MasukSyafana membelalakkan mata, tak menyangka situasi berubah begitu cepat. Dengan memberontak sekuat tenaga, ia mencoba melepaskan diri dari kungkungan Ivander yang semakin erat.
“Apa-apaan sih, Om! Jangan macam-macam!” serunya, napasnya tercekat. Sensasi aneh menjalari tubuhnya, campuran antara takut dan sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Ivander tertawa rendah, napasnya menerpa leher Syafana. Ia beralih menciumi telinga gadis itu, membuat Syafana meremang. “Aku sudah tidak tahan lagi …,” bisik Ivander, “bantu aku meredakannya.” “Meredakan apa?! Aku nggak ngerti sama omongan Om tahu!” Syafana berteriak, berusaha mengabaikan sensasi aneh yang mulai menjalar di kulitnya. Namun, Ivander seolah tuli. Ia terus mendekat, napasnya yang hangat menerpa leher Syafana, membuat bulu kuduknya meremang. Perlahan bibir Ivander menyentuh kulitnya, awalnya hanya kecupan ringan, lalu semakin dalam dan menuntut. Syafana bisa merasakan lidahnya yang panas menjilat lehernya. Lalu, gigi Ivander menggigit kecil. “Ah! Jangan digigit!” desis Syafana. Tubuhnya mulai merespon gerakan Ivander yang sungguh tak biasa. Namun, di telinga Ivander, seruan itu justru terdengar seperti desahan yang memancing. Efek-nya yang sudah merasuki tubuhnya semakin menjadi-jadi, mengikis habis akal sehatnya. “Maafkan aku,” bisiknya serak, napasnya memburu. “Tapi tolong bantu aku. Aku akan memberikan imbalan kepadamu.” Mata Syafana memanas, air mata mulai menggenang. Otaknya terasa beku oleh ketakutan dan penghinaan. “Imbalan apa? Kau pikir aku wanita pelacur?! Cepat lepaskan atau aku teriak!” Ivander hanya menyeringai tipis, “Teriak saja.” Syafana menggigit bibirnya. Ia tahu, hotel ini kedap suara, tak ada yang akan mendengarnya. Akan tetapi, Syafana merasa cengkeraman Ivander di pergelangan tangannya sedikit mengendur. Ini kesempatannya! Dengan sekuat tenaga, Syafana berusaha mendorong Ivander. Pria itu terhuyung sesaat, memberikan celah. “Argh!” “Mampus kamu!” pekik Syafana. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan dan bergegas melarikan diri dari ranjang. Namun, saat ia bangkit, handuk yang melilit tubuhnya melorot begitu saja, jatuh ke lantai dan menampilkan seluruh tubuhnya yang telanjang bulat. Syafana terkesiap, membeku di tempat. Ivander yang semula terhuyung, kini menatap pemandangan di depannya. Matanya membelalak, hasratnya justru kian membakar lebih dahsyat, lebih buas dari sebelumnya. “Kamu yang memulai duluan,” ujar Ivander. Dengan gerakan cepat, ia meraih tubuh Syafana yang telanjang dan menariknya kembali ke ranjang. Syafana meronta, tapi tenaganya tak sebanding dengan Ivander yang kini dikuasai nafsu. Ia kembali terbaring di ranjang. “Jangan sentuh aku! Dasar brengsek!” teriak Syafana histeris. Buru-buru ia menutupi area intinya dengan tangan. Ia tak bisa menggapai handuknya yang jatuh dibawah sana. Tanpa melepaskan pandangannya dari Syafana, Ivander mulai melepaskan kemejanya dengan gerakan kasar. Kancing-kancing itu terlepas satu per satu, memperlihatkan dadanya yang bidang dan berotot. Syafana memalingkan wajah, tak sanggup menatapnya. Ivander menindih Syafana, mengukung tubuhnya dengan kedua kaki. Tangan kirinya mencengkram pergelangan tangan Syafana begitu kuat, seolah mangsanya tak akan bisa kabur lagi. “Ssh … bantu, aku,” pinta Ivander dengan tatapan yang begitu memerah. Dengan tangan kanannya yang bebas, Ivander mengulurkan tangannya