Share

Bab 6

Author: Lalala
Selina menatapnya dengan tenang.

“Pinjam dari kampus. Aku nggak pernah kuliah, jadi ingin merasakannya.”

Selina menggoyangkan tiket pesawat dan dokumen yang ada di tangannya, lalu berkata dengan nada datar, “Aku menemukan ini, baru saja ingin menyerahkannya ke pos keamanan.”

Melihat rasa kehilangan di mata Selina, tiba-tiba muncul sedikit rasa bersalah dalam hati Nathan.

Kalau bukan karena rasa posesifnya yang berlebihan waktu itu, seharusnya Selina juga menjadi salah satu lulusan hari ini, memakai toga dan berdiri di atas panggung menerima tepukan tangan.

Nathan melembutkan suaranya, “Kalau begitu biar kutemani.”

Sambil berbicara, dia mengulurkan tangan untuk mengambil barang itu.

Namun tepat saat itu, rektor datang dan mengajaknya foto bersama. Selina memanfaatkan kesempatan itu untuk menghindar, “Kamu sibuk saja dulu, aku bisa pergi sendiri.”

Saat berjalan, Hayle sedang bersandar di sebuah pohon menunggunya. Wajahnya dipenuhi kemenangan yang sama sekali tak disembunyikan.

“Kamu sudah tahu semuanya, ‘kan?”

“Oh, iya juga, aku sudah mengirim semua yang perlu dikirim.”

Hayle memiringkan kepala sambil tersenyum, “Jatuh dari kuda, sangat sakit, ‘kan?”

“Kamu tahu nggak, apa yang dia bilang padaku waktu pertama kali menemuiku?”

Hayle sengaja berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Dia bilang Nona Hayle, aku ingin membiayai hidupmu selama tiga tahun sebagai suamimu.”

Selina menajamkan sudut bibirnya dan mencibir, “Jadi, kamu memang sengaja mendekatiku sejak awal? Menipuku begitu menyenangkan?”

Senyuman Hayle jadi semakin lebar, dia menjawab, “Iya, aku memang ingin melihat seperti apa wajahmu. Emangnya apa istimewanya dirimu sampai semua orang begitu terobsesi padamu?!”

“Nggak mengerti? Nggak apa-apa, kamu juga akan tahu sebentar lagi.”

Tiba-tiba ponselnya berdering. Setelah melihat layar, Hayle melirik Selina dengan tatapan penuh kemenangan dan berkata, “Suamiku mencariku, sampai jumpa nanti malam.”

Selina segera memahami maksud dari ‘sampai jumpa nanti malam’ itu.

Nathan menyiapkan pesta ulang tahun untuknya di atas sebuah kapal pesiar mewah.

Saat kembang api pembukaan dinyalakan, Nathan memanggil Hayle ke atas panggung, lalu menoleh melihat dirinya, “Selina, kebetulan sekali. Hari ulang tahun Bu Hayle sama denganmu. Ayo, kalian berdua mulai acaranya.”

Nathan menambahkan, “Soal kejadian di arena pacuan kuda, Hayle terus merasa bersalah. Anggap saja hari ini sebagai hari damai untuk melupakannya.”

Tatapan Selina tertuju pada gaun mewah bertabur berlian yang dipakai Hayle. Itu adalah hadiah valentine yang diberikan Nathan pada dirinya tahun lalu.

Saat itu, Nathan pernah bilang, “Hanya Selinaku yang pantas memakai gaun yang semegah ini.”

Melihat Selina terus menatap gaun itu, Nathan buru-buru menjelaskan, “Bu… Bu Hayle nggak membawa gaun yang cocok, jadi aku asal mengambil salah satu di lemarimu.”

Nathan mendekat ke telinganya dan menambahkan, “Sayang, nanti aku belikan yang baru, yang lebih bagus.”

Selina mendorongnya pelan. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi, menjawab, “Tanganku belum sembuh, biar Bu Hayle saja yang memulai acara.”

Begitu mendengar itu, Nathan langsung menariknya untuk duduk. Lalu merapikan helaian rambut di kening Selina, “Aku terlalu sibuk sampai lupa. Tanganmu masih sakit?”

Selina menarik tangannya kembali, “Kamu pergi jamu tamu-tamu saja, aku mau sendirian dulu.”

Setelah Nathan pergi, suara riuh di aula seolah menjadi semakin jauh.

Lampu sorot tiba-tiba menyala dan menyorot piano yang berada di tengah ruangan.

Alunan lagu [Bercinta Lewat Kata] yang begitu familiar mengalun.

Nathan dan Hayle duduk berdampingan di depan piano, menunjukkan kedekatan yang tak bisa disela oleh orang luar sedikitpun.

Keduanya bermain dengan kompak.

Begitu lagu selesai, tepuk tangan langsung bergemuruh.

Bisikan para tamu pun masuk ke telinga Selina.

