แชร์

SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER
SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER
ผู้แต่ง: Nanitamam

Bab 1. Salah masuk kamar

ผู้เขียน: Nanitamam
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-09-20 20:10:05

"Sial, kenapa aku ceroboh?"

Seorang pria berusia 35 tahun, membuka ikatan dasinya kasar. Tenggorokannya terasa seperti tercekik.Hawa panas merayap ke seluruh aliran darahnya. Dia mencoba tetap menjaga kewarasannya dengan mengguyur wajah dengan air botol.

“Sial, padahal aku sudah hati-hati. Tapi tetap saja aku kena jebakan. Aku harus kemana sekarang?” maki pria itu pada dirinya sendiri.

Sesekali matanya melihat gadis-gadis yang berdiri di pinggiran jalan dengan pakaian seksi. Ivander memukul-mukul stir mobil melampiaskan perasaannya. Dia meraih ponselnya mencari kontak seseorang namun setelah beberapa saat kembali menaruhnya.

“Aku tidak mau menyentuh gadis sembarangan. Apalagi gadis pinggir jalan seperti mereka.”

Ivander membelokan mobilnya menuju ke sebuah hotel. Dia memarkirkan mobil begitu sampai di parkiran luar. Langkahnya sedikit sempoyongan, Ivander masuk ke dalam lobi hotel dan menuju meja resepsionis.

“Selamat malam Tuan, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu resepsionis dengan nada ramah.

"Saya butuh kamar," jawab Ivander mengeluarkan tanda pengenal dari dalam dompetnya.

Resepsionis itu mengambil kartu dari tangan Ivander. Dia mengecek komputer, memastikan ada kamar hotel yang masih kosong. Sesekali matanya menatap ke arah Ivander.

"Maaf, Tuan. Kamar sudah penuh!"

"Berikan aku kamar president suite atau apa saja yang ada. Aku butuh kamar sekarang!" teriak Ivander frustasi.

Resepsionis kembali menatap layar komputer. Semua kamar penuh karena kebetulan sedang liburan akhir tahun. Resepsionis mengangkat wajah dengan seulas senyum getir.

"Ada kamar kosong. Tapi family room."

"Aku ambil itu!" jawab Ivander seraya mengerjapkan kepala berulang kali.

Dia menyerahkan sebuah kartu untuk melakukan pembayaran. Resepsionis memberikan kunci kamar yang berupa kartu dan nomor kamar yang sudah menjadi milik Ivander. Kesadaran pria itu semakin menipis namun mencoba untuk menahannya.

"Anda butuh bantuan, Tuan?" tanya petugas bellboy yang melihat Ivander jalan sambil memegang kepalanya.

"Tolong antar aku ke lantai tempat kamarku berada!" pinta Ivander.

Seorang bellboy itu mengangguk. Dia membantu Attala masuk ke dalam lift. Keringat dingin keluar dari seluruh pori-pori kulitnya. Tubuhnya seperti terasa terbakar.

"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Bellboy yang merasakan tangan Ivander basah oleh keringat.

"Aku baik-baik saja!" tegas Ivander meski pandangannya mulai buram. Hawa panas dalam tubuh kian menyiksa.

“Aku butuh pelampiasan,” gumamnya dalam hati. "Sial, aku tidak bawa obat penawarnya. Aku harus bisa menahannya."

"Anda yakin tidak perlu saya antar sampai ke kamar?" tanya petugas bellboy lagi.

"Tidak usah. Aku bisa sendiri."

Ivander membuka kancing kemejanya satu persatu karena merasa kepanasan. Pintu lift berhenti di lantai lima. Ivander melangkah keluar dari lift dengan terhuyung-huyung.

"Kamar no 71."

Matanya yang mulai berkabut, disertai rasa panas yang terus menjalar ke seluruh tubuh, Ivander mencari nomor yang berderet satu persatu. Dia berdiri di sebuah pintu kamar yang sedikit terbuka.

"Sepertinya ini kamarku, tapi kenapa pintunya terbuka?" gumamnya antara yakin dan tidak. Kunci yang diberikan resepsionis dimasukkan ke dalam saku jas.

Ivander langsung mendorong pintu kamar yang sedikit terbuka itu. Meski dilanda bingung, Ivander tetap melanjutkan langkahnya masuk ke dalam. Ia melempar jasnya ke atas sofa.

