LOGIN“Kami harap kamu tidak salah paham dulu Tari, karena kami datang ke sini atas kemauan kami sendiri bukan atas permintaan dari Deko. Bagi kami Deko sudah seperti anak kandung kami sendiri, maka dari itu kami tentu akan mengusahakan apa pun … apa pun yang bisa membahagiakan Deko termasuk membantu dia untuk menemukan cinta yang baru. Cinta yang akan menemani dia melanjutkan hidup karena dia juga berhak untuk bahagia. Dan ternyata … cinta barunya itu kamu Tari, yang juga sudah kami anggap sebagai anak kami.”Aku hanya bisa menghela napas panjang setelah Tante Tin selesai bicara dan merasa sedikit bingung dari mana orang tua Sika tahu tentang cerita antara aku dan Deko. Kalau memang kedatangan mereka ini bukan atas permintaan Deko, mungkinkah mereka mengambil inisiatif sendiri hanya berdasarkan cerita dari satu sisi yaitu Deko?“Bukan Deko yang memberi tahu kami Tari,” kali ini Bapaknya Sika ikut bicara.“Iya betul, bukan dia. Deko itu tidak pernah menceritakan apa pun yang bersifat pri
Prasetyo akhirnya masuk penjara, bukti dan saksi yang begitu kuat tidak bisa lagi membuatnya menghindar. Hari minggu ini, pagi-pagi sekali Pak Mangun datang bersama Seno ke rumah, raut wajah Pak Mangun kelihatan lelah sekali, matanya sayu.“Karena saya adalah satu-satunya wakil keluarga Pras yang masih ada, saya di sini mau meminta maaf atas semua kesalahan, kejahatan atau apa pun itu namanya yang pernah dilakukan Pras pada Tari dan keluarga, termasuk almarhum Trisno. Saya benar-benar minta maaf Tari,” Pak Mangun mengulangi permintaan maafnya, dia lalu tertunduk lesu.“Pak, bagi saya semua yang dilakukan Pras sudah lewat, sudah berlalu, dia juga sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Saya paham posisi Bapak di sini tapi saya rasa Bapak tidak perlu terlalu berat memikirkan semua ini. Karena ... saya tahu persis ceritanya dan Bapak tidak ada hubungannya sama sekali dengan semua kejahatan yang sudah dilakukan Pras,” aku coba menenangkan Pak Mangun.“Saya seharusn
“Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, Pras masih mau menunjukkan perlawanan dengan melaporkan balik kamu atas dugaan tindak pidana penganiayaan Tar. Kemarin aku sempet bilang kan ke kamu kalau orang yang jadi pembela Pras ini terkenal culas, liciknya bukan main, jadi nggak kaget juga dengan ulah mereka sekarang.”“Aku ... dilaporkan balik Hen?”“Tapi kemungkinan besar itu cuma akal-akalan dia sama timnya aja entah dengan maksud apa. Bisa jadi mereka ingin mental kamu down atau sengaja ngulur waktu dan bikin repot di tengah proses penyelidikan yang sedang berlangsung.”Aku paham tidak akan semudah itu melepaskan diri dari Prasetyo tapi kalau harus menjadi sasaran dan kembali menghadapkanku pada ancaman penjara, jujur aku takut. Prasetyo pasti tidak akan menerima semuanya begitu saja, besar kemungkinan dia memang sedang menyusun rencana untuk membawaku dan mungkin juga membawa Deko agar ikut hancur bersama dia.“Mbak, jangan panik dulu,” Mira pasti tahu alasan aku terdiam begitu
“Mir, aku nggak mau dipenjara, aku nggak mau! Aku harus mukul dia sebelum dia bunuh Seno. Aku nggak salah, aku mau keluar dari sini. Gimana anak-anak kalau aku di sini terus? Aku nggak mau!” aku terisak sambil memeluk Mira.Bayangan tentang gelap dan dinginnya dinding penjara dengan semua ceritanya yang menyeramkan membuatku stres luar biasa. Napasku sesak saat gambaran keadaan di penjara muncul di otakku. Aku yakin aku tidak akan sanggup bertahan hidup di dalamnya, tidak akan pernah sanggup!“Mbak tenang dulu. Mbak nggak akan masuk penjara,” Mira melepaskan pelukanku, dia lalu memegang kedua bahuku kuat-kuat, matanya mencoba meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.“Tapi kenapa aku masih di sini Mir? Ini sudah malam Mir, kenapa aku belum juga diizinkan pulang? Anak-anak gimana?” tanyaku masih dengan suara parau dan diiringi isak tangis.“Mbak, kalau semua keterangan Mbak sudah dirasa cukup dalam penyelidikan ini pasti Mbak akan diizinkan pulang. Mbak jangan lupa, kita punya
