MasukBrak!
Dion menjatuhkan berkas yang ada di tangannya dengan sengaja, Tanpa mereka duga ternyata Dion sudah datang ke sana dan mungkin mendengar obrolan mereka, karena sekarang Dion adalah orang paling penting jadi dia akan sering datang ke perusahaan tempat Nayna bekerja. Tapi sekarang tidak ada rindu sedikitpun dalam hati Nayna, sekarang yang ada hanya rasa dendam dan rasa keingintahuan Nayna tentang alasan Dion meninggalkannya dahulu.
Selain itu Nayna tidak perduli pada apa yang akan Dion lakukan, walaupun dalam hatinya tetap saja Nayna mengharapkan Dion datang padanya dan mengakui Saka sebagai anak mereka."Sekarang kalian bersiaplah, kita akan pergi ke lokasi untuk meresmikan pembangunan pabrik." Dion berucap didepan semua orang dengan tatapan ketus dan dingin.
Semua orang langsung pergi dari sana karena akan menaiki kendaraan yang akan mereka tumpangi untuk pergi ke sana, tapi saat ini Nayna hanya diam disana dan menatap tajam pada Dion. Setelah mata mereka bertemu pandang, Nayna langsung pergi dari sana meninggalkan Dion.
Dion tersenyum tipis melihat itu, pria itu menyadari kalau Nayna benar-benar adalah masa lalunya, tapi sayangnya Dion punya seorang istri dan tidak mungkin dia melakukan komunikasi dengan Nayna di hadapan banyak orang.
"Aku akan tunggu waktu yang pas dan aku akan meminta penjelasan kamu tentang malam itu," gumam Dion.Disebuah lokasi pembangunan. Terlihat banyak sekali pekerja yang tengah sibuk membangun pabrik, Nayna dan rekan kerjanya mulai menyiapkan persiapan untuk acara peresmian pembangunan itu.
Akan banyak orang penting yang datang ke sana, semaksimal mungkin Nayna dan rekannya mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik."Nay, kamu ambil ini dan masuklah kedalam. Kata Bos makanan ini untuk pekerjaan," titah Indah yang langsung memberikan nampan berisi banyak makanan.
"Emang tidak masalah kalau aku masuk kedalam?" tanya Nayna.
"Tidak, karena aku juga tadi masuk kedalam dan banyak orang juga didalam." Indah langsung pergi dari sana tanpa mendengarkan ucapan Nayna yang berusaha menolak.
Nayna berjalan masuk kedalam pabrik yang pembangunannya sudah 70 persen hampir selesai, hanya tinggal atapnya saja yang masih belum selesai.
Nayna tersenyum saat melihat pekerja yang membagi pabrik menatap padanya, Nayna bukan tipikal orang yang suka berbasa-basi tapi dia berusaha untuk tetap menampilkan mimik wajah yang bersahabat.Nayna menyimpan makanan itu di atas meja yang sudah disediakan disana, tapi saat Nayna akan berjalan terlihat sebuah kayu yang panjang terjatuh dari lantai atas, Nayna tidak bisa berbuat apa-apa kakinya terasa sangat lemas untuk menghindar pun dia tidak mungkin sempat melakukannya.
Namun, untungnya sebuah tubuh gagah sigap menarik tubuh Nayna hingga menjauh dari tempat jatuhnya kayu yang panjang itu, Nayna dan pria itu terjatuh ke atas tanah dengan posisi Nayna di atas tubuh pria itu.
Brugh!
Mata Nayna perlahan terbuka dan melihat pria yang sangat dia kenal ada di bawahnya.
"Dion," gumam Nayna.Karena langsung tersadar Nayna bangkit dari tubuh Dion. "Maafkan aku, tuan." Nayna berucap sambil menundukkan kepalanya karena disana banyak sekali rekan bisnis Dion yang datang karena mendengar suara barang terjatuh.
"Anda baik-baik saja, tuan?" tanya bos Nayna.
"Ya," jawab Dion.
Bos Nayna langsung mendorong Nayna dan menyalahkan semuanya pada Nayna.
