Se connecter[Hei, kenapa aku di-block?]
Sabrina menatap layar ponselnya dengan datar. Notifikasi itu muncul di bar atas, sebuah pesan dari nomor baru yang langsung ia kenali polanya.
[Kau cerewet.] balas Sabrina singkat.
[Ya ampun, Sab. Aku hanya mencemaskanmu. Gejala yang kau alami masih ringan. Jadi datanglah ke klinikku segera.]
Keheningan di koridor apartemen itu terasa alot. Bagaimana tidak. Dua pria berdiri berhadapan di depan pintu unit apartemen Sabrina, sama-sama diam, sama-sama menilai. Sabrina menarik napas panjang. Jika mereka tetap berdiri di lorong seperti ini, situasinya pasti akan meledak.“Masuklah,” ucap Sabrina pada akhirnya, mencoba terdengar tenang. “Tidak enak bicara di lorong. Nanti tetangga bisa terganggu.”Daniel mengangguk santai. “Baiklah.” Pria itu melangkah masuk lebih dulu dengan pembawaan yang tetap rileks, seolah tidak ada ketegangan apa pun di udara. Beberapa detik kemudian Kael menyusul. Langkahnya lebih lambat, lebih berat. Kehadirannya langsung membuat ruangan terasa lebih sempit. Sabrina buru-buru menuju dapur terbuka. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil teko kaca dan mulai menuangkan air putih ke dalam gelas kristal. Ia mencoba terlihat sibuk, tetapi dari sudut matanya ia bisa merasakan satu hal dengan jelas.
“Mama sendirian di sini. Mama akan sangat merindukanmu, Sayang,” rengek Sabrina dengan nada manja yang dibuat-buat.Ia berdiri di depan cermin besar kamar apartemennya, membersihkan wajah dengan kapas yang telah dibasahi cairan pembersih. Di layar ponsel yang bersandar di meja rias, wajah mungil Aliz terlihat jelas dari Singapura.“Aku juga kangen, Mama,” jawab Aliz sambil melambai kecil.Sabrina tersenyum, lalu menyipitkan mata. “Oh ya. Papa di mana?”Aliz menoleh ke belakang sebentar, lalu menjawab polos, “Pacalan sama Tante Adis!”Tangan Sabrina langsung berhenti di pipinya. “Apa?” serunya.Dari belakang layar, suara tawa Adrian langsung pecah. “Hahaha! Aduh, cucu Opa ini jujur sekali!”Sabrina lantas mengerang frustrasi.“Ayah! Tolong bilang pada Bang Ganda agar mengajari putrinya dengan benar!” protesnya. “Aku sudah susah payah mendidik Aliz dan… ah. Lihatlah dia sekarang!”Adrian masih terkekeh. “Tenanglah, Sayang. Anak kecil hanya meniru apa yang ia dengar.”“Justru itu masala
Suasana kedai es krim di sudut Jakarta itu terasa tenang, kontras dengan gemuruh yang biasanya menghantui pikiran Sabrina. Aroma vanila dan cokelat yang manis memenuhi udara, memberikan rasa nyaman yang jarang ia rasakan seperti saat ini."Sebenarnya kalau aku boleh jujur, pria keturunan Irlandia itu kurang cocok denganmu." Sabrina yang baru saja memasukkan sendok kecil es krim ke dalam mulutnya berkedip sejenak. Sensasi dingin cokelat di lidahnya seolah membeku sesaat sembari ia memikirkan kalimat yang dilontarkan oleh Daniel barusan."Begitu ya?" gumamnya sambil meringis kecil, mencoba menelan rasa dingin sekaligus keheranan yang muncul. Daniel lantas terkekeh, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu sembari menatap Sabrina dengan tatapan teduh seorang saha
