MasukKakak cantik, yakin kok, nggak akan sama. Ada satu pengorbanan yang dilakukan jati yang membuat Gandes mencintainya. tau kan watak Gndes, udah disakiti ibunya, masih mencintai ibunya.
Pagi itu."Pulang sekarang?” tanya Mbah Amang. Suaranya nyaris kalah oleh desir angin pagi yang menyapu tegalan.“Iya, Mbah,” jawab Gandes lirih. Tenggorokannya terasa kering. Suaranya serak, seolah belum benar-benar pulih dari malam panjang yang mengoyak isi dadanya. “Kami harus kembali ke Yogya.”Mbah Amang mengangguk pelan. Senyumnya tipis, nyaris tak tampak. Garis-garis di wajahnya tampak lebih dalam di bawah cahaya pagi."Sudah panggil Mbah sekarang, " kekehnya.Jati dan Gandes tersenyum."Mbah, tolong dipikirkan kembali. Saya tak keberatan Mbah ada di rumah saya. Masih longgar.""Le, kamu tak perlu khawatir, Mbah ingin jaga ibunya Gandes di sini. Kamu saja yang baik sama Gandes." Air mata tiba-tiba menetes di pelupuk matanya. " Jangan biarkan dia menangis."Jati menggenggam tangan Gandes erat. "Saya pasti akan menjaganya."" Kamu juga Gandes. Dia suaminya. Seng manut."Gandes menatap pria di sampingnya. Lalu mengangguk."Mbah mau tanya, di mana mamamu Kanaya?""Di Yogyakarta jug
“Ibumu korban.”Hening memanjang.“Dia diperkosa,” lanjut Mbah Amang pelan. “Di Bali. Waktu dia bekerja di hotel. Orang asing. Bule. Turis.” Kata-katanya sepenggal sepenggal, dengan tarikan nafas yang sengal, seolah menahan bebanNapas Gandes tercekat. Dunia seperti berhenti berputar sesaat.“Ibumu pulang dalam keadaan hancur. Dia tak cerita apa-apa. Kakek pikir dia hanya sakit hati karena gagal merantau.” Kakek tersenyum pahit. “Ternyata… dia membawa kamu, saat itu kamu masih dalam perut ibumu, tapi sudah mau lahir, Mbah Putri kamu masih hidup."Air mata Gandes jatuh satu, lalu dua, lalu tak bisa dihentikan. Jati memberikan bahunya untuk bersandar.“Waktu melahirkanmu,” kata Mbah Amang bergetar, “dokter memutuskan operasi. SC. Dan di situlah… semuanya terbongkar.” Mbah Amang memejamkan mata.“Mereka bilang ibumu mengidap HIV.”Gandes menutup mulutnya. Tangisnya pecah tanpa suara.“Bukan itu yang membunuhnya,” Mbah Amang cepat berkata, seolah takut Gandes menyalahkan takdir. “tapi ko
"Kamu yakin kuat?" tanya Jati saat Gandes sudah memutuskan untuk pergi ke Jawa Timur, khususnya ke sebuah desa yang disebut Kanaya sebagai desa tetangga mereka.Gandes mengangguk mantap."Syukurlah desa itu tak jauh dari sini, walau masuk Jawa Timur, " ujar Jati."Hati-hati. Jaga cucuku, Jati," ucap Maheswari memeluk Gandes."Terimakasih, Kanjeng Ibu. Ibu terlalu baik padaku.""Kamu ini bicara apa? Kamu kini mengandung anak seorang Jatiendra Manggala, cucu dari orang yang selama ini kami idamkan."Sejenak Gandes terdiam. Jati memegang jemarinya."Benar, Gandes. Kamu itu telah berhasil membuat rumah ini hidup sejak si Bengal ini kerasan di rumah.""Romo, enak aja ngatain Jati begitu." Jati menunduk, mengintip Gandes yang tersenyum.Pagi itu Jati dan Gandes memang berangkat mencari tempat tinggal kakeknya untuk ziara di makam ibu kandungnya, Gina.Matahari baru naik ketika mobil meninggalkan halaman rumah. Gandes duduk di samping Jati, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Ta
