LOGIN“Cindy.”
Suara itu berat, datar, dan datang dari arah dapur. “Kamu sini.” Cindy membeku di depan pintu. Sial. Harusnya dia selesai sebelum Nathan turun. Laki-laki itu berdiri di ambang pintu, lengan bersedekap. Tatapannya tidak marah, tapi tajam… terlalu tajam untuk pagi yang seharusnya tenang. “Kamu… nyuci bajuku?” Nada Nathan pelan, tetapi menusuk. Cindy menelan ludah. “Aku cuma…, sekalian aja. Mesin cucinya juga kosong.” Ia mencoba tersenyum santai, tapi senyumnya pecah di tengah jalan. Nathan melangkah mendekat. “Kapan terakhir kali kamu nyuci baju di rumah ini?” Cindy mengalihkan pandangannya. “Empat bulan sebelum kita cerai.” “Jadi kenapa sekarang kamu—” “Karena aku tinggal numpang di sini, Nathan.” Cindy memotong dengan cepat, suara rendah namun getir. “Aku nggak mau cuma makan tidur. Biar aku kerjain apa pun yang aku bisa.” Keheningan menggema. Nathan menatap keranjang cucian itu lama, seakan menimbang sesuatu. “Cindy,” katanya akhirnya, lebih lembut dari yang ia maksudkan. “Aku manggil kamu bukan buat marahin. Aku cuma…” “Celana dalem juga? Astaga…” ucap Nathan dengan wajah kaget bercampur malu. Ia cepat-cepat menarik pakaian dalam yang sudah kering itu dan menyimpannya ke dalam selipan bajunya, lalu keluar dari ruang laundry dengan wajah masam. “Kamu tuh lancang banget, ya? Sentuh barang orang tanpa izin,” ucap Nathan. “Bukannya terima kasih malah marah. Aneh deh,” balas Cindy santai. “Aku kan gak enak numpang di kamu.” “Masalahnya kamu nggak izin dulu. Lagian aku bisa cuci sendiri. Aku udah biasa ngelakuin semuanya sendiri,” ujar Nathan sambil berjalan cepat, berusaha menutupi sesuatu di depan perutnya. “Aku juga kok, tapi kan aku cuma mau bantu. Lagian, kalau emang nggak suka, kenapa disimpan di balik baju kamu?” ucap Cindy sambil menunjuk bagian depan Nathan, mengikuti langkahnya. “Enak aja. Siapa yang sembunyikan?” Nathan buru-buru membantah, namun suaranya terdengar jelas menyimpan gugup. “Itu kelihatan kok, Mas. Kalau bukan celana dalam, kamu sembunyiin apa di balik baju?” Cindy bangkit dan berjalan mendekat, matanya menatap curiga bercampur jahil. “Eh—nggak usah deket-deket. Stop di situ!” ucap Nathan dengan suara yang terdengar campuran panik, malu dan menjaga gengsi. “Kenapa emangnya? Takut ketahuan?” ucap Cindy yang kini semakin mendekat. “Kamu berani deketin aku, aku nggak segan buat…” Nathan menggantung kalimatnya, seolah memberikan ancaman yang bahkan ia sendiri tidak yakin maksudnya apa. “Buat apa? Oh… mau usir aku dari sini? Iya? Cuma gara-gara cuci baju kamu terus kamu mau usir aku? Tega banget kamu!” seru Cindy. Tiba-tiba suaranya pecah, matanya memanas, dan ia menahan air matanya sekuat yang ia bisa. Nathan tertegun. “C-Cindy, aku bukan—” Namun Cindy sudah keburu berjalan cepat, hampir setengah berlari menuju kamar tidurnya. Pintu itu tertutup rapat dalam sekali hentakan. Ia merasa kalimatnya tadi tidak seharusnya keluar. Ia mengusap rambut, lalu wajahnya, frustrasi. Saking paniknya, ia tidak sadar bahwa pakaian dalam yang ia sembunyikan melorot keluar dari bajunya dan jatuh ke lantai. Nathan melihat ke bawah. Ia buru-buru memungut celana dalam itu, wajahnya memanas karena malu sendiri. Dengan nafas tak karuan, ia kembali ke ruang laundry dan menaruhnya di tempat semula—seolah sedang memperbaiki sesuatu, padahal pikirannya tak karuan. Saat itu juga, terdengar suara pintu kamar Cindy terbuka. Nathan menoleh dari balik dinding dan matanya langsung membesar. Cindy keluar sambil membawa tas ransel, wajahnya tersengal emosi, langkahnya cepat seperti orang yang sudah bulat tekad untuk pergi. Refleks, Nathan melangkah cepat keluar dari ruang laundry. “Mau kemana kamu?” ucap Nathan mencoba menahan kepergian Cindy. “Mau cari kerjaan dimana emang jam segini?” “Siapa yang mau cari kerjaan? Aku mau pergi!” ucap Cindy dengan ketus. Suaranya bergetar antara marah