MasukPaginya, Ben Adiwa mengetahui bahwa Zidan menggunakan peralatan yang dia berikan. Dia memiliki data yang akan mengirimkan pesan secara otomatis ketika benda itu digunakan. Merasa tidak tenang, Ben segera pergi menuju kediaman tersebut.
Pada siang hari, setibanya di sana, ia langsung menuju pusat medis. Di dalam ruangan, ia melihat seorang wanita dengan selang darah terpasang di lengannya, serta beberapa perawat yang berjaga. Ben menyentuh rambut Aruna. Dia yakin gadis di ranjang tersebut adalah bayi perempuan yang dulunya ia titipkan di panti asuhan. “Siapa dokter yang merawatnya di sini?” tanyanya. Seorang perawat maju ke depan dan menjawab, “Dokter Zidan.” “Di mana dia? Salah satu dari kalian pergilah! Cari dia dan minta dia datang ke sini!” perintah Ben. “Baik, Tuan!” Saat itu, Satria dan Zidan sedang tidak berada di sana. Mereka berada di ruangan lain. Pengawal yang berjaga di luar segera mengirimkan pesan pada Satria bahwa kakeknya datang mengunjunginya. Kini, Satria dan Zidan bergegas pergi ke ruangan medis. Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan perawat yang diperintahkan Ben untuk memanggil Zidan. “Dokter, Tuan Ben meminta saya untuk memanggil Anda ke ruangan medis.” Satria mengernyitkan keningnya. “Menurutmu kenapa Aruna memiliki gen yang sama persis sepertiku? Bukankah gen itu hanya bisa dimiliki oleh Keluarga Adiwa?” Zidan menggelengkan kepalanya. "Sepertinya kakekmu tahu. Buktinya dia langsung datang ke sini ketika aku menggunakan peralatan darinya!” Jawabnya sambil mengukir senyum. Satria menelan ludahnya. Satria tahu dirinya diadopsi oleh Nova Adiwa, istri Darius Adiwa. Ben bilang padanya bahwa sejak bayi, dirinya adalah keturunan Keluarga Adiwa. Pada saat itu, terjadi kerusuhan di kediaman Adiwa. Demi menyelamatkannya, Satria terpaksa dikirim ke panti asuhan, tempat di mana Ben juga menitipkan bayi perempuan. Semua orang di kediaman Adiwa sebenarnya tidak memiliki hubungan darah satu dengan yang lain. Semua anggota Adiwa dihubungkan dengan gen. Siapa pun yang berhasil lulus uji coba gen sejak bayi, mereka akan tinggal dan menjadi anggota resmi keluarga. Dalam uji coba sebelumnya, Ben mengangkat Darius dan Nova. Tapi setelah mereka menikah, dia tahu hubungan di antara keduanya yang memiliki gen yang sama tidak akan memiliki keturunan. Dan baru-baru ini, dia mendengar Satria mengangkat seorang anak bernama Dion. Ben sebenarnya menentang keputusan ini karena berpikir Dion sama sekali bukan darah daging Satria dan bukan anak yang dibesarkan dengan gen khusus di tubuhnya. Kini, Ben melihat seorang gadis—dan dia tahu gadis itu adalah wanita yang diakui Satria untuk dinikahi. Ben adalah dokter hebat. Dia juga ilmuwan terkenal yang melahirkan anggota Adiwa dari waktu ke waktu. Semua anggota akan diberi tugas dan misi-misi penting. Anggota Keluarga Adiwa berpencar di berbagai negara. Totalnya sangat banyak, dan mereka masih menghubungi satu sama lain dalam misi tertentu. Satria dan Zidan segera meninggalkan ruangan untuk menemui Ben. Sampai didalam ruangan, dia melihat Ben sedang duduk menghadap komputer di dalam ruangan. “Bagaimana awal kalian bisa menemukan wanita ini?” Zidan meninggalkan ruangan tersebut untuk memberikan waktu pada Satria dan Ben untuk bicara. Satria mengatakan apa adanya dan dia merasa tidak ada gunanya untuk menyembunyikan semuanya dari Ben. “Dia