ログインPrisha Chayana Aurelie (24 Tahun) kehilangan segalanya dalam semalam. Ayahnya meninggal setelah dikhianati rekan bisnisnya, perusahaan keluarganya bangkrut, dan seluruh harta mereka disita. Orang-orang yang dahulu mengaku sebagai keluarga dan sahabat pun perlahan menghilang. Tidak memiliki tempat lain untuk dituju, Prisha terpaksa mengikuti ibunya kembali ke kampung halaman ibunya yang sudah ditinggalkan bertahun-tahun lamanya. Sayangnya, keluarga dari pihak ibunya juga tidak menerima baik kehadiran mereka dan menganggap Prisha dan ibunya adalah beban. Seolah semua itu belum cukup, sebuah kesialan menjerumuskan Prisha ke dalam skandal bersama Arya Pramana Kusuma (30 Tahun), pewaris keluarga paling terpandang di desa. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, mereka dipaksa menikah. Bagi Prisha, Arya hanyalah pria kasar dan menyebalkan yang hidup sederhana. Ia tidak tahu bahwa suaminya memiliki kekayaan yang sengaja disembunyikan. Sementara bagi Arya, Prisha tidak berbeda dari ibu kandung gadis itu dan ibu tirinya, dua wanita yang telah menghancurkan orang-orang yang paling ia sayangi karena menganggap uang lebih berharga daripada cinta dan kesetiaan. Yakin Prisha juga sama saja dengan keduanya dan menikahinya demi harta, Arya memilih berpura-pura miskin dan membuat kehidupan rumah tangga mereka sesulit mungkin. Ia hanya menginginkan satu hal: membuat Prisha menyerah dan meminta cerai. Namun, Prisha bertahan bukan karena menginginkan harta Arya. Ia bertahan karena tidak lagi memiliki tempat untuk pulang. Jika Arya ingin mengusirnya, pria itu harus berusaha lebih keras. Sebab, di balik sifat manjanya, Prisha masih memiliki harga diri yang tidak mudah diinjak. Akankah prasangka Arya terbukti bahwa Prisha sama seperti wanita-wanita yang dibencinya? Ataukah prasangkanya justru akan menghancurkan satu-satunya kesempatan mereka untuk menemukan kebahagiaan?
もっと見る“Ma, jangan pergi dulu.”
Prisha mencengkeram tangan mamanya ketika hendak menuruni teras rumah kayu yang mulai hari ini, harus ia sebut sebagai rumahnya.
“Prisha, lepas. Itu Pakde Karyo sudah nungguin Mama.” Lestari berusaha melepaskan cengkraman putrinya.
“Kalau gitu aku ikut. Aku ikut Mama pulang ya. Nggak apa-apa. Aku nggak akan protes apapun lagi. Biarpun Bulik Ratna nggak suka kehadiran kita disana, aku bisa tahan. Asal jangan tinggalin aku disini.” Prisha kembali membujuk mamanya sembari melirik pria yang juga sama menatapnya dengan tajam dari ambang pintu rumah.
Prisha bergidik ngeri. Membayangkan dirinya harus tinggal berdua dengan lelaki berperangai kasar itu saja sudah membuat bulu kuduknya meremang. Cengkeraman Arya di pergelangan tangannya malam itu bahkan masih menyisakan bekas kemerahan. Belum lagi ciuman kasar lelaki itu yang—
“Aaakh!”
Prisha buru-buru menggelengkan kepala, berusaha mengusir bayangan tersebut. Kenapa juga ia malah mengingat kejadian yang menjerumuskannya pada situasi yang menyulitkannya seperti sekarang ini?
"Sudah, jangan seperti anak kecil. Ingat, kamu itu sekarang sudah menikah, Prisha."
Diingatkan seperti itu malah membuat Prisha bertambah kesal. "Ini semua gara-gara Mama. Udah kubilang aku nggak mau nikah tapi Mama yang maksa aku."
"Anak bodoh ini!” Lestari menjentikkan jarinya ke kening putrinya. “Kamu itu seharusnya senang, bukan malah terus merengek seperti ini.”
Prisha mengusap keningnya sambil mengerutkan wajah. “Senang apanya, Ma? Aku dipaksa menikah dengan orang yang bahkan nggak kukenal sama sekali.”