“Bukannya lagu ini biasanya dimainkan pasangan kekasih? Pak Nathan sedang mengumumkan hubungan mereka secara terselubung?”

“Jangan asal bicara. Katanya Pak Nathan sudah mengasuh seorang gadis sejak kecil. Gadis itu pernah menyelamatkan nyawanya dan dia sangat menjaganya selama ini….”

“Cih, maksudmu penyelamat yang dulu disekap dan disiksa selama tiga hari tiga malam di Keluarga Sein itu? Emangnya pria mana yang sanggup menerima hal itu….”

Seketika, seluruh tubuh Selina merinding, dia tak bisa menahan diri dan gemetaran.

Nathan menyingkirkan kerumunan dan kembali ke sisi Selina, “Selina, suka nggak? Aku sengaja menyiapkannya untukmu. Hayle bilang dia kebetulan bisa memainkannya….”

Tatapan Selina tertuju lekat-lekat padanya.

Suara Nathan perlahan melemah. Dia meraih tangan Selina yang dingin dan gemetaran.

“Cemburu? Selina, aku dan dia nggak ada hubungan apa-apa. Kita sudah melewati delapan belas tahun bersama. Kamu harus percaya padaku. Hanya ada kamu di dalam hatiku.”

“Hayle ada perjanjian beasiswa dengan perusahaan. Kalau bukan karena itu, aku juga nggak akan membiarkannya tetap berada di sisiku.”

Nathan menggenggam tangan Selina dan membawanya ke geladak kapal. Tepat saat itu, kembang api di kejauhan melesat ke langit. Ledakan demi ledakan memenuhi seluruh langit malam.

“Selina, aku….”

Ucapannya terpotong karena bunyi dering ponsel yang tiba-tiba.

Itu telepon dari Hayle. Suaranya terdengar sangat ketakutan.

“Pak Nathan, kamu tahu Nona Selina ada di mana? Dia mengajakku bertemu di dermaga. Katanya ingin mengambil kembali gaun ini… aku sudah menggantinya. Aku akan mengembalikannya sekarang….”

“Di sini gelap sekali… ah, siapa kalian?”

Disusul suara ponsel yang terjatuh, bercampur dengan jeritan wanita dan tawa para pria.

“Siapa yang mengantarkan domba kecil ini ke wilayah Keluarga Sein? Semuanya, ayo kita bersenang-senang….”

“To… tolong! Jangan sentuh aku! Nona Selina, kamu di mana… awas!”

Bersamaan dengan suara kain yang disobek, sambungan telepon langsung terputus.

Nathan menggenggam erat ponselnya, lalu tiba-tiba menoleh ke arah Selina.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 23

    Acara wisuda kali ini, Selina tampil di atas panggung sebagai lulusan berprestasi untuk menyampaikan kata sambutan.Bintang yang dulu pernah redup itu, akhirnya menyingkirkan abu yang menutupinya, lalu bersinar terang di panggung yang memang menjadi miliknya.Di bawah panggung, Steven menggendong Luna yang sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Brian yang kini terlihat semakin dewasa dan tampan.Begitu kata sambutannya selesai, Brian naik ke panggung dan memberinya seikat bunga matahari yang cerah.Sementara itu, di sudut yang jauh, ada seorang pria yang masih dengan rakus menggambarkan setiap lekuk wajahnya.Selama tiga tahun, Nathan sudah datang ke Wiras sebanyak seratus enam puluh kali. Dia tak pernah melewatkan satu pun pertunjukan Selina.Pada hari Selina melahirkan, dia bahkan berlutut menaiki seribu anak tangga di sebuh kuil demi memohon sebuah tasbih baru untuknya.Namun, Selina tak pernah sekalipun menemuinya.Kondisi tubuh Nathan semakin memburuk. Dokter bilang depr

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 22

    Mimpi indah itu terputus oleh suara perawat.Nathan membuka matanya perlahan. Yang dilihatnya adalah wajah asistennya yang tampak agak murung.Begitu melihatnya tersadar, asistennya buru-buru melapor, “Pak Nathan, identitasmu bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya kita pulang lebih dulu.”Nathan mencabut jarum infus dan duduk, “Siapkan mobil, kita ke Keluarga Joman.”Sementara itu, Selina sedang menikmati buah ceri yang baru saja dicuci sendiri oleh Brian sambil berjemur di kursi santai.“Brian, waktu itu aku hanya menggunakanmu sebagai tameng karena keadaan mendesak. Jangan salah paham.”Steven memandangi Brian yang begitu rajin dengan wajah kesal.Brian mengambil selimut tipis dan meletakkannya di dekat tangan Selina, memastikan dia bisa meraihnya dengan mudah saat membutuhkannya.“Iya, aku nggak salah paham.”Melihat Brian seolah tak peduli dengan perkataannya, Steven pun menggeleng dan kembali melukis.Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Ketiga orang itu mel

