แชร์

Bab 4. Tawaran Ivander

ผู้เขียน: Nanitamam
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-09-30 07:51:34

"Apa kamu bilang barusan? Kamu mengundurkan diri?” tanya Ivander dengan nada dingin, sorot matanya mengintimidasi Syafana.

“Maaf, Pak.” Suaranya bergetar. “Sepertinya saya tidak jadi melamar di sini. Saya sudah dapat panggilan dari tempat lain. Saya datang untuk mengatakan itu.”

Alis Ivander terangkat tipis. “Panggilan dari tempat lain?” ucapnya dengan nada dingin, penuh keyakinan. “Jangan berbohong, Syafana. Saya sudah memastikan semua hal tentangmu. Riwayat pendidikan, pengalaman, bahkan kondisi keluargamu.”

Syafana membelalak. “Apa?” Wajahnya terlihat syok. “Darimana Bapak tahu semua hal tentang saya?” tanya Syafana lagi.

Ivander mencondongkan tubuh ke depan, kedua sikunya bertumpu pada meja. Tatapannya menusuk. Dia memangku dagu di atas meja namun pandangannya sama sekali tidak beralih dari Syafana.

“Apa yang saya putuskan tidak bisa ditawar-menawar. Saya membutuhkan seseorang yang mengurus saya, dari saya bangun tidur hingga urusan pekerjaan di kantor.”

“Maaf, Pak sebelumnya. Bapak butuh sekretaris atau pelayan pribadi? Itu dua hal yang berbeda!” Syafana mengerutkan kening dalam. “Saya melamar kerja sebagai sekrertaris, bukan jadi pelayan pribadi. Hubungan saya dan bos hanya sebatas pekerjaan di kantor.”

Ivander menghela napas berat, seolah sedang berbicara dengan anak kecil yang keras kepala.

"Jika itu masalah pribadi, saya bisa menyerahkanya pada istri saya, " ia berhenti sejenak, tatapannya menusuk semakin dalam. "Meskipun ia sedikit berbeda denganmu."

Kata-katanya menggantung, menimbulkan rasa penasaran Syafana.

“Berbeda dengan saya? Maksudnya?”

Ivander menatap Syafana dingin. "Saya sudah memutuskan dan kamu adalah orang yang tepat. Lagipula kamu sudah melihat semuanya semalam."

Syafana menelan ludah. Wajahnya merah padam seperti tomat matang. Dadanya bergemuruh hebat campuran antara malu dan kesal.

“Maaf, Pak. Kalau soal itu. Anggap saja semalam tidak pernah terjadi apa-apa. Bapak mabuk di bawah pengaruh obat dan saya juga mabuk jadi kita, ehmm … ya pokoknya itu kecelakaan.”

Namun Ivander tetap duduk tenang. Tatapannya tidak bergeser sedikit pun. Ekspresinya dingin dan tegas.

“Saya tahu ayah kamu sakit. Kamu membutuhkan uang. Saya bisa membantumu. Kamu hanya perlu menjalankan pekerjaanmu, tanpa melibatkan perasaan. Saya akan memastikan kamu hidup layak.”

Kata-kata itu membuat Syafana terdiam. Tenggorokannya tercekat. Sesaat ia menunduk, menutup wajahnya dengan telapak tangan. Pikirannya berputar: ayah yang terbaring sakit, biaya rumah sakit yang semakin membengkak, dan dirinya yang sudah kehabisan pilihan.

“Jadi begitu, ya?” suara Syafana akhirnya pecah, getir. “Bapak pikir saya bisa dibeli dengan uang?” Ia menatap Ivander dengan pandangan yang menyala, tetapi kini di dalamnya terselip keputusasaan.

“Bukan dibeli.” Ivander membalas kaku, nada suaranya dingin dan tak tergoyahkan. “Dibantu. Kamu tetap manusia dengan harga diri. Tapi pekerjaan ini, akan mengikatmu padaku.”

Hening sejenak menyelimuti ruangan. Syafana menggigit bibir bawahnya, menahan segala luapan yang ingin ia muntahkan. Namun, bayangan wajah ayahnya yang pucat membuatnya goyah.

Akhirnya, ia mendesah panjang, hampir seperti mengutuk dirinya sendiri. “Baiklah. Saya terima.”

Ivander mengangguk pelan, matanya dingin namun penuh kepuasan. “Keputusan yang bijak. Saya ingin kamu mulai bekerja hari ini juga. Soal pekerjaanmu nanti Erlang yang akan menjelaskannya."

