Share

Bab 2

Author: Duyla
Setelah menutup telepon, hati Valeria terasa begitu cemas.

Baginya, orang yang paling berharga di dunia ini adalah Devan, kakaknya.

Sewaktu kecil, kakaknya menemani dia luntang-lantung di jalanan. Mereka pernah berebut roti dengan anjing liar dan berkelahi dengan para pengemis. Namun, dalam situasi sesulit apa pun, sosok Devan yang lemah itu selalu pasang badan untuk melindunginya.

Dia tidak boleh membiarkan hal buruk terjadi pada kakaknya.

Valeria pun segera menghubungi nomor telepon Devan. Meski kakaknya hanya bisa mengucapkan satu kata saja, setidaknya itu cukup untuk membuktikan bahwa dia masih hidup.

Telepon pertama, ditolak.

Telepon kedua, tetap ditolak.

Pelipis Valeria berdenyut-denyut. Sorot matanya memancarkan kegelisahan.

Dengan cepat, Valeria mengetikkan kalimat di ponselnya: [Kak, aku akan cari cara untuk menyelamatkanmu. Bagaimanapun caranya, Kakak harus bertahan hidup.]

Lalu, Valeria mengirimkannya pada Devan.

Setengah jam kemudian, tiba-tiba Valeria menerima panggilan video dari Devan.

Valeria menerima panggilan itu dengan penuh sukacita. Namun, dia langsung merasa syok dan ketakutan, setelah melihat gambar di layar.

Devan tampak bertelanjang dada dan terikat tali rami. Sementara, pada tubuhnya yang kurus itu terdapat luka-luka yang masih mengucurkan darah segar.

Wajah Devan tampak pucat pasi. Dia memalingkan muka karena tidak ingin Valeria melihat keadaannya.

Felix tertawa mesum. "Kenapa malah malu-malu begitu? Biarkan adikmu melihat penampilanmu yang sekarang."

"Valeria, di hari pertama, aku mencambuknya 99 kali. Dia menggelepar dan memohon ampun kayak ikan sekarat."

"Hari kedua, aku melemparkannya ke dalam kolam air yang sedingin es. Dia pingsan karena kedinginan."

"Hari ini, menurutmu, bagaimana cara yang bagus untuk bermain-main dengannya?"

Setelah berkata seperti itu, Felix mengambil sebatang lilin dan meneteskan lelehannya ke tubuh Devan.

Mata Valeria memerah karena amarah yang hebat, tetapi dia tidak berdaya. Valeria hanya bisa memohon dengan suara gemetar, "Felix, aku mohon padamu, lepaskan kakakku!"

"Cih, aku belum puas bermain," kata Felix dengan nada mengejek. "Tapi, kalau kamu mau datang dan menemaniku bermain bersama, aku bisa pertimbangkan untuk melepaskannya lebih awal, gimana?"

Mendengar hal itu, Devan pun menoleh. Suaranya terdengar serak. "Valeria, jangan percaya kata-katanya!"

Felix menendang perut Devan dengan keras, lalu membentaknya dengan kejam, "Sejak kapan, kamu berhak untuk bicara?!"

"Valeria, tenang saja. Aku nggak bakal membiarkannya mati. Aku akan pelan-pelan bermain dengannya."

Sambungan telepon di seberang diputus. Valeria mencoba menelepon balik beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.

Valeria tidak mampu lagi membendung teriakan histerisnya. Rasa putus asa dan kebencian menjalar memenuhi relung hatinya. Air matanya mengalir deras, dia nyaris hancur.

...

Tanpa memedulikan luka-lukanya yang belum sembuh, Valeria mencabut paksa jarum infus di lengannya dan berlari kembali ke kediaman Keluarga Linggar.

Pada saat itu, Calvin dan Tania sedang bersama. Melihat penampilan Valeria yang berantakan, Calvin pun menatapnya dengan dingin dan berkata, "Lukamu bahkan belum pulih. Masalah apa yang begitu mendesak, sampai bikin kamu panik begini?"

Valeria langsung bersimpuh di atas lantai yang dingin. Suaranya gemetar tak terkendali.

"Pak Calvin, aku mohon selamatkan kakakku. Dia hampir mati disiksa Felix! Aku mohon! Selamatkan dia!"

Tatapan mata Calvin yang semula acuh tak acuh, langsung menjadi dingin. Dia pun berkata pelan, "Lagi-lagi demi kakakmu?"

"Di hatimu, apakah dia sebegitu pentingnya?"

Baru saja Valeria hendak menjawab, Calvin tiba-tiba terkekeh sinis. "Apa dia bahkan lebih penting dariku, majikanmu ini?"

Tania menarik lengan Calvin sambil merajuk manja. "Kakakku nggak bakalan menyakitinya. Calvin, kamu harus percaya padaku."

