LOGINBOOOOOOOOM! Benturan mahadahsyat yang memekakkan telinga meledak di titik tengah lapangan Blok 10. Proyeksi kepala naga hitam raksasa milik Murayama menghantam keras dinding perisai kristal es heksagonal yang baru saja diciptakan Fang Zhe. Gelombang kejut yang dihasilkan dari tabrakan dua energi Qi Bintang Lima itu melesat horizontal, menciptakan badai angin yang menerbangkan sisa-sisa batu obsidian dan debu di sekitarnya. Tiga puluh lima narapidana yang menyaksikan dari tepi lapangan terpaksa menyilangkan tangan di depan wajah, menahan angin kencang yang menusuk kulit. "Hahaha! Hancurlah menjadi serpihan, bocah sialan!" raung Murayama dengan urat-urat leher yang menegang, terus mendorong seluruh energi Qi hitamnya untuk menggilas pertahanan lawan. Namun, ekspresi kemenangan di wajah paruh baya itu tidak bertahan lama. Karena ... Zzzzttt... Kreeek... Alih-alih hancur berkeping-keping seperti yang dibayangkan Murayama, perisai es milik Fang Zhe justru memancarkan kerlipan cahaya
Mendengar ancaman bernada tinggi itu, Fang Zhe tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menarik satu kakinya ke belakang, menurunkan pusat gravitasinya, dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan seringai yang tak pernah pudar. Sikap santai Fang Zhe di jarak sedekat ini adalah penghinaan pamungkas bagi Murayama. "Mati kau, keparat!" raung Murayama. BUMMM! Lantai batu obsidian di bawah pijakan Murayama retak hancur saat tubuh kekarnya melesat maju bagai peluru meriam. Wuuuuush! Gerakannya begitu cepat hingga meninggalkan bayangan hitam samar di udara. Dalam sekejap mata, tinju kanan Murayama yang diselimuti oleh Qi hitam pekat yang berputar seperti bor raksasa sudah berada tepat di depan wajah Fang Zhe. Wuuuush! Sedikit pun tidak bergerak mundur, Fang Zhe hanya memiringkan kepalanya beberapa sentimeter ke samping. Angin pukulan yang dihasilkan dari tinju Murayama melesat lewat, memotong beberapa helai rambut depan Fang Zhe dan menghantam udara kosong di belakangnya hing
Jawab pria bertato serigala itu dengan bibir gemetaran, menyebutkan nama tersebut seolah-olah nama itu sendiri membawa sial.Mendengar nama asing itu, seulas senyum tipis kembali terukir di wajah Fang Zhe. Tebakannya terbukti benar. Sistem tidak pernah salah hitung; selalu ada bos besar yang bersembunyi di balik layar ketika para kroco sudah rata dengan tanah."Murayama, ya?" Fang Zhe mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk, tampak berpikir. "Lanjutkan. Beritahu aku semua yang kau tahu tentang dia sebelum aku kehilangan kesabaran."Pria bertato serigala itu menelan ludah dengan susah payah, buru-buru menyahut demi menyelamatkan nyawanya. "Dia... dia juga seorang kultivator ranah Pengumpul Qi Bintang Lima, sama sepertimu! Tapi jangan salah, dia bukan tahanan biasa. Murayama adalah salah satu dari sepuluh tangan kanan faksi Han Ling yang sengaja ditempatkan di dalam Penjara Naga Hitam ini untuk mengontrol para narapidana di blok sepuluh."Ia kemudian menunjuk dengan jarinya yang
Di tengah badai kepanikan yang melanda lapangan, Fang Zhe tetap berdiri dengan tenang di pusat segalanya. Uap dingin tipis berembus dari sela-sela bibirnya saat ia mengembuskan napas panjang. Ekspresi santainya sama sekali tidak berubah, seolah-olah membekukan tiga puluh lima kultivator kejam dalam satu hentakan kaki adalah hal yang biasa ia lakukan sebelum sarapan.Tap... Tap... Tap...Kini ia berjalan melewati barisan patung es manusia tersebut, sesekali berhenti untuk menepuk pundak membeku salah satu tahanan yang tadi berteriak paling lantang. Setiap kali telapak tangan Fang Zhe menyentuh es, sensasi dingin yang seratus kali lipat lebih menyiksa langsung merayap masuk ke sumsum tulang korbannya, membuat mereka melolong tertahan dengan tubuh gemetar hebat."Tadi... siapa ya yang bilang ingin mengunyah tulangku sampai habis?" Fang Zhe bertanya dengan nada malas, mengitari si kuku hitam yang kini wajahnya sudah membiru menahan dingin ekstrem."Lalu, soal membagi rata hadiah dari Ha
