分享

Bab 3

作者: Silas
Setelah berhasil menidurkan Alvian, Clara pun berbalik turun ke lantai bawah untuk merebus obat yang diresepkan dokter.

Namun, begitu tiba di lantai bawah, sebuah kelereng mengenai kepalanya dan langsung membuatnya benjol.

Clara mendesis pelan. Saat mendongak, dia melihat Diego berdiri di lantai dua sambil terus melemparkan berbagai barang ke bawah.

Gelas kaca, kotak musik, dan mobil mainan berjatuhan menghantam tubuhnya hingga dipenuhi memar.

Saking sakitnya, wajah Clara meringis. Dia mengangkat tangan melindungi kepala sambil berjongkok.

"Apa yang kau lakukan!"

Melihat penampilan Clara yang kacau, Diego mengangkat dagunya dengan wajah penuh kesombongan.

"Aku cuma melempar barang buat main. Siapa suruh kau bodoh dan nggak menghindar? Kalau terluka, itu juga salahmu sendiri!"

Clara mendongak dengan tatapan penuh keterkejutan. Suaranya dipenuhi amarah.

"Apa ibumu nggak pernah mengajarimu kalau nggak boleh melempar barang ke orang lain?"

Diego mendengus dingin. Baru saja hendak membalas, dia mendengar langkah kaki di belakangnya. Seketika itu juga, dia langsung memaksa beberapa tetes air mata keluar dan menerjang ke pelukan Rian.

"Paman Rian, tadi aku nggak sengaja melempar ke Bibi Clara, tapi dia malah memarahiku!"

Mendengar itu, wajah Rian langsung menggelap.

"Diego cuma bercanda. Perlukah kau membesar-besarkan masalah ini sampai memarahi anak kecil?"

Mendengar bentakannya, Clara menutupi kepalanya yang berdarah akibat lemparan itu. Dia hanya merasa semua ini begitu menggelikan.

"Dia melempariku sampai seluruh tubuhku penuh luka, tapi di matamu justru aku yang dianggap menindasnya?"

Rian menoleh. Saat melihat luka-luka yang memenuhi tubuh Clara, dahinya sedikit berkerut.

Sikapnya memang sedikit melunak, tetapi dia tetap membela Diego.

"Dia masih anak kecil dan juga nggak sengaja. Cuma luka ringan begitu, cukup oleskan obat, jangan memperpanjang masalah lagi."

Setelah mengatakannya, Rian membungkuk menghapus air mata di wajah Diego, lalu menggandengnya masuk ke kamar.

Memandang pintu yang perlahan tertutup, Clara menggigit bibir kuat-kuat, sepuluh jarinya menancap dalam ke telapak tangan.

Dia menarik napas dalam-dalam beberapa kali sebelum akhirnya berhasil menekan gejolak emosi di dalam hati. Setelah itu, Clara membawa obat tersebut ke dapur.

Sepanjang sore, dia terus menjaga api di atas kompor tanpa berani meninggalkannya selangkah pun.

Setelah obat selesai direbus, dia menuangkan semangkuk obat dan hendak membawanya ke lantai atas. Namun, tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari luar, disusul tangisan yang memilukan.

Menyadari telah terjadi sesuatu, kelopak mata Clara langsung berkedut.

Dia segera berlari keluar dan melihat Diego terjatuh di ruang tamu sambil menangis meraung-raung.

Di atas tangga, Alvian memeluk erat pegangan tangga. Wajahnya yang dipenuhi air mata tampak begitu panik sambil terus memanggil ibunya.

Detik berikutnya, Tamara Davka berlari sambil menangis, lalu dengan kasar mendorong Alvian hingga jatuh dari tangga.

Clara tidak sempat menghentikannya. Dia hanya bisa menyaksikan Alvian terguling menuruni tangga hingga dahinya robek dan berlumuran darah.

"Alvian!"

Darah merah pekat terus mengalir, membasahi lantai sekaligus kedua tangan Clara.

Dia memeluk putranya yang sudah pingsan. Hatinya kacau balau, sementara suaranya dipenuhi kepanikan dan keputusasaan.

"Cepat panggil ambulans! Ibu di sini, Alvian ... bangunlah ...."

Begitu mendengar keributan, Rian segera berlari menghampiri. Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, Diego sudah menangis sambil mengadu.

"Paman Rian, waktu melihat Dik Alvian sudah bangun, aku berniat membantunya turun tangga. Tapi dia malah mendorongku sampai jatuh. Sakit sekali ...."

Mendengar itu, Tamara juga menangis tersedu-sedu sambil memandang Clara.

"Clara, kalau memang kau nggak mau kami tinggal di sini, katakan saja terus terang. Buat apa mengajari putramu menyakiti anakku? Kau juga seorang ibu. Tega sekali kau melakukan ini."

