LOGINUdara di dalam kamar itu terasa lebih padat dari sebelumnya. Tidak ada yang benar-benar bergerak dalam beberapa detik setelah kalimat terakhir Laura jatuh, tetapi justru di situlah semuanya terasa semakin berat. Indra berdiri di tempatnya, matanya bergantian menatap Dina lalu Laura, seolah mencoba mencari satu titik yang bisa ia pegang di tengah situasi yang semakin tidak stabil. Namun semakin ia mencoba memahami, semakin ia merasa semua ini bukan lagi soal siapa yang benar atau salah. Ini tentang siapa yang bertahan… dan siapa yang akan hancur lebih dulu.Dina menarik napas panjang, dadanya naik turun perlahan, berusaha mengendalikan sesuatu yang hampir meluap. Tatapannya kembali ke Indra, lebih tenang, tetapi justru lebih dalam. Ada keputusan yang mulai terbentuk di sana, sesuatu yang tidak lagi dipengaruhi oleh emosi sesaat. Tangannya yang tadi mengepal kini perlahan terbuka, seolah ia sudah lelah menggenggam sesuatu yang terus menyakitinya.“Aku capek,” ucap Dina pelan sambil mena
Pintu yang masih bergetar pelan itu menyisakan gema di dalam dada Indra. Ia berdiri di antara dua wanita dengan napas yang belum sepenuhnya kembali normal. Cahaya pagi yang masuk dari jendela terasa terlalu terang, seolah memperjelas situasi yang seharusnya bisa ia sembunyikan. Namun kini tidak ada lagi ruang untuk bersembunyi. Semua sudah terbuka, setidaknya di permukaan.Dina melangkah masuk satu langkah, matanya tidak lepas dari Indra. Tatapannya tajam, tetapi bukan hanya marah. Ada luka yang jelas terlihat, bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam dan sulit dijelaskan. Tangannya masih sedikit bergetar, namun ia berusaha menahannya agar tidak terlihat lemah.“Aku tanya sekali lagi,” ucap Dina dengan suara tertahan sambil menatap lurus ke arah Indra, napasnya naik turun tidak teratur, “ini apa?” lanjutnya sambil menunjuk ke arah posisi mereka berdua yang terlalu dekat.Indra membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang langsung keluar. Ia menelan ludah, mencoba menyusun kalimat di ten
Pagi itu datang perlahan, menyapu rumah besar Dina dengan cahaya hangat yang lembut. Indra membuka mata, namun tubuhnya terasa tegang, seakan malam sebelumnya masih menempel di kulitnya—bayangan, tawa seram, dan ancaman yang menyelusup hingga ke tulang. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, namun setiap detik yang berlalu, ingatan akan malam itu terus berputar di kepalanya. Aku harus tetap waspada… tapi kenapa jantungku berdetak begitu kencang? gumamnya dalam hati.Tiba-tiba, suara langkah ringan terdengar dari lorong, menembus keheningan pagi. Indra menegang, menahan napas, dan matanya langsung tertuju ke pintu kamar. Sesosok wanita muncul perlahan. Rambutnya panjang, hitam berkilau seperti malam tanpa bintang, wajahnya halus tapi memancarkan daya tarik yang sulit diabaikan. Indra merasa dunia seakan menyusut di sekelilingnya.Siapa… siapa ini? Kenapa aku merasa… terguncang hanya karena melihatnya? batinnya.Wanita itu tersenyum, dan senyumnya… seolah menembus dinding h
Malam itu masih menggantung tebal di rumah besar Dina, menyelimuti setiap sudut dengan kesunyian yang mencekam. Indra dan Dina tetap di tangga, menahan napas, mendengarkan setiap desah angin dan derap langkah yang seakan menari-nari di dinding. Meski bayangan sebelumnya menghilang, keduanya sadar bahwa ancaman itu belum benar-benar pergi. “Kau merasa itu benar-benar selesai?” tanya Dina, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. Indra menggeleng, matanya masih menelusuri gelap koridor. “Tidak. Aku merasakannya… ada sesuatu yang menunggu kita,” jawabnya, nada tegas namun hati-hati.Dina merapatkan tubuhnya ke Indra, tangannya menggenggam lengan pria itu lebih erat. “Aku nggak bisa lagi… merasa aman,” bisiknya, suara gemetar. Indra menepuk bahu Dina, mencoba menenangkan dirinya sendiri juga. “Kita harus tetap waspada. Tapi jangan biarkan rasa takut menguasai kita. Kita bisa melalui ini… bersama,” katanya, menatap mata Dina yang berkaca-kaca. Kedekatan mereka menjadi satu-satunya jangkar d
Jleb! Tubuh Indra terasa seolah tersedot ke dalam kegelapan hangat Dina, detak jantung mereka berpacu dalam satu ritme yang sama. Wajah Dina memerah, matanya berkaca-kaca, dan pinggulnya sedikit bergoyang seiring ketegangan yang mengalir di antara mereka. Indra menatapnya, napasnya tersengal, jantungnya berdetak tak karuan. Namun, sebelum mereka sempat menyesuaikan diri dengan momen itu, suara ponsel memecah keheningan. Kriiing… Kriiiing…Dina menoleh cepat, tangannya gemetar saat mengambil ponsel. “Siapa…?” gumamnya, nada suaranya lebih pelan dari biasanya. Indra mencondongkan tubuh, menatap layar, tapi Dina menepisnya dengan lembut. “Ini urusanku,” katanya, mencoba menenangkan diri, meski matanya menatap Indra penuh kecemasan. Indra mengangguk, menahan diri, tetapi napasnya tetap cepat, merasakan ketegangan yang melingkupi ruangan.Dina menekan tombol terima. “Halo?” Suara lembutnya terdengar tegang. Wajahnya berubah seketika saat mendengar jawaban di ujung sana. Indra menahan diri
Suara angin malam masih masuk perlahan dari jendela yang terbuka.Kamera kecil itu sudah tidak lagi menyala, tergeletak di atas meja seperti benda mati yang kehilangan arti. Namun bayangan tentang apa yang baru saja mereka temukan belum benar-benar hilang. Ia masih ada di sana, menggantung di antara kesadaran dan keinginan yang jauh lebih kuat.Dina berdiri diam beberapa langkah dari Indra.Napasnya belum sepenuhnya stabil. Matanya sempat melirik ke arah kamera itu, lalu kembali ke Indra. Ada pertanyaan yang belum sempat terjawab, ada rasa takut yang belum sepenuhnya pergi.Namun ada juga sesuatu yang lain.Sesuatu yang sejak tadi belum selesai.Indra menatap Dina tanpa berkata apa-apa.Tatapannya tidak lagi dingin seperti beberapa saat lalu. Ada api di sana, sesuatu yang tertahan terlalu lama dan kini tidak lagi ingin disembunyikan. Ia melangkah mendekat, perlahan, seolah memberi waktu bagi Dina untuk mundur jika ia mau.Dina tidak mundur.Ia tetap di tempatnya.Menunggu.“Harusnya k







