Share

Bab 5

Author: Lalala
Di antara sadar dan tidak, aku mendengar suara percakapan dari balik pintu.

"Pak Bima, pihak pacuan kuda sudah memeriksanya. Ternyata ada seseorang yang menukar tali kekangnya dengan yang sudah usang. Hari itu, cuma Nona Sherly yang sempat menyentuh kuda yang biasa ditunggangi Nona Rhea."

Setelah hening sejenak, suara Bima terdengar, kali ini penuh dengan nada peringatan.

"Masalah ini cukup sampai di sini, jangan sampai ada orang ketiga yang tahu." Setelah terdiam sejenak, dia melanjutkan, "Suruh orang kirim menu andalan dari Restoran Varesia ke sini."

Asistennya tampak tercengang. "Tapi, bukannya Anda dulu selalu bilang, Anda ingin memasak sendiri untuk Nona Rhea …."

Kalimat itu terputus, kemungkinan karena dia melihat ekspresi Bima yang mendadak suram, sehingga dia buru-buru meralat ucapannya. "Maaf, aku sudah lancang."

Setelah langkah kaki asisten itu menjauh, suara isak tangis seorang wanita segera menyusul.

"Semua ini salahku, aku benar-benar nggak sengaja. Seandainya aku nggak pergi ke lapangan golf, kamu nggak akan teralihkan dan kamu pasti bisa fokus melindungi Rhea."

Terdengar bunyi denting pelan saat tutup wadah kedap panas dibuka. "Ini sup yang kumasak semalaman, anggap saja ini bentuk permohonan maafku pada Rhea."

Akan tetapi, Bima tiba-tiba menarik tangan wanita itu, dahinya berkerut menatap bekas kemerahan di sana.

"Sayang, siapa yang mengizinkanmu melukai dirimu sendiri? Ayo, aku antar kamu buat obati lukanya, sekaligus aku akan menghukummu karena kamu nggak bisa menjaga diri dengan baik." Sambil berkata demikian, dia mengangkat tubuh wanita itu dalam gendongannya.

Dengan suara terisak, Sherly bertanya lagi, "Lalu, bagaimana dengan Rhea?"

"Sayang, sekarang suamimu ini lagi marah besar, mana mungkin aku kepikiran buat mengurus orang lain."

Begitu langkah kaki mereka benar-benar menghilang, aku perlahan membuka mata. Setetes air mata jatuh membasahi sudut mataku.

Aku mencoba menggerakkan anggota tubuhku. Syukurlah, lukanya tidak terlalu parah.

Perawat yang datang untuk mengecek kondisiku tampak sumringah saat melihatku sadar. Sambil tersenyum, dia berceloteh, "Suamimu baik sekali, dia sampai memanggil beberapa dokter spesialis untuk memeriksamu, bahkan menyuruh mereka menginap di hotel sebelah rumah sakit supaya selalu siaga. Waktu kamu diperiksa tadi, dia terus berlutut di luar dan baru mau berdiri setelah dokter memastikan kamu baik-baik saja."

Aku pun menjawab dengan datar, "Dia bukan suamiku."

Perawat itu tampak terkejut, tetapi di saat yang sama, Bima sudah terburu-buru mendorong pintu masuk dan memotong pembicaraan kami, "Rhea, kamu sudah bangun? Aku sudah belikan makanan, kamu lapar?"

Aku menatap bungkusan makanan dari Restoran Varesia itu, lalu melirik noda lipstik yang sangat mencolok di kerah bajunya. Aku tidak membongkar kebohongannya, hanya mendongak dan bertanya, "Kejadian di pacuan kuda sudah diselidiki?"

Bima menyodorkan segelas air hangat, suaranya terdengar sangat normal tanpa ada nada yang mencurigakan.

"Sudah. Ternyata peralatan kudanya memang sudah usang, ditambah lagi rumput pakan yang baru nggak cocok dengan perut kuda itu, makanya terjadi kecelakaan. Petugas yang bertanggung jawab sudah aku pecat."