datang padaku, dan kami secara tidak sengaja bertemu.” “Satria, aku tau wanita ini adalah anggota kepolisian, dia juga istri sah cucu Keluarga Adiwangsa. Kamu tidak boleh menahannya disini, bebaskan dia setelah siuman!” Satria merasa tidak rela melepaskan Aruna. “Kenapa? Dia adalah Keluarga Adiwa! Dan Darah kami juga cocok!” “Ya, jika dia di besarkan di dalam Keluarga Adiwa maka dia adalah anggota keluarga, dia bukan Keluarga Adiwa lagi ketika tinggal di luar. Kamu harus setuju dengan keputusanku!” Setelah berkata demikian, Ben Adiwa pergi keluar dari dalam ruangan lalu menatap Zidan yang masih menunggu di luar ruangan. “Kirim wanita itu kerumah sakit setelah selesai pendapatkan cukup darah!” Perintahnya. “Baik, Ketua!” Zidan mengangguk patuh.“Kita akan periksa ke dokter kandungan. Kamu belum datang bulan, mungkin saja kamu hamil. Jika benar, aku akan lebih berhati-hati lagi melakukannya,” ucap Bayu dengan lembut pada Aruna. Aruna mengangguk setuju. Ia segera mandi, dan setelah selesai, Bayu langsung membawanya ke dokter untuk pemeriksaan. Di rumah sakit, Bayu setia menemaninya masuk ke ruang periksa. Meski Aruna sudah terlambat datang bulan beberapa minggu, dokter menyatakan belum ada tanda-tanda kehamilan yang pasti walaupun sudah dilakukan tes. “Aku akan melakukannya lebih keras! Aruna, hari ini aku tidak akan ke kantor. Kita akan menghabiskan waktu di villa,” ujar Bayu penuh ambisi. Aruna meremas ujung roknya. Tubuhnya terasa sangat lelah, bahkan ia hampir tidak sanggup berjalan. “Malam saja, ya? Aku lelah, aku sungguh lelah, oke?” bujuknya. “Aruna, lusa kamu sudah harus pergi ke kediaman pria itu!” keluh Bayu. “Bayu, aku sungguh lelah. Aku janji nanti malam kamu bisa melakukannya beberapa kali. Aku akan membiarka
“Aruna, kamu tidak apa-apa?” Tanya Bayu.Aruna menggelengkan kepalanya.“Bagaimana kondisimu belakangan ini?” Tanyanya.“Aku baik-baik saja, hanya kakek yang selalu mendesakku untuk cepat-cepat membuatmu hamil, dia tidak sabar ingin cucu darimu,” jawabnya.Aruna mengingat masalah itu, tujuan Bayu mengikat kontrak memang untuk pendapatkan keturunan. Aruna sangat lelah, tapi kerja sama yang sudah disepakati tidak mungkin dia lupakan begitu saja.Aruna melepaskan seluruh bajunya lalu rebah di meja. Dia membuka kedua pahanya sambil berkata pada Bayu.Bayu sangat merindukannya. Dia melihat tubuh Aruna yang sangat dia inginkan; sudah tidak sabar ingin menjamahnya. Bayu mendekatinya, dia juga melepaskan piyamanya. Pertama-tama dia menyentuh sisi intim Aruna sambil mengelusnya dengan lembut.“Aruna, aku sangat merindukanmu….Hmh,”“Bayu, kamu tahu sebenarnya aku muak dengan semua ini? Keluargamu menganggapku seperti sebuah mesin yang tidak punya hati. Lakukan sekarang, jangan menundanya,” bisi
Keesokan paginya Aruna merasa tulang belulangnya hancur. Baru beberapa hari tinggal dengan Satria, Aruna hanya diberi waktu untuk melayaninya.Pelayan masuk ke dalam kamar untuk mengantarkan sarapan. Melihat kamar Satria berantakan lagi, mereka tidak terkejut. Semua orang di kediaman itu tahu Aruna sangat dicintai oleh Satria, dan hampir setiap kali mereka mendengar suara desahan serta pekikan di balik pintu kamar tersebut.“Nona Runa, ini sarapan Anda,”Aruna bangun sambil menutup tubuhnya yang telanjang dengan selimut, lalu mengangguk dengan lemah.“Ya terimakasih, taruh saja di meja,”Pelayan menaruh nampan di meja. Aruna melihat segelas susu hangat, dia mengambil gelas itu dan meminumnya. Seketika energinya kembali terisi dan tubuhnya tidak terlalu lemah lagi.Aruna teringat dengan momennya dengan pria itu dan dia merasa tidak nyaman. Wajahnya masam dan berkeringat. Tadinya dia ingin menyuap makanan, tapi dia berhenti dan meletakkan kembali sendoknya.Pelayan pikir ada yang sala
