LOGINDalam hitungan detik Kael membalikkan posisi. Kini tubuhnya berada di atas Sabrina. Gadis itu pun mendengus kesal, mencoba menggerakkan bahunya yang terhimpit.
"Kael, lepas! Ini tidak lucu. Aku bisa mati sesak napas kalau kau terus begini!"
Namun, bukannya menjauh, Kael justru semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sabrina, menggunakan berat tubuhnya untuk mengunci pergerakan gadis itu di atas ranjang. "D
“Kalau kau tidak mau menjawab, aku akan tanya pada Mas Teguh.” Sabrina lantas menoleh pada Teguh yang baru saja mengangkat kepala setelah mendengar pernyataan menohok barusan. Orang kepercayaan Kael itu mematung di tempat. Bingung dengan situasi yang menjadikannya terjepit saat ini.“Tanyakan saja padanya!” ujar Kael dengan suara ketus. Matanya menatap Teguh acuh tak acuh.“Mas, tolong jawab pertanyaanku. Si Tua ini tidak punya mulut sepertinya,” desak Sabrina. Teguh jelas terkejut bukan main. Sementara Kael berusaha menahan suaranya agar tak meledak marah.“Maaf, Nona. Saya tidak punya hak untuk ini,” ucap Teguh sembari meringis pelan. Dia menatap Kael dengan wajah yang sudah merah padam. “Tuan, saya permisi dulu.”“Mas Teguh takut ya sama dia?” Teguh hanya tersenyum kecut lalu buru-buru berjalan meninggalkan apartemen itu. Kini yang tersisa hanya Sabrina dan Kael yang saling menatap sinis satu sama lain.“Kau? Beraninya kau berkata tentangku di de
Kael baru saja bangkit untuk mendekati monitor interkom ketika rahangnya mendadak mengeras. Di layar digital yang berpendar itu, sosok Teguh berdiri dengan raut wajah tenang sekaligus misterius."Tuan Kael," suara Teguh terdengar tertahan dan sedikit parau melalui speaker interkom. "Maaf mengganggu Anda sepagi ini, tapi ini benar-benar darurat. Saya baru saja mendapat kabar krusial dari Berlin dan ada dokumen fisik yang harus Anda lihat sekarang juga secara langsung. Ini terlalu berisiko untuk dibicarakan melalui sambungan telepon." Sabrina yang masih berdiri mematung di dekat meja makan dengan sisa sandwich di tangannya, merasakan bulu kuduknya meremang. Ia melihat perubahan drastis pada Kael. Binar jahil y
Dalam hitungan detik Kael membalikkan posisi. Kini tubuhnya berada di atas Sabrina. Gadis itu pun mendengus kesal, mencoba menggerakkan bahunya yang terhimpit."Kael, lepas! Ini tidak lucu. Aku bisa mati sesak napas kalau kau terus begini!" Namun, bukannya menjauh, Kael justru semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sabrina, menggunakan berat tubuhnya untuk mengunci pergerakan gadis itu di atas ranjang. "Diamlah sebentar, Sab. Kau sendiri yang menerobos masuk ke kamarku dan menjatuhkan diri di sini," bisik Kael dengan suara serak khas orang bangun tidur yang terdengar begitu provokatif."Aku tidak menjatuhkan diri! Aku tersandung karpetmu yang berantakan itu!" protes Sabrina, meski fokusnya mulai buyar. Aroma parfum cedarwood yang maskulin bercampur dengan hangatnya aroma tubuh Kael benar-benar mengacaukan sistem sarafnya.Kael terkekeh rendah, getaran di dadanya terasa jel