Lestari mendekat dan kembali mengecilkan suaranya, agar ucapannya tidak dapat terdengar jelas oleh Arya dan Pakde Karyo. “Kamu pikir semua orang bisa seberuntung kamu? Setelah kehilangan semuanya, tiba-tiba Tuhan memberikan jalan keluar?”
Prisha menatap mamanya tidak percaya. Bisa-bisanya skandal yang menimpa putrinya terpergok berduaan bersama laki-laki asing dalam keadaan memalukan lalu berakhir dinikahkan dianggap sebagai sebuah keberuntungan.
“Menikah dengan dia Mama sebut keberuntungan?”
Lestari melirik Arya sekilas sebelum kembali menatap putrinya. “Dengerin Mama ya Prisha. Ayah suamimu itu tuan tanah di desa ini. Tanah dan perkebunannya ada di mana-mana. Mereka itu orang sugih. Bahkan saat Mama kecil dulu, mereka sudah bisa membeli sepeda, motor dan mobil yang bahkan orang kampung sini nggak pernah bayangin bentuknya kendaraan itu seperti apa. Coba bayangkan betapa kayanya suamimu itu sekarang."
Prisha mengembuskan napas lelah. “Yang kaya ayahnya, bukan dia. Mama nggak liat rumah yang akan ku tinggali ini?”
Prisha mendongak ke arah rumah kayu berkolong rendah di hadapannya. Tiga anak tangga menjadi satu-satunya jalan menuju teras sempit yang papan-papannya telah menggelap dimakan usia. Dalam bayangan paling buruknya sekalipun, Prisha tidak pernah membayangkan akan hidup di rumah seperti ini.
“Tidak mungkin dia membiarkanmu tinggal disini. Percaya sama Mama. Dari yang mama dengar, Arya memang sedang ada masalah dengan keluarga ayahnya. Dia tidak menyukai ibu tirinya yang pernah menjadi selingkuhan ayahnya semasa ibunya masih hidup. Karena itu dia tidak pernah sudi tinggal satu atap dengan istri baru ayahnya."
Lestari menggenggam erat tangan anaknya. "Tapi tenang saja. Kamu tetap akan hidup makmur bersama Arya. Mama ini meskipun sudah lama pergi dari kampung dan sudah banyak yang berbeda dari yang mama ingat dulu. Tapi mama tahu satu hal yang tidak berubah adalah kekayaan keluarga Pak Surya. Dan Arya, dia tetap anaknya Pak Surya. Putra satu-satunya. Dia tidak memiliki anak dengan istri keduanya. Semua kekayaan milik Pak Surya akan beralih kepada Arya."
Lestari menarik tangan Prisha agar semakin dekat dengannya. Volume suaranya ia kecilkan lebih dari sebelumnya agar Arya benar-benar tidak bisa mendengar apa yang akan ia ucapkan selanjutnya. "Kamu tahu kenapa kamu bisa ada di situasi sekarang? Itu karena ibu tirinya yang merencanakan semua ini."
"Maksud mama apa?"
"Ibu tirinya sengaja menaruh obat diminuman Arya untuk ngejebak suami kamu itu. Dia lalu menyuruh keponakannya untuk ngerayu Arya. Tapi namanya niat jahat nggak akan bisa berakhir baik. Malah kamu yang kedapatan untungnya terjebak bersama Arya."
Prisha memutar bola matanya mendengar ucapan sang Mama. "Mama sama aja niat Mama juga sama jahatnya. Numbalin anak sendiri."
"Jahat apanya? Mama dari awal nggak ada niat apa-apa. Cuma ya kalau Tuhan ngasih jalan, kenapa nggak Mama ambil?"
"Itu bukan Tuhan yang ngasih jalan, Ma. Tapi iblis. Sekarang putri Mama yang Mama jebak di sini."
"Siapa yang menjebakmu, hah? Memangnya Mama yang menyuruhmu kabur dari rumah Mbah Uti? Memangnya Mama juga yang membuatmu kehujanan dan berakhir bersama Arya dan dipergoki Pak Dusun?”
"Ya tapi tetap saja. Kalau Mama nggak setuju usulan ayahnya Arya, aku juga nggak perlu menikah sama dia."
"Dan berakhir jadi omongan satu kampung kalau kamu hamil anaknya Arya nanti."
