ログインDi area pertempuran... Melihat Fei Yi yang terkapar lemah di kawah runtuhan tanah, mata merah darah milik sang Leluhur Pendiri Klan Gu berkilat semakin sadis. Seringai kejam terukir di wajah kerasukannya saat ia membalikkan tubuh di udara, bersiap melesat menancapkan serangan pamungkas untuk melenyapkan sang Ketua Sekte Lembah Perawan. "Mati kau, wanita jalang!" raung sang monster seraya meluncur tajam bagai kilat hitam menghujam ke bawah. Namun, sebelum jeritan kematian itu sempat terwujud, sebuah pendaran cahaya keemasan meledak dari angkasa. "Langkah seribu petir..." SZZZZT—WUUUSSHH! Kecepatan Fang Zhe membelah dimensi melampaui batas penglihatan biasa. Dalam satu kejapan mata, bayangan pemuda itu sudah berdiri kokoh di udara, tepat memotong jalur serangan sang Leluhur Pendiri di atas tubuh Fei Yi. SHINGGG! Dengan satu sentakan tangan, sebuah pedang berornamen kuno memancarkan pendaran keagungan tingkat Surgawi, senjata hadiah mutlak dari sistem, muncul di genggaman Fang Zh
"Fang Zhe, terima ini," ucap Fei Yi seraya merogoh balik jubahnya dengan tangan bergetar hebat. Dari balik lipatan kain yang bersimbah darah, ia mengeluarkan sebuah ukiran giok berbentuk teratai putih yang memancarkan pendaran spiritual hangat.... Itu merupakan Token Sah Ketua Sekte Lembah Perawan. Dengan mata yang mulai meredup dipenuhi keputusasaan dan tekad murni seorang pemimpin, Fei Yi menyodorkan token tersebut ke hadapan Fang Zhe. "Tekanan raga jiwa leluhur monster itu adalah Ranah Petarung Kaisar Bintang Tiga! Dia dua tingkat penuh di atas ranah baruku!" bisik Fei Yi serak, napasnya memburu dan terengah-engah. "Aku akan membakar seluruh inti Dantian dan fondasi jiwaku untuk menahan ledakan serangan pertamanya. Dalam waktu singkat itu... ambil token ini, pimpin murid-murid dan para penatua melintasi gerbang pelarian! Kau adalah masa depan Sekte Lembah Perawan, Fang Zhe!" Melihat tindakan nekat sang ketua sekte, Ling Yin dan para penatua aula hukum bertambah histeris, namun
Raungan itu menggelegar menembus angkasa, mengguncang jiwa siapa pun yang mendengarnya. Begitu siluet hitam itu menampakkan wujud aslinya secara utuh, semua penatua Klan Gu yang berada di atas geladak kapal dan udara seketika membelalakkan mata. Mereka langsung menjatuhkan diri, berlutut gemetar dengan kepala mencium tanah. "Pa-Para penatua... menyambut kedatangan jiwa Leluhur Pendiri Pertama!" seru Penatua Pertama histeris, suaranya bergetar hebat di ambang keputusasaan dan rasa hormat yang teramat sangat. Bahkan Leluhur Klan Gu yang saat ini tengah terengah-engah dengan bahu buntung dan darah mengucur deras, memaksakan tubuhnya yang sekarat untuk berlutut di tanah. Air mata penyesalan dan kepedihan bercampur baur di wajah tuanya. "Cucu... cucu durhaka memohon ampun kepada Leluhur Pendiri!" teriak Leluhur Klan Gu dengan suara serak penuh derita. "Klan Gu... Klan Gu kita di ambang kemusnahan di tangan Sekte Lembah Perawan! Pedang pusaka hancur, dan jika tidak memanggil sisa ji
Gumam Fang Zhe pelan dari atas geladak kapal, matanya menyipit tajam menyaksikan kepanikan yang mulai merayap di wajah sang Leluhur. Di langit malam, Leluhur Klan Gu yang menyadari kondisinya di ambang kekalahan mendadak mengamuk secara membabi buta. Ia mengerahkan seluruh sisa esensi darah dan tenaga spiritualnya, merapal jurus pamungkas terkuat dari klan yang diturunkan secara turun-temurun. "Teknik Pemusnah Langit: Ribuan Tebasan Jiwa Hitam!" teriak Leluhur Klan Gu dengan suara melengking penuh keputusasaan. BZZZZT! ROAR! Ratusan tebasan energi hitam pekat yang berbalut kutukan kematian meluncur serentak, merobek angkasa dan membentuk sangkar badai yang siap mencabik-cabik tubuh Fei Yi menjadi serpihan debu. Namun, Fei Yi tetap berdiri tenang bagaikan karang di tengah terjangan ombak. Dengan tatapan dingin penuh dominasi, ia mengalirkan Qi Ranah Kaisar Bintang Satu miliknya ke dalam pedang tingkat Dewa. Pendar keemasan menyala menyilaukan, sebelum ia mengayunkannya secara