"Kamu hampir mencelakai tuan Dion, Nayna kamu sudah melanggar peraturan perusahaan." Bosnya memarahi Nayna habis-habisan padahal seingat Nayna dia tidak meminta untuk diselamatkan oleh Dion.Nayna hanya menunduk saja. Jika dia bicara sepatah kata saja mungkin bosnya akan segera memecatnya, sudah terbukti bahwa dahulu juga begitu Bosnya tidak mentolerir karyawan yang melakukan kesalahan sekecil apa pun.
"Tidak apa, sekarang kita mulai saja acaranya." Dion menatap pada semua orang yang ada disana.
"Baiklah tuan, silahkan." Bos mempersilahkan Dion untuk pergi dari sana.
Nayna melangkah keluar bersama dengan yang lain, rekan kerja Nayna langsung mendekat dan bertanya tentang kecelakaan barusan.
"Tidak terjadi apa pun, karena ada tuan Dion yang menyelamatkan aku." Nayna berucap sedikit kencang agar semua orang mendengarnya."Syukurlah,"
**
Acara sudah selesai. Hari juga sudah mulai sore, Nayna pulang bersama dengan rekan kerjanya tapi sayangnya setelah kejadian tadi sepertinya bos Nayna kurang suka pada Nayna. Hal itu tidak menjadi masalah bagi Nayna karena kalau di pecat pun Nayna masih punya uang pemecatannya.
Jarak perusahaan dan lokasi itu hanya sekitar satu jam perjalanan saja, untungnya tidak macet jadi Nayna bisa cepat sampai di perusahaan.
Nayna masuk kedalam karena akan mengambil tas dan berkas yang harus dia kerjakan dirumah, Nayna mendekat pada meja kerjanya."Astaga, kenapa aku lupa memberi berkas ini?" gumam Nayna yang langsung pergi untuk memberikan berkas itu keruangan Manager.
Saat masuk kedalam lift, Nayna bertemu dengan Dion dan asistennya yang tengah berada didalam lift. Tadinya Nayna akan mengurungkan niatnya tapi dia tidak punya banyak waktu lagi, terpaksa Nayna masuk kedalam Lift bersama dengan Dion dan Asisten Dion.
"Nayna Ayundara," panggil Dion dengan tatapan tajam. Karena merasa dipanggil Nayna langsung menatap pada Dion.
"Lama tidak bertemu, aku pikir kau sudah hidup nelangsa ternyata kau jauh dari dugaan aku, kau wanita mandiri!" sahut Dion."Apa menurutmu aku akan gila tanpa laki-laki seperti mu? Tidak mungkin, aku tidak akan bodoh hanya karena pria tidak berguna seperti mu!" geram Nayna membuat Dion tersenyum.
"Benarkah? Bagaimana dengan pria malam yang dahulu pernah bersamamu di hotel? Apa pria itu mencampakkan mu?" tanya Dion dengan senyuman menyeringai.
"Pria malam?" beo Nayna berpikir tentang apa yang sedang Dion bicara.
"Apa maksud mu?" tanya Nayna dengan sedikit meninggikan suaranya."Jangan bodoh, Nayna. Aku melihatnya sendiri dan kau mau membohongi aku? Dasar picik, kau memang suka pria kaya dari awal sampai sekarang juga masih begitu 'kan?" Dion berucap dan di setiap ucapannya itu tidak Nayna pahami.
"Aku? Bukannya kau yang meninggalkan aku? Sial!" kesal Nayna dan langsung keluar dari Lift meninggalkan Dion dan asistennya.
Nayna mempercepat langkahnya, tapi sayang tangannya di cekal kuat oleh Dion hingga membuat Nayna menghentikan langkahnya.
"Apa lagi yang kau inginkan?" tanya Nayna membentak Dion sambil berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Dion."Aku butuh alasan tentang pria malam itu, kalau saja kau datang saat itu mungkin aku tidak akan pergi dari mu, katakan sekarang alasan kenapa kau pergi bersama pria itu dan kenapa kau tidak datang?" Dion memaksa Nayna menjawabnya padahal Nayna tidak tau apa yang tengah Dion tanyakan.
"Kau gila? Kenapa aku yang harus memberikan alasan, kenapa tidak kau saja!" teriak Nayna yang sudah kehabisan akal untuk menghadapi sikap Dion.
"Murahan, wanita malam, dasar jalang. Kau memang pantas menerima ini semua, aku berharap tidak akan ada laki-laki yang mau padamu, kau pantas sendirian. Siapa yang mau menikahi jalang sepertimu, kau punya anak haram dan aku yakin anak itu adalah anak dari pria malam yang sudah menghabiskan waktu bersama dengan mu."