Di dalam kabin sedan perak yang hening, aroma maskulin dari parfum Daniel bercampur dengan wangi terapi yang menenangkan, menciptakan ruang kedap yang seolah memisahkan Sabrina dari hiruk-pikuk Jakarta di luar sana. Daniel sedikit memiringkan tubuhnya, memastikan wajahnya tertangkap kamera gawai Sabrina yang masih terhubung dengan Berlin."Halo, Tuan O'Shea. Saya Daniel, teman lama Sabrina sekaligus orang yang bertanggung jawab atas perjalanannya pagi ini..""Aku tidak tanya. Aku hanya ingin melihat Sabrina," potong Kael dengan nada dingin yang begitu tajam, memutus kalimat Daniel bahkan sebelum pria itu sempat menyelesaikan perkenalan formalnya. Daniel tidak terlihat tersinggung. Ia justru terkekeh pelan. Sebagai seorang psikiater, ia sangat mengenali nada
"Seharusnya kau tersanjung karena kau adalah pasienku satu-satunya yang kudatangi senekat ini."Sabrina yang duduk di samping kursi kemudi mobil Daniel saat ini mencebik. "Oh ya? Aku curiga kalau klinikmu hampir bangkrut karena cuma aku yang jadi pasienmu.""Astaga! Kau meledekku?" gumam Daniel sambil terbahak. Tawanya mengisi kabin sedan perak itu, mencairkan sedikit ketegangan yang membeku di bahu Sabrina sejak pagi tadi.Daniel perlahan meredakan tawanya, kembali ke mode profesional yang tenang namun hangat. "Tapi serius, Sab. Aku tidak akan menjemputmu kalau kau tidak menghilang dari radar klinisku selama tiga minggu. Sebagai psikiatermu, aku khawatir. Sebagai teman, aku... sedikit tersinggung."Sabrina menghela napas, menatap jalanan Jakarta yang mulai merayap padat. "Aku hanya sedang mencoba menjadi normal, Dan. Menjalani hidup tanpa harus menganalisis setiap ketakutan yang muncul di kepalaku.""Dan bagaimana hasilnya?" Daniel meliriknya seki
"Tolong pastikan semua dokumen kerja sama dengan Grup Müller sudah siap di meja ruang kerja saya besok pagi pukul tujuh," suara bariton Kael memecah keheningan lobi apartemen mewahnya di Berlin. Ya. Berlin menyambutnya dengan suhu yang jauh lebih rendah daripada kelembapan Jakarta yang biasa ia hirup. Pukul sembilan malam waktu setempat, ia melangkah masuk ke dalam unit pribadinya yang terletak di jantung kota."Baik, Tuan O'Shea. Semua sudah diatur," jawab anak buahnya, sembari mengambil mantel wol milik Kael. "Apakah ada tambahan lain untuk pertemuan makan malam besok?"Kael menghela napas, langkahnya terasa berat di atas lantai marmer yang dingin. "Batalkan agenda tambahan. Saya ingin istirahat total. Dan, pastikan tidak ada panggilan masuk kecuali itu masalah hidup dan mati.""Tuan tampak sangat lelah," Pria yang membersamainya itu memberanikan diri berujar. "Apa penerbangannya ti
Keheningan yang dingin menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik. Jemari Kael masih melingkar di pergelangan tangan Sabrina. Sebuah cengkeraman yang tidak menyakiti, namun penuh dengan klaim kepemilikan yang tak terucap. Tatap
“Kael," suara Nyonya Maureen memecah keheningan, serak namun tajam. "Kau sudah tidak berurusan dengan mereka lagi, 'kan? Katakan padaku kau tidak membawa hantu-hantu Dublin itu ke sini."Kael menegang. Ia menarik napas dalam, memaksakan sebuah topeng ketenangan yang sempurna. "Tidak ada hantu, tida
"Sumpah, Mbak. Beneran. Kenalin. Nama saya Teguh," pria itu mengangkat kedua tangannya, menyadari reaksi panik Sabrina. "Anaknya Pak Dadang. Bapak saya resign karena tangannya cedera parah sewaktu insiden begal tempo hari. Saya yang menggan
Sabrina menatap pantulan dirinya di cermin besar ruang perawatan VIP. Air hangat telah membilas sisa noda hitam dan debu residu kimia dari wajahnya, namun ia merasa seolah-olah aroma ketegangan di ruang kerja tadi masih menempel d







