Share

Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti
Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti
Penulis: Lalala

Bab 1

Penulis: Lalala
Hari ketika aku kembali ke kampus dengan kaki yang masih cedera, aku justru disambut oleh adegan sebuah lamaran yang sangat megah.

Jalanan dari gerbang sekolah menuju asrama telah ditaburi kelopak mawar putih. Di tengahnya, karpet biru laut membentang luas, memantulkan kemilau cahaya yang seolah-olah dipetik langsung dari riak danau yang jernih.

Di ujung karpet itu, berdiri Sherly Kaelan dalam balutan gaun putih yang menawan. Dia tampak begitu anggun, sosok wanita sempurna yang memancarkan kemurnian.

Lalu, pria yang sedang berlutut di hadapannya, pria yang mengaku sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, tak lain adalah Bima.

Aku berdiri di antara kerumunan orang, menyembunyikan wajah di balik masker, menyaksikan mereka berpelukan dan berciuman mesra. Rasanya seperti ada sebongkah es yang dipaksa masuk ke dalam dadaku, dinginnya merasuk hingga ke tulang.

Padahal baru tadi malam dia berbisik mesra di telingaku, mengatakan dia rela mati di pelukanku. Namun, detik ini, dengan ekspresi penuh ketulusan, dia justru memohon wanita lain untuk menjadi miliknya.

Saat itulah aku tersadar, Bima memang tidak pernah berniat memperkenalkanku pada dunia.

Kencan kami selalu dilakukan di tengah malam dan hubungan kami tidak pernah sekali pun diakui di depan publik.

Tiga tahun lalu, aku pernah mencoba pergi. Orang-orang di sekitar kami, termasuk keluarga besar Bima, selalu mencibir bahwa aku, si yatim piatu yang tidak berpendidikan, tidak akan pernah pantas bersanding dengan pewaris keluarga terpandang di kota ini.

Akan tetapi, saat itu, Bima menggunakan seluruh kekuasaannya, mencariku tanpa henti selama tujuh hari tujuh malam, hingga akhirnya dia berhasil membawaku kembali.

Aku masih ingat jelas raut wajahnya saat itu. Sebuah kesunyian yang mencekam, tetapi diselimuti penderitaan. "Rhea, kamu mau kabur ke mana sambil membawa nyawaku?"

Dia bahkan membiarkan anak buahnya menghujamkan 99 cambukan ke punggungnya sendiri. Dengan mata yang berkaca-kaca, dia menatapku dan berkata, "Rhea, membuatmu merasa nggak aman adalah kesalahanku. Aku pantas dihukum."

Melihat punggungnya yang terluka dan bersimbah darah, hatiku terasa perih hingga air mataku jatuh tak terkendali.

Saat itulah, Bima memberiku kartu izin tinggal permanen di Negara Atharwa dan sebuah dokumen akses untuk rute penerbangan pribadi.

"Rhea, aku sudah dilarang masuk ke Negara Atharwa selamanya. Jadi, kalau sampai aku berkhianat, hukumannya jelas, aku nggak akan pernah bisa menemuimu lagi seumur hidupku."

Saat aku menerima dokumen itu, dia menarikku dengan kasar ke dalam pelukannya, seolah-olah ingin menyatukan tubuhku ke dalam tulang dan darahnya.

"Rhea, sampai kapan pun, aku nggak akan kasih kamu kesempatan buat pakai dokumen-dokumen ini."

Akan tetapi, kini, pengkhianatan itu terpampang nyata di depan mataku.

Ternyata, selama ini akulah yang cukup bodoh untuk memercayainya.

Aku berjalan dengan pikiran kosong menuju vila kantor Bima. Belum sempat aku melontarkan pertanyaan, aku sudah lebih dulu mendengar suara riuh teman-temannya di dalam yang sedang memberi ucapan selamat. "Selamat ya, Kak Bima! Akhirnya berhasil juga dapetin si cantik, Sherly."

