LOGIN“Tunggu, bagaimana maksudmu?”
“Ya. Kau tidak salah dengar. Aku ingin pernikahan kita dipercepat,” ulang Kael dengan mantap.
Sabrina langsung menghentikan aktivitas skincare-nya seketika. Jari-jarinya yang tengah menepuk-nepuk pelembap di pipi mendadak kaku. Botol kecil di genggaman tangan kirinya hampir saja tergelincir jatuh ke atas meja rias.
“Kael, kau bercanda, ya
"Ck. Yang benar saja. Kalau kau mati, adikku otomatis jadi janda dong. Begitu anak kalian lahir, dia akan balas dendam lagi. Kapan berakhirnya ini?" Begitulah. Ganda mengomel dengan wajah yang tampak sangat frustrasi, jemarinya berulang kali menyisir rambutnya dengan kasar. Kael tidak langsung menjawab. Pria itu menatap lurus ke depan, memperhatikan siluet kota Singapura yang mulai benderang di bawah terik siang."Aku dan ayahmu sedang berusaha memutus mata rantainya," jawab Kael kemudian dengan wajah yang teramat serius, suaranya terdengar berat dan dalam."Sampai kapan?" tanya Ganda lagi, menuntut kepastian yang selama ini tidak ada habisnya. "Aku harus turun tangan.""Jangan gegabah!" sergah Kael cepat. Sorot matanya menajam, mengunci pandangan Ganda dengan aura intimidasi yang kuat. "Jangan menambah masalah baru, Ganda." Obrolan berat di ruang tengah itu akhirnya menguap begitu saja, tidak mencapai akhir yang memuaskan bagi kedua belah pihak.
"Lakukan sesuai instruksi." Setelah mengucapkan kalimat pendek itu, Kael langsung memutus panggilannya tanpa menunggu balasan dari seberang saluran. Dia memasukkan kembali ponsel ke dalam saku dengan gerakan tenang, namun sorot matanya sempat menegang selama beberapa detik. Kael kemudian melirik ke arah Sabrina yang duduk di sebelahnya. Wanita itu tampak tegang, jemarinya meremas pinggiran gaun rumahannya dengan pandangan mata yang dipenuhi kecemasan. Menyadari kegelisahan sang istri, Kael segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut. Dia mengusap punggung Sabrina perlahan."Sayang, Aliz sedang menanti suapanmu."&nbs
Sabrina tidak menjawab dengan kata-kata. Di tengah napasnya yang mulai memburu, dia hanya bisa mengangguk pasrah seraya mengalihkan pandangannya ke arah samping. Detik berikutnya, Kael menarik tubuh istrinya itu tanpa jarak, menyatukan bibir mereka dalam sebuah kecupan yang dalam, lembut, dan sarat akan kerinduan yang membakar selama dua minggu ini."Kael, pelan-pelan... anak kita," bisik Sabrina terengah-engah saat kecupan itu terurai sejenak.Kael terkekeh rendah, suaranya terdengar begitu seksi di telinga Sabrina. "Aku tahu, Sayang. Aku akan sangat berhati-hati." Percintaan mereka mengalir dengan lambat dan penuh kelembutan di dalam kamar yang temaram itu. Kael memperlakukan Sabrina layakny
Meski awalnya sempat memukul dada Kael pelan sebagai pelampiasan rasa kesalnya, Sabrina akhirnya menyerah. Tenaganya seolah terkuras habis setelah mengamuk tadi. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kael, menumpahkan sisa tangisnya di sana sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang sangat dirindukannya selama dua minggu ini. Kael mempererat pelukannya, menumpukan dagunya di atas kepala Sabrina sembari mengusap punggung sang istri dengan gerakan naik-turun yang menenangkan."Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku," bisik Kael berkali-kali, mengecup pelipis Sabrina dengan penuh perasaan. Setelah beberapa menit berlalu dan tangis Sabrina mulai mereda menjadi sesenggukan kecil, Kael mulai membuka suara. Pria itu
Di sana, di atas kasur yang sama, Kael sedang berbaring miring menghadap ke arahnya. Pria itu masih mengenakan pakaian kasual yang tampak agak kusut, terlelap begitu dalam dengan gurat lelah yang amat pekat di wajah tampannya. Sabrina mengembuskan napas lega begitu tahu bahwa sang suami baik-baik saja. Kekhawatiran, ketakutan, dan bayangan buruk yang menghantuinya selama dua minggu terakhir seketika menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di dadanya. Tak ingin membangunkan Kael yang terlihat sangat membutuhkan istirahat, Sabrina pun hendak bangkit perlahan dari ranjang. Namun, baru saja kedua tangannya bertumpu pada kasur dan hendak menyibak sel
"Apa yang sedang mereka sembunyikan?" Pertanyaan barusan membuat Nyonya Maureen mendesah pelan. Wanita sepuh yang baru saja mengemasi kopernya itu mengangguk singkat. Dia lantas berjalan perlahan dengan bantuan tongkatnya mendekati sang cucu menantu yang saat ini sudah berada di kamarnya."Duduklah dulu, Sayang," ucap Nyonya Maureen dengan suara serak yang tenang, mencoba meredam gelombang emosi yang mulai membakar dada Sabrina. Namun, Sabrina yang keras kepala menggeleng tegas. Tubuhnya menegang, kedua tangannya terkepal di sisi gaun tidurnya, menolak mentah-mentah usaha penenangan tersebut."Jangan bilang kalau Grandma juga sebenarnya sudah tahu," tandas Sabrina dengan tatapan yang menghunjam langsung ke manik mata sang nenek. Nyonya Maureen terdiam. Dia pasrah dengan tatapan menuduh istri Kael tersebut. Kerutan di wajah senjanya tampak semakin mendalam."Apa hanya aku di sini yang tidak tahu apa-apa?" tuding Sabrina lagi. Diamnya Nyonya Maureen
Asap tipis mengepul dari panggangan jagung di pinggir jalan, membawa aroma mentega yang gurih dan bumbu pedas manis yang menggugah selera. Di atas kursi plastik biru yang sedikit goyang, Kael kini duduk dengan posisi yang sangat t
Suara sirene polisi yang menjauh perlahan digantikan oleh kesunyian yang mencekam di dalam gudang sana. Keheningan itu terasa berat, hanya dipecahkan oleh deru napas Sabrina yang pendek dan tidak beraturan. Ia masih terduduk di la
“Hanya kita berdua di sini, Sabi.” Suara Rama merayap masuk ke telinga Sabrina seperti racun. Ia bisa merasakan hawa napas Rama yang panas berbaur dengan aroma parfum maskulin yang tajam, kini terasa memuakkan karena bercampur dengan debu kayu yang pengap. Sabrina berjuang m
Debu kayu yang beterbangan di antara celah cahaya lampu gudang yang temaram mulai menyiksa indra penciuman Sabrina. Ia bisa merasakan gatal yang hebat di pangkal hidungnya, sebuah desakan biologis untuk bersin yang harus ia tekan







