Teilen

37. (TAMAT)

last update Veröffentlichungsdatum: 18.03.2026 07:01:11

Ruangan itu masih dipenuhi sisa ketegangan ketika Elkan berdiri di tengah, menatap lurus ke arah Anya. Tidak ada lagi suara dari luar. Tidak ada lagi gangguan. Semua seperti sengaja berhenti, memberi ruang untuk satu hal yang sejak awal belum pernah benar-benar diselesaikan.

Anya berdiri beberapa langkah darinya. Tangannya gemetar, tapi ia tidak mundur. Untuk pertama kalinya, ia tidak menghindari tatapan Elkan. “Kamu ingin tahu semuanya?” tanya Anya pelan sambil menahan napas.

Elkan mengangguk
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • HASRAT TERPENDAM SANG PUTRA MAHKOTA   38.(EPILOG)

    Langit pagi itu terlihat lebih cerah dari biasanya ketika mobil hitam yang membawa Elkan dan Anya memasuki kawasan perbukitan yang tenang. Udara terasa lebih sejuk, seolah dunia yang mereka tinggalkan benar-benar jauh di belakang.Anya menatap keluar jendela dengan mata yang sedikit berbinar. Sudah lama ia tidak melihat pemandangan setenang ini tanpa tekanan. “Tempat ini…” ucap Anya pelan sambil mengamati deretan pohon, “rasanya seperti bukan bagian dari hidup kita yang dulu.”Elkan meliriknya sebentar, lalu kembali menatap ke depan. “Memang bukan,” ucap Elkan tenang sambil menyandarkan punggungnya, “dan itu sengaja.”Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya modern yang berdiri di atas tanah luas. Tidak berlebihan, tapi terasa kokoh dan elegan. Tempat itu tidak seperti rumah keluarga Hartawan yang penuh tekanan.Anya turun lebih dulu. Ia berdiri diam beberapa detik, mencoba meresapi suasana. “Ini rumah kita?” tanya Anya pelan sambil menoleh ke arah Elkan.Elkan keluar dari m

  • HASRAT TERPENDAM SANG PUTRA MAHKOTA   37. (TAMAT)

    Ruangan itu masih dipenuhi sisa ketegangan ketika Elkan berdiri di tengah, menatap lurus ke arah Anya. Tidak ada lagi suara dari luar. Tidak ada lagi gangguan. Semua seperti sengaja berhenti, memberi ruang untuk satu hal yang sejak awal belum pernah benar-benar diselesaikan.Anya berdiri beberapa langkah darinya. Tangannya gemetar, tapi ia tidak mundur. Untuk pertama kalinya, ia tidak menghindari tatapan Elkan. “Kamu ingin tahu semuanya?” tanya Anya pelan sambil menahan napas.Elkan mengangguk tipis. Tatapannya tajam, tapi tidak meledak. “Aku sudah menunggu dua tahun,” ucap Elkan tenang sambil menyilangkan tangan di dada.Anya menutup mata sejenak, lalu membukanya perlahan. Air mata mulai menggenang, tapi ia tetap berdiri tegak. “Aku tidak pernah mengkhianatimu,” ucap Anya dengan suara bergetar sambil menatapnya langsung.Citra yang berdiri di belakang langsung menoleh cepat, jelas tidak menyangka. Bu Mirna pun terdiam, wajahnya penuh kebingungan.Elkan tidak langsung merespons. Ia ha

  • HASRAT TERPENDAM SANG PUTRA MAHKOTA   36. Hari Pembalikan

    Udara pagi terasa lebih berat dari biasanya di rumah keluarga Hartawan. Tidak ada suara tawa, tidak ada nada santai seperti hari-hari sebelumnya. Yang ada hanya keheningan yang menekan, seolah semua orang menunggu sesuatu yang buruk akan terjadi.Elkan sudah berdiri di ruang tamu sejak fajar. Ia mengenakan kemeja sederhana berwarna gelap, tapi sikapnya sama sekali tidak sederhana. Tatapannya lurus ke depan, tenang, seperti seseorang yang sudah siap menghadapi apa pun yang datang.Anya turun dari tangga perlahan. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat Elkan yang berdiri tanpa bergerak. “Kamu belum tidur?” tanya Anya pelan sambil menggenggam pagar tangga, nada suaranya penuh kehati-hatian.Elkan menoleh sedikit, lalu menggeleng pelan. Ia memasukkan tangannya ke saku celana dengan santai. “Tidak perlu,” ucap Elkan singkat sambil kembali melihat ke arah pintu utama.Anya mengernyit. Ia melangkah turun satu per satu, matanya tidak lepas dari sosok pria itu. “Sejak kapan kamu jadi seperti

