Home / Rumah Tangga / Saat Hasrat Menjadi Dosa / Bab 4 – Sentuhan yang Terlarang

Share

Bab 4 – Sentuhan yang Terlarang

Author: Tri Afifah
last update Last Updated: 2025-10-23 09:08:51

Bab 4 – Sentuhan yang Terlarang

Hari berikutnya, langkahku menuju klinik terasa berat.

Aku tahu aku sedang menempuh jalan yang salah, tapi rasa kesepian di rumah dan perasaan yang muncul sejak pertemuan pertama dengan dr. Adrian terlalu kuat untuk diabaikan.

“Aku pergi konsultasi, demi suami.”

Aku mengulang kalimat itu untuk meyakinkan diriku sendiri. Walau hatiku tahu itu hanya setengah kebenaran. Pada dasarnya, aku hanyalah mencari-cari alasan.

Setibanya di klinik, suasana familiar menyambutku. Resepsionis tersenyum, menyalamiku ramah.

Tak lama kemudian, Adrian mempersilakanku masuk ke ruang praktik.

“Selamat datang kembali, Bu Selena,” sapanya. Ada senyum tipis di sudut bibirnya, membuat jantungku semakin berdebar kencang.

“Terima kasih, Dok,” jawabku, suaraku sedikit bergetar.

Aku duduk, dan ia menatapku lama, seakan menimbang apakah aku baik-baik saja. “Bagaimana perasaan Ibu hari ini?”

Aku menunduk, memutar jemari di pangkuan. “Masih… sama, Dok. Masih sulit menghadapi semuanya.”

Ia mengangguk, mendekat sedikit, dan menaruh tangannya di atas meja. “Saya mengerti. Kadang hanya perlu seseorang yang mau mendengar, bukan?”

Tanganku terasa dingin saat menatap tangannya. Keberanian dan rasa bersalah bercampur. Perlahan, tanpa sadar aku mengangkat tanganku, menyentuh ujung jarinya.

Sentuhan itu singkat, tapi arus halusnya merambat ke seluruh tubuhku. Aku menelan ludah.

Dokter Adrian tersenyum, tidak menarik tangannya. “Tidak apa-apa. Kadang kontak fisik sederhana bisa menenangkan,” sahutnya sambil tersenyum.

Aku menunduk, merasakan panas di pipi. Kata-kata dan tatapannya membuatku merasa aman.

Perasaan yang sudah lama tidak kurasakan dari Mas Dharma. Tubuhku merespon, tapi aku menahannya. Aku tidak ingin semuanya menjadi lebih dari sekadar sentuhan.

Ah, entahlah pikiran macam apa ini? Aku seperti remaja ingusan yang baru mengenal cinta.

Sesi konsultasi berjalan, tapi percakapan mulai melebar ke keseharianku sendiri. Aku bercerita tentang rasa kesepian, tentang malam-malam panjang yang kulalui sendiri dan bagaimana aku ingin merasa dicintai. Bukan hanya kata-kata, tapi juga dengan sentuhan yang lebih dalam lagi dan lagi.

Dokter Adrian mendengarkan dengan seksama, sesekali menepuk tanganku perlahan saat aku menangis.

Hatiku bergetar. Aku ingin menarik diri tapi juga ingin membiarkan dirinya berada di dekatku.

Di satu momen, aku menunduk untuk menyeka air mata. Dan ia mencondongkan tubuh, menyentuh pipiku dengan ibu jari membersihkan tetesan yang jatuh.

Sentuhan itu hangat, terlalu dekat, tapi juga lembut dan penuh perhatian.

Hati kecilku berdetak kencang. Aku tahu ini salah. Aku istri orang dan perasaan ini mulai melewati batas. Tapi aku tidak bisa menahan diri. Ada rasa nyaman yang menenangkan semua luka yang kurasakan di rumah.

“Bu Selena…” suara Dokter Adrian terdengar lembut, “Anda kuat, tapi tidak perlu menanggung semuanya sendiri.”

Aku menatap matanya, dan untuk beberapa detik waktu seakan berhenti.