Bima yang tampaknya mulai mabuk, mendadak menajamkan tatapannya.

"Nggak ada yang boleh bahas masalah ini sedikit pun. Kalau sampai Rhea tahu ...."

Suara denting gelas yang dihantamkan ke atas meja membuat seisi ruangan mendadak hening. Namun, salah satu temannya masih berani bertanya dengan hati-hati, "Kak Bima, si Tua itu 'kan sudah ngebet banget minta kamu nikah. Apa nggak sebaiknya kamu bikin akta nikah yang asli sama Rhea?"

Darahku rasanya berhenti mengalir seketika. Tanpa sadar, aku menahan napas.

Aku melihat Bima menyeringai tipis, lalu melempar sebuah akta nikah ke atas meja. "Kakek sangat puas dengan Sherly. Bahkan pusaka warisan keluarga pun sudah diserahkan padanya."

Aku mematung di tempat. Telingaku berdenging hebat.

Bima dan Sherly sudah resmi menikah?

Lalu, akta nikah yang ada di tanganku selama ini ... apa artinya?

Temannya ikut tertegun, lalu mengambil akta nikah berwarna merah itu dan melihatnya. "Terus, gimana sama Rhea?"

Bima pun memasukkan akta nikah itu ke dalam brankas dan menguncinya. Dia menggoyangkan gelas anggurnya sejenak sebelum akhirnya membuka suara.

"Waktu aku bawa Rhea buat daftar nikah dulu, Kakek sudah lebih dulu menyabotase dokumen pribadiku. Jadi, nggak akan pernah bisa terbit akta nikah yang asli."

Dia mengatakannya dengan nada yang sangat santai, seolah itu bukan masalah besar. "Aku terpaksa buat yang palsu cuma buat membujuk dia supaya dia mau menyerahkan seluruh hatinya buat aku. Rhea itu wataknya terlalu keras, dia nggak cocok jadi nyonya besar di keluargaku. Cukup aku manjakan dia diam-diam saja, itu sudah lebih dari cukup buat dia."

Sorot mata temannya berubah menjadi rumit.

"Kak Bima, Kak Rhea itu punya banyak cara. Kalau sampai dia tahu, terus dia pergi lagi, gimana?"

Tatapan Bima seketika berubah tajam dan dingin. "Makanya, jangan sampai dia tahu. Kasih tahu Dipta, jangan biarkan Rhea lepas dari pantauannya sedikit pun."

Aku tertawa tanpa suara. Tenggorokanku terasa begitu pahit.

Jadi, selama ini setiap kali aku diprovokasi oleh Dipta hingga terluka, itu semua adalah perintah Bima. Pantas saja tadi dalam perjalanan ke kampus, Dipta seperti orang gila yang terus-menerus menghadangku. Demi bisa lolos darinya, luka di kakiku sampai bertambah parah.

Ternyata, dia melakukan itu semua hanya karena takut aku kembali ke kampus dan memergoki acara lamarannya.

Belum sempat aku pulih dari kenyataan yang mengoyak hati itu, aku mendengar temannya melontarkan pertanyaan yang juga ingin kuketahui jawabannya. "Kak Bima, jujur saja, sebenarnya siapa yang kamu cintai?"

Bima seolah teringat sesuatu, sorot matanya mendadak melunak penuh kasih. "Tentu saja Rhea. Tapi, untuk tiga tahun ke depan, aku juga akan mencurahkan seluruh hatiku untuk Sherly."

Ujung jarinya mengusap tepian gelas anggur itu perlahan. "Sherly itu terlalu suci. Dia persis seperti Rhea saat masih berusia 18 tahun. Kalau saja bukan karena misi nekat menerobos Keluarga Nawasena demi aku waktu itu, Rhea seharusnya juga tetap seperti itu."

"Aku nggak bisa mengulang waktu untuk menjaga Rhea dari awal lagi, jadi biarlah aku menjaganya melalui Sherly. Dengan begitu, aku nggak punya penyesalan lagi terhadap Rhea."

