تسجيل الدخولJam di dinding kamar menunjukkan pukul setengah tujuh malam.Xian Ren sudah berdiri di depan cermin kamarnya. Ia merapikan kerah kemeja yang dikenakannya. Setelah merasa penampilannya cukup rapi, ia mulai menggeledah beberapa sudut kamar dan mencari tabungan pribadi milik Han Lim. "Di mana anak itu menyimpan uangnya?" gumam Xian Ren, berpikir sejenak.Ia memeriksa laci meja belajar, namun tidak menemukan apa pun di sana. Ia kemudian menuju lemari pakaian dan memeriksa di beberapa tumpukan baju."Akhirnya ketemu juga." Xian Ren tersenyum lebar saat ia menemukan sebuah amplop di bagian bawah salah satu tumpukan baju.Xian Ren membuka amplop tersebut. Terdapat beberapa lembar uang kertas dengan jumlah seluruhnya 150.000 Won."Maaf Han, aku pakai dulu uangmu ini untuk ongkos dan makan malam dengan Shuling," gumam Xian Ren sambil tersenyum tipis, lalu memasukkan uang itu ke dalam dompetnya.Ia bergegas keluar kamar dan berjalan menyusuri tangga menuju lantai bawah. Han Yu dan Yuan Rin se
Xian Ren berjalan di tengah sambil terus menggenggam tangan Yuan En dan Shuling yang berdiri di kanan dan kirinya. Mereka bertiga meninggalkan gudang tersebut menuju ke jalan raya.Yuan En sesekali memandangi Xian Ren. Pipinya merona merah dan jantungnya berdebar kencang setiap kali ia menatap wajah pria itu. Tanpa sadar, ia mempererat cengkeraman jarinya di genggaman tangan Xian Ren. Yuan En perlahan mengelus punggung tangan Xian Ren, menikmati kehangatan yang mengalir dari sana. Xian Ren melirik sekilas ke arah gadis itu lalu melemparkan senyuman tipis yang membuat Yuan En semakin tersipu.Shuling juga merasakan hal yang sama. Muka merona merah dan jantungnya berdebar tidak karuan. Genggaman tangan Xian Ren terasa hangat dan membuatnya merasa nyaman. Suasana di antara mereka terasa makin ajaib. Dua gadis yang sebelumnya berada di sisi berbeda di sekolah, kini berjalan berdampingan dengan canggung namun tak ingin melepaskan genggaman tangan dari pemuda yang sama."Lim, apa yang seb
Setelah berjalan beberapa saat, mereka akhirnya tiba di sebuah gudang kosong yang terletak di gang sepi tak jauh dari gerbang sekolah. Xian Ren didorong hingga berdiri di tengah-tengah gudang tua tersebut. Ryu Wei dan keempat temannya berdiri sambil menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Sekitar sepuluh orang pemuda berseragam sekolah lain dengan jaket geng motor, mengepung di setiap jalur keluar gudang. Beberapa di antara mereka memegang tongkat kayu pemukul dan beberapa lagi tampak memain-mainkan rantai besi di tangannya."Bagaimana sekarang, Culun? Tempat ini sepertinya cocok untuk jadi kuburanmu, kan?" ucap Lee dengan suara meninggi, lalu tertawa mengejek.Ryu Wei berjalan beberapa langkah ke depan, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya tampak memerah dipenuhi amarah dan dendam yang ia simpan sejak kemarin. "Kemarin kau merasa sangat hebat, kan? Sekarang, tunjukkan lagi kehebatanmu itu di depan kami semua!" bentak Ryu Wei.Jia Hao—yang merupakan ketua dari g
Xian Ren dan Yuan En tiba di area kantin. Suasana di sana cukup ramai oleh para siswa yang mengantre makanan dan berbincang santai.Ryu Wei bersama keempat temannya yang sedang duduk di salah satu sudut kantin langsung memandangi mereka berdua dengan tatapan penuh rasa tidak suka."Hei, Yuan En. Kemarilah!" Ryu Wei berteriak ke arah Yuan En. Tangannya menggenggam kuat gelas minumannya di atas meja."Aku ke sana dulu," ucap Yuan En pelan pada Xian Ren.Xian Ren mengangguk. "Ya."Yuan En segera berjalan menuju ke meja Ryu Wei, sementara Xian Ren berjalan menghampiri tempat Shuling duduk bersama seorang temannya."Lim. Kenapa kamu bisa barengan sama Yuan En?" ucap Shuling heran begitu Xian Ren duduk di hadapannya. "Ada hubungan apa kalian berdua?""Tidak ada apa-apa, Shuling" jawab Xian Ren santai sambil tersenyum. "Tadi cuma tidak sengaja berpapasan di koridor.""Oh..." Shuling mengangguk pelan. Namun matanya sesekali melirik ke arah Yuan En dengan perasaan curiga dan sedikit cemburu. "
Yuan Rin merebahkan dirinya di kasur sambil memegang majalah fashion favoritnya. Ia tidak fokus membaca majalahnya gara-gara mengingat kelakuan adik tirinya yang berani mencuil dagunya sore tadi."Anak itu... Sejak kapan dia jadi berani berbuat seperti itu denganku," gumam Yuan Rin kesal bercampur bingung. Jemari tangan kirinya refleks mengelus pelan dagunya sendiri, sementara dadanya mendadak terasa sedikit hangat."Kak Rin. Kau belum tidur?" suara Xian Ren terdengar dari balik pintu.Xian Ren membuka pintu lalu melangkah masuk ke dalam kamar dengan santai.Yuan Rin buru-buru duduk, melempar majalahnya ke samping dan memasang raut wajah galaknya untuk menutup-nutupi rasa canggung. "Han! Siapa yang menyuruhmu masuk? Kebiasaan sekali."Xian Ren tertawa santai. Ia kemudian duduk di kursi meja belajar Yuan Rin dan menyandarkan badannya dengan gaya yang sangat tenang."Tadi kan aku sudah mengetuk pintu, Kak.""Tetap saja kau tidak boleh asal masuk ke kamarku seperti itu! Memangnya ada per
Jantung Bu Mei masih berdebar kencang, wajahnya terlihat memerah akibat ucapan serta tindakan berani dari Xian Ren.Bu Mei segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan Xian Ren. Ia menarik napas panjang, berusaha keras untuk mengendalikan dirinya dan kembali memasang wajah tegas seperti biasa."Han Lim! Kamu jangan bersikap kurang ajar kepada saya," ucap Bu Mei dengan suara yang diusahakan terdengar normal. "Saya ini gurumu! Apa kamu ingin diberi hukuman?"Xian Ren hanya menyunggingkan senyum tipis. Wajahnya sangat tenang dan berkarisma menatap ke arah wanita itu.Bu Mei berdehem pelan, mengalihkan pandangannya dari tatapan Xian Ren. "Sudah. Jangan membuat masalah lagi di sekolah, termasuk dengan Ryu Wei dan teman-temannya. Sekarang, silakan kembali ke kelasmu.""Baik, Bu Mei," sahut Xian Ren santai.Xian Ren berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu. Namun, sebelum ia membuka pintu, Xian Ren berbalik dan menoleh sekali lagi ke arah Bu Mei."Bu Mei. Saya serius denga