dan sedih, langkahnya terus menuju pintu keluar. “Oh, ya? Pergi aja.” Nathan menyahut datar—tapi sorot matanya jelas ada sesuatu yang Cindy tidak lihat. Cindy tertegun. Langkahnya sempat berhenti sepersekian detik. Ia menoleh dengan hati tersayat, melihat Nathan berdiri tegap di lorong, ekspresinya sulit dibaca, campuran antara menahan ego atau ingin menahan Cindy. Tapi sebelum sempat memutarnya, Nathan bergerak. Bukan cepat—ia justru sengaja—mendekat dan menahan pintu dengan punggung tangannya. Tubuh Cindy hampir menabrak dadanya. Jarak mereka tinggal beberapa inci. “Kenapa buru-buru?” bisiknya rendah. “Kamu suka banget pergi tanpa izin, ya.” Cindy menegang. “Nathan, minggir.” Senyum tipis terangkat di sudut bibir pria itu. Bukan senyum ramah—lebih seperti senyum seseorang yang tahu persis efek dirinya pada perempuan yang berdiri di depannya. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, membuat Cindy otomatis mundur setengah langkah sampai punggungnya menyentuh dinding samping pintu. “Emang siapa yang ngebolehin kamu pergi?” Tanpa mengalihkan tatapan dari wajahnya, Nathan mengangkat tangan dan memutar kunci secara manual. Suara kecil itu terdengar seperti ledakan di dada Cindy. “Sekarang terkunci,” ucap Nathan pelan, suaranya dalam dan menggetarkan. “Sengaja.” Cindy membelalak. “Nathan—buka.” “Buka nanti.” Ia masih menahan pintu dengan tangan, tubuhnya condong cukup dekat sampai Cindy bisa merasakan napas hangatnya. “Kamu masih mau kabur?” “Aku nggak kabur,” balas Cindy cepat. Nathan menatapnya lama, seolah sedang membaca setiap gerakannya. “Semoga berhasil,” katanya akhirnya, senyumnya kembali muncul—kali ini jauh lebih berbahaya. Lalu ia berbalik perlahan, meninggalkan Cindy terperangkap antara pintu terkunci, dinding dingin, dan degup jantungnya sendiri yang semakin liar.“Sayang...” Cindy membujuk suaminya, menyentuh lengan Nathan dengan lembut untuk mencoba melunakkan kerasnya hati pria itu. “Sayang... kamu bisa,” ucap Cindy lagi, suaranya sangat tenang, seolah sedang menyalurkan kedamaian ke dalam jiwa Nathan yang masih terbakar amarah. “Aku bisa kok, dan kamu lebih bisa lagi...” ucap Cindy lirih. Ia menatap mata Nathan dalam-dalam, mencoba mengingatkan suaminya bahwa jika ia yang menjadi korban langsung dari rasa sakit itu saja sanggup memberikan maaf, maka Nathan pun pasti memiliki kekuatan yang sama untuk melepaskan dendamnya. Nathan menatap istrinya dengan pandangan yang perlahan meredup. Ia bisa melihat ketulusan di mata Cindy—sebuah ketulusan yang akhirnya meluluhkan tembok ego dan kemarahannya. Ia menarik napas panjang, membuangnya perlahan, lalu menatap Morgan yang masih menunggu jawaban di depan pintu. “Gue enggak janji bisa lupa, Morgan,” ucap Nathan akhirnya, suaranya tidak lagi sekeras tadi. “Tapi untuk saat ini... pergilah. Jaga
Setelah itu, Morgan segera mengirimkan sejumlah uang yang jauh di luar dugaan Cindy. Ponsel Cindy bergetar, dan matanya membelalak saat melihat notifikasi saldo masuk. “Mas, ini terlalu banyak...” ucap Cindy pelan, menatap nominal yang masuk ke rekeningnya dengan rasa tidak enak hati. “Terlalu sedikit buat menebus dosa aku ke kamu,” balas Morgan singkat. Baginya, angka itu tidak akan pernah sebanding dengan luka yang pernah ia torehkan, namun setidaknya itu bisa menjadi modal bagi mimpi-mimpi Cindy di butik ini. “Um...” Cindy hanya bergumam, tak tahu harus merespons apa lagi di tengah kemurahan hati yang menyesakkan itu. “Aku pamit, Cindy,” ucap Morgan sambil tersenyum tipis. Ia meletakkan kedua tangannya di saku celana, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya yang sempat runtuh. “Ah, ya... oke. Hati-hati. Salam untuk Sarah, dia baik banget, cantik, tulus, dan... jangan sakiti
