Share

Bab 5

Author: Lalala
Dalam kondisi setengah sadar, Selina mendengar suara percakapan.

“Pak Nathan, kami sudah periksa arena kudanya. Ada orang yang mengganti tali kekang dengan yang sudah rusak. Hari itu, hanya Nona Hayle yang menyentuh kuda yang biasa ditunggangi Nona Selina.”

Setelah beberapa saat, suara Nathan terdengar dengan nada memperingatkan, “Masalah ini berhenti sampai di sini. Jangan sampai ada orang ketiga yang tahu.”

Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan lagi, “Suruh orang antar hidangan andalan Restoran Empat Rasa ke sini.”

Asistennya tampak terkejut dan berkata, “Bukannya dulu kamu selalu bilang akan memasak sendiri untuk Nona Selina….”

Belum selesai bicara, mungkin karena melihat wajah Nathan yang muram, dia pun buru-buru berkata, “Aku terlalu banyak bicara.”

Setelah suara langkah orang itu semakin menjauh, terdengar isak tangis seorang wanita.

“Ini semua salahku. Aku benar-benar nggak sengaja. Kalau saja aku nggak pergi ke lapangan golf, kamu nggak akan kehilangan fokus dan mungkin bisa melindungi Nona Selina.”

Disusul suara tutup tempat makanan yang dibuka, Hayle berkata, “Ini sup yang kumasak semalaman. Anggap saja sebagai permintaan maafku pada Nona Selina.”

Namun, Nathan tiba-tiba menarik tangannya dan mengerutkan kening saat melihat bekas merah di kulitnya, “Sayang, siapa yang menyuruhmu melukai dirimu sendiri?”

“Ayo, biar kuoleskan obat. Sekalian… menghukummu karena nggak menjaga diri sendiri dengan baik.”

Sambil berbicara, dia langsung menggendongnya.

Dengan suara yang masih terisak, Hayle bertanya, “Lalu bagaimana dengan Nona Selina….”

“Sayang, suamimu sedang marah sekarang, kamu masih ada waktu memikirkan orang lain?”

Setelah suara langkah mereka benar-benar menghilang, Selina pun membuka matanya perlahan. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya.

Dia menggerakkan tangan dan kakinya. Untungnya, lukanya tidak terlalu parah.

Seorang perawat muda yang datang untuk memeriksa kondisinya langsung berbinar saat melihatnya sudah sadar. Dia tersenyum dan berkata, “Suamimu baik sekali denganmu. Dia bahkan mendatangkan dokter spesialis untuk memeriksamu dan meminta mereka menginap di hotel dekat rumah sakit untuk berjaga-jaga.”

“Waktu kamu menjalani pemeriksaan, dia terus berlutut di luar sepanjang waktu. Dia baru mau berdiri setelah memastikan kamu baik-baik saja.”

Tatapan Selina tetap tenang tanpa sedikitpun emosi. Dia menjawab, “Dia bukan suamiku.”

Perawat itu masih memasang wajah terkejut, tiba-tiba Nathan membuka pintu dan buru-buru masuk, memotong percakapan mereka,

“Selina, kamu sudah bangun? Aku pergi membeli makanan, kamu lapar, nggak?”

Selina menatap kemasan makanan dari Restoran Empat Rasa di tangannya, lalu sekilas melihat noda lipstik yang mencolok di kerah bajunya. Dia tak membongkarnya, hanya menatapnya dan bertanya,

“Soal kejadian di arena pacuan kuda sudah diperiksa?”

Nathan menyerahkan segelas air hangat padanya. Suaranya terdengar biasa saja,

“Sudah. Ternyata perlengkapan kudanya sudah lama nggak diperbaiki, ditambah rumput pakan barunya nggak cocok dengan selera kudanya, makanya terjadi kecelakaan.”

“Petugas yang bertanggung jawab sudah dipecat.”

Nathan menundukkan kepala sambil mengusap ibu jari ke jari telunjuknya. Itu adalah gerakan kecil yang selalu dia lakukan setiap kali berbohong.

“Selina, waktu itu Hayle menghampiriku untuk menanyakan urusan pekerjaan, makanya aku nggak sempat melindungimu. Dia juga sangat merasa bersalah. Kita lupakan saja masalah ini, jangan dipermasalahkan lagi, ya?”

Selina memejamkan mata.

Tiba-tiba, Selina teringat saat masih SMA. Dulu, ada seorang murid laki-laki yang menusuk tangannya dengan ujung pena.

Setelah Nathan mengetahuinya, tak sampai tiga hari kemudian, seluruh keluarga murid itu sudah menghilang dari Kota Hosin.

Namun sekarang, setelah Hayle merencanakan semua ini hingga dirinya terluka seperti ini, Nathan malah dengan santai menyuruhnya ‘melupakannya saja’.