Tangan dan tubuhku tidak kuat menahan pintu dari dorongan Prasetyo yang sekuat tenaga, pintu rumah yang jadi satu-satunya benteng pertahananku berhasil dia masuki. Aku mundur perlahan, mencoba menguasai diri sambil melihat ke sekelilingku, mencari benda apa yang sekiranya bisa aku gunakan untuk melindungi diriku dari laki-laki gila yang ada di depanku ini.“Jangan salahkan aku Tari! Kamu yang memaksaku melakukan ini,” Pras menutup pintu dan langsung menguncinya dari dalam. Suara ‘klik’ dari pintu yang dikunci itu bagiku seperti suara pelatuk sebelum peluru siap ditembakkan ke arah kepalaku.“Diam di situ Tari! Kalau kamu mundur satu langkah lagi, aku akan buat kamu menyesal seumur hidup!!”Prasetyo tahu kalau diam-diam aku sedang mendekat ke arah rak pajangan kayu di belakangku yang tingginya hanya sepinggangku. Aku mengincar vas bunga besar yang terbuat dari keramik di rak paling atas.“Jangan mendekat!!” suaraku bergetar.“Oke … Baikah sayang, kita bicara seperti ini saja,” kat
“Mas Pras masih buron Mbak.” Seno sengaja datang ke rumah pagi-pagi sekali untuk memberi kabar terbaru tentang Prasetyo.“Jadi aku harap Mbak Tari harus selalu hati-hati, tidak boleh lengah sedikit pun! Untuk hari ini dan besok, aku sama temen-temen nggak bisa terus-terusan di sini dari pagi Mbak, soalnya kebanyakan dari kami harus kerja juga.”“Nggak apa-apa Seno, paham banget kok situasinya. Sebenarnya kemarin aku sudah bilang sama Deko kalau kalian nggak perlu sampai berjaga-jaga terus di sekeliling rumahku, tapi Deko bersikeras untuk tetap meminta kalian ada di sini.”“Mas Deko memang khawatir sekali sama Mbak dan anak-anak, apalagi setelah dia mengalami sendiri kejadian yang tidak menyenangkan kemarin itu,” Seno lalu mengambil segelas kopi hangat di meja yang sudah aku siapkan untuknya.“Iya, tapi aku merasa semuanya akan aman. Pras pasti juga sudah memantau keadaan lewat mata-matanya dan aku mungkin sudah bukan targetnya lagi karena dia harus fokus menyelamatkan dirinya sen
"Tar, ini beneran kamu nggak tahu Deko ke mana? Bukannya terakhir kalian ketemu waktu ada huru-hara di butik itu?""Ya ampun Hendi, harus berapa kali sih aku bilang kalau aku nggak tahu. Lagian kenapa kamu nggak cari aja sendiri ke rumahnya atau ke tempat kerjanya atau ke mana gitu.""Hei.....Lesta
"Tari....kalau sekarang aku bertanya lagi tentang niatku yang ingin menikahimu, apa kamu tetap akan memberikan jawaban yang sama?" Pertanyaan Deko membuatku menarik kembali tanganku yang sudah bersiap membuka pintu mobil. Setelah semua benang kusut tentang Lila terungkap, Deko masih memberiku per
“Tidak pernah terjadi apa-apa antara Tante dan Papa kamu! Tante tidak pernah merebut apa pun dari keluarga kamu! Kalaupun ada yang awalnya milik keluarga kamu itu berpindah ke tangan Tante dengan prosedur yang jelas! Selalu ada hitam di atas putih, jadi kamu jangan asal bicara! Tante bukan maling!
Aku harus bermain cantik kali ini, melakukan semuanya dengan rapi, bergerak dalam senyap. Sales rokok itu mungkin bisa mengirim bekal untuk Mas Tris setiap hari tapi aku tidak yakin kalau dia adalah orang yang sama dengan orang yang memberikan uang dan membelikan pakaian. Apa ada kemungkinan kalau







