Short
Lima Kursi untuk Mereka, Satu Tiket Pergi untukku

Lima Kursi untuk Mereka, Satu Tiket Pergi untukku

By:  BurgundyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Acara makan bersama untuk merayakan hari kemerdekaan diadakan di rumah kontrakanku. Tiga teman masa kecilku hanya membeli minuman dan camilan, sementara Verren bilang dia tidak bisa memasak. Ada 12 hidangan yang harus kusiapkan. Aku sudah sibuk sejak pukul enam pagi sampai sore. Baru saja semua hidangan tersaji di meja, Verren tiba-tiba menerima telepon dari teman sekamarnya. "Dia nggak punya tempat untuk merayakan liburan. Aku boleh ajak dia nggak?" Aku memandang meja makan kecil yang hanya cukup untuk lima orang. Aku bahkan belum sempat menjawab ketika Casper sudah menarik kursiku. "Bukannya kamu bilang mungkin ada urusan di kantor? Kebetulan, kamu bisa pergi sekarang." Juan, teman masa kecilku yang lain, ikut tersenyum. "Lagian kamu juga makan masakanmu sendiri setiap hari. Nggak masalah kalau sesekali nggak ikut makan." Verren buru-buru melambaikan tangan dan berkata, "Kalau begitu, sudahlah. Biar dia pesan makanan sendiri saja." Ketiganya langsung membujuk Verren. "Dia sudah sampai di bawah. Mana mungkin kita mengusir tamu yang sudah datang?" Pacarku, Terry, memasukkan beberapa lauk yang sudah dingin ke dalam kotak makan hingga setengah penuh. "Ini kusisakan untukmu. Kalau nanti malam lapar, tinggal dipanaskan." "Jangan pasang muka begitu. Orang yang nggak tahu bisa mengira kami bertiga sengaja bersekongkol merundungmu." Aku menatap mereka yang duduk mengelilingi meja makan yang kubeli, menggunakan piring dan peralatan makan yang baru saja kuganti. Ternyata mereka juga tahu bahwa tamu tidak seharusnya diusir. Mereka hanya lupa bahwa akulah pemilik rumah ini. Aku melepaskan kunci rumah dari gantungan kunci milik Terry, lalu berkata, "Malam ini nggak perlu datang lagi." Ini rumahku. Kalaupun ada yang harus diminta pergi, seharusnya bukan aku.

View More

Chapter 1

Bab 1

Senyum di wajah Terry seketika lenyap.

"Apa maksudmu?"

"Nggak ada maksud apa-apa. Acara makannya selesai."

Casper menatapku sambil mengernyit.

"Dia sebentar lagi sampai. Kalau kamu ngusir orang sekarang, bukannya kamu sengaja mau mempermalukan Verren?"

"Kalau begitu, pindah saja ke tempat lain."

"Dua belas hidangan sudah selesai dimasak. Mau pindah ke mana?"

Juan menunjuk hidangan di atas meja, seolah akhirnya menemukan bukti bahwa aku hanya mencari gara-gara.

"Lagian, semua orang sudah sibuk seharian. Susah payah kita baru bisa ngumpul, tapi cuma karena ada satu tamu tambahan, kamu langsung pasang muka begitu. Memangnya perlu sampai segitunya?"

Sibuk seharian?

Casper membeli dua botol Coca-Cola.

Juan membawa sebungkus keripik kentang.

Terry mencuci enam gelas dan bahkan memecahkan salah satunya.

Sedangkan Verren, sejak masuk rumah dia hanya duduk di sofa sambil berfoto. Bahkan letak tisu saja harus bertanya padaku.

Aku tidak membantah. Aku hanya mengambil ponsel dan berkata, "Di bawah ada restoran yang masih punya ruang privat. Aku bungkusin semua makanan ini untuk kalian. Dengan begitu, nggak ada yang perlu merasa dipermalukan."

Terry menahan tanganku yang memegang ponsel.

"Sudahlah, nggak usah akting lagi. Kamu cuma merasa kami semua belain Verren, 'kan? Teman sekamarnya baru pertama kali datang. Memangnya kenapa kalau kamu mengalah sekali?"

Saat itu, bel pintu berbunyi.

Verren buru-buru berlari membukakan pintu. Teman sekamarnya, Lenni, masuk sambil membawa sebuah kue. Begitu melihatku, dia tertegun.

"Eh? Bukannya malam ini kamu lembur dan nggak ikut makan?"

Ruangan seketika sunyi.

Aku menoleh ke arah Terry. Dia menghindari tatapanku. Casper menunduk dan pura-pura sibuk mengutak-atik minuman, sementara Juan berpura-pura tidak mendengar.

Ternyata Lenni bukan datang secara mendadak. Mereka sudah merencanakan semuanya sejak awal. Hanya saja, tak seorang pun memberitahuku bahwa sejak awal memang tidak ada tempat untukku dalam acara makan malam ini.

Wajah Verren memucat.

"Mungkin aku salah ingat. Terry bilang kamu mungkin harus lembur ...."

"Kamu nggak salah ingat."

Aku mengambil kotak-kotak makanan dari dapur.

"Karena memang sudah direncanakan sejak awal, nggak perlu mengubah rencana hanya karena aku."

Terry melihatku memasukkan hidangan satu per satu ke dalam kotak dan akhirnya kehilangan kesabaran.

"Sudah cukup, 'kan? Kami cuma takut kalau ngasih tahu dari awal, kamu malah mikir macam-macam."

Aku menutup rapat kotak terakhir yang berisi iga asam manis.

"Sekarang kalian nggak perlu takut lagi. Bawa semuanya dan keluar."

Tak seorang pun dari mereka pernah melihatku mengusir orang sebelumnya.

Casper memasang wajah muram dan hendak mengatakan sesuatu, tetapi Terry menghentikannya. Terry mengangkat kantong berisi kotak-kotak makanan itu, lalu mencibir. "Ya sudah, pergi juga nggak masalah. Nanti kalau kamu sudah tenang, jangan malah nelepon aku sambil menangis."

Mereka bertiga pergi dengan membawa Verren dan Lenni.

Sebelum pintu tertutup, Verren masih menatapku dengan mata memerah. Seolah-olah dialah yang baru saja diusir dari rumahnya sendiri.

Setengah jam kemudian, dia mengunggah sesuatu di media sosial. Dalam foto itu, mereka berempat duduk mengelilingi meja kecil di ruang tamu rumah Terry sambil menyantap masakan buatanku.

Lenni tidak terlihat dalam foto. Hanya ada satu kalimat sebagai keterangan:

[ Untungnya, selalu ada seseorang yang bersedia memberiku sebuah rumah. ]

Terry membalas unggahan itu dengan emoji hati.

Aku tidak memberikan tanda suka.

Baru pukul satu dini hari dia mengirimiku pesan.

[ Panci dan mangkuknya biar di rumahku dulu. Besok datang untuk cuci. Sekalian buatkan sup pereda mabuk untuk Verren. ]

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status