Home / Mafia / SUAMIKU MANTAN GENGSTER / 65. Rasa Yang sulit

Share

65. Rasa Yang sulit

Author: DOMINO
last update Last Updated: 2025-12-18 06:25:05

Pintu ruang VIP tertutup rapat, meredam hiruk-pikuk bar menjadi dengung jauh. Lampu temaram berwarna amber jatuh miring, memantulkan bayang-bayang yang bergerak pelan di dinding. Rani berdiri beberapa langkah dari sofa, punggungnya tegak, napasnya belum sepenuhnya stabil.

Tatapan Peter menempel, terlalu lama. Rani membalasnya dengan senyum tipis—bukan senyum manis, melainkan senyum yang dipakai saat ia ingin menguasai keadaan.

Ia melangkah mendekat, tumit sepatunya berbunyi pelan di lantai, setiap langkah seperti hitungan mundur yang ia paksa untuk tetap ia kendalikan.

Musik dari luar merayap masuk, bass-nya menekan dada. Rani meraih gelas, menyesap singkat, lalu menaruhnya kembali. Tangannya bergerak perlahan, gestur kecil yang sarat makna. Peter menghela napas, seolah mengikuti iramanya.

“Tenang, Tuanku sayang,” ucap Rani pelan, suaranya rendah dan terkendali. Matanya tak pernah lepas. “Malam ini… aku yang atur.”

Ia mendekat, cukup dekat untuk membuat ruang terasa menyempit. Aroma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   98. Membuat Beni setuju

    Markas Black Dragon pagi itu tidak lagi terasa seperti sarang yang terkontrol. Udara di dalamnya berat, dipenuhi langkah kaki cepat dan suara radio yang sesekali berderak. Pintu ruangan Martin terbuka lebar. Martin berdiri di tengah ruangannya, jas hitamnya masih rapi, tapi wajahnya tidak. Rahangnya mengeras, matanya menyapu ruangan kosong di depan meja, kursi yang seharusnya sering ditempati Beni kini kosong, dingin, tak tersentuh. “Beni…” gumamnya pelan. Ia melangkah keluar, pandangannya langsung tertuju ke sudut markas tempat Beni biasanya duduk, merokok, atau sekadar mengamati. Tidak ada jaket dan tasnya. Perasaan tak enak menjalar cepat. Martin menoleh tajam ke salah satu anak buah yang berjaga. “Beni ke mana?” Anak buah itu tampak ragu. “E-enggak tahu, Bos. Dari subuh dia nggak kelihatan.” Martin mendengus, langkahnya berat namun penuh tekanan saat ia berjalan menyusuri lorong markas. Setiap pintu yang dilewati seolah mengonfirmasi kalau Beni tidak ada Tang

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   97. Kerja Sama

    Beni baru saja melangkah keluar dari gang seketika itu terdengar suara mobil berhenti. Suara itu cukup untuk membuat darahnya membeku.Refleks, Beni menoleh, mobil hitam itu kini berada di ujung gang, entah sejak kapan, mesinnya menyala rendah, lampunya mati, tapi bayangannya menutup mulut gang.“Brengsek…” napas Beni tercekat.Langkah kaki terdengar, dari arah belakang, Beni berbalik cepat. Seorang pria berdiri di sana, jaket hitam, tubuh tegap, wajah datar tanpa ekspresi. Beni mundur setapak. “Mau kemana lo.” Suara pria itu tenang, “Gang ini bukan jalan pintas.”Beni menelan ludah, otaknya berputar, mencari celah.“Gue cuma...”Belum sempat kalimatnya selesai, pria itu bergerak dengan cepat, Beni refleks berlari.Ia menerobos jemuran, hampir tersandung ember, bahunya menghantam dinding sempit gang. Karena masih terlalu pagi, dan gang itu keliatan sangat sepi. Di belakangnya, langkah kaki mengejar. Beni berbelok tajam ke kanan, meloncat pagar rendah rumah kosong, mendarat dengan lu

