เข้าสู่ระบบMinggu pagi di rumah utama keluarga Narendra masih terasa tenang saat Lintang sudah siap berangkat ke Bandung. Jam bahkan belum menunjukkan pukul delapan. Udara Jakarta masih belum terlalu panas, beberapa ART terlihat sibuk merapikan ruang makan. Sedangkan suasana rumah jauh lebih sepi dibanding malam-malam biasanya. Lintang menuruni tangga sambil membawa tas kerja hitam dan koper sedang di tangannya. Pakaiannya santai, kaos abu gelap dipadukan jaket hitam tipis dan celana panjang sederhana. Jauh dari kesan direktur perusahaan besar yang biasanya selalu tampil formal. Di ruang makan, Widya langsung menoleh begitu melihat putranya turun. “Cepet amat.” Lintang menarik kursi sambil tersenyum kecil. “Biar gak kemaleman nyampenya.” Widya langsung menuangkan kopi hangat ke cangkir putranya. Tatapannya masih terlihat seperti ibu yang enggan melepas anaknya pergi meski tahu hanya pindah kota sementara. “Kan besok baru mulai kerja di sana.” “Iya.” Lintang mengambil roti panggang di meja.
Mobil hitam milik Lintang Aksara Narendra akhirnya memasuki halaman rumah utama keluarga Narendra saat langit Jakarta benar-benar gelap. Lampu taman menyala hangat di sepanjang jalan masuk. Suara tawa dan obrolan sudah terdengar samar bahkan sebelum mobilnya berhenti sempurna di garasi samping rumah besar itu. Rumah keluarga Narendra memang hampir selalu ramai setiap malam menjelang akhir pekan, terutama Jumat malam. Ibunya sangat suka mengumpulkan keluarga besar. Sepupu, Om, Tante, anak-anak kecil. Semua datang silih berganti seperti rumah itu tidak pernah benar-benar sepi dan sejak kecelakaan beberapa tahun lalu… Lintang juga sudah tidak lagi tinggal sendirian di apartemen. Awalnya karena kondisi fisiknya pasca operasi masih harus sering diawasi. Ibunya terlalu khawatir membiarkannya sendiri. Lama-lama Lintang sendiri terbiasa kembali tinggal di rumah utama keluarga mereka. Meski kesibukannya tetap membuat dirinya jarang benar-benar menikmati rumah itu. Ia turun dan mobil sambil
Kehidupan Hazel perlahan mulai menemukan ritmenya kembali, meski melelahkan dan meski sering membuat tubuh dan pikirannya nyaris tumbang. Hazel tetap menjalaninya pelan-pelan. Pagi hari rumah kecil di Jakarta Selatan itu selalu ramai sejak subuh. Suara tangisan bayi, suara mainan jatuh, ocehan kecil yang belum jelas dan langkah Miranti yang mondar-mandir membantu menyiapkan semuanya. Hazel biasanya sudah bangun bahkan sebelum alarm berbunyi. Kadang karena Leyan terbangun lebih dulu, kadang karena Liana mendadak aktif sendiri di atas kasur dan kadang karena Lintang yang diam-diam sudah duduk bangun memperhatikan dua saudaranya ribut. Hari-hari Hazel sekarang benar-benar penuh. Pagi mengurus bayi, siang kuliah, malam kembali jadi ibu untuk tiga anak kecil yang energinya seperti tidak pernah habis. Tubuhnya sering lelah, lingkar hitam samar di bawah matanya masih belum benar-benar hilang. Kadang pundaknya terasa nyeri karena terlalu sering menggendong anak bergantian dan kadang kepala
Langit di luar apartemen Lintang Aksara Narendra perlahan berubah gelap. Cahaya musim dingin yang sejak siang menggantung pucat kini benar-benar menghilang, digantikan lampu kota Jerman yang menyala dingin di balik jendela besar apartemennya. Sedangkan Lintang masih duduk di tempat yang sama. Laptop di meja sejak tadi tidak disentuh lagi. Kopi di sampingnya sudah dingin dan layar ponselnya masih memperlihatkan foto tiga bayi kecil yang dikirim Kevin beberapa jam lalu. Hari yang awalnya biasa saja berubah kacau total hanya karena tiga foto. Tiga anak kecil yang bahkan tidak tahu keberadaannya mengaduk isi kepalanya seperti ini. Lintang menyandarkan kepala ke sofa perlahan sambil menatap kosong langit-langit apartemen, hanya suara pendingin ruangan dan samar kendaraan dari luar yang terdengar sesekali. Namun isi kepalanya jauh dari tenang. Kalau kalau benar dua bayi itu darah dagingnya, Lintang langsung memejamkan mata rapat dan napasnya terasa berat. Apa yang harus dia lakukan? Per
Hari sudah mulai sore saat Kevin akhirnya berdiri dari karpet ruang tengah. Langit di luar jendela mulai berubah jingga samar. Suasana rumah kecil itu juga perlahan lebih tenang dibanding tadi. Leyan Arvindra sudah mulai mengantuk sambil bersandar di dada ibunya. Sedangkan Lintang kembali sibuk memainkan balok kain dengan ekspresi seriusnya. Kevin merapikan hoodie-nya pelan sambil tersenyum kecil. “Aku pulang dulu ya.” Hazel langsung mengangguk. “Iya Kak, hati-hati.” Namun baru saja Kevin berdiri penuh, tangan kecil mendadak menarik ujung hoodie-nya lagi. “Heh…” Kevin langsung menoleh ke bawah. Liana Naya sedang berdiri sambil berpegangan di pahanya. Matanya bulat menatap Kevin lurus. “Daah…” ocehnya kecil sambil mengangkat kedua tangan. Minta digendong jelas sekali. Hazel langsung menahan tawa. “Liana…” Kevin ikut tertawa kecil lalu refleks mengangkat bayi perempuan itu lagi dan ajaibnya baru beberapa detik dipeluk Kevin, Liana langsung anteng bersandar di bahunya.
Kevin masih diam beberapa detik setelah mendengar nama bayi pertama itu. Tatapannya belum benar-benar lepas dari wajah kecil Lintang Akhsena yang duduk tenang di pangkuan ibunya. Bayi itu bahkan tidak rewel, hanya memperhatikan Kevin dengan mata hazelnya yang terang dan tenang. “Bagus kan namanya?” Hazel Chiara Parameswari tersenyum kecil sambil mengusap rambut putra sulungnya pelan. Kevin langsung cepat-cepat menarik napas kecil lalu mengangguk. “Iya…” Suaranya sedikit tertahan. “Bagus.” Hazel tampak tidak menyadari perubahan kecil di wajah Kevin. Ia justru terlihat jauh lebih hidup saat mulai memperkenalkan anak-anaknya satu per satu. Aura seorang ibu benar-benar terasa kuat sekarang. “Nah…” Hazel menoleh ke arah bayi perempuan yang sejak tadi sibuk berusaha turun dari gendongan Miranti. “…kalau ini anak kedua aku.” Miranti langsung menyerahkan bayi perempuan itu ke pangkuan Hazel dan benar saja baru beberapa detik dipangku, bayi kecil itu langsung bergerak aktif menarik kalung







