LOGINAcara makan bersama untuk merayakan hari kemerdekaan diadakan di rumah kontrakanku. Tiga teman masa kecilku hanya membeli minuman dan camilan, sementara Verren bilang dia tidak bisa memasak. Ada 12 hidangan yang harus kusiapkan. Aku sudah sibuk sejak pukul enam pagi sampai sore. Baru saja semua hidangan tersaji di meja, Verren tiba-tiba menerima telepon dari teman sekamarnya. "Dia nggak punya tempat untuk merayakan liburan. Aku boleh ajak dia nggak?" Aku memandang meja makan kecil yang hanya cukup untuk lima orang. Aku bahkan belum sempat menjawab ketika Casper sudah menarik kursiku. "Bukannya kamu bilang mungkin ada urusan di kantor? Kebetulan, kamu bisa pergi sekarang." Juan, teman masa kecilku yang lain, ikut tersenyum. "Lagian kamu juga makan masakanmu sendiri setiap hari. Nggak masalah kalau sesekali nggak ikut makan." Verren buru-buru melambaikan tangan dan berkata, "Kalau begitu, sudahlah. Biar dia pesan makanan sendiri saja." Ketiganya langsung membujuk Verren. "Dia sudah sampai di bawah. Mana mungkin kita mengusir tamu yang sudah datang?" Pacarku, Terry, memasukkan beberapa lauk yang sudah dingin ke dalam kotak makan hingga setengah penuh. "Ini kusisakan untukmu. Kalau nanti malam lapar, tinggal dipanaskan." "Jangan pasang muka begitu. Orang yang nggak tahu bisa mengira kami bertiga sengaja bersekongkol merundungmu." Aku menatap mereka yang duduk mengelilingi meja makan yang kubeli, menggunakan piring dan peralatan makan yang baru saja kuganti. Ternyata mereka juga tahu bahwa tamu tidak seharusnya diusir. Mereka hanya lupa bahwa akulah pemilik rumah ini. Aku melepaskan kunci rumah dari gantungan kunci milik Terry, lalu berkata, "Malam ini nggak perlu datang lagi." Ini rumahku. Kalaupun ada yang harus diminta pergi, seharusnya bukan aku.
View MorePada hari kemerdekaan tahun berikutnya, rumah baru yang kusewa di Kota Southa akhirnya selesai kutata. Rekan-rekan kerjaku bilang ingin datang untuk merayakan rumah baruku, jadi aku memesan bahan-bahan hotpot lebih awal.Seseorang bertanya, "Perlu kami bawakan minuman?""Bawa saja yang kalian suka."Malam harinya, semua orang ikut mencuci bahan makanan, menata piring dan peralatan makan, serta membereskan meja. Seorang rekan wanita yang baru bergabung dengan departemen kami tiba-tiba bertanya apakah dia boleh mengajak temannya.Baru saja selesai bertanya, dia buru-buru menambahkan, "Kalau sudah terlalu ramai, nggak usah. Aku nggak mau repotin kamu."Aku menghitung jumlah kursi dan menjawab, "Boleh. Masih ada kursi lipat di balkon. Biar aku ambil."Seorang rekan langsung menahanku."Kamu duduk saja. Biar aku yang ambil."Pada saat itu, aku tiba-tiba teringat hari kemerdekaan tahun lalu.Sama-sama ada sebuah meja makan.Sama-sama ada satu orang tambahan yang datang secara mendadak.Namun
Tiga bulan kemudian, aku kembali ke kota tempat tinggalku dulu untuk perjalanan dinas karena sebuah proyek.Entah dari mana Terry mendapatkan kabar itu. Dia menungguku di bawah hotel. Kali ini dia tidak membawa hadiah dan juga tidak mengatakan ingin mengajakku pulang."Aku cuma ingin makan bersamamu. Untuk terakhir kalinya."Aku melihat waktu, lalu menyetujuinya.Dia memesan tempat di sebuah rumah makan biasa. Mejanya tidak besar, hanya tersedia dua tempat duduk.Setelah hidangan disajikan, dia mengambilkan semangkuk sup untukku. Gerakannya tampak kikuk hingga cukup banyak sup yang tumpah."Akhir-akhir ini aku belajar masak. Tapi, ikan asam manisku masih nggak pernah berhasil."Aku tidak menanggapi. Terry menunduk dan tertawa pelan."Dulu aku selalu merasa karena kamu bisa memasak, ya sudah sewajarnya kamu yang melakukannya.""Setelah kamu pergi, baru aku tahu kalau untuk menyiapkan satu kali makan saja harus membeli bahan, mencucinya, memasaknya, lalu setelah selesai makan masih harus
Setelah Terry pulang, Casper dan Juan juga datang ke Kota Southa. Mereka tidak mengadangku di depan kantor, hanya mengajakku bertemu di sebuah kafe.Dibandingkan Terry, setidaknya mereka masih ingat bahwa aku paling tidak suka menjadi tontonan orang.Casper mendorong sebuah amplop dokumen ke hadapanku. Di dalamnya ada foto-foto kami berlima selama bertahun-tahun. Atau lebih tepatnya, foto mereka bertiga bersamaku. Setelah Verren muncul, tempat yang tadinya menjadi milikku perlahan menghilang."Aku baru menyadarinya waktu membereskan foto-foto ini."Suara Casper terdengar berat, "Dulu, kamu selalu ada di setiap foto."Juan menundukkan kepala."Belakangan, setiap kali kami berkumpul, kamu yang memesan tempat, kamu yang memotret, dan kamu juga yang menjaga barang-barang. Kami jadi merasa, ada atau tidaknya kamu di dalam foto sama saja.""Apanya yang sama?" tanyaku.Keduanya terdiam.Casper menyesap kopi yang sudah benar-benar dingin."Maaf.""Waktu itu aku menarik kursimu, sebenarnya aku
Seminggu setelah aku mulai bekerja, Terry datang ke Kota Southa. Dia tidak memberitahuku. Saat pulang kerja, aku melihatnya di depan kantor dan nyaris tidak mengenalinya.Terry yang biasanya selalu memperhatikan penampilan, kini mengenakan kemeja kusut dan matanya dipenuhi urat merah. Di tangannya ada sebuah wadah makanan tahan panas."Aku bawain ikan asam manis untukmu."Aku tidak menerimanya."Siapa yang masak?""Ibuku.""Kalau begitu, sampaikan terima kasihku ke Tante."Aku berjalan melewatinya, tetapi dia segera menyusul."Wanda, kita bicara sebentar.""Aku masih harus lembur.""Dulu kamu nggak begini."Aku menghentikan langkah dan bertanya, "Dulu aku gimana?""Kamu nggak pernah mengabaikan telepon, nggak pernah nggak balas pesan, dan nggak pernah meninggalkan kami begitu saja."Dia mengatakannya dengan begitu wajar sampai aku tidak tahu harus bagaimana menanggapinya dalam sesaat."Terry, aku bukan pembantu kalian.""Aku nggak pernah menganggapmu begitu.""Waktu acara makan itu, si












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.