Gandes berusaha melepas pegangan tangan Jati. "Gandes, ternyata kalau kamu ngambek sama orang, awet ya?""Emang siapa yang ngambek?' Gandes berusaha menutupi jengkelnya. Ada rasa lain saat melihat Jati di dekat ibunya setelah kejadian di resort itu. " Mas Jati, kita mau pamit. Yang baik-baik ya, jaga calon jagoannya," pesan Bu Dina, tetangga sebelah. "Wah, kita yang suka merepotkan, terima kasih sanget sudah bantuin,” ucap Jati mantap, sedikit serak karena seharian menahan lelah.Ia sudah berdiri di ruang tengah bersama Gandes, menunduk sopan pada tamu yang satu per satu pamit.“Maturnuwun doanya,” sambung Gandes. Senyumnya lembut, tangan kanannya menutup perut, refleks yang tak lagi ia sadari. Ada cahaya tenang yang mulai muncul di wajahnya.Maheswari berdiri di dekat pilar kayu, kain kebaya jatuh rapi. “Matur nuwun atas kedatangannya, atas bantuannya,” ucapnya pada sepasang tamu terakhir.Jatmiko mengangguk kecil, telapak tangannya menepuk bahu Jati sekali. “Wis. Jaga istrimu ba
"Lihat Mama saya tadi ke mana, Mbok?" tanya Gandes pada Mbok Darmi yang ada di sekitar situ.Jati yang membuntuti khawatir meraih tangannya. " Gandes, Hati-hati. Kandungan kamu baru saja terjadi pendarahan."Gandes menatap suaminya. Dia sudah tak ingat lagi, apa yang akan diberikan Jati dengan bersimpuh di depannya sebelum Kanaya datang tadi.Sementara Jati menyimpan barang itu kembali ke saku beskapnya."Aku cari Mama, Mas. Aku mau tanya sexiatu.""Memang apa yang mau kamu tanyakan?""Soal Ibu kandungku.""Baiklah kalau gitu. Ayo.""Jati... " panggil Maheswari."Dalem, Kanjeng Ibu.""Mas, aku ke depan dulu ya.""Iya, hati-hati.' Terus terang, hati Jati kuatir saat Gandes di dekat Kanaya.Sementara Kanaya yang sudah di depan gerbang rumah megah itu."Kenapa wajahmu pucat begitu, Dhuk?” tanya seseorang yang juga tengah mencari kendaraan pulang.Kanaya terkejut. Suara itu memotong lamunannya. Tangannya refleks menutup pagar besi berukir bunga. Gapura Jawa menjulang, kayu jatinya gelap.
"Maaf kalau saya tamu tak diundang, " Kata-kata yang keluar dari mulut wanita cantik itu memotong sisa tawa, mematahkan bisik, membuat suasana seolah berhenti beredar.Beberapa kepala menoleh serempak. Senyum menipis. Ada yang langsung saling sikut, ada yang berdehem canggung. Ada yang bertanya, siapa dia. Kanaya berdiri dekat pintu. Wajahnya lebih tirus, sorot mata redup, tubuhnya terbungkus busana sederhana warna abu. Rambutnya tertutup rapi dengan hijab senada. Tak ada perhiasan mencolok, tak ada wibawa lama yang dulu sering membuat orang segan dengan kebesaran namanya sebagai perias handal, khususnya di kalangan rumah Jati yang terkenal sebagai kawasan kerabat keraton Yogyakarta. Maheswari bangkit paling dulu.“Kamu? Siapa suruh ke sini? Kok berani datang sesukanya?” tanyanya beruntun, tenang tapi tajam. “Acara keluarga begini bukan tempatmu.” Bu Wendy yang kebetulan datang, berdiri setengah langkah belakang ibunya Jati. Wanita setengah baya itu menatap Kanaya tanpa senyum, dag