"Benar-benar tidak sopan! Kau pikir aku ini pelayan yang bisa kau suruh pergi begitu saja?" Sabrina mengomel tanpa henti di depan pintu unit apartemen Kael. Suaranya melengking di koridor yang sepi, menunjukkan betapa dongkol perasaannya sejak panggilan telepon tadi diputus sepihak. Setelah beberapa detik penuh keheningan yang menyebalkan, pintu di hadapannya terbuka sedikit. Namun, hanya menampakkan kepala Kael dengan rambut acak-acakan dan mata yang tampak enggan terbuka sempurna."Kau mengganggu saja," gumamnya parau.“Dasar tidak tahu diri!!”Brak! Tanpa aba-aba, Sabrina refleks menendang pintu itu hingga terbuka sempurna, membuat Kael nyaris terjungkal ke belakang. Dengan langkah penuh amarah, Sabrina masuk dan meletak
Keheningan di koridor apartemen itu terasa alot. Bagaimana tidak. Dua pria berdiri berhadapan di depan pintu unit apartemen Sabrina, sama-sama diam, sama-sama menilai. Sabrina menarik napas panjang. Jika mereka tetap berdiri di lorong seperti ini, situasinya pasti akan meledak.“Masuklah,” ucap Sabrina pada akhirnya, mencoba terdengar tenang. “Tidak enak bicara di lorong. Nanti tetangga bisa terganggu.”Daniel mengangguk santai. “Baiklah.” Pria itu melangkah masuk lebih dulu dengan pembawaan yang tetap rileks, seolah tidak ada ketegangan apa pun di udara. Beberapa detik kemudian Kael menyusul. Langkahnya lebih lambat, lebih berat. Kehadirannya langsung membuat ruangan terasa lebih sempit. Sabrina buru-buru menuju dapur terbuka. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil teko kaca dan mulai menuangkan air putih ke dalam gelas kristal. Ia mencoba terlihat sibuk, tetapi dari sudut matanya ia bisa merasakan satu hal dengan jelas.
“Mama sendirian di sini. Mama akan sangat merindukanmu, Sayang,” rengek Sabrina dengan nada manja yang dibuat-buat.Ia berdiri di depan cermin besar kamar apartemennya, membersihkan wajah dengan kapas yang telah dibasahi cairan pembersih. Di layar ponsel yang bersandar di meja rias, wajah mungil Aliz terlihat jelas dari Singapura.“Aku juga kangen, Mama,” jawab Aliz sambil melambai kecil.Sabrina tersenyum, lalu menyipitkan mata. “Oh ya. Papa di mana?”Aliz menoleh ke belakang sebentar, lalu menjawab polos, “Pacalan sama Tante Adis!”Tangan Sabrina langsung berhenti di pipinya. “Apa?” serunya.Dari belakang layar, suara tawa Adrian langsung pecah. “Hahaha! Aduh, cucu Opa ini jujur sekali!”Sabrina lantas mengerang frustrasi.“Ayah! Tolong bilang pada Bang Ganda agar mengajari putrinya dengan benar!” protesnya. “Aku sudah susah payah mendidik Aliz dan… ah. Lihatlah dia sekarang!”Adrian masih terkekeh. “Tenanglah, Sayang. Anak kecil hanya meniru apa yang ia dengar.”“Justru itu masala
"Ternyata kau punya rahasia yang cukup... kumal ya?" Suara Gladis yang melengking di ambang pintu membuat Sabrina mematung di depan jendela besar ruang kerja Kael. Gladis melangkah masuk dengan anggun, matanya berkilat sena
Kael meletakkan pena mahalnya ke atas meja dengan bunyi ketukan yang tajam. Ia menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya, menatap langit-langit ruang kerja yang terasa asing entah karena apa. 
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela besar di ruang makan kediaman O’Shea, memantul di atas permukaan meja marmer yang tertata rapi. Aroma kopi hitam yang kuat beradu dengan wangi roti panggang, namun suasan
Langkah Sabrina terhenti paksa di bordes tangga darurat. Di ruang sempit yang berbau semen itu, napas Kael memburu tepat di wajahnya."Kau bilang aku menggunakanmu sebagai umpan?" Kael menekan suaranya, tajam dan dingin. "A