Dia menunduk, ibu jarinya mengusap jari telunjuk, sebuah kebiasaan kecil yang selalu dia lakukan setiap kali berbohong.

"Rhea, waktu itu Sherly sedang menanyakan urusan pekerjaan, makanya aku nggak sempat melindungimu di detik pertama. Anak itu juga merasa sangat bersalah. Kita lupakan saja masalah ini dan nggak usah diperpanjang lagi, ya?"

Aku memejamkan mata.

Pikiranku melayang pada masa SMA dulu. Saat ada seorang teman sekelas laki-laki yang menusuk tanganku dengan ujung pulpen, Bima yang mengetahuinya langsung bertindak, dalam tiga hari, anak itu beserta seluruh keluarganya menghilang tanpa jejak dari kota ini.

Kini, setelah aku dijebak dan dicelakai oleh Sherly sedemikian rupa, dia justru dengan entengnya memintaku untuk melupakannya saja.

Dadaku terasa sesak seperti tersumbat gumpalan kapas, tetapi anehnya, rasa perih yang hebat seperti beberapa hari lalu sudah tidak ada lagi.

Aku mengembuskan napas perlahan, mengalihkan pandangan pada awan yang berarak di luar jendela.

Sebentar lagi. Tak lama lagi aku akan menjalani kehidupan bebas yang seutuhnya milikku.

Tiga hari kemudian, aku keluar dari rumah sakit.

Bima membawaku ke salon untuk didandani dengan sangat cantik, lalu dia menarik tanganku menuju Universitas Amber.

"Rhea, hari ini adalah upacara wisuda Universitas Amber. Rektor secara khusus mengundangku, jadi sekalian saja aku mengajakmu keluar untuk mencari udara segar."

Aku duduk di samping Bima, melihat Sherly berdiri di atas panggung sebagai lulusan terbaik untuk menyampaikan pidato.

Tatapannya begitu fokus, binar kasih sayang dan kekaguman di matanya seolah hampir meluap keluar.

Sebenarnya, kesempatan berpidato itu seharusnya menjadi milikku.

Dulu, ketika dosen pembimbing memintaku menjadi perwakilan lulusan terbaik untuk berpidato, hatiku dipenuhi kegembiraan. Aku membayangkan Bima duduk di bawah panggung dengan ekspresi terkejut, lalu menatapku dengan bangga.

Akan tetapi, sejak aku memergoki adegan lamaran itu, aku menolaknya.

Aku ingin pergi dengan tenang. Bima sudah lama tidak lagi layak menerima kejutan yang kusiapkan.

Begitu Sherly turun dari panggung, Bima berpamitan pergi ke toilet sebagai alasan untuk meninggalkan tempat duduknya.

Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mengenakan jubah wisuda yang baru saja kuambil di luar gaun pestaku. Aku pun melangkah cepat menemui dosen pembimbingku dan berfoto bersamanya.

Melihatku, mata beliau dipenuhi dengan rasa bangga. Dia menyerahkan tiket pesawat dan dokumen penting lainnya kepadaku sembari berujar, "Rhea, doaku menyertaimu. Semoga masa depanmu di sana bersinar terang."

Baru saja aku berbalik setelah berpamitan dengan dosen pembimbing, Bima sudah berjalan menghampiriku.

Melihat penampilanku yang seperti ini, raut wajahnya dipenuhi rasa terkejut.

"Rhea, kenapa kamu pakai jubah wisuda? Terus, apa yang kamu pegang itu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 23

    Dalam upacara kelulusan kali ini, aku naik ke atas panggung untuk memberikan pidato sebagai lulusan terbaik.Bintang yang dulunya redup ini akhirnya berhasil menanggalkan abunya, kini bersinar terang di panggung miliknya sendiri.Di bawah panggung, Arka tampak sedang menggendong Reno yang kini sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Rafael yang terlihat makin dewasa dan tampan.Begitu pidato berakhir, Rafael naik ke panggung dan memberikan sebuket bunga matahari yang cerah kepadaku.Akan tetapi, jauh di sudut ruangan yang tersembunyi, ada seorang pria lain yang sedang menatapku dengan penuh kerinduan, seolah ingin merekam setiap lekuk wajahku dalam ingatannya.Selama tiga tahun ini, Bima telah datang ke Negara Atharwa sebanyak 160 kali. Dia tidak pernah melewatkan satu pun pertunjukanku.Bahkan pada hari aku melahirkan, dia pergi ke kuil dan berlutut menaiki seribu anak tangga hanya untuk memohon untaian gelang tasbih baru demi keselamatanku.Akan tetapi, aku tidak pernah menem