Setelah berkata seperti itu, Tania menoleh ke arah Valeria dan berkata dengan nada mengejek, "Kamu itu cuma pengawal. Atas dasar apa, kamu suruh Calvin menuruti kata-katamu?"

Tangan Calvin mengusap kepala Tania dengan penuh kasih sayang. "Aku mengerti."

Lalu, Calvin kembali bersikap tenang dan acuh tak acuh seperti biasanya. "Karena kamu merasa nggak perlu lagi memulihkan luka, jadilah pengawal pribadi Tania. Dia akan segera menghadiri perjamuan amal."

"Kalau terjadi sesuatu padanya, aku akan menuntut pertanggungjawabanmu!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 21

    Di kediaman lama Keluarga Aryaka.Valeria menyeduh secangkir teh panas untuk menghangatkan tubuh. Dia berharap kepulan uapnya bisa mengusir rasa dingin yang menyelimuti hatinya.Baru saja, saat dia melihat Calvin, bayangan kematian tragis kakaknya langsung terlintas di depan mata.Kenangan masa lalu itu masih terekam jelas, menyisakan kebencian yang sulit hilang di dasar hati Valeria."Valeria, Paman bilang Bi Salma baru saja membuat kue stroberi. Kamu mau coba sedikit?"Valeria tidak menjawab. Dia menyesap tehnya, lalu berkata pelan, "Bayu, menurutmu aku ini begitu nggak berguna, ya? Jelas-jelas dialah pelaku utama yang menyebabkan kematian kakakku. Tapi, waktu melihatnya, instingku justru ingin bersembunyi.""Selama sepuluh tahun terakhir, tiap hari aku dicuci otak untuk setia kepadanya. Sampai hari ini pun, tubuhku masih menyisakan insting-insting itu ….""Dulu, aku benar-benar mengira kalau di mana pun ada dia, di situlah rumahku."Belum sempat Valeria menyelesaikan kalimatnya, Bay

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 20

    Calvin menahan beberapa hantaman tongkat itu tanpa mengelak sedikit pun dan tanpa mengerang kesakitan sedikit pun.Para pengawal di sampingnya berniat maju untuk melindunginya. Akan tetapi, Calvin menghentikan mereka. "Kalian semua berdiri di sana. Jangan ada yang bergerak!"Calvin tahu betul bahwa tanpa pengampunan dari Pak Teja, dia tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Valeria.Dialah yang sudah menyebabkan kematian Devan dan dia juga yang dengan tangannya sendiri melepaskan tembakan yang nyaris menewaskan Valeria.Jangankan dipukuli, sekalipun harus menghadapi penderitaan atau bahaya ekstrem demi menebus kesalahan, Calvin akan menjalaninya dengan rela hati.Pak Teja memukul belasan kali hingga dia terengah-engah karena kelelahan."Pergi kamu dari sini!""Bajingan sepertimu nggak pantas menginjakkan kaki di kediaman Keluarga Aryaka!"Ekspresi wajah Calvin tidak berubah sedikit pun. Dengan suara gedebuk, Calvin langsung berlutut di tanah."Semua ini salahku! Selama Anda mengizin

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 19

    Vila Keluarga Linggar.Tania dibuang ke area penangkaran anjing selama tiga hari. Seluruh tubuhnya bersimbah darah. Bergerak sedikit saja sudah cukup untuk membuat Tania merasakan sakit yang menyayat ke sekujur tubuhnya.Rasa sakit itu begitu hebat hingga Tania tidak sanggup lagi meneteskan air mata. Dia hanya bisa memohon dengan suara lirih, "Calvin, aku benar-benar menyadari kesalahanku …."Suara Calvin terdengar dingin. "Cukup. Lemparkan dia ke kamp pelatihan. Kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan.""Jangan! Tolong jangan!"Tania tahu betapa mengerikannya kamp pelatihan Keluarga Linggar. Dia pun tak kuasa menahan diri untuk tidak berteriak histeris.Dibandingkan kamp pelatihan itu, Tania jauh lebih memilih dibuang ke penangkaran anjing."Tahu rasanya takut sekarang?" Calvin menatap Tania dengan wajah tanpa ekspresi. "Valeria masuk ke kamp itu saat berusia tujuh tahun. Begitu banyak bahaya yang sudah dia lalui hingga akhirnya bisa berdiri hidup-hidup di hadapanku. Kamulah yang su

