Se connecter"Tari....kalau sekarang aku bertanya lagi tentang niatku yang ingin menikahimu, apa kamu tetap akan memberikan jawaban yang sama?" Pertanyaan Deko membuatku menarik kembali tanganku yang sudah bersiap membuka pintu mobil. Setelah semua benang kusut tentang Lila terungkap, Deko masih memberiku pertanyaan yang membuat hati dan pikiranku kembali kalut. "Jawabannya akan tetap sama, jadi aku harap pertanyaan kamu malam ini adalah pertanyaan yang terakhir," aku menjawab tanpa menoleh ke arahnya, ada perasaan takut dalam hati kalau sampai Deko bisa membaca isi hati dari tatapan mataku. "Aku tidak pernah menyukai Lila dan semua sudah terbukti kan tadi. Jadi.....apa yang membuat kamu masih saja menolakku?" "Ini bukan tentang Lila." "Lalu tentang apa? Tentang kamu? Tentang perasaan kamu? Apa kamu benar-benar tidak punya perasaan sedikit pun padaku? Apa kamu masih kurang yakin dengan niatku? Kurang yakin dengan perasaanku? Atau....kamu menilai aku masih kurang baik dan bertanggung jawa
“Tidak pernah terjadi apa-apa antara Tante dan Papa kamu! Tante tidak pernah merebut apa pun dari keluarga kamu! Kalaupun ada yang awalnya milik keluarga kamu itu berpindah ke tangan Tante dengan prosedur yang jelas! Selalu ada hitam di atas putih, jadi kamu jangan asal bicara! Tante bukan maling! Apa perlu sekarang Tante panggil Mama kamu ke sini biar bisa cuci otak kamu yang kotornya minta ampun itu!!!” Lila dan Pras terdiam, mereka berdua belum bisa menutupi rasa kaget yang masih tergambar jelas di wajah masing-masing. Aku yakin mereka tidak menduga kalau Bu Ning, Deko dan Seno akan muncul tiba-tiba saat mereka berdua sedang asyik membuka kebusukannya sendiri. Semua ini memang rencanaku, sebelumnya aku sudah menceritakan kecurigaanku tentang Lila pada Bu Ning. Aku juga minta agar ruangan Lila dipasang kamera pengintai baru tanpa sepengetahuan Lila, karena aku yakin cepat atau lambat Lila akan kembali kasar padaku. Hari ini firasatku terbukti benar, dari pagi sejak aku data
“Kok nggak kaget Mbak? Apa sudah tahu kalau dia ini teman saya?” Lila lalu menghampiri temannya, dia berdiri tepat di sampingnya, keduanya lalu tersenyum.“Jelaslah dia tahu. Dia sudah cari-cari info dari mantan adikku, dia juga sudah ketemu sama karyawan yang kamu pecat itu.”“Pantas saja kamu tahu semuanya Mbak. Kita berdua mungkin kurang rapi juga Mas mainnya, payah kamu Mas Pras…ha…ha..ha,” Lila mencubit lengan Prasetyo dengan tatapan genit, ya, seperti yang sudah aku duga, Prasetyo ada di balik semua ini. Mereka berdua bersekongkol.“Itulah kenapa aku tidak bisa berhenti menyukainya Lila, dia ini tidak hanya cantik tapi juga cerdas, feelingnya tajam, hampir nggak pernah meleset. Tapi sayangnya dia nggak bisa milih laki-laki, masa udah pengalaman hidup sama Trisno, sekarang malah deketnya sama Deko. Kan nggak naik level kalau begitu, masih di situ-situ aja. Nggak pernah belajar dia ini,” selama bicara pandangan Pras lurus ke arahku, dia bahkan tidak melihat ke arah Lila saat di
Lila sepertinya sengaja memberiku setumpuk pekerjaan yang tidak kunjung selesai di hari libur ini, bahkan sampai sore hari.“Semuanya sudah selesai aku kerjakan, kalau ada koreksi kamu bisa langsung hubungi aku. Sekarang aku pamit pulang sebelum di luar mulai gelap,” kataku berpamitan sambil meletakkan beberapa berkas di meja Lila.“Yang di map merah itu kan belum Mbak kerjakan,” katanya tanpa melihat ke arahku, aku langsung mengambil map itu dan membukanya.“Kalau yang ini aku bisa kerjakan di rumah, nanti aku langsung kirim setelah semuanya selesai.”“Saya mau itu selesai sekarang, saya tunggu!” katanya dingin tanpa melihat ke arahku.“Tapi rasanya ini sudah di luar kesepakatan kita,” aku kembali meletakkan map itu di mejanya.“Kesepakatan? Kesepakatan apa ya Mbak? Siapa yang sepakat?” Lila membuka kaca matanya dan mulai fokus melihatku.“Terakhir di depan Bu Ning kamu bilang akan secepatnya merevisi jobdeskku dan mengirimnya, tapi sampai sekarang kamu belum melakukannya. Dan
