas..." Suara Nilna nyaris tak terdengar. "Rumah kamu... di sini?""Iya," jawab Reyhan sambil turun lebih dulu. Ia berjalan memutari mobil, membuka pintu Nilna. Tangannya sigap mengambil tas besar dari pangkuan Nilna

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   06. Jalan keluar

    Sopir angkot itu ikut menoleh, tapi bukannya takut, ia malah tetap memaksa Nilna masuk ke dalam angkotnya.“Mas, tolongin saya,” pinta Nilna pada Reyhan sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sopir angkot itu.“Aku bilang sekali lagi, lepasin dia!” Suara tegas Reyhan kembali terdengar.Akhirnya, cengkeraman tangan kasar pada bahu Nilna mengendur. Lelaki berseragam angkot itu menatap Reyhan setengah malas, lalu menyeringai ketika melihat Reyhan maju beberapa langkah.“Ada masalah, Mas? Ini cuma salah paham saya sama istri saya, kenapa Masnya gak suka gitu?” kata sopir angkot itu dengan enteng."Istri? " tanya Reyhan. Nada suaranya menurun, justru lebih berbahaya.Nilna menelan ludah. Bahunya masih terasa nyeri. Tangannya mencengkeram tali tas lusuhnya kuat-kuat, seolah itu satu-satunya penopang agar ia tak jatuh."Iya, dia istri saya, memangnya kamu siapa?" kata sopir angkot itu tak kalah berani."Dia tetangga saya, masih lajang," kata Reyhan datar, dengan senyum remeh.Tentu

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   05. Tak ada rencana

    Nilna terkejut. Tangannya refleks menutup bahunya. “Aku nggak sengaja, Mas. Bajunya memang sudah—”“Alasan!” potong Renji kasar.Pandangan Renji turun lagi ke bajunya.“Kenapa kamu nggak beli baju baru? Aku kan udah kasih uang belanja ke Mami. Emang mami nggak ngasih uang ke kamu?” tanyanya sinis.Nilna menghela napas pelan, lalu menjawab lirih, “Dikasih, Mas. Tapi itu kan cuma buat belanja kebutuhan rumah. Gak cukup kalau untuk beli yang lain.”Renji tertawa pendek. “Alasan. Bilang saja kamu memang gak bisa mengatur keuangan. Atau … kamu berharap dibelikan baju sama aku, kan?”Nilna kembali menunduk. Tidak ada bantahan, tidak ada air mata yang jatuh. Ia hanya diam, menelan tuduhan demi tuduhan, sementara sisa harga dirinya runtuh perlahan di lantai dapur itu.“Buang baju itu!” kata Renji sebelum melangkah pergi. “Jangan sampai aku pulang nanti masih lihat kamu pakai baju kayak gitu!”Setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan Nilna yang masih menunduk di dapur sendirian.****Malam

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   04. Saat Renji datang

    Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menegaskan betapa kecil dan tidak berharganya Nilna di mata Renji. Seketika, semua ini seperti menjadi jawaban kenapa dulu Renji memperlakukannya begitu manis.Nilna menoleh ke luar jendela, memaksa dirinya diam. Sekali lagi ia teringat, setidaknya di rumah itu ia masih diberi makan. Masih punya atap untuk berteduh. Tidak seperti di rumah budenya dulu, tempat teriakan dan tangan kasar sudah jadi keseharian yang tak pernah bisa ia hindari.Nilna menelan pahit. Menerima nasib ini terasa hina, tapi bertahan masih terasa lebih aman. Ia hanya bisa menggenggam harapan kecilnya sendiri.Jika ibunya yang suatu hari akan pulang dari negeri orang, atau jika dirinya yang kelak punya pekerjaan, cukup untuk berdiri tanpa bergantung pada siapa pun. Karena Nilna tahu, berharap dinikahi secara sah oleh Renji hampir mustahil.****Hari berganti, sementara aktivitas Nilna masih terus sama. Ia baru saja pulang dari pasar setelah berbelanja keperluan dapur.Tadi,

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   03. Ke Bidan

    Nilna tak punya pilihan. Akhirnya ia beranjak dengan langkah sedikit berat menuju kamar untuk berganti pakaian.Begitu selesai berganti pakaian, Nilna kembali ke ruang tengah. Ternyata Ayaka juga sudah bersiap di sana.Nilna merasa semakin bingung. Jika hanya ke bidan, kenapa ibu mertuanya harus ikut. Namun, ketika ia ingin bertanya, Renji sudah lebih dulu melempar tatapan tajamnya.“Ayo cepat, lama sekali kamu ini,” ketus Renji sambil berjalan lebih dulu keluar rumah.Akhirnya, Nilna hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Di belakangnya, Ayaka mengikuti.“Bu, memangnya kenapa sih kita harus ke bidan? Badan saya sudah mendingan juga kok,” tanya Nilna sedikit ragu pada mertuanya. Terlebih, ia juga merasa ada firasat aneh ketika mendengar Renji mengajaknya ke bidan.“Kamu ini kenapa banyak tanya sih?! Tinggal nurut aja kok susah!” gerutu Ayaka dengan tatapan menusuknya.Nilna bergidik, lalu menunduk. Di rumah ini, ia memang benar-benar tak punya kesempatan untuk mendapat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status