Rasanya seperti ada segumpal kapas yang menyumbat dadanya, membuatnya sesak.

Namun, rasa sakit menusuk yang dirasakannya beberapa hari terakhir sudah tak ada lagi.

Selina menghela napas pelan, lalu menatap awan yang bertiupan di balik jendela.

Tak lama lagi, dirinya bisa menjalani kehidupan bebas yang benar-benar menjadi miliknya sendiri.

Tiga hari kemudian, Selina pun keluar dari rumah sakit.

Nathan membawanya merias diri dengan anggun, lalu mengajaknya ke Universitas Hosin.

“Selina, hari ini ada acara wisuda di Universitas Hosin, rektor secara khusus mengundangku. Kebetulan sekalian mengajakmu jalan-jalan untuk membuang penat.”

Selina duduk di samping Nathan, menyaksikan Hayle berdiri di atas panggung memberikan kata sambutan sebagai lulusan berprestasi.

Tatapan Nathan begitu fokus. Rasa sayang dan kekaguman di matanya seakan hampir meluap.

Padahal kesempatan untuk menyampaikan kata sambutan itu seharusnya milik Selina.

Dulu, saat dosen memintanya menjadi perwakilan lulusan berprestasi, hatinya sangat gembira.

Dia bahkan membayangkan wajah Nathan yang kebingungan saat duduk di antara penonton, lalu merasa sangat bangga padanya.

Namun, setelah menyaksikan lamaran itu, Selina pun menolaknya.

Dia ingin pergi dengan tenang. Nathan sudah tak pantas menerima kejutan yang dirinya persiapkan selama ini.

Setelah Hayle turun dari panggung, Nathan beralasan ingin ke kamar mandi dan pergi.

Selina memanfaatkan kesempatan itu untuk memakai jubah wisuda yang baru saja diterima di atas gaun formal, lalu bergegas mencari dosen dan foto bersama.

Begitu melihatnya, tatapan dosen dipenuhi rasa bangga. Dia menyerahkan tiket pesawat dan dokumen-dokumennya.

“Selina, semoga perjalananmu kali ini mendatangkan masa depan yang gemilang.”

Baru saja berpamitan dan berbalik, Nathan sudah berjalan keluar.

Melihat penampilannya, wajah Nathan dipenuhi keterkejutan, “Selina, kok kamu pakai jubah wisuda? Apa yang kamu pegang?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 23

    Acara wisuda kali ini, Selina tampil di atas panggung sebagai lulusan berprestasi untuk menyampaikan kata sambutan.Bintang yang dulu pernah redup itu, akhirnya menyingkirkan abu yang menutupinya, lalu bersinar terang di panggung yang memang menjadi miliknya.Di bawah panggung, Steven menggendong Luna yang sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Brian yang kini terlihat semakin dewasa dan tampan.Begitu kata sambutannya selesai, Brian naik ke panggung dan memberinya seikat bunga matahari yang cerah.Sementara itu, di sudut yang jauh, ada seorang pria yang masih dengan rakus menggambarkan setiap lekuk wajahnya.Selama tiga tahun, Nathan sudah datang ke Wiras sebanyak seratus enam puluh kali. Dia tak pernah melewatkan satu pun pertunjukan Selina.Pada hari Selina melahirkan, dia bahkan berlutut menaiki seribu anak tangga di sebuh kuil demi memohon sebuah tasbih baru untuknya.Namun, Selina tak pernah sekalipun menemuinya.Kondisi tubuh Nathan semakin memburuk. Dokter bilang depr

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 22

    Mimpi indah itu terputus oleh suara perawat.Nathan membuka matanya perlahan. Yang dilihatnya adalah wajah asistennya yang tampak agak murung.Begitu melihatnya tersadar, asistennya buru-buru melapor, “Pak Nathan, identitasmu bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya kita pulang lebih dulu.”Nathan mencabut jarum infus dan duduk, “Siapkan mobil, kita ke Keluarga Joman.”Sementara itu, Selina sedang menikmati buah ceri yang baru saja dicuci sendiri oleh Brian sambil berjemur di kursi santai.“Brian, waktu itu aku hanya menggunakanmu sebagai tameng karena keadaan mendesak. Jangan salah paham.”Steven memandangi Brian yang begitu rajin dengan wajah kesal.Brian mengambil selimut tipis dan meletakkannya di dekat tangan Selina, memastikan dia bisa meraihnya dengan mudah saat membutuhkannya.“Iya, aku nggak salah paham.”Melihat Brian seolah tak peduli dengan perkataannya, Steven pun menggeleng dan kembali melukis.Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Ketiga orang itu mel