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 21

    Keesokan harinya, saat keluar rumah, Selina baru menyadari bahwa ternyata Nathan belum pergi.Dia bersandar lesu di pintu mobil. Begitu melihat Selina, sorot matanya yang tadinya redup langsung kembali bersinar.“Selina, kamu mau pergi ke mana? Aku bisa mengantarmu.”Namun, Selina tak menghiraukannya. Dia langsung masuk ke mobilnya sendiri.Nathan pun mengemudikan mobil dan mengikuti dari belakang dengan wajah muram.Dia tak percaya. Baru dua bulan berlalu, bagaimana mungkin Selinanya sudah jatuh cinta pada orang lain?Lagipula, semua masalah di antara mereka hanyalah salah paham. Selama Selina sudah tak marah lagi, dia pasti akan kembali ke sisinya.Baru setelah tersadar kembali, Nathan baru menyadari bahwa tujuan Selina adalah ke rumah sakit.Selina sakit? Untuk apa dia ke rumah sakit?”Sambil menyesali dirinya yang tak menyelidiki semuanya dengan lebih teliti, dia juga terus mengawatirkan kondisi Selina.Hingga akhirnya, dia mengikuti Selina masuk ke bagian ginekologi.Di sana, dia

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 20

    Selina sedang mengurus cuti kuliahnya. Beberapa hari belakangan ini, dia terus bolak-balik antara rumah dan kampus.Di tikungan dekat kampus, dia tak sengaja menabrak seseorang.Selina buru-buru berdiri tegak dan meminta maaf, “Maaf.”Namun, orang itu malah langsung memeluknya erat. Suaranya terdengar terisak, “Selina, akhirnya aku menemukanmu.”Mendengar suara itu, seluruh tubuh Selina menegang. Dia langsung mendorongnya menjauh, “Nathan, kok kamu bisa ada di sini?!”Wajah Nathan tampak terluka, dia menjelaskan, “Selina, terlalu banyak salah paham di antara kita. Bisakah kamu mendengar penjelasanku?”Mahasiswa yang berlalu-lalang mulai memperhatikan mereka dengan penasaran.Selina membawanya ke sebuah kafe di dekat kampus.Dengan mata berkaca-kaca, Nathan menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir.Usai menjelaskan, dia hendak meraih tangan Selina. Suaranya terdengar tergesa-gesa, “Selina, aku dan Heyli hanya hubungan kontrak. Surat menikah kami itu palsu. Aku ditipu oleh kakek.”“He

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 19

    Steven mengangguk dengan agak malu.Dia segera mengalihkan topik, “Selina, sekarang kamu sudah kembali, sudah waktunya aku memperlihatkan bisnis keluarga padamu. Kalau tertarik, kamu juga bisa mengelolanya.”Selina tak langsung membongkar niat kakaknya. Dia sudah mau mengambil kuas lagi, jadi sepertinya tak lama lagi dia juga akan bisa kembali berjalan.Bagaimanapun, dia tak ingin Steven terus terjebak dalam rasa bersalah.Tepat saat itu, sepiring steak yang sudah dipotong disodorkan padanya.Brian mengedipkan mata padanya.Melihat interaksi mereka, Steven pun menggertakkan giginya.“Brian, adikku nggak akan menikah keluar, hanya menerima pria yang mau menjadi menantu yang tinggal di rumah kami. Kamu nggak memenuhi syarat. Soal perjodohan dulu hanyalah candaan orang tua, jangan dianggap serius.”Sambil berkata begitu, Steven juga menuangkan semangkuk sup seafood untuk Selina.Namun entah kenapa, tiba-tiba perut Selina terasa mual dan berputar hebat.Melihat kondisinya yang tak beres, B

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 18

    Hendra melemparkan tongkatnya hingga jatuh di dekat kaki Nathan, “Kurang ajar! Kamu berani melawan?!”Nathan menatapnya dengan dingin, “Kakek, kamu yang memaksaku melakukan semua ini. Aku hanya menyesal nggak mengambil keputusan ini lebih awal dan malah menyetujui syarat konyol yang kamu berikan.”Nathan menatap wajah kakeknya yang terlihat lebih tua dalam waktu singkat, lalu menghela napas pelan.“Kakek, sebenarnya kamu tahu sejak awal kalau Selina akan meninggalkanku, ‘kan? Karena itulah, kamu mengajukan satu syarat itu. Hanya aku yang masih bodoh dan percaya bahwa setelah semua ini selesai, aku bisa hidup tenang dengan Selina.”Nathan terdiam sejenak, seolah telah mengambil sebuah keputusan besar.“Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Selina, hubungan keluarga kita akan berakhir sampai di sini.”Usai bicara, Nathan menyuruh orang-orang membawa Hendra pergi.Setelah itu, dia menelepon seseorang, “Siapkan identitas baru untukku. Aku mau pergi ke Wiras.”“Harus tiga bulan kemudian.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status