“Maaf kalau hanya untuk sekedar bicara saja saya sampai harus mengajak Ibu dan Bapak ke sini. Saya harus berhati-hati karena saya tidak tahu apa orang-orang di luar itu bener-bener pembeli atau bukan, saya takut diawasi.”Demi bisa bicara dengannya, kami berdua harus keluar dulu dari restoran dan kami harus memastikan telebih dahulu kalau kami tidak diikuti seseorang.“Saya tahu Ibu dan saya percaya Ibu orang baik. Siapa pun yang tidak disukai Bu Lila berarti dia orang baik.”“Kok Mas bisa bilang begitu? Mas tahu….sesuatu tentang saya?”“Bukan hanya saya Bu tapi semua yang ada di butik tahu tentang Ibu, karena sebelum Ibu datang kami sudah diminta untuk tidak terlalu dekat dengan Ibu.”“Lila yang minta seperti itu? Saya kenapa memangnya?”“Karena……Ibu bermasalah katanya.”“Bermasalah? Saya bermasalah kenapa?” tanyaku sembari tersenyum sedangkan Deko semakin serius mendengarkan.“Kami tidak tahu pasti maksudnya Bu Lila apa tapi yang jelas kami diminta untuk membiarkan Ibu menge
“Nggak ada alasan buat curiga sama Lila, kemarin dia sudah jelasin semuanya dan menurut aku alasan dia ngaku-ngaku itu masih masuk akal. Tujuan dia kan memang sengaja cari-cari masalah sama kamu buat urusan kerjaan.”“Aku kira beneran ada masalah penting yang mau kamu bicarakan, ternyata masih tentang dia lagi. Kalau memang nggak ada hal lain yang mau kamu bahas sama aku, lebih baik aku balik kantor sekarang Ko.”“Sebentar dong Tar, jangan salah paham dulu!”Deko mengajakku makan siang berdua hari ini dan aku mau karena dia bilang ada hal penting yang perlu dibicarakan. Ternyata dari awal kami bertemu dia hanya membahas soal Lila yang bagiku itu tidak penting sama sekali.“Aku juga susah jelasinnya ke kamu Ko tentang ini karena sekarang kamu pasti nggak akan percaya lagi sama aku,” suasana siang yang terik ikut menambah suhu hatiku yang dari tadi sudah panas.“Bukan aku nggak percaya sama kamu Tar, tapi kemarin kan kamu lihat sendiri ada Ibunya Sika yang juga jadi saksi waktu dia
“Saya akan terima kalau kamu kecewa atas sikap saya kemarin Tari.”Aku tidak menjawabnya, aku memang kecewa pada Bu Ning, kejadian itu menjadi bukti bahwa Bu Ning belum sepenuhnya mengenalku. Hubungan baik yang terjalin selama ini ternyata tidak bisa menjadi jaminan kalau hati tidak akan berubah.
“Aran….Arla….Mamah pulang,” aku langsung memanggil anak-anak begitu sampai di depan pintu.“Mereka nggak ada Mbak.”“Ke mana mereka?! Ke mana?! Ngapain kamu di sini?! Kamu punya rencana apalagi sama Pras?!”“Ya ampun Mbak, tenang dulu. Mbak duduk dulu, mau aku ambilin minum?”“Sudahlah Lila, su
“Waktu bertemu di rumahku, mereka pura-pura tidak saling kenal dan malam itu Pras bisa tahu aku ada di mana karena info dari Lila.”“Sebentar Tar, aku masih nggak paham kenapa kamu yakin banget kalau Lila dan Pras kerja sama buat nyelakain kamu. Lila itu baru aja kenal sama kamu, hal apa yang buat
“Dia sengaja membuat kami miskin mendadak. Kami diusir dari rumah itu.”Seno, si anak manja dan dingin itu sudah berubah menjadi lebih hangat, tapi bukan hanya sikapnya yang berubah, fisiknya juga berubah. Badannya semakin kurus, matanya cekung karena kurang tidur, kelelahan yang dia rasakan juga