"Nggak akan, Ma. Aku dan Arya nggak ngapa-ngapain." Prisha membantah dengan cepat.
Lestari menatap tidak percaya pada putrinya. "Oh, ya?"
"Ya maksudnya nggak sampai sejauh itu. Kami hanya–"
"Tidak usah dibujuk untuk tinggal disini. Kalau dia ingin pergi, bawa kembali saja."
Suara Arya membuat percakapan ibu dan anak itu berhenti. Lestari tersenyum menatap menantunya itu.
“Tidak kok, Nak Arya. Prisha sejak dulu memang manja dan tidak pernah berpisah dari Mama. Tapi sekarang dia sudah menjadi istrimu. Lama-lama juga dia akan terbiasa tinggal di sini.”
“Aku nggak akan terbiasa, Ma," sergah Prisha.
Lestari langsung melirik tajam. “Diam kamu.”
Arya menatap keduanya secara bergantian. Ekspresinya masih datar, tetapi sorot matanya jelas menunjukkan bahwa ia juga sama tidak tertariknya dengan kenyataan bahwa kini ada seorang gadis yang sekarang sudah menjadi istrinya dan akan tinggal bersamanya. Satu-satunya alasan ia tidak menolak keras sama seperti Prisha adalah karena ia merasa bertanggung jawab atas semua yang sudah terjadi hingga seperti ini.
"TARI CEPAT! SUDAH MAU HUJAN INI!" Kali ini Pakde Karyo yang sudah tidak sabar menunggu berteriak.
"Iya Pakde sebentar."
Lestari kembali menatap Prisha. “Suka atau tidak, mulai sekarang keluargamu adalah Arya. Rumahmu sekarang di sini.”
“Ma..."
Lestari mengembuskan napas kasar, mulai kehilangan kesabaran mendengar Prisha merengek terus.
“Mama sudah tidak sanggup menanggung hidup kita berdua. Sejak papamu meninggal, hidup kita sudah susah. Harta dan rumah kita disita. Mama bahkan harus menahan malu kembali ke desa ini dan tinggal menumpang di rumah Mbahmu dan Ratna."
Ucapan itu membuat terdiam seribu bahasa. Melihat putrinya tidak melakukan perlawanan lagi, Lestari segera pamit.
"Mama pergi sekarang. Kamu baik-baik disini." Prisha tidak membalas pelukan ibunya.
Tidak ingin membiarkan Prisha memiliki waktu untuk merengek kembali, Lestari segera berjalan menuju mobil Pakde Karyo.
Prisha berdiri di teras, memandangi kendaraan tersebut hingga menghilang di ujung jalan. Ia menahan napas panjang. Lagi-lagi ia kembali ditinggalkan. Setelah ayah, sahabat-sahabatnya, kekasihnya dan kini mamanya juga pergi meninggalkannya sendiri.
“Mau sampai kapan kamu akan berdiri disana?" Suara dingin Arya membuat Prisha menoleh. Prisha cepat-cepat menunduk agar air mata yang menggenang di matanya tidak terlihat oleh lelaki di belakangnya.
"Kamu pilih sendiri, ingin masuk atau tetap disitu? Sebentar lagi hujan. Saya tidak punya banyak waktu untuk membujukmu seperti ibumu. Kalau kamu ingin kehujanan disitu. Terserah kamu!"
Setelah mengatakan itu, Arya berbalik dan masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah itu.
Prisha menatap tidak percaya akan tindakan kasar pria itu. “Dasar manusia nggak punya hati,”
"Aku nggak akan–
GLARR!
Suara gemuruh guntur yang memekakkan membuat Prisha refleks berlari ke atas teras rumah Arya.
"BUKA PINTUNYA ARYA!"