Mendengar tangisan dan tuduhan ibu dan anak itu, amarah Rian langsung berkobar. Tatapannya ke arah Clara begitu suram hingga terasa menakutkan.

"Clara, jadi seperti ini caramu mendidik putramu? Tamara dan Diego adalah orang yang kubawa pulang. Kalau kau punya keluhan, seharusnya lampiaskan kepadaku, bukan menindas anak kecil yang baru berusia lima tahun!"

Menghadapi bentakan penuh amarah itu, Clara hanya menutupi luka Alvian yang terus mengucurkan darah. Hatinya terasa hancur berkeping-keping.

Dengan mata memerah, dia menatap Rian sambil berteriak penuh keputusasaan.

"Alvian nggak bisa melihat. Nggak mungkin dia sengaja mendorong orang sampai jatuh! Kau sama sekali nggak melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa kau langsung menyalahkan putramu sendiri? Kau bahkan nggak mau mendengarkan penjelasan Alvian, apalagi memeriksa rekaman CCTV buat mencari tahu kebenarannya!"

Saat itu, Rian sudah dikuasai amarah. Baginya, Clara hanya sedang mencari-cari alasan sehingga kemarahannya makin memuncak.

"Cukup! Diego baru berusia lima tahun. Apa mungkin dia berbohong? Fakta sudah jelas, aku nggak mau lagi mendengar alasan-alasan kosongmu! Kalau kau nggak bisa mendidik putramu, biar aku yang mendidiknya!"

Usai mengucapkan kalimat itu, Rian langsung memanggil kepala pelayan dengan suara keras.

"Alvian sengaja mencelakai tamu. Sesuai aturan keluarga, hukum dia dengan dua puluh cambukan!"

Mendengar perintah itu, Clara langsung terpaku. Dia mengangkat kepala dengan wajah penuh ketidakpercayaan.

"Alvian terluka separah ini, tapi kau masih mau menghukumnya? Rian, apa kau sudah lupa kalau dia adalah putra kandungmu sendiri?"

"Dia telah berbuat salah, jadi sudah seharusnya dihukum. Sekalipun dia putra kandungku, aku sama sekali nggak bakal memaafkannya!"

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 21

    Rian tiba-tiba tertawa. Namun, senyum itu dipenuhi kepahitan yang tidak berujung.Dengan tangan gemetar, dia membuka kancing jasnya, lalu menarik paksa kemejanya.Bekas luka yang mengerikan membentang di perut kiri, menyerupai seekor kelabang raksasa.Benang jahitnya bahkan belum sepenuhnya dilepas, masih tampak merah mengerikan."Clara, Alvian ... lihatlah." Dia mengulurkan tangan ke arah mereka dengan tatapan kosong."Aku benar-benar sudah mendonorkan ginjalku .... Aku benar-benar tahu aku salah. Apa ini bisa dianggap sebagai penebusan untuk kalian?""Maukah kalian memberiku satu kesempatan? Maukah kalian memaafkanku?"Vian ketakutan dan langsung memeluk ibunya.Freya menutupi mata putranya. Melihat tatapan Rian yang nyaris kehilangan kewarasan, tanpa sadar hatinya ikut merinding."Minggu depan giliran mataku. Aku sudah mengambil sepasang mata Vian, sekarang aku bakal mengembalikannya pada kalian." Rian melangkah sempoyongan ke depan, sorot matanya dipenuhi kegilaan."Apakah itu suda

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 20

    Meskipun hari itu Freya dengan tenang dan tegas menolak Rian, selama setengah bulan berikutnya dia terus hidup dalam ketakutan.Setiap kali mengantar Vian ke taman kanak-kanak, dia selalu memastikan berulang kali tidak ada sosok mencurigakan di sekitarnya. Saat pulang kerja dan mendengar suara langkah kaki di belakangnya, dia langsung menoleh dengan waspada.Bahkan di tengah malam, dia sering terbangun karena mimpi buruk, bermimpi Rian datang untuk merebut anak mereka.Yang tidak Freya ketahui adalah, setiap hari Rian selalu berjaga tidak jauh darinya.Mulai dari pagi saat dia keluar rumah, ketika mengantar Vian ke taman kanak-kanak, hingga berjalan pulang sendirian setelah bekerja.Rian selalu setia menemani dari dekat, menatap mereka tanpa berkedip.Hingga suatu hari, badai salju melanda dan Freya harus lembur sampai larut malam.Karena bus sudah berhenti beroperasi, dia terpaksa berjalan pulang menerjang angin dan salju.Tiba-tiba, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang.