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   96. Amel harus ikut

    Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Anggota Black Dragon berlalu lalang membawa senjata, beberapa terlihat sibuk dengan telepon, sisanya berdiri berjaga seperti bayangan. Beni menurunkan duduknya, pandangannya kosong menatap pintu ruangan Martin yang tertutup rapat. Dia menarik napas panjang. “Kalau gue terus di sini… cepet atau lambat gue bisa ikut kebawa arus,” batinnya. Beni tahu karakter Martin. Sekali obsesi, dia akan kejar sampai hancur, sekarang obesesinya bukan hanya ingin mendapatkan Amel, tapi ingin mendapatkan kerja sama dengan Marco Santori. Beni bergidik membayangkannya. Dia berdiri, lalu berjalan keluar markas dengan langkah santai agar tak mencurigakan siapa pun. Angin malam menyambutnya, membawa aroma kota yang lembap dan menusuk. “Gue harus cari cara ketemu Amel tanpa sepengetahuan Bos…” gumamnya. Di sisi lain kota, lampu gedung perusahaan Alex masih menyala terang meski malam makin larut. Di ruang kerjanya, Alex berdiri membelakangi jendela

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   95. Harus di lindungi

    Di ruang kerja Alex. Keheningan kembali turun, tatapan Alex dan Tuan Felix bertemu. Tak ada yang mau mengalah. “Ayah…” suara Alex akhirnya terdengar pelan, namun tegas. “Jangan bawa urusan pribadi ke dalam bisnis.” Senyum tipis kembali muncul di bibir Tuan Felix. “Jadi memang ada,” gumamnya nyaris tak terdengar. “Seorang wanita.” Alex terdiam, sekali lagi ia memilih diam. Namun diamnya itulah jawaban paling jelas. Tuan Felix kini berjalan perlahan mengelilingi ruangan. Jemarinya menyusuri punggung kursi, tepi meja, hingga ke bingkai foto di sudut ruangan. Ia sedang berpikir sejenak. “Selama ini Aku tidak pernah peduli pada siapa pun yang ada di sekitarmu,” lanjutnya pelan. “Karena Aku tahu, pada akhirnya… mereka semua tidak akan bertahan lama.” Alex mengepalkan tangan sedikit lebih kuat. “Tapi kali ini berbeda,” suara Tuan Felix terdengar lebih dalam. “Anak buahku melihat ada wanita dan seorang anak kecil di mansion-mu.” Jantung Alex berdegup sedikit lebih keras. Namun wa

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   94. Ketakutan Beni

    Rumah megah itu dipenuhi barang-barang mahal yang berkilau di bawah lampu kristal. Di kursi kulit yang tampak dingin dan mahal, seorang pria berjas duduk santai. Jemarinya menggenggam rokok yang perlahan mengepulkan asap tipis, sementara sudut bibirnya terangkat, senyum kecil yang menyimpan rencana. Langkah sepatu terdengar mendekat. “Maaf, Tuan,” ucap salah satu anak buahnya dengan kepala sedikit menunduk. “Saya sudah menghubungi anak buah Blood Brothers. Pertemuan ulang dijadwalkan lusa.” Pria itu hanya mengangguk ringan. “Baik. Kau boleh pergi.” Begitu anak buahnya menjauh, matanya kembali menatap kosong ke depan. Aku harus bisa mendapatkan kerja sama itu. Bisnis ini… harus jadi milikku. Ponselnya berdering, memotong keheningan ruangan. Tanpa ragu ia mengangkatnya. “Ada apa? Kau ingin berubah pikiran?” suaranya terdengar datar namun tajam. “Maaf, Martin. Aku sudah bekerja sama dengan seseorang yang lebih profesional dari kelompokmu.” Nada di seberang berubah panik.

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   93. Membuat Alex kesal

    Langkah Tuan Felix menyusuri koridor menuju ruang kerja Alex tampak santai… namun matanya tidak pernah berhenti bergerak. Setiap sudut diperhatikannya. Bahkan pelayan yang lewat sambil menunduk pun di perhatikan dari ujung kepala hingga kaki. Ada seseorang yang ia cari. Sesekali, kepalanya menoleh ke lantai dua. Menyapu deretan pintu kamar, termasuk kamar tempat Amel berada... seolah berharap ada pintu yang tiba-tiba terbuka. Alex berjalan setengah langkah lebih maju di depannya. Sampai akhirnya mereka tiba di depan pintu ruang kerja. Alex membukanya, memberi isyarat agar ayahnya masuk terlebih dahulu. Namun sebelum melangkah, Tuan Felix kembali melirik ke atas. Ke arah koridor kamar tamu. Ke arah kemungkinan dia akan menangkap bayangan seorang wanita yang selama ini bersembunyi darinya. Tapi tak ada siapa-siapa, hanya kesunyian. Tuan Felix akhirnya masuk. Pintu ditutup perlahan. *** Sementara itu… Di kamar lantai dua, Amel yang baru saja selesai memandikan Lily berniat keluar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status