“Kamu siapa?” tanya seorang gadis cantik. Dia memakai handuk kimono dan kebetulan baru keluar dari kamar mandi.

"Kamu sendiri siapa? Kenapa ada dikamarku?" Ivander balik bertanya dengan suara pelan dan serak.

“Ini kamarku. Kamu yang siapa? Main masuk kamar orang tanpa izin," kata Syafana Almahira, 25 tahun dengan nada tinggi.

"Ini kamar no 70 bukan?" tanya Ivander di sisa kesadaran yang hampir habis. Mungkin sekitar satu persen lagi.

"Om, jangan pura-pura sok lugu ya? Saya bisa membuat Om menyesal kalo berani macam-macam," ancam Syafana waspada.

Dia memasang kuda-kuda padahal pengaruh alkohol dalam dirinya sendiri belum sepenuhnya hilang. Syafana sampai lupa jika hanya memakai dalaman dan dibalut dengan handuk kimono. Kepalanya masih berdenyut meski sudah diguyur air dingin.

"Saya tidak bohong. Ini kamar saya!" Ivander menunjukan nomor kamar yang ada di tangannya. "Kamu yang harusnya pergi dari sini!" sentak Ivander mulai hilang kendali.

"Wah, bener-bener ngaco nih orang," geram Syafana. "Sial mana gak ada orang lagi."

Ivander maju mendekat dengan langkah terhuyung. Syafana mencari sesuatu untuk dijadikan senjata. Jaga-jaga jika Ivander menyerangnya tiba-tiba.

"Jangan maju atau aku pukul," ancam Syafana seraya menaikan sapu ke atas. Menodongkan pada wajah Ivander.

"Tolong antar aku ke kamarku," mohon Ivander dengan nada memelas.

"Om mabok ya?"

Ivander menggelengkan kepala. Dia mencoba meraih Syafana namun gadis itu secepat kilat menghindar. Tangannya memijat kepala yang kembali berdenyut.

Brughhh!

Suara tubuh Ivander jatuh membentur lantai cukup keras. Syafana menganga, syok. Dia menggerakan ujung kakinya. Mengguncang kaki Ivander yang tergeletak di lantai.

"Panas, tolong aku!" ucap Ivander yang lebih mirip sebuah bisikan.

"Jangan pingsan disini! Nanti aku kena masalah. Aku antar ke kamar Om saja.”

Syafana mencoba menarik tubuh Ivander. Membantunya berdiri meski dengan sempoyongan. Dia mengalungkan tangan Ivander yang panjang ke atas bahunya.

"Hanya nganterin dia doang setelah itu tinggal!" ujar Syafana meyakinkan diri.

Syafana membawa tubuh Ivander yang terasa panas keluar dari kamarnya. Dengan susah payah, Syafana sedikit menyeret tubuh Ivander menuju kamar sebelah. Dia menggesek kartu pada dinding pintu.

Klik!

Bunyi tanda pintu sudah terbuka. Syafana mendorong pintu dengan tangan kanan. Sedangkan tangan kirinya memegang tangan Ivander yang melingkar di pundaknya.

"Panas," rintih Ivander.

"Makanya jangan banyak minum kalo nggak kuat. Aku juga masih pusing padahal hanya minum dua gelas.”

Dia membawa Ivander masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di ranjang. Syafana menaikan kedua kaki jenjang Ivander. Saat berdiri, pandangan Syafana kembali kabur.

"Sudah ya. Aku pergi!"

"Ehhh...!"

Ivander yang sudah kehilangan akal sehat, menarik tangan Syafana hingga terbaring diatas ranjang. Hembusan nafas Ivander yang kasar, membuat bulu kuduk Syafana bergidik.

“Om jangan macam-macam ya,” ancam Syafana memutar tubuh.

Sialnya hal itu malah membuat mereka saling berhadapan. Ivander kembali menarik pinggang Syafana yang ramping. Wajah mereka begitu dekat.

“Tolong aku! Tubuhku rasanya panas sekali”

Brugh!

Kepala Ivander terjatuh pada pundak Syafana. Wangi bunga dari shampo Syafana membuat darah dalam tubuh Ivander seperti mendidih. Hidungnya mengendus dada Syafana yang terbuka.

"Om, lepas!" sentak Syafana mencoba menggulingkan tubuh yang menindihnya.

"Tubuhku, panas. Tolong aku!" Ivander melepas kemejanya lalu membuangnya ke lantai. Dia mencondongkan tubuh pada wajah Syafana.