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 22

    Mimpi indah itu buyar seketika oleh suara perawat.Bima membuka matanya dengan linglung, yang pertama kali dia lihat adalah wajah asistennya yang tampak lesu.Melihat Bima sudah sadar, asistennya segera melapor, "Pak Bima, identitas Anda bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya, kita segera pulang ke tanah air."Bima mencabut jarum infus di tangannya, lalu duduk tegak. "Siapkan mobil. Kita ke rumah Keluarga Abian."Sementara itu, aku sedang menikmati ceri yang dicuci sendiri oleh Rafael, sambil berjemur di bawah sinar matahari di atas kursi malas."Rafael, soal ucapanku tempo hari, aku hanya menjadikanmu tameng karena keadaan sedang mendesak. Jangan salah paham, ya."Arka menatap Rafael yang sangat perhatian itu dengan raut wajah penuh kejengkelan.Rafael mengeluarkan sehelai selimut tipis, meletakkannya tepat di samping tanganku, memastikan aku bisa meraihnya dengan mudah jika membutuhkannya."Iya, aku nggak salah paham," jawab Rafael santai.Arka menatap wa

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 21

    Keesokan harinya, saat aku hendak keluar rumah, aku baru menyadari Bima ternyata belum pergi.Dia bersandar di pintu mobilnya dengan penampilan yang tampak kacau dan lesu. Begitu melihatku, matanya yang semula redup seketika kembali bercahaya."Rhea, kamu mau pergi ke mana? Biar aku antar."Aku tidak menghiraukannya dan langsung masuk ke mobilku sendiri.Bima pun mengemudikan mobilnya, mengikutiku dari belakang dengan raut wajah yang tampak layu.Dia tidak percaya, bagaimana mungkin hanya dalam waktu dua bulan, aku bisa jatuh cinta pada orang lain.Terlebih lagi, dalam pikiran Bima, hubungan kami retak hanyalah karena sebuah kesalahpahaman belaka. Dia yakin begitu amarahku sudah reda, aku pasti akan kembali ke pelukannya.Ketika dia tersadar dari lamunannya, dia baru menyadari bahwa tempat yang kudatangi adalah rumah sakit.Apa aku sakit? Untuk apa aku ke rumah sakit?Di satu sisi dia menyesali dirinya yang tidak menyelidiki kondisiku dengan teliti, tetapi di sisi lain dia sangat mence

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 20

    Aku sedang mengurus prosedur cuti kuliah, jadi beberapa hari terakhir ini aku sering bolak-balik antara rumah dan kampus.Tepat di belokan jalan menuju kampus, aku tidak sengaja menabrak seseorang.Aku segera memantapkan posisi berdiriku dan menunduk untuk meminta maaf. "Maaf."Akan tetapi, orang itu justru memelukku erat-erat. Suaranya terdengar tersedat karena tangis. "Rhea, akhirnya aku menemukanmu."Suara itu membuat seluruh tubuhku bergetar hebat. Aku sekuat tenaga mendorongnya menjauh. "Bima? Bagaimana bisa kamu ada di sini?"Ekspresi Bima tampak sangat terluka. "Rhea, ada banyak kesalahpahaman di antara kita. Apa bisa kamu dengar penjelasanku?"Mahasiswa yang lalu lalang menatap kami dengan rasa ingin tahu. Aku terpaksa membawanya ke kafe di sebelah kampus.Di sana, Bima menjelaskan segalanya dengan air mata yang terus mengalir.Setelah selesai bicara, dia mencoba meraih tanganku dengan nada bicara yang sangat mendesak. "Rhea, hubunganku dengan Sherly cuma sebatas kontrak. Akta

