Compartir

BAB 68 Familiar

Autor: Adw_Canss781
last update Fecha de publicación: 2026-06-14 22:59:42

Kevin masih diam beberapa detik setelah mendengar nama bayi pertama itu. Tatapannya belum benar-benar lepas dari wajah kecil Lintang Akhsena yang duduk tenang di pangkuan ibunya. Bayi itu bahkan tidak rewel, hanya memperhatikan Kevin dengan mata hazelnya yang terang dan tenang.

“Bagus kan namanya?” Hazel Chiara Parameswari tersenyum kecil sambil mengusap rambut putra sulungnya pelan.

Kevin langsung cepat-cepat menarik napas kecil lalu mengangguk. “Iya…” Suaranya sedikit tertahan. “Bagus.”

Ha
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 152 Berhak Tahu

    Suasana ruang tengah rumah itu masih dipenuhi keheningan berat. Dari lantai dua suara anak-anak mulai terdengar lebih pelan sekarang. Mungkin mereka sudah selesai mandi dan sedang sibuk memakai pakaian. Namun di bawah sini, percakapan dua bersaudara itu justru makin dalam. Levian duduk sambil menatap adiknya lama. Sedangkan Lintang masih bersandar di sofa dengan wajah lelah. Tatapan matanya kosong dan setelah cukup lama diam akhirnya Levian kembali bicara. “Kapan rencana lo mau ngasih tau dia?” Pertanyaan itu langsung membuat rahang Lintang sedikit menegang. Tatapannya turun lagi. “Gue…” Kalimatnya menggantung cukup lama. “Belum tau.” Jawaban itu membuat Levian langsung mengembuskan napas berat, sebenarnya dia sudah menduga. Lintang terlalu takut untuk sampai ke tahap itu. Takut kehilangan semuanya sekaligus. Namun kali ini Levian tidak membiarkan adiknya terus menghindar. “Dia berhak tau.” Nada suaranya tegas sekarang. Lintang diam. Sedangkan Levian melanjutkan sambil mencond

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 151 Yang Pertama

    Suasana ruang tengah rumah itu terasa semakin berat. Lampu ruang tamu menyala redup kekuningan. Sedangkan dari lantai dua, masih terdengar samar suara anak-anak berceloteh kecil sambil mandi dan berganti pakaian. Suara-suara kecil itu membuat pengakuan Lintang terasa jauh lebih menyakitkan. Anak-anak yang tertawa di atas sana, lahir dari malam yang menghancurkan hidup seseorang. Levian masih duduk diam memandang adiknya. Sedangkan Lintang sendiri terlihat sangat lelah sekarang. Bukan lelah fisik, melainkan lelah karena terlalu lama memendam semuanya sendirian. Setelah cukup lama diam akhirnya laki-laki itu kembali bicara. “Gue gak tau… Gue bingung harus bereaksi gimana.” Tatapannya kosong lurus ke depan. “Pas tau mereka anak gue… gue seneng.” Kalimat itu keluar lirih. “Sumpah gue seneng.” Itu adalah kejujuran paling polos yang keluar dari dirinya sejak tadi. Selama bertahun-tahun, Lintang hidup dengan keyakinan bahwa dirinya mungkin tidak akan pernah punya keturunan. Divonis s

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 150 Anak Gue

    Suasana ruang tengah rumah itu berubah sangat sunyi. Bahkan suara anak-anak dari lantai dua terasa samar sekarang. Levian masih berdiri di depan sofa sambil menatap adiknya lekat. Sedangkan Lintang duduk diam beberapa detik dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuhnya. Tatapannya lurus ke lantai. Setelah cukup lama hening, akhirnya laki-laki itu bicara. “Memang darah daging gue.” Kalimat itu keluar begitu saja dengan tenang. Namun langsung membuat tubuh Levian membeku. Tatapan matanya langsung berubah tajam. “Apa?” Lintang mengangkat wajah pelan. Matanya terlihat lelah sekarang. “Anak-anak itu, anak gue.” Tidak ada penyangkalan, tidak ada usaha menghindar dan justru itu yang membuat dada Levian terasa makin berat. Karena berarti semua firasatnya sejak tadi benar. Ruangan kembali hening beberapa detik. Lalu akhirnya Lintang kembali bicara pelan. “Dulu... Gue sempat benci Hazel.” Nama itu membuat Levian langsung mengernyit. Sedangkan Lintang terus melanjutkan tanpa memand

