LOGINCahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela besar di ruang makan kediaman O’Shea, memantul di atas permukaan meja marmer yang tertata rapi. Aroma kopi hitam yang kuat beradu dengan wangi roti panggang, namun suasana di meja itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Kael duduk dengan tegak, jemarinya lincah menggeser layar tablet yang me
Suara berat Ganda memecah keheningan pagi yang masih menyisakan sisa-sisa keintiman semalam. Ganda melangkah masuk, tatapannya menyapu seluruh ruangan dengan tajam sebelum berhenti tepat di manik mata Kael. Matanya yang merah karena terjaga semalaman seolah sedang melakukan pemindaian menyeluruh, mencari-cari apakah ada sesuatu yang bergeser dari adiknya setelah malam yang panjang di unit ini. Sabrina tersentak pelan, segera merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan."Aku baik-baik saja. Hanya sedikit terkejut," jawabnya pendek. Ia bergegas mendekat, mengambil Aliz dari gendongan sang asisten dengan gerakan yang agak terburu-buru demi menutupi kecanggungannya. Aroma parfum Kael yang maskulin terasa begitu kuat melekat pada selimut yang masih tersampir di ba
Uap panas dari sup jagung masih mengepul tipis di antara mereka, membawa aroma manis yang kini terasa menyesakkan. Sabrina menunduk dalam, jemarinya meremas pinggiran mangkuk porselen putih itu. Kalimat yang dilontarkan Kael beberapa saat lalu seolah memerangkap udara, menciptakan getaran yang merambat hingga ke ulu hati. Dapur yang biasanya sunyi kini terasa penuh oleh gema masa lalu yang belum usai di antara keduanya."Supnya... hampir dingin," bisik Sabrina. Suaranya terdengar rapuh, sebuah upaya pengalihan yang gagal menyembunyikan tensi yang kian memuncak di antara mereka. "Makanlah." Kael meletakkan mangkuknya perlahan ke atas meja marmer, dentingnya terdengar tajam di keheningan malam. Matanya masih mengunci wajah Sabrina dengan intensitas yang tidak berubah, seolah mampu menembus lapisan pertahanan yang susah payah dibangun wanita itu. "Sekarang kau punya banyak cara untuk mengalihkan pembicaraan," ucapnya dengan nada rendah yang menuntut."Aku hanya ti
"Kenapa pintunya tidak bisa dibuka?" Sabrina terus bergerak panik, jemarinya menekan tombol panel digital pada pintu unit apartemen Kael dengan gerakan serampangan. Suara detak mekanis yang biasanya menandakan kunci terbuka, kini justru mengeluarkan bunyi beep panjang yang menyebalkan sebagai tanda bahwa sistem sedang terkunci total. Di belakangnya, Kael ikut mengernyitkan dahi. Pria itu maju, mencoba memasukkan kode akses cadangan melalui ponselnya, namun layar pintunya tetap berkedip merah."Ini pasti ada yang salah," gumam Kael sambil berpikir keras. Ia mencoba menarik tuas manual, namun sistem keamanan gedung ini memang dirancang untuk mengunci secara otomatis jika mendeteksi adanya malfungsi pada sensor pintu. Tak lama kemudian, ponsel Sabrina
Matahari pagi menyusup di antara celah gedung pencakar langit, membiaskan cahaya keemasan pada perosotan warna-warni di taman bermain apartemen. Sabrina duduk di tepi bangku kayu, tangannya meremas pelan cangkir kopi yang mulai mendingin. Matanya tak lepas dari Aliz yang sedang sibuk memindahkan pasir ke dalam ember plastik dengan konsentrasi penuh. Aroma sabun bayi dan udara pagi yang segar setidaknya sedikit membasuh sesak di dada Sabrina pasca konfrontasi emosional dengan Ganda semalam. Namun, ketenangan itu terusik saat sesosok wanita tua muncul dari arah lobi. Nyonya Maureen tampak tertatih, tangannya yang gemetar menggenggam tongkat dengan tumpuan yang tampak goyah. Sabrina tersentak. Rasa hormat yang mengakar kuat di dirinya mengalahkan rasa takut untuk menghindar. Ia segera berdiri, menggamit tangan mungil Aliz agar mendekat."Nyonya?" sapa Sabrina sedikit kaku. Ia segera membantu Nyonya Maureen duduk di bangku taman yang lebih teduh. "Kenap
"Aku tahu sampai sekarang Kael masih punya perasaan padamu." Suara Ganda memecah keheningan yang menyesakkan di ruang tengah itu seperti sebuah vonis. Sabrina yang sejak tadi berusaha mengatur napasnya, tersentak. Ia yang sedang membenahi posisi duduknya seketika membeku. Binar matanya yang tadinya kosong kini mendadak berkilat tajam, menatap sang kakak dengan amarah yang dipaksakan.Ia segera mendorong kursinya ke belakang hingga menciptakan bunyi gesekan memekakkan telinga di atas lantai marmer. "Bukan urusanku," desis Sabrina tajam. Ia hendak bangkit, ingin segera melarikan diri ke dalam kamar dan mengunci diri dari tatapan Ganda yang terlalu jeli."Kau juga sama dengannya." Langkah Sabrina terhenti di udara. Ia berdiri membelakangi kakaknya dengan bahu yang menegang kaku. "Jangan sok tahu!" teriaknya parau, sebuah jeritan yang terdengar lebih seperti bentuk pembelaan diri yang putus asa daripada kemarahan murni."Ayolah, Sab. Apa yang kau tunggu?" Ganda melu
Bunyi klik logam yang beradu saat kunci pintu berputar menjadi satu-satunya pembatas antara Sabrina dan dunia luar yang mendadak terasa mengancam. Begitu grendel terkunci rapat, seluruh kekuatan yang menyangga tungkai Sabrina menguap begitu saja. Ia membiarkan punggungnya merosot pada permukaan pintu jati yang dingin dan keras, sebuah tekstur kasar yang kini menjadi satu-satunya pegangan nyata bagi tubuhnya yang gemetar hebat. Di dalam dekapannya, Aliz bergerak gelisah."Ma... Mama?" gumam bocah itu pelan. Suaranya serak, khas anak kecil yang dipaksa bangun oleh kegelisahan orang dewasa yang menggendongnya. Sabrina tersentak, segera melonggarkan pelukannya yang tanpa sadar sempat mengerat seperti lilitan ketakutan.
Sabrina menatap Kael dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara ingin tertawa atau merasa kasihan. Ia menyadari satu hal, Kael tersesat dalam delusinya sendiri. Pria itu mengira inovator misterius Pratama Group adalah suaminya ya
"Aku tidak ingin membuang waktu jika ada kesalahan dalam pembahasan tadi. Jadi selagi aku memeriksa dokumen yang ada di draft, kau bisa menenangkan anak itu di sekitaran sini." Kael mengucapkan kalimat
Sabrina berdiri di depan cermin besar kamar hotelnya, menatap bayangan wanita yang hampir tidak ia kenali sebagai dirinya sendiri. Ia mengenakan setelan power suit berwarna charcoal grey yang dipadukan dengan blu
"Aku tidak heran sebenarnya. Sabrina itu cukup pintar," celetuk Gladis memecah keheningan di dalam Presidential Suite yang temaram. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Kael yang masih mematung menatap kerlap-kerlip lampu Zurich. "Dia bukan lagi karyawan rendahan yang dulu sel







