Share

06

Author: Datu Zahra
last update Last Updated: 2025-10-05 08:50:36

Setelah mencuci pakaian, merapikan rumah, memasak, Guang Fang membantu istrinya membersihkan diri sembari memandikan sang putri.

Bubur kentang dengan campuran daging kelinci, asparagus, bayam dan telur. Menjadi menu sarapan pasangan suami istri itu, seraya menunggu Yuhan datang guna pergi kekota.

Satu ekor rusa kira-kira seberat dua ratus kilo, empat jenis kacangan-kacangan dengan masing-masing seberat sepuluh kilo, dua ginseng merah dan empat jenis jamur yang beratnya mencapai enam kilo.

Menjadi harapan keluarga untuk mendapatkan koin emas dan perak.

"Doakan ayah ya..? semoga semua hasil buruan ayah dan paman kemarin terjual. ayah akan membelikanmu selimut yang bagus, supaya kau tidak kedinginan." ucap Guang Fang mengajak putrinya berbicara.

Su Zhi tertawa lebar, mata jernihnya berkedip riang menanggapi celotehan ayahnya. Namun didalam hati ia berucap, jika keberuntungan disertai kemudahan akan kembali menghampiri ayah dan pamannya.

Wang Fang dan Wei Zilan terkekeh, menoel gemas pipi sang putri.

Baru berusia dua hari tapi bersikap seolah mengerti apa kata orangtuanya. Tidak rewel, hanya sesekali menangis itu pun karena lapar atau popoknya basah tak nyaman.

Begitu Yuhan tiba, kedua lelaki itu langsung berangkat.

"Mau kekota Chang'an atau keIbukota...?" tanya Guang Fang.

"Kekota saja dulu." jawab Yuhan "kalau tidak ada pembeli, baru keIbukota."

Cuma butuh sepuluh menit untuk sampai digerbang kota Changan, dengan menggunakan tehnik meringankan tubuh.

Token identitas mereka tunjukan pada penjaga, bersama satu koin perak sebagai pajak masuk.

Guang Fang dan Yuhan menuju ketempat dimana para pemburu menjual hasil yang didapat, jaraknya sekitar lima ratus meter dari gerbang kota.

Tak begitu banyak yang menjual hasil buruan hari ini, hanya ada sekitar tujuh orang disana. Itu pun cuma membawa sayuran liar, tanaman herbal, beberapa ekor kelinci, burung pegar dan babi berukuran kecil.

Rusa, kacang-kacang serta jamur langsung dikeluarkan begitu mendapat tempat. Semua perhatian pengguna jalan seketika saja tertuju pada kedua pria itu.

Bukan hanya karena barang yang dijual, tapi juga keberadaan cincin penyimpanan. Bagaimana bisa seorang rakyat jelata memiliki benda berharga itu.

Pria paruhbaya berusia kisaran empat puluh lima tahunan, dengan mengenakan pakaian yang menunjukan status sosialnya. Menghampiri Guang Fang dan Wei Yuhan, diikuti dua pria muda berpakaian pelayan.

"Salam tuan...!" sapa Fang dan Yuhan menundukan kepala sopan.

"Apa yang dikeranjang-keranjang itu..?" tunjuk pria paruhbaya.

"Ini kastanye, hickory, kenari dan xing ren (almond)." jawab Guang Fang.

"Kalau yang ini jamur..!" sambung Yuhan menyibak daun pinus yang menutupi permukaan keranjang.

Netra pria paruhbaya itu berbinar, jamur dan empat jenis kacang ditambah rusa. Putra-putrinya pasti akan sangat senang.

"Ada berapa ini semua..?" tanya pria paruhbaya dan dipaparkan oleh Yuhan dengan ramah.

"Rusanya tiga puluh lima koin emas, bagaimana..? tawar pria itu.

satu kilo gram daging rusa harga normal dipasaran kisaran dua puluh hingga dua puluh lima koin perak, sementara babi lima belas koin perak.

Untuk kulit rusa, harganya mencapai lima koin emas. Jika sudah diolah menjadi kertas, akan jauh lebih mahal lagi.