Plak!
Ucapan Dion menggantung karena Nayna dengan cepat langsung menampar Dion hingga membuat Dion bungkam dengan sendirinya. Nayna tidak keberatan kalau dia yang dihina tapi Nayna tidak akan diam kalau Saka putranya yang mendapatkan hinaan kejam itu.
"Jangan pernah gunakan mulut sampah mu untuk menghina anak ku? Papahnya masih ada tapi hatinya sudah meninggal." Nayna sampai menangis karena tidak bisa menahan amarahnya.
Tangan Nayna mengusap air matanya yang kian deras mengalir membasahi pipinya, Nayna menatap tajam pada Dion.
"Aku bersumpah tuan Dion, kau dan istrinya tidak akan mungkin bahagia! Penderitaan ku ini aku harap bisa kau rasakan juga, aku bersumpah kalau suatu saat nanti kau lah yang akan menderita karena telah meninggalkan aku disaat aku mengandung anakmu!""Hah, anakku?" beo Dion.
Sore ini Nayna sudah dijemput oleh supir Nenek Mira, Nayna juga sudah bersiap bersama dengan Saka. Padahal acara makan malamnya akan diadakan malam hari tapi Nenek Mira sudah menjemput Nayna di jam empat sore.Nayna tidak mempermasalahkan karena dia juga hanya diam di rumah, mungkin kalau Nayna datang ke sana Nayna bisa membantu di rumah Nenek."Bisa kita jalan sekarang, Nona?" tanya Supir yang dibalas anggukan kepala oleh Nayna.Mobil melaju membelah jalanan yang sepi, Nayna melihat ponselnya yang sejak tadi mendapat panggilan dari Lukas. Kemarin Nayna ijin pada Lukas untuk makan malam di rumah Nenek Mira, tapi Lukas melarangnya bahkan Lukas juga marah kalau Nayna sampai datang ke sana.Nayna membiarkan panggilan telpon dari Lukas, sebenarnya Nayna bukan melanggar ucapan Lukas hanya saja Nayna tidak enak dengan Nenek kalau misalkan dia tidak datang."Nona, apa lebih baik telponnya di angkat saja?" tanya Supir yang sejak tadi mendengar nada dering dari ponsel Nayna.Nayna merasa cangg
Nayna penasaran pada Vas bunga itu, tapi penjaga toko langsung mengembalikan Vas itu pada Nayna. "Bagaimana Pak?" tanya Nayna."Ini palsu, Bu. Apa Ibu tertipu?" tanya penjaga toko.Nayna menggelengkan kepalanya, "Sebenarnya Vas ini dibelikan oleh suami aku, tapi aku merasa aneh pada corak Vas bunga itu. Bentuk dan coraknya sama seperti Vas bunga asli yang harganya jutaan," papar Nayna."Sekarang orang-orang makin kreatif bahkan kita tidak akan bisa membedakan Vas asli dan palsu, bahkan harga Vas murah saja bisa menjadi mahal. Hati-hati saja karena sekarang banyak penipu," sahut penjaga toko."Baiklah, terima kasih Pak." Nayna pergi dari sana sambil membawa kembali Vas bunga itu, awalnya Nayna ingin membawa Vas bunga yang besar itu ke sana untuk di lihat. Tapi ucapan Penjaga toko barusan ada benarnya juga, Nayna hanya terlalu penasaran dengan kebenaran Lukas jadi Nayna mencurigai apa pun yang Lukas belikan.Nayna naik lagi ke dalam taksi, sekarang mereka menuju ke salah satu pusat perb
Lukas melihat dari rekaman cctv siapa yang datang ke rumahnya, Lukas mengerutkan keningnya karena ada yang datang ke rumah padahal sudah malam. "Pria ini bukannya pria yang waktu itu memukuli aku di apartemen?" Lukas bertanya-tanya sambil kembali memastikan.Lukas buru-buru mengabari Nayna agar tidak keluar dari rumah karena sepertinya orang itu tidak baik, Nayna hanya patuh saja walaupun sebenarnya dia sangat ketakutan. Sedangkan Lukas tidak tau mau apa orang-orang itu terus menerus datang ke kehidupan Lukas."Apa yang menguntungkan bagi mereka dengan melakukan semua ini?" gumam Lukas."Sekarang kita harus mengantarkan Tuan Karna ke bandara," sahut Marvis.Lukas menatap pada Marvis, "Apa besok aku bisa pulang?" tanya Lukas."Kenapa?" tanya Marvis heran karena sejak kemarin Lukas terus menerus meminta pulang."Ada orang jahat yang datang ke rumah," jawab Lukas."Astaga, kenapa hidup kamu ini selalu di penuhi oleh orang-orang jahat sih." Marvis mengeluhkan tentang kehidupan Lukas, tap