  • HASRAT TERPENDAM SANG PUTRA MAHKOTA   Bab 35

    Malam belum benar-benar beranjak dari rumah besar itu ketika Elkan masih berdiri dengan ponsel di tangannya. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, seolah ikut merespons perubahan yang baru saja terjadi. Kata-kata dari panggilan tadi masih terngiang di kepalanya, membentuk sesuatu yang tidak bisa lagi dihindari.Anya memperhatikan dari beberapa langkah di belakang. Ia bisa melihat bahu Elkan yang sedikit menegang, sesuatu yang jarang ia sadari sebelumnya. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Anya pelan sambil melangkah mendekat, suaranya tidak lagi setajam tadi, tapi penuh rasa ingin tahu.Elkan tidak langsung menjawab. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu menghela napas perlahan seolah sedang menata pikirannya. “Mulai sekarang, semuanya tidak akan sama,” ucap Elkan tenang sambil menoleh ke arah Anya, tatapannya dalam dan sulit dibaca.Anya mengernyitkan dahi, mencoba memahami maksud kalimat itu. Ia menatap wajah Elkan lebih lama dari biasanya, seolah mencari pria yang ia ken

  • HASRAT TERPENDAM SANG PUTRA MAHKOTA   Bab 34

    Suasana kamar Anya masih dipenuhi sisa ketegangan ketika Tiara berdiri santai di dekat pintu. Tatapannya bergerak dari Anya ke Elkan, lalu kembali lagi, seolah menikmati momen yang baru saja ia ganggu. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya, bukan karena godaan, tapi karena sesuatu yang mulai retak.Anya menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya yang mulai naik. Ia menatap Tiara dengan sorot mata tajam, berbeda dari sikapnya yang biasanya lebih menahan diri. “Kamu tidak punya batas ya?” ucap Anya dengan suara tegas sambil berdiri lebih tegak, mencoba mengambil kendali situasi.Tiara tersenyum tipis sambil melangkah lebih masuk ke dalam kamar, tumitnya beradu pelan dengan lantai. Ia memiringkan kepala sedikit, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun. “Batas itu cuma ada buat orang yang takut,” jawab Tiara santai sambil menyilangkan tangan di dada.Elkan berdiri di antara mereka, matanya bergantian menatap keduanya dengan tenang. Ia tidak lagi terlihat seperti pria yang bingung,

  • HASRAT TERPENDAM SANG PUTRA MAHKOTA   BB 33

    Koridor lantai dua terasa lebih sunyi saat Elkan melangkah menjauh dari kamar Tiara.Pintu di belakangnya sudah tertutup rapat, tapi suasana di dalam sana masih terasa menempel di pikirannya. Aroma parfum, suara Tiara, dan permainan halus yang hampir menyeretnya… semuanya masih tersisa.Elkan menarik napas panjang sambil berjalan pelan.“Aku tidak boleh kehilangan arah,” gumam Elkan lirih sambil menatap lurus ke depan, langkahnya tetap stabil.Ia berhenti sejenak di tengah koridor.Lampu dinding memantulkan bayangannya sendiri di lantai marmer yang mengilap.Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.Bukan Tiara yang berbahaya.Tapi dirinya sendiri… jika ia mulai lengah.Elkan menghela napas lagi, lalu melanjutkan langkahnya menuju satu tempat yang seharusnya menjadi pusat dari semua ini.Kamar Anya.Pintu kamar itu tertutup.Tidak ada suara dari dalam.Elkan berdiri tepat di depannya, menatap gagang pintu beberapa detik.Tangannya terangkat, lalu berhenti di udara.Ia ragu.Bukan k

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status