Guang Fang dan Yuhan bertukar tatapan, saling bertanya guna mencapai kesepakatan.

"Baik tuan, kami terima." jawab Yuhan.

Pria itu mengangguk "untuk kacang dan jamur, semua aku beli sesuai dengan harga pasar." ucapnya.

Fang dan Yuhan tersenyum lebar, ucap syukur menggaung dalam hati masing-masing.

Pria itu menyerahkan empat puluh tiga koin emas, dan langsung Guang Fang simpan.

"Kalau lain kali kalian mendapat tangkapan bagus, bawa kerumah Bai terlebih dulu." titah pria itu.

"Baik tuan Bai, terimakasih...!" ucap kompak Fang dan Yuhan.

Tuan Bai mengibaskan tangan, semua barang yang ia beli menghilang dari sana.

"Em, tuan Bai..! kami memiliki dua ginseng merah, mungkin tuan berminat membelinya..?" Guang Fang menawarkan.

Klan Bai, memiliki toko herbal yang cukup terkenal disetiap kota dan Ibukota kekaisaran. Tak mau membuang pelung, Fang sekalian saja menawarkan.

"Apa, kalian mempunyai ginseng merah..?" pekik tuan Bai terbelalak.

Guang Fang dan Yuhan kompak mengangguk.

Dua ginseng merah kualitas terbaik sebesar lengan balita, muncul dihadapan mereka. Tuan Bai makin mendelik, berbinar rakus melihat harta karun itu.

Ditelitinya dengan seksama dua ginseng, dan setelah memastikan kualitasnya, tuan Bai pun menawarkan harga.

"Empat puluh koin emas untuk dua ginseng ini, kalian mau..?" tanya tuan Bai dan diyakan oleh Fang dan Yuhan.

Ginseng merah, masuk kegolongan herbal langka dan mahal. Harga ginseng merah kualitas terbaik bisa mencapai tiga puluh lima hingga empat puluh koin emas, tergantung ukuran dan usia.

Jika sudah diracik bersama herbal lain, bisa menghasilkan lebih banyak lagi koin emas. Tak heran jika tuan Bai berani memberi harga setinggi itu.

Dalam waktu semalam, Guang Fang dan Yuhan menjadi orang kaya. Delapan puluh tiga koin emas mereka kantongi. Itu bisa mencukupi kebutuhan makan selama dua tahun.

Empat puluh koin emas menjadi bagian masing-masing. Sementara tiga koin lagi, akan diberikan pada tuan dan nyonya Wei.

Mereka lalu berbelanja bersama.

Guang Fang membeli dua selimut bulu tebal kualitas nomor satu, dengan menghabiskan empat koin emas. Tiga stel pakain sutra dan sepasang sepatu untuk anak istrinya.

Garam, tepung, susu, kue bulan, teratai dan persik, keduanya borong.

Tak lupa Yuhan membelikan permen serta tanghulu bagi putranya.

Harga permen, tanghulu atau camilan manis lainnya, pada masa ini harganya sangat mahal. Satu potong permen sebesar jari kelingking saja harganya lima koin perak.

Tanghulu persatuan bisa mencapai tujuh hingga sepuluh koin perak. Semua karena mahalnya madu dan rumitnya proses mengekstrak akar ilalang.

Untuk beras, gandum dan kentang, mereka masih memiliki stok dirumah hasil panen kemarin.

Bibit sayuran, padi, gandum dan jagung, Guang Fang dan Yuhan beli juga.

Tepat ketika jam makan siang Guang Fang dan Yuhan sampai dirumah masing-masing, dengan membawa sisa koin emas sebanyak dua puluh tujuh keping.

"Banyak sekali, kita kaya...!" ucap bergetar Zilan menggenggam kantung koin emas yang diberikan sang suami.

Guang Fang mengusap lembut surai panjang sang istri, lalu berpindah pada putrinya.

"Zhi'er membawa keberuntungan untuk kita. Biasanya tidak seperti ini, jangankan mendapat rusa dan babi besar. Mendapat ayam hutan saja sulit " ucap Guang Fang.