“Aku udah maafin kamu,” ucap Cindy pelan. Kalimat itu meluncur begitu saja, terasa ringan namun sanggup meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini Morgan bangun. “Aku takut,” ucap Morgan tiba-tiba, suaranya nyaris berbisik. “Takut?” tanya Cindy, keningnya berkerut tipis, mencoba memahami arah pembicaraan pria di depannya. “Ya... takut kalau setelah ini... aku enggak bisa lihat kamu lagi,” ucap Morgan jujur. Ada kilat kesedihan di matanya. Permintaan maaf ini adalah sebuah titik akhir, sebuah perpisahan resmi yang permanen. Morgan menyadari bahwa setelah pintu butik ini ia tutup, ia tidak lagi memiliki alasan atau hak untuk mencari tahu kabar Cindy, apalagi menemuinya secara sengaja. Cindy terdiam, ia bisa merasakan ketulusan sekaligus kerapuhan dari pria yang dulu pernah menguasai seluruh hatinya. Ia melirik ke arah luar, ke arah mobil di mana Sarah dengan setia menunggu, lalu kembali menatap Morgan. “Mas... bukannya itu tujuan kita bertemu?” tanya Cindy lembut. “Supaya
“Iya, dan aku sendiri pribadi menjual pakaian yang memang aku suka. Karena kalau kita suka apa yang kita punya, biasanya rasa suka itu ketularan ke siapa saja yang lihat,” ucap Cindy sambil tertawa kecil. Ia kemudian bergerak menyiapkan minuman dingin dan meletakkannya di atas meja. “Oke, fix, aku ambil dua potong baju!” seru Sarah yang tampak sangat senang mendapatkan barang kesukaannya. “Minum dulu deh...” ucap Cindy ramah sembari menyiapkan paperbag hitam dengan logo CN berwarna emas—inisial Cindy dan Nathan. “Um, mungkin kamu bingung kenapa aku tiba-tiba ke sini dan bilang kalau kita pernah ketemu,” ucap Sarah sambil memegangi botol kaleng dingin itu, matanya menatap Cindy dengan tulus. “Ya, jujur... aku bingung tapi senang juga karena ada yang datang ke butik aku. Belum resmi jualan, tapi sudah ada peminat,” jawab Cindy jujur. “Oke. Dan... mungkin ini bakal bikin kamu kaget. Karena pertama... kita ketemu di penthouse. Ingat? Waktu buang sampah, pagi-pagi,” ucap Sarah pe
Mendengar perkataan Sarah, Morgan tersenyum tulus. Ada binar kebanggaan di matanya terhadap wanita pilihannya ini. Meskipun dalam lubuk hatinya ia mengakui bahwa awalnya ia sempat membohongi diri sendiri—berusaha memaksimalkan perasaannya pada Sarah hanya demi melupakan Cindy—namun seiring berjalannya waktu, cinta itu tumbuh menjadi sesuatu yang murni. Sarah bukan lagi sekadar pelarian; wanita itu telah menjadi pelabuhannya yang paling nyata. Morgan mempererat pelukannya, seolah ingin meyakinkan diri bahwa ia tidak akan kehilangan pegangan kali ini. “Gue enggak pernah nyangka bakal ketemu orang sekuat lo, Sarah,” bisik Morgan. “Ayo, kita hadapi ini sama-sama. Tapi janji, kalau situasi memanas, lo jangan jauh-jauh dari gue.” Berpindah ke sisi kehidupan Nathan dan Cindy yang tak kalah pelik, namun kini diwarnai dengan kehadiran Morgan dan Sarah yang menjadi pilar pendukung mereka. “Aku temani kamu sampai tuntas, Mas. Sudah enggak murung lagi, kan?” tanya Sarah sembari tersenyum
“Kenapa kamu merasa enggak pantas ketemu dia?” tanya Sarah dengan sangat lembut pada Morgan yang tengah berapi-api, berusaha menjadi peredam bagi emosi kekasihnya yang sedang meledak-ledak itu.“Gue merasa omongan Papa banyak benernya, Sayang. Dia bilang gue perusak masa depan adik gue dan Cindy. Gue jahat...” ucap Morgan lirih, lalu membenamkan wajahnya pada ceruk leher Sarah, mencari perlindungan dari rasa bersalah yang menghimpit dadanya.“Sayang... Enggak ada yang sempurna di dunia ini. Aku, kamu, dan semuanya. Kita pendosa, tapi tidak ada halangan buat kita untuk berubah jadi lebih baik. Aku sendiri contoh nyata itu, kamu tahu... Aku pelacur, tapi kamu masih mau terima aku. Dan artinya apa? Aku punya kesempatan besar buat berubah, kan...” ucap Sarah sembari tersenyum getir, memeluk Morgan semakin erat.Kalimat itu bagaikan tamparan sekaligus pelukan hangat bagi Morgan. Sarah mengorbankan harga dirinya, membuka kembali luka lamanya sendiri hanya untuk memastikan Morgan tidak tengg