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 19

    Arka mengangguk dengan perasaan agak malu, lalu segera mengalihkan pembicaraan."Rhea, sekarang kamu sudah kembali, aku ingin kamu mulai melihat-lihat aset dan bisnis keluarga kita. Kalau kamu tertarik, kamu bisa ikut mengelolanya sendiri."Aku tidak membongkar niat kecilnya itu.Baginya, kembali memegang kuas lukis adalah sebuah kemajuan besar. Itu berarti tidak lama lagi dia akan benar-benar bangkit dan melangkah maju.Lagi pula, aku tidak ingin dia terus-menerus terkurung dalam rasa bersalahnya.Sepiring steak yang sudah dipotong rapi disodorkan ke hadapanku. Rafael mengedipkan matanya padaku. Melihat interaksi kami, Arka menggertakkan gigi karena kesal."Rafael, adikku nggak akan menikah. Kami cuma menerima menantu yang mau tinggal di sini dan kamu nggak memenuhi syarat.""Perjodohan masa lalu itu 'kan cuma lelucon orang tua, nggak perlu dianggap serius," balas Rafael sambil menyendokkan semangkuk sup hidangan laut untukku.Akan tetapi, entah mengapa, tiba-tiba perutku terasa berge

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 18

    Aswin membanting tongkatnya ke arah kaki Bima. "Kurang ajar! Kamu sudah berani membangkang?!"Bima menatapnya dengan pandangan dingin. "Kakek, Kakeklah yang memaksaku melakukan ini. Aku cuma menyesal kenapa nggak mengambil keputusan ini lebih awal, malah setuju dengan syarat konyolmu itu."Dia menatap kakeknya yang tampak jauh lebih tua, lalu menghela napas panjang."Kakek sebenarnya sudah tahu Rhea akan meninggalkanku, 'kan? Makanya Kakek mengajukan syarat itu. Cuma aku saja yang bodoh, percaya bahwa setelah semua drama ini berakhir, aku bisa hidup bahagia lagi dengan Rhea."Dia terdiam sejenak, seolah memantapkan tekadnya."Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Rhea, maka hubungan kakek dan cucu di antara kita pun berakhir sampai di sini."Setelah berkata demikian, dia memerintahkan orang-orangnya untuk membawa Aswin pergi.Lalu, dia segera menghubungi sebuah nomor. "Siapkan identitas baru untukku. Aku harus pergi ke Negara Atharwa.""Harus menunggu tiga bulan lagi."Bima mengerny

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 4

    Baru saja dia hendak melangkah maju untuk memeriksanya, ponselnya berdering.Nama Sherly muncul di layar dan suara lembut nan manja terdengar dari speaker. "Sayang, kepalaku pusing."Bima sekali lagi melirik gelang di atas nampan itu. Ujung jarinya tampak gemetar dan mengepal di sisi tubuhnya, tetap

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 8

    Panggilan pertama, hanya ada nada sibuk yang monoton.Panggilan kedua, ketiga ... hingga yang kesembilan, tetap tidak ada jawaban dari seberang sana.Yuda berdiri di samping sambil bersedekap, sudut bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.Hatiku perlahan tenggelam ke dasar jurang.Pada percobaan

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 7

    "Bukan aku." Aku mengeluarkan ponselku untuk membuktikan diri. "Aku sama sekali nggak pernah menghubunginya."Bima tiba-tiba tersenyum, lalu mengulurkan tangan dan mendekapku erat dalam pelukannya. "Rhea, apa yang kamu takutkan? Mana mungkin aku nggak memercayaimu cuma karena orang asing."Aku menat

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 6

    Aku mendongak dengan tatapan tenang. "Aku pinjam dari pihak kampus. Karena aku nggak pernah kuliah, aku cuma ingin tahu rasanya seperti apa."Aku menggoyang-goyangkan tiket pesawat dan dokumen di tanganku dengan nada datar. "Kalau ini, aku menemukannya di jalan. Baru mau aku antar ke pos satpam."Me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status