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 149 Hutang Penjelasan

    Keramaian kecil di ruang rawat itu masih berlanjut saat Lintang mulai membantu anak-anak merapikan barang mereka. Tas sekolah kecil milik Liana disampirkan ke pundak anak itu. Botol minum milik Leyan yang tadi hampir tertinggal juga langsung diambilkan. Sedangkan Levian masih berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana jasnya. Tatapan matanya terus memperhatikan adiknya. Semua ini semakin terasa aneh dan rasa penasarannya jelas sudah di ujung kepala sekarang. Akhirnya dengan santai laki-laki itu buka suara. “Gue ikut.” Tangan Lintang yang sedang membantu merapikan hoodie kecil Leyan langsung berhenti sebentar. Lalu tanpa melihat kakaknya dirinya menjawab datar. “Ngapain lo ikut.” Levian langsung berjalan mendekat sampai berdiri tepat di dekat Lintang. Lalu dengan gerakan cepat, dirinya sedikit menunduk dan berbisik pelan di telinga adiknya. “Inget ya... lo hutang penjelasan sama gue.” Nada suaranya jauh lebih serius dibanding sebelumnya. Kalimat itu langsung membuat rah

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 148 Tak Mudah

    Langkah Lintang yang tadi berjalan tenang di lorong akhirnya melambat saat melihat dua sosok duduk di kursi tunggu dekat jendela koridor, Hazel dan Miranti. Keningnya langsung sedikit mengernyit. Seharusnya mereka sudah kembali ke ruang rawat dari tadi. Apalagi kondisi Hazel juga masih lemas setelah visum. Laki-laki itu akhirnya berjalan mendekat pelan. “Kenapa masih di luar?” Suara rendahnya membuat Miranti langsung menoleh. “Eh, Lintang…” Perempuan itu tersenyum kecil tipis. “Ini Hazel minta duduk dulu sebentar di sini.” Tatapan Lintang langsung berpindah ke arah Hazel. Detik itu juga dia langsung sadar, mata perempuan itu merah. Kelopak matanya sedikit bengkak dan wajahnya jelas baru habis menangis. Langkah Lintang otomatis berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya tertahan cukup lama pada Hazel. Ada sesuatu di dadanya yang langsung terasa berat melihat perempuan itu seperti ini lagi. Hazel bukan tipe yang mudah menangis di depan orang lain. Berarti pasti ada sesuatu yang bena

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 147 Ayah Jahat

    Sementara Lintang masih berada di lorong rumah sakit, suasana di dalam ruang rawat justru berubah jauh lebih tenang. Levian duduk santai di sofa panjang sambil memperhatikan tiga anak kecil yang sekarang mulai sibuk sendiri. Leyan sedang makan camilan yang tadi dibelikan Levian. Sedangkan Liana sibuk memainkan gantungan boneka kecil di tas sekolahnya. Sementara Lintang kecil duduk lebih diam dibanding dua adiknya. Dan makin lama melihat mereka, pikiran Levian makin dipenuhi rasa aneh. Tiga anak ini terlalu nyaman dengan adiknya. Nyaman sampai terasa seperti keluarga sungguhan. Akhirnya laki-laki itu memutuskan bertanya langsung. “Kenapa kalian panggil Lintang ayah? Apa dia ayah kalian?” Pertanyaan itu membuat dua anak kecil langsung menoleh bersamaan. Sedangkan Lintang kecil menjawab lebih dulu pelan. “Bukan.” Jawabannya singkat. Namun sebelum Levian sempat lanjut Liana langsung menyahut polos. “Soalnya ayah Lintang baik. Gak kayak ayah tiri kami.” Detik itu senyum santai di wa

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 7 Insiden di Tangga

    Pagi itu, udara kampus terasa segar. Mahasiswa lalu-lalang dengan tas di bahu, suara sepatu di lantai keramik membaur dengan deru kendaraan dari jalan dekat gerbang kampus. Lintang melangkah ringan menuju fakultas tempat Melisa biasa menghabiskan beberapa jam pertama kuliahnya. Kali ini ada yang ber

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 6 PDKT Semakin Intens

    Sore itu, perpustakaan kampus tampak lebih sepi dari biasanya. Melisa duduk di salah satu meja panjang, laptop terbuka di depannya, dikelilingi buku-buku referensi dan catatan kecil. Ia sedang fokus menulis tugas, sesekali menghela napas ketika sulit menemukan referensi yang sesuai. Lintang muncul

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 5 PDKT

    Lintang berjalan santai di koridor kampus, masker menutupi sebagian wajahnya, tapi tatapannya tetap tajam dan penuh perhitungan. Mata hitam legamnya mengamati arah kelas di mana Melisa baru saja keluar, beberapa teman mengiringi dari belakang. Hari ini, Lintang menargetkan beberapa momen kecil, sesu

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 4 Hazel dan Hari-Harinya

    Pagi itu, Hazel sudah bangun lebih awal seperti biasa. Matahari belum sepenuhnya menembus jendela kamar kosnya, tapi ia sudah menyiapkan tas, buku catatan, dan beberapa peralatan praktis untuk kuliah. Rambutnya dikuncir sederhana, kacamata menempel di wajahnya, dan kemeja nude oversize yang rapi dip

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status