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 18

    Kota Padma.Saat ini, Valeria sedang menatap hidangan dan suplemen makanan di atas meja makan. Dia terdiam lama tanpa menggerakkan sendoknya.Sejak dia diselamatkan oleh Bayu Yoganta dan dibawa kembali ke kediaman Keluarga Yoganta, pria itu tidak hanya mendatangkan spesialis untuk memeriksa kesehatannya, tetapi juga mengutus seorang ahli gizi untuk memulihkan kondisi fisiknya.Satu bulan berlalu. Tubuh Valeria sudah pulih dengan sangat baik dan berat badannya juga bertambah cukup banyak."Bayu, aku sudah nggak sanggup makan lagi."Bayu mengambil sayuran dan meletakkannya ke dalam piring Valeria. "Menurutku, kamu masih terlalu kurus. Makan yang banyak."Valeria teringat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Saat itu, pria di hadapannya yang kini tampak tenang dan elegan ini masih seorang remaja, yang tanpa sengaja dia selamatkan.Waktu itu, usia Bayu mungkin baru sekitar sepuluh tahun. Dia terluka parah dan terbaring di tengah guyuran hujan, tampak seperti orang yang hampir mati.Saat pasu

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 17

    Mata Calvin merah padam. Tangannya mencengkeram erat buku catatan itu dan menggumamkan nama "Valeria" berulang kali.Setiap kata di dalamnya terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya sedikit demi sedikit dan mencabik-cabik seluruh jiwanya hingga hancur berkeping-keping.Wajah keras kepala Valeria terbayang di depan mata Calvin, menyebabkan rasa sakit yang membuat Calvin sesak napas.Gadis itu selalu menjadi yang pertama melindunginya di saat bahaya dan tetap diam meski dirinya sendiri terluka.Saat dipersulit oleh Tania, Valeria menerima semua tatapan dingin dan ejekan itu tanpa mau membela diri.Valeria mencintainya.Valeria benar-benar mencintainya.Namun, pria itu?Dialah yang dengan tangannya sendiri mendorong Valeria ke dalam kehancuran ….Calvin berlutut di lantai, menangis hingga hatinya terasa hancur berkeping-keping.Hingga embusan angin sepoi-sepoi lewat, barulah Calvin tersadar sepenuhnya.Calvin membuka mata, sorot matanya kini sedingin es.Dia akan membuat Tania men

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 16

    Di Kantor Polisi.Wajah Calvin tampak pucat pasi. Ujung jarinya gemetar hebat.Calvin memejamkan matanya sejenak, lalu menyibak kain putih yang menutupi ranjang jenazah.Valeria terbaring dengan mata terpejam rapat. Wajahnya tampak pucat dan membengkak karena terendam air laut.Namun, hanya dengan sekali lihat, Calvin langsung bisa mengenali bahwa itu adalah Valeria.Pergelangan tangan Valeria tampak ramping dan pucat, masih menyisakan bekas luka kemerahan akibat jeratan tali.Calvin teringat hari itu. Dia sendirilah yang memerintahkan orang-orang untuk menggantung Valeria di tepi laut semalaman ….Tato bertuliskan CL di pergelangan tangan itu seakan sedang mentertawakannya.Mata Calvin memerah, ujung jarinya mengusap lembut pergelangan tangan Valeria.Dahulu, dia memaksa Valeria mentato inisial namanya. Calvin menganggap bahwa dengan cara itu, Valeria akan menjadi miliknya seutuhnya.Tidak akan ada yang bisa merebut Valeria.Setetes air mata jatuh, membasahi punggung tangan Valeria.C

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 7

    Calvin memerintahkan anak buahnya untuk menyuntikkan obat penenang ke tubuh Valeria, lalu memerintahkan agar Valeria diawasi dengan ketat.Tania terbangun dari pingsannya. Dia merasa terkejut sekaligus ketakutan. "Calvin, dia ingin membunuhku!"Calvin menenangkan Tania dengan lembut, "Nggak apa-apa,

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 6

    Tengah malam, angin dingin di tepi pantai berembus makin kencang, membuat tali yang mengikat Valeria nyaris putus ….Setelah semalam berlalu, barulah Calvin memerintahkan orang-orangnya untuk menarik Valeria ke atas.Valeria dilemparkan ke kaki Calvin. Calvin berdiri membelakangi cahaya. Wajahnya ta

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 5

    Saat Valeria terbangun dan mencium bau disinfektan, rasa sakit yang hebat di lengannya langsung membuatnya tersadar sepenuhnya.Detik berikutnya, Valeria mendengar suara Tania. "Kalau bukan karena aku ingin pergi ke sana, Valeria nggak akan terluka parah begini …."Calvin menenangkan Tania dengan le

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 4

    Ketika Valeria dibawa ke rumah sakit dan melihat betapa hancurnya hati Calvin saat mengkhawatirkan Tania, Valeria pun tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum tipis.Calvin menatap Valeria dengan tatapan yang dingin. "Minta maaf.""Bukan aku yang melakukannya. Calvin, kamu benar-benar nggak bis

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status