LOGINDua mobil Kepolisian dari Distrik Kota berhenti di depan sebuah bengkel kecil milik Lie Bao yang terletak di kawasan kumuh Distrik Timur. Detektif Kang turun dari mobil bersama beberapa anggotanya.Tampak dua orang pria sedang berada di dalam bengkel tersebut. Satu pria bertubuh kekar dengan tato di lehernya sedang mengelas, satu lagi pria kurus berambut gondrong sibuk mengelap alat-alat bengkel di sampingnya."Selamat pagi, Lie Bao," ucap Detektif Kang seraya melangkah masuk ke dalam bengkel.Pria bertato itu menatap Detektif Kang dengan tatapan dingin. "Selamat pagi, Pak. Ada apa Anda datang kemari pagi-pagi begini?""Saya Detektif Kang dari Kepolisian Distrik Kota. Kami hanya ingin meminta beberapa keterangan dari Anda," ujar Detektif Kang sambil menyodorkan surat tugasnya.Pria kurus yang bernama Liu Tao—menatap Detektif Kang dan anggotanya dengan wajah gelisah."Keterangan soal apa, Pak?" ucap Lie Bao santai."Soal transaksi tunai sepuluh juta Won pada tanggal sembilan," ucap Det
Sejak tiba di sekolah pagi tadi, Xian Ren kerapkali mendapat gangguan dari Ryu Wei dan keempat temannya. Mereka secara bergantian mengintai dan memprovokasi pemuda itu.Saat tadi berjalan di koridor, Lee berpura-pura sibuk membaca buku hingga menyenggol bahu kirinya. Saat berada di dekat tangga, Chen berpura-pura terjatuh dan menabrak lengan kiri Xian Ren dari samping. Dan saat ia akan masuk ke dalam kelas, Ming Tao dan Dao dengan sengaja berlari keluar kelas sambil menyenggol kedua lengannya dengan alasan terburu-buru.Setiap kali benturan itu terjadi, Xian Ren selalu meringis merasakan nyeri yang teramat sangat.'Brengsek. Sepertinya mereka sudah tahu kalau bahu kiriku ini terluka,' umpat Xian Ren dalam hatinya.Xian Ren tetap menahan rasa kesal dan amarahnya. Ia memilih untuk diam. Ia tahu kalau Ryu Wei sedang memancing reaksinya agar terjadi keributan yang bisa menyebabkannya diskors atau malah dikeluarkan secara langsung oleh pihak sekolah.Saat jam istirahat tiba, Xian Ren, Shul
Xian Ren masih terus melumat bibir Yuan Rin sambil mendorong pelan tubuh gadis itu ke atas ranjang. Yuan Rin hanya bisa pasrah menerima ciuman hangat dan lembut dari pemuda itu.Saat situasinya semakin intim, Xian Ren seketika tersadar dengan perbuatannya.'Tunggu... Ini tidak benar. Apa yang sedang kulakukan?' batinnya tersentak.Ia seketika menarik tubuhnya ke belakang dan melepaskan tautan bibir mereka. Keduanya saling berpandangan dalam keheningan selama beberapa saat.Napas Yuan Rin tampak memburu, sementara wajahnya merona merah dengan tatapan bingung.Xian Ren berdiri dari tepi ranjang, merapikan bajunya dengan canggung. "Maafkan aku, Kak Rin..." ucap Xian Ren pelan seraya menatap ke arah Yuan Rin yang telentang pasrah. "Aku tidak seharusnya melakukan ini. Kakak istirahatlah sekarang."Xian Ren segera berbalik dan berjalan keluar dari kamar, lalu menutup pintunya rapat-rapat. Yuan Rin hanya terdiam, menatap kosong ke arah pintu kamar yang baru saja tertutup dengan tangan meny
Xian Ren melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dari dalam. Rasa nyeri di bahu kirinya terasa semakin menjadi-jadi akibat tepukan keras dari Min Soo serta tabrakan dengan Ryu Wei di gerbang sekolah tadi. Ia melepas seragam sekolahnya dan berdiri di depan cermin. Pandangannya tertuju pada perban di bahu kirinya itu. Ada rembesan darah yang sudah membasahi kain tersebut."Sial. Sepertinya jahitan lukaku kembali terbuka," umpatnya pelan seraya memegang bahu kirinya.Terdengar suara ketukan pelan dari pintu kamarnya."Han. Ini Kak Rin. Boleh aku masuk?"Xian Ren tersentak kaget dan dengan cepat meraih seragam sekolahnya, lalu menutupi bahu kirinya. "Masuk saja, Kak Rin. Pintunya tidak dikunci."Yuan Rin melangkah masuk ke dalam kamar, menatap ke arah Xian Ren yang masih berdiri di depan cermin. Gadis itu tampak terpesona dengan tubuh tegap dan atletis milik pemuda itu, lalu buru-buru memalingkan wajahnya."Ada apa, Kak Rin?" tanya Xian Ren, menatap ke arah kakak tirinya.Yua
Satu jam kemudian, beberapa mobil Kepolisian Distrik tiba di depan rumah Yuze. Beberapa anggota polisi mulai memasang garis polisi mengelilingi rumah.Detektif Kang berjalan sambil mengantongi amplop cokelat yang berisi surat perintah penggeledahan dari pengadilan setempat."Pastikan seluruh tim sudah mengenakan sarung tangan dan penutup sepatu yang steril," ujar Detektif Kang pada beberapa anggotanya dan dua petugas forensik yang ada di sana. "Dokumentasikan juga setiap ruangan sebelum kalian menyentuh barang apa pun.""Baik, Detektif!"Petugas ahli kunci membuka paksa gembok pintu depan. Begitu pintu terbuka, tim forensik mulai memotret ruang tamu dengan kameranya, sementara anggota penyidik menyisir area kamar dan ruangan lain.Di saat yang bersamaan, Detektif Kang menerima laporan dari unit patroli jalan raya dari radio komunikasinya."Lapor Detektif Kang. Kami berhasil menemukan mobil milik tersangka Yuze di area parkiran stasiun rest area kilometer empat puluh delapan. Kami suda
"Apa Detektif yakin kalau Yuze adalah pelaku utama di balik penculikan dan teror itu?" ucap Han Yu dengan suara bergetar."Untuk saat ini masih dugaan sementara berdasarkan bukti awal pelacakan kartu prabayar dan rekaman CCTV, Nyonya Han Yu. Kami belum bisa menyimpulkan sepenuhnya sebelum meminta keterangan dan memeriksa langsung dari yang bersangkutan."Han Yu menarik napas panjang, dadanya masih bergemuruh hebat. "Apa yang akan Detektif lakukan sekarang?""Hari ini tim kami akan mendatangi kediaman Saudara Yuze untuk meminta keterangannya," ujar Detektif Kang. "Saya harap Anda dan keluarga tetap tenang dan tidak menghubungi Saudara Yuze terlebih dahulu agar tidak mengganggu proses penyelidikan.""Baik, Detektif Kang. Terima kasih," ucap Han Yu.Panggilan itu pun berakhir. Han Yu meletakkan gagang telepon dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu kembali duduk di samping Bibi Hua."Ada apa, Han Yu? Siapa yang meneleponmu tadi?"Dengan wajah pucat, Han Yu menoleh ke arah Bibi Hua. "Dar