Ada ketegangan yang tak bisa kupungkiri, sebuah magnet yang menarikku padanya. Tanpa sadar, aku menunduk dan menyentuh tangannya lagi dan kali ini lebih lama.

Ia menatapku, dan bibirnya sedikit tersenyum. “Ini tidak harus menjadi beban,” katanya.

Sesi berakhir namun aku tidak langsung pergi. Kami berbicara lebih lama tentang hal-hal sepele, hanya berdua.

Tangan kami bersentuhan beberapa kali. Sangat singkat, tapi cukup untuk membuat hatiku kacau.

Aku tahu aku mulai kehilangan kendali, tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku sulit menarik diri. Andrian seperti mempersilakan diriku untuk masuk lebih dalam lagi.

Saat aku berdiri hendak pulang, Adrian menahan tanganku sebentar. “Jika Anda butuh bicara lagi, jangan ragu. Bahkan jika hanya ingin berada di dekat seseorang yang mendengar.”

Aku menelan ludah, jantungku berdegup keras. “Terima kasih, Dok,” kataku sambil tersenyum tipis.

Langkahku keluar terasa berat, tapi di dada ada rasa hangat yang aneh.

Aku tahu, sentuhan itu salah. Aku tahu perasaan ini bisa berbahaya.

Tapi entah apa yang menggerogoti hati kecilku, rasanya hal yang aku rasakan ini adalah jawaban atas kesabaranku selama ini.

Aku menemukan sosok lain dari Adrian yang tidak ada dalam diri suamiku.

***

Malam harinya, Mas Dharma masuk dengan wajah lelah.

“Kau ke mana hari ini?” tanyanya tanpa menatapku.

Aku tersenyum ringan, pura-pura tenang. “Hanya keluar sebentar, ada urusan kecil.”

Ia mengangguk, tapi tatapannya yang dingin membuatku menelan ludah.

Saat aku menutup pintu kamar, tubuhku gemetar. Perasaan bersalah dan gairah bercampur. Aku menyentuh pergelangan tanganku sendiri membayangkan sentuhan Dokter Adrian siang tadi.

Seberapa jauh aku akan jatuh dalam rahasia ini sebelum Mas Dharma mengetahuinya?

“Selena,” terdengar suara Dharma yang berat, “kita… perlu bicara sebentar.”

Hatiku berdegup kencang. Aku membuka pintu kamar dan membiarkan Mas Dharma masuk, lalu mengikuti langkahnya ke kamar tidur.

Mas Dharma melangkah mendekat, tangannya tiba-tiba menggapai pinggangku. Sentuhannya hangat, tapi kaku, membuat dadaku bergetar bukan karena gairah, melainkan ketegangan yang menyesakkan.

Aku menunduk menahan napas, merasakan perasaan campur aduk. Berharap, takut, dan sedikit kecewa karena aku tahu apa yang akan terjadi… atau tidak akan terjadi.

Mas Dharma menunduk, bibirnya hampir menyentuh leherku. “Selena… malam ini aku ingin….”

Aku mengangguk pelan, kemudian menutup mata dengan jantung berdebar.

Tapi kemudian, Mas Dharma tersentak sendiri. Tubuhnya gemetar, wajah memerah. Nafasnya terengah, ia menatapku penuh frustasi, tapi bukan dengan gairah, melainkan malu dan ketakutan.

“Aku… aku tidak bisa…” suaranya tercekat. Ia mundur selangkah dengan tangan terkepal.

Aku tercengang. Dadaku seketika terasa sesak. Kehangatan yang sempat kurasakan, kini menghilang diganti rasa hampa yang familiar.

Lagi-lagi ini yang terjadi. Malam pertama yang selalu gagal selama dua tahun.

Aku ingin memeluk suamiku untuk menenangkan, tapi aku juga ingin menangis.

Aku menunduk, menyentuh tanganku sendiri, merasakan sentuhan dingin yang kontras dengan bayangan hangat Adrian di kepalaku.

Mas Dharma sudah merebahkan diri, membelakangiku.

Sementara aku masih berdiri di tepi ranjang, menatapnya nelangsa.