ke arah gesper celananya. Suara gesper yang terbuka terasa begitu keras di telinga Syafana, membuatnya semakin ketakutan. “Nggak! Lepaskan aku, aku mau pergi dari sini.” Air mata Syafana langsung meluncur deras. Ia tak menyangka ada dalam situasi seperti ini. “Aku tahu kamu takut,” bisik Ivander serak, suaranya nyaris tak terdengar. “Tapi kamu tenang saja, aku akan bertanggung jawab dan membayarmu.” “Aku nggak mau!” Namun, Ivander malah menyentuh melonnya . Sentuhan itu awalnya kasar, tapi kemudian melembut, berubah menjadi elusan yang membangkitkan sensasi aneh di seluruh tubuh Syafana. Sontak puncaknya begitu menegang. Ia menggigit bibir, berusaha menahan desahan yang ingin keluar. “Ahh …,” Syafana tak sanggup menahannya. Suara itu lolos begitu saja, lirih namun penuh hasrat. Ia membenci dirinya sendiri karena mengkhianati rasa takutnya. Ivander tersenyum tipis mendengar desahan itu. Tangan itu terus bergerak, turun ke perutnya yang bergetar, lalu ke paha dalamnya yang terasa panas dan basah. “Mmmhh ... jangan,” bisiknya, lebih seperti desahan daripada penolakan. Ia tidak tahu apa yang ia inginkan, apa yang harus ia lakukan. Tubuhnya menginginkan lebih, tapi hatinya menjerit ketakutan. “Lepaskan saja,” bisik Ivander di telinganya, suaranya terdengar sera. “Kau menginginkanku sama seperti aku menginginkanmu.” Jemari Ivander akhirnya mencapai intinya, menelusuri bibir lubang labirinnya yang berdenyut. Syafana tersentak, tubuhnya melengkung tanpa kendali. “Ahh!” erangnya, pasrah pada sensasi yang memabukkan. Ia tidak bisa lagi berpikir, tidak bisa lagi melawan. Ia telah menyerah pada dirinya sendiri. Melihat gadis itu begitu larut, membuat Ivander melepaskan cengkeramannya pada tangan Syafana. Ia meraih gesper celananya dan membukanya dengan gerakan cepat. Lalu, mengangkat tubuhnya sedikit, memperlihatkan kejantanannya yang keras dan berdenyut. Sontak Syafana membelalakkan, ia takut hal itu terjadi. “Jangan! Kumohon, jangan lakukan ini! Aku mohon padamu! Aku tidak mengenalmu! Apa salahku?!” Syafana memohon, suaranya pecah dan bergetar. Semakin dia menolak, semakin tubuhnya bereaksi lain. Ivander tidak menjawab. Ia hanya menatapnya, matanya dipenuhi nafsu yang bercampur dengan penyesalan dan keputusasaan. Dengan kasar, ia membuka lebar-lebar kedua kaki Syafana dan mengarahkan senjatanya ke sana. Syafana memekik, merasakan ujungnya menyentuh kulitnya. “Argh!” pekik Syafana. “Keluarkan itu dari sana.” “Tahanlah! Aku tidak bisa mengeluarkan,” bisik Ivander lagi, suaranya terdengar seperti bisikan angin yang putus asa. Syafana menjerit dalam hati, tubuhnya menegang saat senjata Ivander menerobos masuk. Bersamaan dengan itu, cairan merah mengalir begitu saja. Namun, di tengah nyeri, muncul sensasi asing, penuh. Desahan lolos, mengkhianati ketakutannya. Ia benci dirinya. Ivander lantas bergerak. Awalnya begitu pelan, namun lama-kelamaan temponya semakin dalam sehingga Syafana meremas seprai begitu kuat hingga kukunya memutih. “Mmmhh…” lirihnya. “Lepaskan saja, aku akan membawamu ke surga dunia,” bisik Ivander. Napas Syafana semakin memburu, tubuhnya bergetar hebat. Ia merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sensasi yang membuatnya melupakan rasa sakit dan ketakutannya. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam gelombang kenikmatan yang menyesakkan. “Ahh …,” desahnya lirih, rasanya begitu aneh. Tubuh Syafana menegang, lalu lemas seketika. Ia merasa seperti melayang, semua rasa sakit dan ketakutannya menghilang begitu saja. Ia telah mencapai puncaknya. Namun, efek obat itu masih bekerja pada Ivander. Ia merasakan tubuhnya berdenyut, menginginkan lebih. Pria itu semakin mempercepat gerakannya, setiap tusukan terasa semakin dalam dan membakar. Ia bisa merasakan Syafana semakin menggenggamnya erat, tubuhnya melengkung mengikuti irama yang ia ciptakan. “Ssh! Ini nikmat sekali,” desis Ivander itu. Ia merasakan tubuhnya semakin panas, setiap selnya bergejolak. Setelah mencapai puncak Ivander ambruk. Ke esokan paginya. Syafana membuka mata lalu terkejut saat melihat ada pria asing di sampingnya. Syafana mengangkat selimut dan merutuki kebodohannya. Ia kembali menatap wajah pria tersebut yang tampan dan maskulin. "Aku harus pergi sebelum dia bangun."“Sayang, apa yang terjadi?” tanya Ivander dari balik kamera.“Perutku … rasanya sangat mulas, aku harus matikan dulu ya Sayang!” Syafana menjawab dengan napas terengah-engah, segera menutup sambungan video call sebelum Ivander bisa bertanya lagi.Nyonya Anindita terkejut, matanya melebar melihat cairan bening yang terus merembes dari bawah tubuh Syafana dan membentuk noda basah di lantai keramik mall.Bu Salsa juga tak kalah panik. “Cairan ketubanmu pecah!” teriak mereka secara bersamaan."Ya Tuhan, bagaimana ini? Kenapa mendadak begini?"Tanpa berlama-lama, Ghaisa langsung berlari cepat menghampiri meja informasi, sambil berteriak pada seorang petugas keamanan yang sedang berjaga dekat lift. “Pak tolong! Tolong hubungi ambulans segera! Saudaraku sedang mengalami pecah ketuban dan akan melahirkan!” teriaknya dengan suara nyaring hingga menarik perhatian pengunjung sekitar yang mulai berkerumun.Sedangkan, Nyonya Anindita benar-benar kalut, jari-jarinya gemetar saat mencari nomor Tua
Beberapa bulan kemudianUdara di ruangan praktik Dokter Maria terasa lebih padat dari biasanya, bahkan kipas angin yang berputar pelan tak mampu mengusir getaran yang menggeliat di setiap sudut. Syafana duduk tegak di atas meja pemeriksaan, kain steril putih menutupi perutnya yang mulai membengkak. Di sebelahnya, Ghaisa menyandarkan telapak tangannya.Bu Salsa berdiri di sisi kiri, napasnya terdengar pelan namun teratur, sementara Nyonya Anindita yang berada di sisi kanan mengpegang erat tangan Syafana, ujung bibirnya sedikit menggigil tak disadari.“Tumben sekali, para suami tidak ikut datang menemani saat kontol?” tanya Dokter Maria seraya mempersiapkan alat-alatnya. “Mereka berdua ada urusan bisnis di luar negeri, Dok,” sahut Ghaisa. Dokter Maria hanya mengangguk saja, tangannya mulai mengoleskan gel dingin di atas perut Syafana. Setelah itu, ia menempatkan alat transducer di atasnya dan mulai menggerakkannya perlahan.Cahaya dari layar monitor USG menerangi wajah mereka semua, m
"Meski mereka jahat tapi aku ikut sedih melihat keadaan Tante Carina," gumam Syafana lirih."Mereka menuai apa yang sudah mereka tanam. Rasa iri, dengki dan serakah membuat mata hati mereka buta," kata Ivander."Seandainya mereka mau berubah, aku juga tidak akan bertindak sejauh ini," tambah Tuan Alexander.Setelah pemakaman Celina yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa teman, waktu tampaknya berjalan dengan sangat lambat bagi Carina. Setiap hari yang lewat hanya membuat kondisi dirinya semakin menyedihkan dan memprihatinkan hingga akhirnya Ivander dan keluarga memutuskan untuk membawanya tinggal di rumah mereka, karena tidak tega melihat wanita itu sendirian dalam kesusahan.Kini, Carina tengah terduduk di salah satu sudut teras rumah Ivander. Badannya membungkuk ke depan, tangan kanan dan kiri menggenggam erat sebuah bantal putih. “Celina … nak mama sudah siapin sarapanmu yang kamu suka!” teriaknya dengan nada tinggi yang membuat beberapa orang di ruang tamu terlihat