Temannya terdiam sambil menenggak minumannya, lalu bertanya lagi, "Kak Bima, jujur saja, apa kamu sebenarnya masih merasa terganggu dengan kejadian tiga hari tiga malam saat Rhea menerobos Keluarga Nawasena demi menyelamatkanmu?"

Hatiku makin tenggelam ke dasar yang paling dalam.

Tiga hari tiga malam di kediaman Keluarga Nawasena itu memang sebuah mimpi buruk yang nyata.

Tidak ada satu pun orang yang percaya bahwa aku keluar dari sana dalam keadaan tetap "bersih". Hanya Bima satu-satunya yang saat itu mengatakan bahwa dia memercayaiku.

Bahkan di malam-malam setelahnya, dia sering mengecup air mataku dan berbisik, "Rhea ku adalah yang paling suci."

Kali ini, Bima tidak menjawab. Dia hanya meneguk habis seluruh isi gelasnya dalam satu tegukan.

Diamnya Bima adalah bentuk pembenaran yang paling kejam.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air mata jatuh membasahi wajahku.

Ternyata, dia sama sekali tidak pernah memercayaiku. Dia bahkan merasa jijik padaku.

Suara berat Bima kembali terdengar dari dalam ruangan. "Pernikahan tujuh hari lagi harus dirahasiakan dari Rhea. Cara terbaik adalah buat dia mengalami kecelakaan kecil sampai terluka, biar dia mendekam di rumah sakit untuk sementara waktu."

Detik itu juga, sisa-sisa harapanku hancur berkeping-keping.

Ucapan Bima barusan seperti belati yang menghujam tepat ke jantungku. Ternyata rasa sakitku, di matanya, hanyalah sebuah alat yang bisa dia manipulasi, sebuah cara untuk mengendalikan gerak-gerikku.

Drrt.

Ponselku bergetar, tiga pesan masuk sekaligus.

Satu pesan berasal dari Sherly, berisi foto akta nikah dan emoji ceria.

[Rhea, aku dan cowok idamanku akhirnya resmi menikah! Lihat, deh, akta merah ini, serasi banget 'kan sama kita berdua?]

Satu pesan dari Bima: [Rhea, aku kangen. Setelah urusan di sini selesai, aku langsung pulang buat nemuin kamu.]

Satu pesan dari dosen pembimbingku: [Rhea, kamu beneran mau ngelepasin tawaran dari Akademi Musik Negara Atharwa? Bakatmu terlalu berharga buat disia-siakan. Aku harap kamu mau pikirkan sekali lagi.]

Aku menatap foto akta nikah itu, lalu beralih ke pesan Bima yang bilang "aku kangen". Rasanya seperti sebuah tamparan keras yang mendarat tepat di wajahku, menertawakan semua kebodohanku selama ini.

Jantungku terasa nyeri, rasa sakitnya menjalar hingga membuat ujung jariku gemetar.

Perlahan, aku membuka kolom percakapan dan mulai mengetik balasan ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 23

    Dalam upacara kelulusan kali ini, aku naik ke atas panggung untuk memberikan pidato sebagai lulusan terbaik.Bintang yang dulunya redup ini akhirnya berhasil menanggalkan abunya, kini bersinar terang di panggung miliknya sendiri.Di bawah panggung, Arka tampak sedang menggendong Reno yang kini sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Rafael yang terlihat makin dewasa dan tampan.Begitu pidato berakhir, Rafael naik ke panggung dan memberikan sebuket bunga matahari yang cerah kepadaku.Akan tetapi, jauh di sudut ruangan yang tersembunyi, ada seorang pria lain yang sedang menatapku dengan penuh kerinduan, seolah ingin merekam setiap lekuk wajahku dalam ingatannya.Selama tiga tahun ini, Bima telah datang ke Negara Atharwa sebanyak 160 kali. Dia tidak pernah melewatkan satu pun pertunjukanku.Bahkan pada hari aku melahirkan, dia pergi ke kuil dan berlutut menaiki seribu anak tangga hanya untuk memohon untaian gelang tasbih baru demi keselamatanku.Akan tetapi, aku tidak pernah menem