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 19

    Pukul tiga dini hari, salju turun makin lebat di kota kecil di kawasan Nourdik.Rian berdiri di depan rumah kayu berwarna putih yang ada di dalam foto itu. Entah sudah berapa lama dia menunggu dalam diam. Bahkan mantel hitam yang dikenakannya telah tertutup lapisan salju yang tebal.Bulu matanya diselimuti embun beku, jari-jarinya membiru karena kedinginan. Namun, tanpa berkedip sedikit pun, dia terus menatap jendela di lantai dua yang masih menyala.Di balik jendela itu, Freya sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk Vian."Ibu, kapan Ayah Oliver pulang?" tanya Vian sambil mengusap matanya yang mengantuk."Ayah Oliver lagi pergi dinas. Dua hari lagi dia bakal pulang." Freya mengecup kening putranya, lalu menjawab dengan lembut.Saat hendak mematikan lampu, seperti biasa dia melirik ke luar jendela.Namun, hanya dengan satu lirikan itu, napasnya seolah berhenti seketika.Sosok yang berdiri di tengah salju itu, sekalipun sudah menjadi abu, tetap akan dikenalinya.Itu adalah Rian.B

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 18

    Sejak hari itu, Rian terus-menerus menonton rekaman CCTV lama di Kediaman Atmaja.Rian tahu bahwa selama ini dirinya telah banyak salah paham terhadap Clara dan Alvian. Namun, ketika akhirnya mengetahui kebenarannya dan ingin menebus semua kesalahannya.Ternyata, dia bahkan sudah tidak memiliki kesempatan untuk menebusnya.Rian memulangkan semua pelayan di rumah, lalu mengurung diri sendirian di Kediaman Atmaja. Hari demi hari, dia hanya memandangi rumah tempat mereka bertiga pernah tinggal bersama, serta jejak Clara yang sudah hampir tidak tersisa.Baru pada saat itulah Rian menyadari bahwa selama ini perhatiannya kepada ibu dan anak itu benar-benar terlalu sedikit.Bukan hanya tidak pernah memercayai mereka, dia juga tidak pernah memberikan sedikit pun perhatian atau kepedulian kepada mereka.Dalam rekaman itu, Clara tampak kurus dengan punggung yang memancarkan kelelahan akibat kerja keras, sementara wajah Rian sendiri dipenuhi sikap dingin dan tidak berperasaan. Melihat semua itu,

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 17

    Di dalam negeri, Kota B.Tamara sedang mencoba beberapa tas di sebuah butik barang mewah.Tas tangan kulit buaya edisi terbaru itu dibanderol dengan harga sembilan digit. Tanpa berkedip sedikit pun, dia langsung meminta pramuniaga membungkusnya.Di sampingnya, Diego terus menarik-narik lengan bajunya sambil merengek."Ibu, aku mau robot itu! Kemarin Ibu sudah janji mau membelikannya!""Iya, iya, beli semuanya." Tamara menjawab dengan nada asal-asalan sambil mengernyit. Kemudian, dia menggesek kartu dengan santai.Matanya tertuju pada kartu tambahan yang diberikan Rian. Dalam hati, dia mulai menyusun rencana agar malam nanti Rian mau mengganti mobilnya dengan yang baru.Tiba-tiba, ponselnya berdering.Begitu melihat nama Rian di layar, senyumnya langsung mengembang."Halo, Rian?" Dia mengangkat telepon dengansuara yang begitu lembut."Aku dan Diego lagi di ...."Namun, suara dari seberang telepon sama sekali tidak mengandung kelembutan maupun kasih sayang seperti biasanya."Pulang sekar

  • Saat Bintang Meredup, Mimpi Pun Pupus   Bab 16

    Pada hari Vian diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Oliver datang sendiri untuk menjemput mereka.Saat berdiri di depan kamar pasien, jas putihnya sudah berganti dengan mantel panjang berwarna abu-abu tua. Di tangannya tergantung sebuah tas ransel kecil berbentuk bunga matahari."Paman Oliver!" Vian berlari menghampiri dengan riang, lalu memeluk kakinya.Oliver berjongkok hingga sejajar dengannya, lalu bertanya dengan lembut, "Matamu masih sakit?"Vian menggeleng patuh. Dia membuka sedikit perban di matanya, memperlihatkan sepasang mata yang masih tampak agak kemerahan.Oliver dengan lembut menyentuh pipi kecilnya."Mulai sekarang, setiap hari Rabu, Paman bakal menjemputmu buat kontrol ke rumah sakit, oke?"Freya yang berdiri di samping sambil membawa tas berisi barang-barang mereka tampak sedikit ragu."Apa itu nggak terlalu merepotkanmu?""Mana mungkin merepotkan." Oliver dengan lembut mengambil tas dari tangannya, lalu berkata pelan."Kebetulan jalanku searah dengan kalian."Freya

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status