Syafana mengangguk, lalu berbalik dengan langkah berat. “Kenapa aku bisa tidur dengan pria arogan seperti dia?”

Di tempat lain, di sebuah rumah megah bergaya klasik modern. Celina tengah bersantai di halaman belakang dekat kolam renang. Wajahnya dilapisi masker berwarna hijau lembut, sementara rambutnya bungkus rapi dengan handuk.

“Inilah hidup yang aku inginkan selama ini. Jadi istri seorang CEO tampan, mapan,” ucap Celina dengan nada manja, sambil mengipasi wajahnya dengan majalah fashion. “Mau apa saja tinggal bilang, langsung tersedia.”

Carina, ibu Celina duduk di sebelahnya sambil ikut maskeran. Dia menyandarkan tubuh pada sandaran sofa. Matanya terpejam menikmati semilir angin siang yang menyapu wajahnya.

“Kamu beruntung dapat Ivander. Meski dia dingin, kamu harus tetap yakin bisa meluluhkan hatinya. Ingat, tidak ada pria yang tahan pada istri yang sabar dan cantik. Terus goda dia bagaimanapun caranya.”

Celina tersenyum percaya diri, matanya berbinar.

“Aku tahu, Ma. Mas Ivander memang belum menyentuhku, tapi itu hanya soal waktu. Dia pasti akan sadar bahwa aku istri terbaik yang bisa dia miliki. Semua yang dia butuhkan, bisa aku berikan. Aku hanya perlu membuatnya tidak berpaling.”

Tiba-tiba, Celina menjentikkan jarinya. Seorang pembantu segera datang menghampiri dengan sopan.

“Iya, Nyonya?”

“Ambilkan aku jus smoothies strawberry dengan topping strawberry segar yang manis. Jangan lupa taburkan coklat serut diatasnya,” perintah Celina santai.

“Baik, Nyonya.”

Pembantu itu bergegas pergi. Celina kemudian menoleh pada ibunya, melanjutkan obrolan.

“Kadang aku merasa seperti putri raja, Ma. Lihat saja, semua orang di rumah ini siap melayani. Tinggal sebut, langsung jadi.”

Mama Celina tersenyum puas. “Memang begitu seharusnya. Kamu istri seorang pengusaha hebat, bukan orang biasa.”

Tak lama, pembantu lain datang dengan nampan berisi camilan. “Nyonya, ini croissant isi cokelat yang Anda minta.”

“Taruh di meja. Ambilkan aku handuk berisi air es!” titah Celina ketus.

Suasana ruangan terasa seperti istana kecil, dengan Celina yang memerintah tanpa perlu menggerakkan tubuhnya. Semua berjalan sesuai keinginannya. Semua harus patuh pada ucapan Celina meski terkadang membuat para pekerja sna

“Aku yakin, Ma,” ucap Celina lagi sambil menyandarkan tubuhnya. “Cepat atau lambat, Mas Ivander akan jadi milikku. Dia hanya melihatku. Aku harus segera hamil anaknya supaya aku bisa menguasai semuanya.”

Mama Celina mengangguk mantap. “Betul. Kamu tidak boleh kalah oleh wanita lain. Ingat, meski pernikahan kalian karena dijodohkan, statusmu tetap istri sah. Itu senjata terbesarmu.”

Celina tersenyum puas. Ia mengambil croissant dengan ujung jarinya, menggigitnya perlahan sambil menikmati film yang baru saja diputar oleh pembantu.

Namun, momen santai itu mendadak terganggu. Ponsel di meja samping berdering nyaring, getarannya membuat gelas jus di sampingnya ikut bergetar.

Celina menoleh, sedikit kesal. “Siapa sih yang nelpon jam segini?”

Ia meraih ponselnya dengan malas, lalu melihat layar ponsel. Bola matanya memutar malas lalu menyentuh tanda jawab. Dia meletakan benda pipih di pipinya dan bersandar santai.

“Ada apa?” tanya Celina ketus.

“Maaf, Nyonya Celina. Ada hal yang ingin saya sampaikan.” Terdengar suara wanita dari seberang telepon.

“Iya, apa? Jangan banyak basa basi langsung saja bilang apa yang mau kamu laporkan.

“Hari ini Pak Ivander memilih seorang gadis menjadi sekretaris pribadinya,” adu si penelpon.

“Aku sudah tahu makanya aku kirim orang untuk jadi kandidat. Aku yakin mas Ivander memilihnya kan?” jawab Celina santai oleh percaya diri.