"Le —"

"Hemmmph!"

Ivander membungkam bibir Syafana dengan bibirnya. Bau alkohol tercium dari mulut Ivander. Syafana mencoba mendorong tubuh Ivander tapi tangan gadis itu diangkat ke atas. Dia masih lemah karena tidak terbiasa minum alkohol.

"Om, jangan sentuh aku. Kita nggak saling kenal!"

"Tolong aku, kumohon. Rasanya panas."

"Aku bisa nyalakan AC," jawab Syafana cepat.

"Hemmmmmph!” Tanpa peringatan, Ivander menyumpal kembali bibir Syafana dengan bibirnya.

Ciumannya begitu liar, seperti gulungan ombak yang terus bergulung menuju pantai. Syafana mencoba mendorong Ivander. Tapi tubuh Ivander menindihnya kuat.

"Kamu cantik, aku suka bibirmu."

Ivander mengangkat wajahnya, memberikan asupan oksigen pada rongga dada. Shafana berusaha lagi menepiskan tangan Ivander yang mencengkram tangannya. Kepalanya berusaha tetap sadar tapi tubuhnya merespon lain.

“Om,” desah Syafana

Tangan Ivander tepat berada di atas dada Kaira. Bola mata Safana melotot merasakan tangan lebar Ivander memegang melon kembarnya.

“Ukurannya cukup besar ternyata,” racau Ivander tersenyum Ivander.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER   Bab 135. Kelahiran si kembar

    “Sayang, apa yang terjadi?” tanya Ivander dari balik kamera.“Perutku … rasanya sangat mulas, aku harus matikan dulu ya Sayang!” Syafana menjawab dengan napas terengah-engah, segera menutup sambungan video call sebelum Ivander bisa bertanya lagi.Nyonya Anindita terkejut, matanya melebar melihat cairan bening yang terus merembes dari bawah tubuh Syafana dan membentuk noda basah di lantai keramik mall.Bu Salsa juga tak kalah panik. “Cairan ketubanmu pecah!” teriak mereka secara bersamaan."Ya Tuhan, bagaimana ini? Kenapa mendadak begini?"Tanpa berlama-lama, Ghaisa langsung berlari cepat menghampiri meja informasi, sambil berteriak pada seorang petugas keamanan yang sedang berjaga dekat lift. “Pak tolong! Tolong hubungi ambulans segera! Saudaraku sedang mengalami pecah ketuban dan akan melahirkan!” teriaknya dengan suara nyaring hingga menarik perhatian pengunjung sekitar yang mulai berkerumun.Sedangkan, Nyonya Anindita benar-benar kalut, jari-jarinya gemetar saat mencari nomor Tua

  • SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER   Bab 134. Jadwal lahiran

    Beberapa bulan kemudianUdara di ruangan praktik Dokter Maria terasa lebih padat dari biasanya, bahkan kipas angin yang berputar pelan tak mampu mengusir getaran yang menggeliat di setiap sudut. Syafana duduk tegak di atas meja pemeriksaan, kain steril putih menutupi perutnya yang mulai membengkak. Di sebelahnya, Ghaisa menyandarkan telapak tangannya.Bu Salsa berdiri di sisi kiri, napasnya terdengar pelan namun teratur, sementara Nyonya Anindita yang berada di sisi kanan mengpegang erat tangan Syafana, ujung bibirnya sedikit menggigil tak disadari.“Tumben sekali, para suami tidak ikut datang menemani saat kontol?” tanya Dokter Maria seraya mempersiapkan alat-alatnya. “Mereka berdua ada urusan bisnis di luar negeri, Dok,” sahut Ghaisa. Dokter Maria hanya mengangguk saja, tangannya mulai mengoleskan gel dingin di atas perut Syafana. Setelah itu, ia menempatkan alat transducer di atasnya dan mulai menggerakkannya perlahan.Cahaya dari layar monitor USG menerangi wajah mereka semua, m

  • SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER   Bab 133. Carina gila