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dion yang baru saja mengetahui kalau diam-diam istrinya itu mengajukan kerja sama dengan perusahaan cabang milik Asmagara, sebenarnya bukan marah tapi Dion merasa kalau perusahaannya belum siap untuk bekerja sama dengan perusahaan Asmagara."Kenapa? Bukannya itu menguntungkan bagi kita?" tanya Evalista."Ya menguntungkan, tapi perusahaan itu sangat besar dan bagaimana kalau ... Arghh!" Dion kesal dia memilih untuk diam saja karena berbicara dengan istrinya maka Dion tidak akan pernah menang."Kamu marah? Kamu meragukan aku?" tanya Evalista.Dion hanya diam, memang benar kalau Evalista pernah bekerja di salah satu perusahaan di Amerika. Bahkan Evalista juga terkenal di Amerika karena sistem pekerjaannya yang selalu menguntungkan bagi perusahaan. Tapi itu beberapa tahun yang lalu sebelum Evalista bertemu dengan Dion, dan sekarang Evalista sudah jarang mengurus urusan perusahaan."Kalau ada masalah apa pun maka aku yang akan maju paling depan," geram Evalis
Lukas mendapatkan kabar dari Saka kalau di rumahnya kedatangan Elin, sebenarnya saat mendengar kabar itu hati Lukas menjadi tidak tenang. Ingin rasanya Lukas pulang tapi pekerjaannya tidak bisa di tinggalkan begitu saja, apa lagi Lukas baru saja sampai di tempat itu.Lukas juga meminta Saka terus mengabarinya jaga-jaga karena takutnya Elin melakukan sesuatu pada Nayna."Kamu kenapa?" tanya Marvis yang melihat Lukas seperti ketakutan."Bibinya Nayna datang ke rumah," jawab Lukas.Marvis mengerutkan keningnya karena heran dengan ucapan Lukas yang begitu panik padahal harusnya Lukas senang karena kerabat jauh Nayna datang menjenguk Nayna, jadi Nayna ada teman di rumah dan Lukas tidak perlu cemas."Baguslah kalau Nona Nayna ada temannya," sahut Marvis.Lukas menatap sinis pada Marvis yang dengan entengnya mengatakan kalau Nayna ada temannya, "Masalahnya Bibinya itu sangat jahat, kamu tau?" "Apa?" potong Marvis tidak sabar mendengar cerita Lukas."Kamu memotong cerita aku!" kesal Lukas."
Hari ini Lukas ada pekerjaan yang mendadak, bahkan Lukas harus bekerja ke luar kota karena harus mengantar Marvis. Awalnya Nayna menolak ditinggalkan karena Nayna belum bisa sendirian di rumah itu, tapi lama-lama akhirnya Nayna menginginkan karena Marvis yang memaksa."Aku hanya pergi satu Minggu saja, gak akan lama." Lukas memegang rambut Nayna seolah mereka adalah dua kekasih yang akan di pisahkan.Marvis menatap sinis ke arah Lukas dan Nayna yang terlihat seperti sepasang kekasih yang tidak akan bertemu lagi, Lukas menyadari tatapan sinis itu tapi dia tidak bisa memarahi Marvis karena Marvis adalah atasannya."Tapi bagaimana kalau ada orang jahat?" tanya Nayna."Gak akan ada orang jahat, Nay. Selama ini saja kamu sendirian tanpa aku, kamu baik-baik saja. Kenapa sekarang kamu takut?" Lukas tersenyum saat paham kalau Nayna sudah bergantung padanya.Nayna memikirkan ucapan Lukas dan benar saja kalau Nayna menjadi seorang penakut setelah bertemu dengan Lukas, padahal dahulu Nayna tingg