“Maaf, Nona Celina. Pak Ivander memilih gadis lain sebagai sekretarisnya. Namanya … Syafana.”

Celina langsung menjadi masker sheet dari wajahnya. Dia berdiri dan berkacak pinggang. Ekspresi wajahnya langsung berubah tegang dan rahang mengeras. Carina menatap Celina penasaran.

“Bagaimana bisa Mas Ivander memilih gadis lain?”

“Maaf, Nona. Saya tidak tahu. Saya tutup dulu teleponnya.”

“Arghhhhh! Sial! Kenapa bisa begini? Padahal temanku lebih berpengalaman dan bisa diandalkan. Siapa Syafana? Kenapa Mas Ivander lebih tertarik pada gadis itu? Aku harus mencari tahu,” umpat Celina kesal sekaligus panik.

Tring!

Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Velina. Wanita berambut panjang pirang itu segera membacanya. Bola matanya membelalak saat melihat isi pesan tersebut.

“Ini tidak mungkin,” lirih Celina. “Mas Ivander pergi dari pesta waktu itu. Dia meninggalkanku dan pergi ke hotel. Dia bahkan masuk ke kamar seorang gadis. Aku harus cari tahu siapa wanita itu. Aku tidak bisa diam saja.”

“Celina ada apa? Kenapa kamu marah-marah begini?”

“Mas Ivander, Ma. Dia … dia kabur dari pesta dan pergi ke sebuah hotel. Dia bahkan masuk ke kamar seorang gadis.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER   Bab 135. Kelahiran si kembar

    “Sayang, apa yang terjadi?” tanya Ivander dari balik kamera.“Perutku … rasanya sangat mulas, aku harus matikan dulu ya Sayang!” Syafana menjawab dengan napas terengah-engah, segera menutup sambungan video call sebelum Ivander bisa bertanya lagi.Nyonya Anindita terkejut, matanya melebar melihat cairan bening yang terus merembes dari bawah tubuh Syafana dan membentuk noda basah di lantai keramik mall.Bu Salsa juga tak kalah panik. “Cairan ketubanmu pecah!” teriak mereka secara bersamaan."Ya Tuhan, bagaimana ini? Kenapa mendadak begini?"Tanpa berlama-lama, Ghaisa langsung berlari cepat menghampiri meja informasi, sambil berteriak pada seorang petugas keamanan yang sedang berjaga dekat lift. “Pak tolong! Tolong hubungi ambulans segera! Saudaraku sedang mengalami pecah ketuban dan akan melahirkan!” teriaknya dengan suara nyaring hingga menarik perhatian pengunjung sekitar yang mulai berkerumun.Sedangkan, Nyonya Anindita benar-benar kalut, jari-jarinya gemetar saat mencari nomor Tua

  • SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER   Bab 134. Jadwal lahiran

    Beberapa bulan kemudianUdara di ruangan praktik Dokter Maria terasa lebih padat dari biasanya, bahkan kipas angin yang berputar pelan tak mampu mengusir getaran yang menggeliat di setiap sudut. Syafana duduk tegak di atas meja pemeriksaan, kain steril putih menutupi perutnya yang mulai membengkak. Di sebelahnya, Ghaisa menyandarkan telapak tangannya.Bu Salsa berdiri di sisi kiri, napasnya terdengar pelan namun teratur, sementara Nyonya Anindita yang berada di sisi kanan mengpegang erat tangan Syafana, ujung bibirnya sedikit menggigil tak disadari.“Tumben sekali, para suami tidak ikut datang menemani saat kontol?” tanya Dokter Maria seraya mempersiapkan alat-alatnya. “Mereka berdua ada urusan bisnis di luar negeri, Dok,” sahut Ghaisa. Dokter Maria hanya mengangguk saja, tangannya mulai mengoleskan gel dingin di atas perut Syafana. Setelah itu, ia menempatkan alat transducer di atasnya dan mulai menggerakkannya perlahan.Cahaya dari layar monitor USG menerangi wajah mereka semua, m

  • SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER   Bab 133. Carina gila