Kata-kata Fang Zhe yang teramat santai namun menusuk itu bagaikan seember minyak tanah yang disiramkan ke atas bara api. "K-KAU... BAJINGAN KECIL SIALAN!!!""Maju bersamaan?! Dia benar-benar mengira ranah Pengumpul Qi miliknya bisa menantang seluruh isi lapangan ini?!""Robek mulutnya! Potong lidahnya yang lancang itu!"Urat-urat di pelipis pria raksasa bertato serigala itu berdenyut kencang, menahan murka yang nyaris membuat napasnya sesak. Belati di tangannya bergetar hebat karena genggamannya yang terlampau kuat. Diperlakukan seperti tumpukan sampah yang harus disapu sekaligus oleh seorang tahanan baru adalah penghinaan terbesar sepanjang sejarah karir kriminal mereka.Namun, di tengah hiruk-pikuk makian yang siap meledak menjadi serangan fisik, narapidana kurus tinggi berkuku hitam tiba-tiba menyipitkan matanya. Sebuah kilatan licik melintas di wajahnya yang tirus."Tunggu dulu! Tahan emosi kalian!" teriak si kuku hitam, mencoba meredam kegaduhan sesaat."Apa maksudmu, Kurus?! B
Mendengar makian keras yang menggema di dalam aula sunyi itu, Fang Zhe sama sekali tidak tersentak. Namun Ia menghentikan langkah kakinya tepat beberapa meter di hadapan formasi setengah lingkaran para narapidana tersebut.Alih-alih gemetar ketakutan atau membalas gertakan mereka, Fang Zhe justru mengangkat tangan kanannya perlahan. Jari telunjuknya menjulur, lalu mulai bergerak dari kiri ke kanan secara konstan."Satu... dua... tiga... empat..." gumam Fang Zhe dengan suara yang cukup lantang dan tenang, mengabaikan tatapan membunuh yang tertuju padanya.Pria raksasa bertato serigala itu mengernyitkan alisnya yang tebal. Belati pendek di sela jemarinya mendadak berhenti berputar. "Apa yang sedang kau lakukan, bajingan kecil?""Tunggu sebentar, jangan menyela. Aku sedang menghitung," sahut Fang Zhe santai, bahkan tanpa menoleh ke arah si tato serigala. "Dua puluh satu... dua puluh dua... ah, total ada tiga puluh lima ekor anjing liar di sini."Fang Zhe menurunkan tangannya, lalu men
Disaat tak sadarkan diri...Kegelapan menyergap Fang Zhe seperti ombak pasang yang hitam dan kental. Kesadarannya tenggelam ke dalam ceruk ingatannya yang paling gelap, tempat di mana rasa sakit bukan lagi berasal dari hawa dingin Tubuh Es Keabadian, melainkan dari api amarah yang membakar jiwanya.
Fang Zhe meludah lagi ke samping, ekspresinya penuh penghinaan."Dokter yang ketakutan adalah dokter yang gagal sebelum bertarung. Jika kau menginginkan putri-mu mati, teruskanlah sandiwara penguasa arogan ini. Tapi jika kau ingin dia hidup, berhentilah menggonggong soal eksekusi!""BRENGSEK! BERAN
Tersadar jika ia terus diam masalah akan semakin rumit. Fang Zhe akhirnya mulai berbicara.“Cukup.”Satu kata. Tidak keras. Namun cukup dalam. Seolah ada tekanan tak terlihat yang langsung menekan suasana di sekitar mereka.Seketika Erina dan Irma sama-sama terdiam.Dan kini, Fang Zhe melangkah maj
Pagi di Paviliun Obat biasanya dimulai dengan aroma tenang dari rebusan herbal dan gesekan pelan lesung kayu. Namun, bagi Fang Zhe, pagi ini terasa seperti berjalan di atas seutas tali yang sangat tipis. Kalimat terakhir Erina tentang hukuman "tidur di halaman" masih terngiang di telinganya, member