Sampai kapan akan terus seperti ini?

Aku mengusap air mata yang jatuh diam-diam. Pikiranku kacau.

Kupalingkan wajah, menatap dinding kamar yang menjadi saksi bisu setiap kegagalan kami.

Malam pertama, malam keempat, dan entah sudah malam keberapa… semuanya berakhir sama. Keintiman itu tak pernah sampai.

Aku berbaring mendengar napas berat Mas Dharma, sementara bayangan Adrian masih menempel di hatiku.

Sentuhan terlarang, keintiman yang tertunda, dan perasaan asing yang mulai tumbuh… semuanya melebur menjadi satu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 116 Frustasi

    Lorong ICU kembali sunyi setelah pintu otomatis menutup rapat di depan kami. Lampu putih terasa lebih dingin dari sebelumnya. Bau antiseptik menusuk hidung, membuat kepalaku semakin pening.Dharma berdiri beberapa langkah di depanku, punggungnya tegang. Ponsel sudah di tangannya sejak ranjang ibunya menghilang di balik pintu.Ia menekan layar, hendak menghubungi seseorang.Nada sambung berdering.Sekali, dua kali bahkan sampai ketiga kalinya namun tidak ada jawaban.Rahangnya mengeras. Ia menutup sambungan, lalu langsung menelepon lagi. Kali ini lebih cepat, seolah takut jarak satu detik bisa mengubah segalanya.“Angkat, Pa…” gumamnya lirih, tapi terdengar jelas di lorong yang kosong.Nada sambung itu berakhir dengan suara panggilan tidak dijawab.Dharma menurunkan ponsel perlahan. Tangannya gemetar, bukan karena lelah, tapi karena marah yang ditahan paksa.“Tidak mungkin dia tidak pegang ponsel,” katanya, lebih pada dirinya sendiri. Ia menggeser layar, mencoba lagi. Sudah kelima kalinya

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 115 Sadar, Ma!

    Kami akhirnya keluar dari kamar rawat inap dengan langkah pelan, seolah takut suara sepatu kami bisa membangunkan Mama Anggun. Pintu tertutup di belakang kami, meninggalkan bau obat-obatan dan bunyi monitor yang masih terngiang di kepalaku.“Minum dulu,” kata Dharma pendek. “Kau gemetar.”Aku baru sadar tanganku dingin. Leherku masih nyeri setiap kali menelan ludah. Aku mengangguk, menuruti ketika ia menuntunku menyusuri lorong menuju kantin rumah sakit.Jam sudah larut. Lampu-lampu di kantin menyala redup. Hampir semua kios tertutup dengan rolling door setengah berdebu. Kursi-kursi kosong berjajar, sunyi, hanya suara kipas angin tua yang berdecit pelan.“Seperti kota mati,” gumamku lirih.Dharma menghela napas. “Biasanya cuma satu atau dua yang masih buka malam-malam begini.”Dan benar saja. Di ujung kantin, satu kios kecil masih menyala. Lampu bohlamnya kekuningan. Di etalase kaca, hanya ada beberapa bungkus mie instan dan teko besar berisi air panas.“Maaf, Nak… cuma ada mie sama t

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 114 Kita Belum Tahu, Masalahnya

    Dharma tidak menjawab ucapanku dengan kata-kata. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras. Ia meraih tombol panggil perawat di dinding dan menekannya berkali-kali, lebih keras dari yang seharusnya, seolah takut satu detik pun terlewat.“Perawat! Tolong ke kamar ini, sekarang!” suaranya rendah, tapi penuh tekanan.Ia tidak melepaskanku. Satu tangannya menopang bahuku, menarikku berdiri sepenuhnya, lalu memposisikan tubuhnya sedikit di depanku seperti sebuah perisai. Aku bisa merasakan punggungnya yang tegang, napasnya yang berat. Ia melakukan hal ini sengaja agar pandangan Mama Anggun tidak langsung menembus ke arahku.Namun tetap saja dari celah bahunya, aku bisa melihatnya.Mama Anggun menatapku.Matanya terbuka lebar, fokus, terlalu sadar untuk seseorang yang seharusnya lemah. Tatapan itu tajam, dingin dan begitu menusuk. Tidak ada kepanikan dalam wajahnya. Yang ada hanya amarah yang tenang dan sesuatu yang lebih mengerikan yaitu sebuah kesengajaan.Aku menggenggam baju Dharma, jari-jar