Wei Zilan mengangguk "kau benar, Zhi'er kita membawa keberuntungan."

Guang Fang dan Wei Zilan larut dalam kebahagiaan, sembari memandang wajah mungil Su Zhi. Kecupan penuh kasih disertai cubitan lembut, sesekali mereka berikan.

Su Zhi menarik kedua sudut bibirnya, membentuk guratan manis sampai kemata.

Vitur wajah tampan berkharisma sang ayah, wajah lembut cantik mempesona ibunya. Mengingatkan Su Zhi pada kedua orangtua dikehidupan sebelumnya.

Sangat mirip bahkan sama , hanya berbeda rupa saja. Jika dulu ibunya berwajah bulat bertubuh mungil, kali ini berwajah oval berdagu lancip dengan badan tinggi semampai bak model.

Kalau dimasa lalu ayahnya bertubuh kekar dengan tinggi standart rata-rata orang Asia. Kali ini berbeda, Guang Fang sosok lelaki bertubuh tinggi tegap berwajah tegas namun lembut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SATU JIWA DUA KEHIDUPAN   12

    Empat musim silih berganti, membuang luka lalu mendatangkan kebahagiaan. Mengusir kesulitan dengan kemudahan, serta menyingkirkan penghalang guna menghadirkan keberhasilan.Satu tahun berlalu. Bisnis manisan benang emas dan tanghulu yang memakai buah Hawthorn dan jujube, berhasil menarik banyak peminat sampai detik ini.Enam varian minuman seduh herbal dengan bahan utama pemanis gula pear, laris manis dipasaran.Prodak itu dinamai gula herbal.Pilihan prodak ada gula pear dengan campuran bunga osmanthus.Gula pear ditambah kurma jujube dan biji angkak.Gula pear dipadupadankan bersama bubuk kayu manis dan mint.Bubuk jahe dicampur gula per dan kurma jujube.Teh jasmin dan gula pear diberi tambahan kurma madu.Gula pear yang dikemas bersama bubuk ginseng putih, sari akar ilalang dan biji angkak.Semua sangat bagus bagi kekebalan imun dan daya tahan tubuh. Jika dimusim panas, gula herbal itu juga

  • SATU JIWA DUA KEHIDUPAN   11

    Dengan menaiki kereta sewaan, Guang Fang bersama istri dan putrinya pergi keIbukota pusat.Begitu juga dengan Yuhan, Mu Yue, Zilong, tuan dan nyonya Wei tua.Memerlukan waktu satu jam untuk sampai ditempat tujuan."Kalian jalan-jalan saja, biar aku dan kakak ipar yang berjualan." titah Guang Fang pada istri, mertua dan istri Yuhan."Tidak, kami akan membantu kalian. Kalau mau melihat-lihat Ibukota dan berbelanja, lebih bagus bersama-sama." sahut nyonya Wei.Mereka pun mencari tempat.Setelah mendapatkan lokasi yang cocok lalu membayar pajak. Meja dan dagangan dikeluarkan dari cincin penyimpanan.Tanghulu disusun rapi pada tiang jerami, sementara manisannya tetap ditempatkan pada gentong tanah liat."Tanghulunya tuan, nyonya..! ada manisan juga."Teriak para orang dewasa menawarkan guna menarik pembeli.Guang Su Zhi dan Wei Zilong yang duduk dibangku kayu kecil, mencuri banyak perhatian pengguna

  • SATU JIWA DUA KEHIDUPAN   10

    Seratus dua puluh koin emas, Guang Fang dan Wei Yuhan dapat dari kediaman tuan Bai.Semua hasil buruan yang mereka bawa pagi ini, diborong oleh tuan kaya raya itu.Jadi sudah tak perlu bersusah payah lagi Guang Fang dan Wei Yuhan menjualnya."Mau berbelanja atau langsung pulang..?" tanya Wei Yuhan."Pulang saja." jawab cepat Guang Fang."Bukankah kita akan membuat gula pear..? belanjanya besok saja sekalian menjual tanghulu dan manisan benang emas." sahut riang Guang Fang.Langkah kedua pria rupawan itu nampak sangat ringan, dengan senyum dan tawa yang tak jua sudi luntur tersungging dibibir."Bagaimana kalau besok menjualnya keIbukota saja..? aku ingin mengajak istri dan putraku juga orangtua kita sekalian, mereka sudah lama tidak jalan-jalan." tanya Wei Yuhan."Ide bagus..! aku juga akan mengajak istri dan putriku." sahut Guang Fang bersemangat.Sesampainya dirumah, para istri dan orangtua sudah bersi