Saat berjalan di koridor, Satria sedang berbicara dengan tamunya seketika melihat bayangan Aruna. Pikir Satria, Aruna kabur lagi, Satria berdiri lalu mengikutinya. Sementara itu, Elara juga mengikuti Aruna, langkahnya langsung terhenti lantaran melihat Satria menyusul Aruna di kediaman Dion. Dari kejauhan Elara melihat Satria memeluk Aruna dari belakang, dan menciuminya dengan rakus. Pemandangan di gelap kolidor itu membuat Elara menangis. Elara memalingkan wajah lalu pergi. Aruna di setubuhi lagi di koridor. Gaunnya diangkat, CD-nya dirobek lalu didorong sambil dipeluk dari belakang. Aruna meremas tiang koridor sambil menungging. Buah dadanya diremas dari belakang. “Aah, aahh, Satria, lepaskan aku, ssh, aah, kamu sudah gila, oukh!” “Aruna sayang, ssh, aku selalu menginginkan tubuh ini, ouh, oh, oh, lubangmu lembut dan nikmat, sayang! Aku ingin terus siang dan malam, aahh, aah, ah.” “Satria, mmhh, oooukh, sshh, aaakh!” Cairan Aruna makin banyak dan membuat Satria makin ge
Di pintu Raka melihat pelayan sedang menemani bayi di kereta. Raka tidak sengaja melihat wajah anak itu. “Bayu kecil?” Gumamnya lalu buru-buru menutup mulutnya kembali. “Ti-tidak mungkin bukan? Apa Aruna sudah menipu semua orang? Bayi itu sangat mirip dengan Bayu Adiwangsa!” Raka masuk ke mobilnya, dan berusaha melupakan wajah bayi itu. Tidak lama setelah Raka pergi, Satria keluar dan melihat Dion. Elara juga berdiri disana sambil melipat tangannya. “Kenapa tidak menikah dengan wanita lain saja? Aruna tidak akan memiliki keturunan jika kalian menikah!” Tanyannya. Satria sangat marah mendegarnya. “Elara! Sejak kapan kamu berani ikut campur urusan pribadiku?! Siapapun wanita yang aku pilih itu sama sekali bukan urusanmu!” Tegasnya. *** Disisi lain, Raka langsung menuju kediaman Bayu dan langsung mengajaknya berunding. “Apa Kamu sudah bertemu dengan Aruna? Apa katanya?” Tanya Bayu dengan wajah tidak sabar. Raka menghela nafas lalu menjelaskannya. “Maaf, aku tidak bisa
Tubuh Aruna sudah di bawa ke kediaman Satria, Aruna sadar dia merasa dingin karena tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang pun, di bawahnya dia merasakan tekanan cepat dari seseorang yang dia kenal. “Okh, ouh, ouh Satria, ouh!” “Aruna, aku sudah bilang kamu adalah milikku!” Aruna sudah tidak tahan lalu mengangkat bokongnya ke atas. “Aaaahhh, aaahhh, aaahhh!” Cairannya langsung keluar membasahi seprei. Satria menatap penuh kepuasan lalu melumat bibirnya. “Aruna, kamu harus setuju untuk bersamaku!”Bisik Satria di telinga Aruna. Aruna menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa, mengertilah dengan keputusanku,” Aruna menatap dengan wajah memohon. Satria melumat kembali bibirnya dan buah dadanya, Aruna sudah terbiasa di perlakukan dengan liar oleh mafia itu jadi dia juga tidak melawan. “Ah, ah, ah, aku tidak mungkin membiarkanmu pergi Aruna, ah, akh!” Desahnya sambil terus mengayun bokongnya. Aruna menatap bayangan ya di cermin, Satria terus mendorong dengan sangat cepat. “Oooouh