Mendengar ancaman terbuka dari Fei Yi yang berniat menghapuskan Klan Gu dari peta Daratan Timur, tawa kesetanan Leluhur Klan Gu perlahan mereda. Bola mata peraknya memancarkan kilat pembunuh yang jauh lebih kejam dan berbahaya dari sebelumnya. Ia perlahan mengangguk kaku, menyadari satu kenyataan mutlak: jika ia terus bersikap melunak, Fei Yi tidak akan pernah memberikan jalan keluar. Terlebih lagi, pria tua itu benar, jika hari ini Klan Gu menunjukkan kelemahan dan membiarkan musuh hidup, cepat atau lambat seluruh anggota klannya akan dibantai tanpa ampun hingga ke akar-akarnya. "Baiklah... Rupanya kau benar-benar ingin menguji batas kesabaranku, Fei Yi!" desis Leluhur Klan Gu dengan suara bergetar dingin, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang telah mencapai puncaknya. "Jika itu yang kau inginkan, maka hari ini biarlah daratan ini menjadi saksi atas kematian seorang Ketua Sekte yang terlalu sombong!" BZZZZT! Tekanan Qi tingkat Kaisar yang tadinya sempat melemah aki
Mendengar jawaban penuh ejekan dari Fei Yi, urat-urat di pelipis Leluhur Klan Gu mendadak menonjol keluar. Wajah tuanya yang tadinya berkerut karena terkejut kini berubah drastis menjadi merah padam karena amarah yang meluap-luap. "Keparat kau, Fei Yi! Berani sekali kau mempermainkan aku?!" raung Leluhur Klan Gu dengan suara menggelegar yang mengguncang angkasa. Harga dirinya sebagai penguasa tertinggi yang telah hidup ratusan tahun diinjak-injak begitu saja oleh seorang ketua sekte yang baru saja menembus ranah baru. "Jika kau ingin mati cepat bersama bocah itu, maka aku akan mengabulkan permintaan bodohmu sekarang juga!" BZZZZT! SHING! Kemarahan yang membakar habis akal sehatnya membuat aura perak Leluhur Klan Gu meledak hingga menciptakan kawah kecil di udara di bawah pijakannya. Pedang perak pusaka andalannya bergetar hebat, memancarkan bilah cahaya tajam setinggi puluhan meter yang langsung menyayat malam. Tanpa buang waktu lagi, ia melesat maju bagaikan meteor perak yang ja
Hening beberapa detik memenuhi kabin mobil yang bergerak halus itu. Fang Zhe juga tidak langsung menjawab.Di luar jendela, gedung-gedung kota Shange mulai menjulang tinggi. Dunia yang beberapa jam lalu terasa begitu kejam, kini seperti membuka celah kecil untuknya.“Kalau aku menolak?” tanyanya te
DIIIIIING!Panel transparan berwarna biru muda muncul di hadapan Fang Zhe, hanya bisa dilihat olehnya. Di bawahnya, dua pilihan menyala terang.1. Bela Diri Dasar (Basic Combat Mastery).Meningkatkan refleks, kekuatan pukulan, teknik dasar pertarungan tangan kosong. Cocok untuk konfrontasi langsung
Fang Zhe terdiam sesaat.Tatapan warga desa itu hanya singgah sebentar sebelum berlalu, meninggalkannya berdiri sendiri di pinggir jalan aspal yang sunyi. Angin pagi bertiup dingin, menyapu pakaian compang-campingnya yang masih berbau darah kering dan tanah lembap.Desa Mati. Nama itu terasa tidak
“Ayolah, bibi cantik. Jangan berpura-pura suci. Bukankah kau juga ingin hidup lebih baik?”Suara laki-laki muda terdengar sombong dan sedikit mabuk. Yang langsung membuat jantung Fang Zhe bergetar cepat.Ia mengenali suara itu. Zhao Ming Yao, tuan muda ketiga keluarga Zhao, pemuda itu terkenal arog