  • SATU JIWA DUA KEHIDUPAN   09

    Guang Fang dan Wei Zihan masih tertegun linglung, memandangi cincin penyimpanan yang tergeletak diatas meja. Sampai mereka tak menyadari jika nenek tua telah hilang tanpa jejak diujung jalan desa.Kata-kata pesan wasiat dari nenek tua itu sebelum pamit, masing nyata terngiang digendang telinga."Didalamnya ada sesuatu yang sangat dibutuhkan putri kalian, berikan padanya ketika dia berusia sepuluh tahun.""Tapi ini sangat berharga, kami tidak bisa menerimanya." balas Guang Fang."Pertemuan kita sudah menjadi kehendak langit, kalian harus menerima dan menyimpannya dengan baik." jawab wanita tua mengusap lembut kepala Guang Su Zhi."Kelak putri kalian akan membawa perubahan bagi banyak orang, bimbing dan arahkan dia dengan benar. Jadikan putri kalian manusia yang berbudi luhur." lanjutnya.Guang Fang dan Wei Zihan cuma bisa patuh mengangguk lemah, menatap nenek tua dan Su Zhi bergantian."Jangan pernah kalian lepas gelang giok keselamatan ini dari tangan Zhi'er." ucap nenek membual agar

  • SATU JIWA DUA KEHIDUPAN   08

    "Bu..Bu..Bu..!" Kedua kaki mungil itu bergetar, melangkah terhuyung menghampiri sang ibu yang sedang duduk bertumpu pada kedua lutut, merentangkan tangan menyambut kedatangannya. Suara cadel menggemaskan, terlontar dari bibir kecil balita berusia satu tahun yang mulai belajar berjalan. HAP Tubuh gembulnya tenggelam dalam pelukan sang ibu, bibirnya terkikik geli menggemaskan, kala pipinya dihujani kecupan penuh kasih. "Putri ibu sangat hebat." Puji Wei Zihan berbinar, mengecup greget sang putri. Guang Su Zhi terkekeh geli "bu..bu...!" cicitnya lucu. Wajah Guang Fang terlipat jelek, bibirnya mengerucut protes. "Ayah terlupakan, sedih sekali." Ujarnya pura-pura merajuk, melipat kedua tangan didada. Wei Zihan dan Su Zhi terkekeh lagi. Su Zhi melepaskan diri dari dekapan sang ibu, berjalan tertatih menuju Guang Fang. "Yayah..!" Serunya cadel, memeluk ked

  • SATU JIWA DUA KEHIDUPAN   07

    Dikediaman sederhana pasangan bahagia yang baru saja memiliki seorang putri, suasana hangat menyelimuti dipagi cerah ini. Angin berhembus lembut, membawa aroma kesegaran dari bunga bermekaran."Biar aku saja yang memasak." cegah Wei Zilan saat sang suami akan menyalakan api tungku."Kau masih harus beristirahat, duduk saja bersama putri kita." balas Guang Fang."Aku sudah pulih." kata Wei Zilan "lagi pula cuma memasak, itu bukan pekerjaan yang berat."Netra lentik itu bergetar lirih, selaras dengan senyuman manis yang tergores ranum. Semua menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.Guang Fang pun mengalah, ia memilih mengerjakan yang lain. Mencuci pakaian, menimba air untuk mengisi bak mandi dan gentong-gentong tanah liat, membersihkan rumah serta halaman.Setelahnya ia memanen tomat, sayuran hijau, kentang, dikebun belakang kediaman. Tumbuhan lama yang sudah tidak produktif dibersihkan, tanah digembarkan kemudian ditanami la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status