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 21

    Keesokan harinya, saat keluar rumah, Selina baru menyadari bahwa ternyata Nathan belum pergi.Dia bersandar lesu di pintu mobil. Begitu melihat Selina, sorot matanya yang tadinya redup langsung kembali bersinar.“Selina, kamu mau pergi ke mana? Aku bisa mengantarmu.”Namun, Selina tak menghiraukannya. Dia langsung masuk ke mobilnya sendiri.Nathan pun mengemudikan mobil dan mengikuti dari belakang dengan wajah muram.Dia tak percaya. Baru dua bulan berlalu, bagaimana mungkin Selinanya sudah jatuh cinta pada orang lain?Lagipula, semua masalah di antara mereka hanyalah salah paham. Selama Selina sudah tak marah lagi, dia pasti akan kembali ke sisinya.Baru setelah tersadar kembali, Nathan baru menyadari bahwa tujuan Selina adalah ke rumah sakit.Selina sakit? Untuk apa dia ke rumah sakit?”Sambil menyesali dirinya yang tak menyelidiki semuanya dengan lebih teliti, dia juga terus mengawatirkan kondisi Selina.Hingga akhirnya, dia mengikuti Selina masuk ke bagian ginekologi.Di sana, dia

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 20

    Selina sedang mengurus cuti kuliahnya. Beberapa hari belakangan ini, dia terus bolak-balik antara rumah dan kampus.Di tikungan dekat kampus, dia tak sengaja menabrak seseorang.Selina buru-buru berdiri tegak dan meminta maaf, “Maaf.”Namun, orang itu malah langsung memeluknya erat. Suaranya terdengar terisak, “Selina, akhirnya aku menemukanmu.”Mendengar suara itu, seluruh tubuh Selina menegang. Dia langsung mendorongnya menjauh, “Nathan, kok kamu bisa ada di sini?!”Wajah Nathan tampak terluka, dia menjelaskan, “Selina, terlalu banyak salah paham di antara kita. Bisakah kamu mendengar penjelasanku?”Mahasiswa yang berlalu-lalang mulai memperhatikan mereka dengan penasaran.Selina membawanya ke sebuah kafe di dekat kampus.Dengan mata berkaca-kaca, Nathan menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir.Usai menjelaskan, dia hendak meraih tangan Selina. Suaranya terdengar tergesa-gesa, “Selina, aku dan Heyli hanya hubungan kontrak. Surat menikah kami itu palsu. Aku ditipu oleh kakek.”“He

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 19

    Steven mengangguk dengan agak malu.Dia segera mengalihkan topik, “Selina, sekarang kamu sudah kembali, sudah waktunya aku memperlihatkan bisnis keluarga padamu. Kalau tertarik, kamu juga bisa mengelolanya.”Selina tak langsung membongkar niat kakaknya. Dia sudah mau mengambil kuas lagi, jadi sepertinya tak lama lagi dia juga akan bisa kembali berjalan.Bagaimanapun, dia tak ingin Steven terus terjebak dalam rasa bersalah.Tepat saat itu, sepiring steak yang sudah dipotong disodorkan padanya.Brian mengedipkan mata padanya.Melihat interaksi mereka, Steven pun menggertakkan giginya.“Brian, adikku nggak akan menikah keluar, hanya menerima pria yang mau menjadi menantu yang tinggal di rumah kami. Kamu nggak memenuhi syarat. Soal perjodohan dulu hanyalah candaan orang tua, jangan dianggap serius.”Sambil berkata begitu, Steven juga menuangkan semangkuk sup seafood untuk Selina.Namun entah kenapa, tiba-tiba perut Selina terasa mual dan berputar hebat.Melihat kondisinya yang tak beres, B

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 18

    Hendra melemparkan tongkatnya hingga jatuh di dekat kaki Nathan, “Kurang ajar! Kamu berani melawan?!”Nathan menatapnya dengan dingin, “Kakek, kamu yang memaksaku melakukan semua ini. Aku hanya menyesal nggak mengambil keputusan ini lebih awal dan malah menyetujui syarat konyol yang kamu berikan.”Nathan menatap wajah kakeknya yang terlihat lebih tua dalam waktu singkat, lalu menghela napas pelan.“Kakek, sebenarnya kamu tahu sejak awal kalau Selina akan meninggalkanku, ‘kan? Karena itulah, kamu mengajukan satu syarat itu. Hanya aku yang masih bodoh dan percaya bahwa setelah semua ini selesai, aku bisa hidup tenang dengan Selina.”Nathan terdiam sejenak, seolah telah mengambil sebuah keputusan besar.“Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Selina, hubungan keluarga kita akan berakhir sampai di sini.”Usai bicara, Nathan menyuruh orang-orang membawa Hendra pergi.Setelah itu, dia menelepon seseorang, “Siapkan identitas baru untukku. Aku mau pergi ke Wiras.”“Harus tiga bulan kemudian.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status