    "Meski mereka jahat tapi aku ikut sedih melihat keadaan Tante Carina," gumam Syafana lirih."Mereka menuai apa yang sudah mereka tanam. Rasa iri, dengki dan serakah membuat mata hati mereka buta," kata Ivander."Seandainya mereka mau berubah, aku juga tidak akan bertindak sejauh ini," tambah Tuan Alexander.Setelah pemakaman Celina yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa teman, waktu tampaknya berjalan dengan sangat lambat bagi Carina. Setiap hari yang lewat hanya membuat kondisi dirinya semakin menyedihkan dan memprihatinkan hingga akhirnya Ivander dan keluarga memutuskan untuk membawanya tinggal di rumah mereka, karena tidak tega melihat wanita itu sendirian dalam kesusahan.Kini, Carina tengah terduduk di salah satu sudut teras rumah Ivander. Badannya membungkuk ke depan, tangan kanan dan kiri menggenggam erat sebuah bantal putih. “Celina … nak mama sudah siapin sarapanmu yang kamu suka!” teriaknya dengan nada tinggi yang membuat beberapa orang di ruang tamu terlihat

  • SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER   Bab 132. Karma

    PRANG! Gelas kristal yang hendak digerakkan ke bibir Carina terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan suara pecah yang menusuk. Potongan kaca kecil berserakan di atas permukaan yang mengkilap. Tanpa menghiraukan reruntuhan di bawah kakinya, tangannya refleks menyentuh bagian dada yang tiba-tiba terasa sesak. Denyut jantungnya berdebar kencang, jauh lebih cepat dari biasanya. “Kenapa kok tiba-tiba begini? Perasaan ku tidak enak, seolah ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi,” gumamnya pelan, suara penuh dengan kekhawatiran yang tidak jelas sumbernya. "Kenapa Celina belum pulang juga?" Baru saja dia mengangkat kepala, pikiran masih bingung mencari jawaban, ketika dering ponsel di atas meja tamu terdengar. Carina bergerak dengan langkah tergesa-gesa untuk menjawabnya, tangannya sedikit gemetar saat menyentuh layar sentuh yang menunjukkan nomor tidak dikenal. “Permisi, ini dengan Nyonya Carina?” suara dari ujung saluran terdengar dengan nada yang hati-hati namun te

  • SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER   Bab 131. Celina meninggal

    "Kalian harus mati!" teriak Celina penuh amarah dan dendam.“Syafana, Ivander!”Suara Nyonya Anindita dan Bu Salsa menerjang udara sore, nada histeris menusuk. Kedua wanita itu masih berdiri kaku di tepi jalan raya, pandangan keduanya terpaku pada mobil putih yang melesat dengan kecepatan tak masuk akal.Tanpa berpikir dua kali, Ivander langsung mencengkeram lengan Syafana dengan kuat, lalu menariknya dengan sekuat tenaga ke arah trotoar sebelah kiri. Sedangkan, mobil yang dikemudi oleh Celina bergerak cepat. Kakinya menginjak pedal rem dengan sekuat mungkin, namun mobil hanya meluncur lebih cepat, menggeliat seperti makhluk hidup yang hilang kendali.“Arghh!” teriak Celina histeris. Sebelum akhirnya, mobil wanita itu menghantam pembatas beton jalan hingga retak berantakan. Mobil meluncur terus lalu menghantam dinding parkiran dengan pukulan kencang, membuat semua orang menyaksikan terhenti sejenak.Tanah seolah bergoyang akibat benturan hingga membuat orang-orang berhamburan mendek

  • SURGA SEMALAM BERSAMA TUAN IVANDER   Bab 130. Wanita berhati batu

    "Mau aku gendong?" tanya Ivander menawarkan diri. "Tidak, terima kasih. Aku masih bisa jalan sendiri," tolak Syafana.Koridor rumah sakit yang tadinya ramai mulai sepi seiring berjalannya waktu. Ivander, Syafana, dan Nyonya Anindita melangkah keluar dari ruang gawat darurat dengan wajah yang jelas menunjukkan kegembiraan dan rasa lega. Ketika mereka tiba di area parkiran yang cukup luas, lampu penerangan jalanan mulai menyala redup karena senja mulai menjelma. Tiba-tiba, sebuah suara melengking terdengar dari arah samping, memecah kesunyian yang mulai menyelimuti tempat itu.“Ivander!”Semuanya spontan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka bergerak mencari sosok yang memanggil hingga akhirnya seorang wanita yang begitu familiar berdiri disana. "Dia ...!"Rahang Ivander langsung mengeras. Tanpa berpikir dua kali, ia menggeser tubuhnya perlahan agar benar-benar berada di depan Syafana, menjadikannya penghalang yang melindungi istrinya.Nyonya Anindita menatap Celina dengan tatapa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status