    "Meski mereka jahat tapi aku ikut sedih melihat keadaan Tante Carina," gumam Syafana lirih."Mereka menuai apa yang sudah mereka tanam. Rasa iri, dengki dan serakah membuat mata hati mereka buta," kata Ivander."Seandainya mereka mau berubah, aku juga tidak akan bertindak sejauh ini," tambah Tuan Alexander.Setelah pemakaman Celina yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa teman, waktu tampaknya berjalan dengan sangat lambat bagi Carina. Setiap hari yang lewat hanya membuat kondisi dirinya semakin menyedihkan dan memprihatinkan hingga akhirnya Ivander dan keluarga memutuskan untuk membawanya tinggal di rumah mereka, karena tidak tega melihat wanita itu sendirian dalam kesusahan.Kini, Carina tengah terduduk di salah satu sudut teras rumah Ivander. Badannya membungkuk ke depan, tangan kanan dan kiri menggenggam erat sebuah bantal putih. “Celina … nak mama sudah siapin sarapanmu yang kamu suka!” teriaknya dengan nada tinggi yang membuat beberapa orang di ruang tamu terlihat

  • SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER   Bab 132. Karma

    PRANG! Gelas kristal yang hendak digerakkan ke bibir Carina terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan suara pecah yang menusuk. Potongan kaca kecil berserakan di atas permukaan yang mengkilap. Tanpa menghiraukan reruntuhan di bawah kakinya, tangannya refleks menyentuh bagian dada yang tiba-tiba terasa sesak. Denyut jantungnya berdebar kencang, jauh lebih cepat dari biasanya. “Kenapa kok tiba-tiba begini? Perasaan ku tidak enak, seolah ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi,” gumamnya pelan, suara penuh dengan kekhawatiran yang tidak jelas sumbernya. "Kenapa Celina belum pulang juga?" Baru saja dia mengangkat kepala, pikiran masih bingung mencari jawaban, ketika dering ponsel di atas meja tamu terdengar. Carina bergerak dengan langkah tergesa-gesa untuk menjawabnya, tangannya sedikit gemetar saat menyentuh layar sentuh yang menunjukkan nomor tidak dikenal. “Permisi, ini dengan Nyonya Carina?” suara dari ujung saluran terdengar dengan nada yang hati-hati namun te

  • SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER   Bab 131. Celina meninggal

    "Kalian harus mati!" teriak Celina penuh amarah dan dendam.“Syafana, Ivander!”Suara Nyonya Anindita dan Bu Salsa menerjang udara sore, nada histeris menusuk. Kedua wanita itu masih berdiri kaku di tepi jalan raya, pandangan keduanya terpaku pada mobil putih yang melesat dengan kecepatan tak masuk akal.Tanpa berpikir dua kali, Ivander langsung mencengkeram lengan Syafana dengan kuat, lalu menariknya dengan sekuat tenaga ke arah trotoar sebelah kiri. Sedangkan, mobil yang dikemudi oleh Celina bergerak cepat. Kakinya menginjak pedal rem dengan sekuat mungkin, namun mobil hanya meluncur lebih cepat, menggeliat seperti makhluk hidup yang hilang kendali.“Arghh!” teriak Celina histeris. Sebelum akhirnya, mobil wanita itu menghantam pembatas beton jalan hingga retak berantakan. Mobil meluncur terus lalu menghantam dinding parkiran dengan pukulan kencang, membuat semua orang menyaksikan terhenti sejenak.Tanah seolah bergoyang akibat benturan hingga membuat orang-orang berhamburan mendek

  • SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER   Bab 130. Wanita berhati batu

    "Mau aku gendong?" tanya Ivander menawarkan diri. "Tidak, terima kasih. Aku masih bisa jalan sendiri," tolak Syafana.Koridor rumah sakit yang tadinya ramai mulai sepi seiring berjalannya waktu. Ivander, Syafana, dan Nyonya Anindita melangkah keluar dari ruang gawat darurat dengan wajah yang jelas menunjukkan kegembiraan dan rasa lega. Ketika mereka tiba di area parkiran yang cukup luas, lampu penerangan jalanan mulai menyala redup karena senja mulai menjelma. Tiba-tiba, sebuah suara melengking terdengar dari arah samping, memecah kesunyian yang mulai menyelimuti tempat itu.“Ivander!”Semuanya spontan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka bergerak mencari sosok yang memanggil hingga akhirnya seorang wanita yang begitu familiar berdiri disana. "Dia ...!"Rahang Ivander langsung mengeras. Tanpa berpikir dua kali, ia menggeser tubuhnya perlahan agar benar-benar berada di depan Syafana, menjadikannya penghalang yang melindungi istrinya.Nyonya Anindita menatap Celina dengan tatapa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status