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 22

    Mimpi indah itu buyar seketika oleh suara perawat.Bima membuka matanya dengan linglung, yang pertama kali dia lihat adalah wajah asistennya yang tampak lesu.Melihat Bima sudah sadar, asistennya segera melapor, "Pak Bima, identitas Anda bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya, kita segera pulang ke tanah air."Bima mencabut jarum infus di tangannya, lalu duduk tegak. "Siapkan mobil. Kita ke rumah Keluarga Abian."Sementara itu, aku sedang menikmati ceri yang dicuci sendiri oleh Rafael, sambil berjemur di bawah sinar matahari di atas kursi malas."Rafael, soal ucapanku tempo hari, aku hanya menjadikanmu tameng karena keadaan sedang mendesak. Jangan salah paham, ya."Arka menatap Rafael yang sangat perhatian itu dengan raut wajah penuh kejengkelan.Rafael mengeluarkan sehelai selimut tipis, meletakkannya tepat di samping tanganku, memastikan aku bisa meraihnya dengan mudah jika membutuhkannya."Iya, aku nggak salah paham," jawab Rafael santai.Arka menatap wa

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 21

    Keesokan harinya, saat aku hendak keluar rumah, aku baru menyadari Bima ternyata belum pergi.Dia bersandar di pintu mobilnya dengan penampilan yang tampak kacau dan lesu. Begitu melihatku, matanya yang semula redup seketika kembali bercahaya."Rhea, kamu mau pergi ke mana? Biar aku antar."Aku tidak menghiraukannya dan langsung masuk ke mobilku sendiri.Bima pun mengemudikan mobilnya, mengikutiku dari belakang dengan raut wajah yang tampak layu.Dia tidak percaya, bagaimana mungkin hanya dalam waktu dua bulan, aku bisa jatuh cinta pada orang lain.Terlebih lagi, dalam pikiran Bima, hubungan kami retak hanyalah karena sebuah kesalahpahaman belaka. Dia yakin begitu amarahku sudah reda, aku pasti akan kembali ke pelukannya.Ketika dia tersadar dari lamunannya, dia baru menyadari bahwa tempat yang kudatangi adalah rumah sakit.Apa aku sakit? Untuk apa aku ke rumah sakit?Di satu sisi dia menyesali dirinya yang tidak menyelidiki kondisiku dengan teliti, tetapi di sisi lain dia sangat mence

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 20

    Aku sedang mengurus prosedur cuti kuliah, jadi beberapa hari terakhir ini aku sering bolak-balik antara rumah dan kampus.Tepat di belokan jalan menuju kampus, aku tidak sengaja menabrak seseorang.Aku segera memantapkan posisi berdiriku dan menunduk untuk meminta maaf. "Maaf."Akan tetapi, orang itu justru memelukku erat-erat. Suaranya terdengar tersedat karena tangis. "Rhea, akhirnya aku menemukanmu."Suara itu membuat seluruh tubuhku bergetar hebat. Aku sekuat tenaga mendorongnya menjauh. "Bima? Bagaimana bisa kamu ada di sini?"Ekspresi Bima tampak sangat terluka. "Rhea, ada banyak kesalahpahaman di antara kita. Apa bisa kamu dengar penjelasanku?"Mahasiswa yang lalu lalang menatap kami dengan rasa ingin tahu. Aku terpaksa membawanya ke kafe di sebelah kampus.Di sana, Bima menjelaskan segalanya dengan air mata yang terus mengalir.Setelah selesai bicara, dia mencoba meraih tanganku dengan nada bicara yang sangat mendesak. "Rhea, hubunganku dengan Sherly cuma sebatas kontrak. Akta