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 113 Aku Takut Dharma

    Aku menarik napas panjang, lalu melepaskan genggaman tangan Dharma perlahan.“Aku keluar sebentar ya, Mas,” bisikku. “aku tadi belum sempat ngabarin Ibu.”Dharma mengangguk tanpa menoleh. Pandangannya masih terpaku pada wajah Anggun yang pucat. Aku melangkah keluar kamar, menutup pintu pelan agar tidak menimbulkan suara.Lorong rumah sakit terasa dingin dan terlalu terang. Bau antiseptik kembali menusuk hidungku. Aku berjalan menjauh beberapa langkah, lalu berhenti di dekat bangku kosong di sisi dinding. Tanganku merogoh ponsel, jariku mulai mengetikkan kata.‘Ibu,maaf, aku belum bisa pulang sekarang.Mama Anggun masuk rumah sakit.Keadaannya belum stabil, aku harus temani Mas Dharma di sini. setelah keadaan mama Anggun stabil, aku akan pulang menjenguk ayah.’Aku menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan kirim. Dadaku terasa sesak. Entah kenapa, menulis pesan itu membuat semuanya terasa lebih nyata.bahwa malam ini aku benar-benar terjebak di antara keluarga yang retak dan

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 112 n Kasihan Sekali

    Pintu kamar tempat Anggun dirawat kembali terbuka pelan.Aku refleks menoleh, dan jantungku seperti tersentak ketika melihat sosok tinggi dengan jas gelap itu berdiri di ambang pintu.Darlo Castellanos.Langkahnya cepat, seolah benar-benar diliputi kepanikan. Wajahnya tampak kusut, dasinya sedikit longgar, rambutnya tidak serapi biasanya. Begitu matanya menangkap tubuh Anggun yang terbaring lemah di ranjang, ekspresinya langsung runtuh.“Anggun…” suaranya parau.Ia melangkah mendekat, hampir tersandung karena terlalu tergesa. Tangannya gemetar saat memegang sisi ranjang.“Sayang… ya Tuhan…” Ia mengusap wajahnya sendiri, lalu menunduk. Bahunya naik turun, tangisnya seketika pecah saat itu juga.Dharma berdiri kaku di sisi lain ranjang. Rahangnya mengeras, tapi ia tidak berkata apa-apa.Darlo meraih tangan Anggun yang tidak terinfus. Jemarinya menggenggam pergelangan yang dibalut perban.“Kenapa bisa begini…” katanya lirih, suaranya penuh kepedihan. “Siapa yang tega melakukan ini padamu?”

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 111 Sengaja Ingin Menghancurkan

    Mobil akhirnya berhenti di depan gedung rumah sakit. Bukan rumah sakit jiwa seperti yang sempat terlintas di kepalaku, tapi rumah sakit umum dengan bangunan tinggi dan lampu-lampu putih yang terasa dingin di malam hari. Begitu turun, udara antiseptik langsung menyergap hidungku.Langkah Dharma yang panjang, membuatku harus setengah berlari untuk mengikuti langkahnya.Kami melewati pintu otomatis yang terbuka dengan suara desis pelan. Suasana di dalam sunyi, hanya terdengar bunyi roda troli dan langkah sepatu perawat di lantai keramik. Dharma langsung menuju meja perawat.“Anggun Castellanos,” katanya singkat. “Di mana kamarnya?”Perawat menatap layar sebentar lalu menunjuk lorong di kanan. “Kamar 312. Kondisinya masih belum stabil.”Dadaku langsung berdegup lebih kencang.Lorong itu terasa terlalu panjang. Lampu neon di atas kepala berpendar dingin, memantulkan bayangan kami di lantai. Aku bisa merasakan ketegangan di bahu Dharma, seperti kabel yang ditarik terlalu kencang.Begitu sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status