PRANG! Gelas kristal yang hendak digerakkan ke bibir Carina terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan suara pecah yang menusuk. Potongan kaca kecil berserakan di atas permukaan yang mengkilap. Tanpa menghiraukan reruntuhan di bawah kakinya, tangannya refleks menyentuh bagian dada yang tiba-tiba terasa sesak. Denyut jantungnya berdebar kencang, jauh lebih cepat dari biasanya. “Kenapa kok tiba-tiba begini? Perasaan ku tidak enak, seolah ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi,” gumamnya pelan, suara penuh dengan kekhawatiran yang tidak jelas sumbernya. "Kenapa Celina belum pulang juga?" Baru saja dia mengangkat kepala, pikiran masih bingung mencari jawaban, ketika dering ponsel di atas meja tamu terdengar. Carina bergerak dengan langkah tergesa-gesa untuk menjawabnya, tangannya sedikit gemetar saat menyentuh layar sentuh yang menunjukkan nomor tidak dikenal. “Permisi, ini dengan Nyonya Carina?” suara dari ujung saluran terdengar dengan nada yang hati-hati namun te
"Kalian harus mati!" teriak Celina penuh amarah dan dendam.“Syafana, Ivander!”Suara Nyonya Anindita dan Bu Salsa menerjang udara sore, nada histeris menusuk. Kedua wanita itu masih berdiri kaku di tepi jalan raya, pandangan keduanya terpaku pada mobil putih yang melesat dengan kecepatan tak masuk akal.Tanpa berpikir dua kali, Ivander langsung mencengkeram lengan Syafana dengan kuat, lalu menariknya dengan sekuat tenaga ke arah trotoar sebelah kiri. Sedangkan, mobil yang dikemudi oleh Celina bergerak cepat. Kakinya menginjak pedal rem dengan sekuat mungkin, namun mobil hanya meluncur lebih cepat, menggeliat seperti makhluk hidup yang hilang kendali.“Arghh!” teriak Celina histeris. Sebelum akhirnya, mobil wanita itu menghantam pembatas beton jalan hingga retak berantakan. Mobil meluncur terus lalu menghantam dinding parkiran dengan pukulan kencang, membuat semua orang menyaksikan terhenti sejenak.Tanah seolah bergoyang akibat benturan hingga membuat orang-orang berhamburan mendek
"Mau aku gendong?" tanya Ivander menawarkan diri. "Tidak, terima kasih. Aku masih bisa jalan sendiri," tolak Syafana.Koridor rumah sakit yang tadinya ramai mulai sepi seiring berjalannya waktu. Ivander, Syafana, dan Nyonya Anindita melangkah keluar dari ruang gawat darurat dengan wajah yang jelas menunjukkan kegembiraan dan rasa lega. Ketika mereka tiba di area parkiran yang cukup luas, lampu penerangan jalanan mulai menyala redup karena senja mulai menjelma. Tiba-tiba, sebuah suara melengking terdengar dari arah samping, memecah kesunyian yang mulai menyelimuti tempat itu.“Ivander!”Semuanya spontan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka bergerak mencari sosok yang memanggil hingga akhirnya seorang wanita yang begitu familiar berdiri disana. "Dia ...!"Rahang Ivander langsung mengeras. Tanpa berpikir dua kali, ia menggeser tubuhnya perlahan agar benar-benar berada di depan Syafana, menjadikannya penghalang yang melindungi istrinya.Nyonya Anindita menatap Celina dengan tatapa