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 19

    Arka mengangguk dengan perasaan agak malu, lalu segera mengalihkan pembicaraan."Rhea, sekarang kamu sudah kembali, aku ingin kamu mulai melihat-lihat aset dan bisnis keluarga kita. Kalau kamu tertarik, kamu bisa ikut mengelolanya sendiri."Aku tidak membongkar niat kecilnya itu.Baginya, kembali memegang kuas lukis adalah sebuah kemajuan besar. Itu berarti tidak lama lagi dia akan benar-benar bangkit dan melangkah maju.Lagi pula, aku tidak ingin dia terus-menerus terkurung dalam rasa bersalahnya.Sepiring steak yang sudah dipotong rapi disodorkan ke hadapanku. Rafael mengedipkan matanya padaku. Melihat interaksi kami, Arka menggertakkan gigi karena kesal."Rafael, adikku nggak akan menikah. Kami cuma menerima menantu yang mau tinggal di sini dan kamu nggak memenuhi syarat.""Perjodohan masa lalu itu 'kan cuma lelucon orang tua, nggak perlu dianggap serius," balas Rafael sambil menyendokkan semangkuk sup hidangan laut untukku.Akan tetapi, entah mengapa, tiba-tiba perutku terasa berge

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 18

    Aswin membanting tongkatnya ke arah kaki Bima. "Kurang ajar! Kamu sudah berani membangkang?!"Bima menatapnya dengan pandangan dingin. "Kakek, Kakeklah yang memaksaku melakukan ini. Aku cuma menyesal kenapa nggak mengambil keputusan ini lebih awal, malah setuju dengan syarat konyolmu itu."Dia menatap kakeknya yang tampak jauh lebih tua, lalu menghela napas panjang."Kakek sebenarnya sudah tahu Rhea akan meninggalkanku, 'kan? Makanya Kakek mengajukan syarat itu. Cuma aku saja yang bodoh, percaya bahwa setelah semua drama ini berakhir, aku bisa hidup bahagia lagi dengan Rhea."Dia terdiam sejenak, seolah memantapkan tekadnya."Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Rhea, maka hubungan kakek dan cucu di antara kita pun berakhir sampai di sini."Setelah berkata demikian, dia memerintahkan orang-orangnya untuk membawa Aswin pergi.Lalu, dia segera menghubungi sebuah nomor. "Siapkan identitas baru untukku. Aku harus pergi ke Negara Atharwa.""Harus menunggu tiga bulan lagi."Bima mengerny

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 8

    Panggilan pertama, hanya ada nada sibuk yang monoton.Panggilan kedua, ketiga ... hingga yang kesembilan, tetap tidak ada jawaban dari seberang sana.Yuda berdiri di samping sambil bersedekap, sudut bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.Hatiku perlahan tenggelam ke dasar jurang.Pada percobaan

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 7

    "Bukan aku." Aku mengeluarkan ponselku untuk membuktikan diri. "Aku sama sekali nggak pernah menghubunginya."Bima tiba-tiba tersenyum, lalu mengulurkan tangan dan mendekapku erat dalam pelukannya. "Rhea, apa yang kamu takutkan? Mana mungkin aku nggak memercayaimu cuma karena orang asing."Aku menat

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 6

    Aku mendongak dengan tatapan tenang. "Aku pinjam dari pihak kampus. Karena aku nggak pernah kuliah, aku cuma ingin tahu rasanya seperti apa."Aku menggoyang-goyangkan tiket pesawat dan dokumen di tanganku dengan nada datar. "Kalau ini, aku menemukannya di jalan. Baru mau aku antar ke pos satpam."Me

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 5

    Di antara sadar dan tidak, aku mendengar suara percakapan dari balik pintu."Pak Bima, pihak pacuan kuda sudah memeriksanya. Ternyata ada seseorang yang menukar tali kekangnya dengan yang sudah usang. Hari itu, cuma Nona Sherly yang sempat menyentuh kuda yang biasa ditunggangi Nona Rhea."Setelah he

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status