Rasa dingin yang menusuk tulangnya membuat Prisha bergerak tidak nyaman dalam tidurnya. Dengan gerakan setengah sadar tangannya mulai meraba-raba ke samping. Mencari remote AC yang selalu ia taruh di samping tempat tidurnya untuk menurunkan suhu kamarnya yang terlampau dingin.Tapi, alih-alih mendapatkan remote, jari-jarinya malah menyentuh sesuatu yang hangat dan padat. Tanggannya naik lebih tinggi, meraba, lalu akhirnya menyentuh rahang dan pipi yang kasar karena sisa jenggot tipis.Tiba-tiba pergelangan tangannya ditangkap.Genggaman itu tidak kuat tapi cukup untuk menyentak kesadaran Prisha.“Hwaa!!”Prisha memekik kencang. Matanya langsung terbuka lebar. Dalam sepersekian detik, seluruh rasa kantuknya hilang.Di depannya, dalam jarak yang sangat dekat, Arya sedang menatapnya dengan mata yang sudah terbuka. Tangan pria itu masih mencengkeram pergelangan tangan Prisha yang tadi sempat meraba wajahnya.Kesadaran Prisha akhirnya kembali. Barulah otaknya benar-benar bekerja. Ia bukan
Usai sholat Maghrib berjamaah yang pertama kali pasangan suami istri itu lakukan, kini keduanya duduk berhadapan dengan canggung di meja dapur. Entah bagaimana, di momen inilah mereka baru benar-benar sadar bahwa kini mereka akan hidup berdua di rumah ini sebagai suami istri sungguhan.Di atas meja, piring-piring sederhana sudah tertata. Tahu dan tempe goreng yang dilumuri sambal, sayur bening, serta telur ceplok yang tadi di masak Arya juga sudah tertata rapi disana.Prisha duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya tersembunyi di pangkuan. Mukena putih yang tadi dipakainya kini sudah dilipat rapi di atas kursi di sampingnya. Ia menatap isi piring di depannya lalu pria di seberangnya yang kini remsi menjadi suaminya. Tiba-tiba, segalanya terasa terlalu nyata untuknya.Dan sepertinya, bukan hanya Prisha yang baru menyadari itu. Arya yang mengambil sendok dengan gerakannya yang tenang juga sesekali tatapannya sempat terhenti pada Prisha sebelum kembali fokus pada makanannya. Ia pun j
Aroma manis langsung menyerbu penciuman Arya begitu ia membuka pintu kamarnya. Entah berasal dari parfum, pengharum ruangan, atau entah apa. Yang jelas, kamarnya tidak pernah sewangi ini dan tentu saja tidak pernah seberantakan ini.Prisha sedang duduk di lantai kamar, dikelilingi pakaian dan barang-barang yang belum selesai perempuan itu tata. Sebagian isi kopernya bahkan sudah meluber keluar kamar hingga memenuhi ruang tengah.Gadis itu kini mengenakan pakaian tidur berlengan panjang. Rambutnya digulung asal di atas kepala, menyisakan beberapa helai yang berjatuhan di sisi wajah. Di tangan kanannya terdapat beberapa gantungan pakaian, sementara tangan kirinya sedang sibuk membongkar sebuah tas besar.Ia bisa melihat kedua pintu lemarinya kini terbuka lebar. Pakaian miliknya yang semula tersusun cukup longgar kini berjubel di sisi kiri lemari.“Kenapa kamu pindahin barang-barang saya?”Prisha menoleh santai. “Ya kalo nggak aku pindahin, pakaianku mau aku taruh dimana?"Arya memejamka
“Oke, baiklah. Kamu bisa Prisha,” gumam Prisha sambil mengembuskan napas panjang. “Anggap saja aku sedang berlibur dan menikmati slow living di desa.” Prisha mencoba menata perasaannya sembari mengeluarkan baju-bajunya dari dalam koper.Dahulu, saat kuliah, Prisha juga pernah mengikuti KKN di sebuah desa. Selama hampir satu bulan ia berhasil tinggal jauh dari rumah, jauh dari Mama, dan tanpa bantuan seorang asisten rumah tangga untuk melakukan pekerjaan rumah.Ya, meskipun rumah kepala desa yang ditempatinya waktu itu jauh lebih besar daripada rumah Arya ini dan tentunya kehidupannya lebih sejahtera. Namun, itu bukan masalah. Sama-sama di desa. Seharusnya tidak jauh berbeda. Ia pasti bisa.Prisha terus mengulang afirmasi positif itu di dalam kepala sembari membawa tas-tasnya masuk ke dalam kamar. Untungnya, lelaki bermulut tajam itu masih memiliki sedikit nurani. Arya membantu mengangkat dua koper besarnya, kemudian langsung pergi tanpa mengatakan apa pun.Kini, kedua koper tersebut t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.