แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Lalala
Aku mendongak dengan tatapan tenang. "Aku pinjam dari pihak kampus. Karena aku nggak pernah kuliah, aku cuma ingin tahu rasanya seperti apa."

Aku menggoyang-goyangkan tiket pesawat dan dokumen di tanganku dengan nada datar. "Kalau ini, aku menemukannya di jalan. Baru mau aku antar ke pos satpam."

Melihat ada secercah rasa bersalah yang melintas di matanya, aku hanya merasa ironis.

Seandainya bukan karena obsesi dan sikap posesifnya yang gila dulu, seharusnya aku juga menjadi salah satu wisudawan hari ini, berdiri di atas panggung dengan jubah wisuda dan menerima tepuk tangan meriah.

Nada bicaranya melunak. "Kalau begitu, biar aku temani." Dia mengulurkan tangan hendak mengambil barang-barang itu.

Kebetulan saat itu rektor datang menghampiri untuk mengajaknya berfoto bersama. Aku segera memiringkan tubuh untuk menghindar. "Kamu lanjutkan saja dulu, aku bisa sendiri kok."

Di tengah jalan, Sherly sedang bersandar di bawah pohon menungguku. Wajahnya menunjukkan raut kemenangan yang sama sekali tidak ditutup-tutupi.

"Kamu sudah tahu semuanya, 'kan?" Dia memiringkan kepalanya sambil tersenyum sinis. "Oh, benar juga, semua yang perlu kukirim sudah kukirim padamu. Jatuh dari kuda itu rasanya sakit sekali, ya?"

"Kamu tahu apa yang dia katakan saat pertama kali mencariku?" Dia sengaja menjeda kalimatnya. "Dia bilang, 'Nona Sherly, aku ingin menafkahimu selama tiga tahun dengan status sebagai suami'."

Aku menarik sudut bibirku, lalu mendengus dingin. "Jadi, sejak awal kamu sengaja mendekatiku, 'kan? Apa mempermainkanku semenyenangkan itu?"

Sherly tertawa makin lebar. "Tentu saja. Aku cuma ingin melihat seperti apa rupamu, sampai-sampai mereka semua nggak bisa melupakanmu!"

Tatapannya pun tiba-tiba berubah penuh arti. "Masih nggak mengerti? Nggak apa-apa, sebentar lagi kamu juga akan tahu."

Ponselnya tiba-tiba berdering. Dia melirik layar, lalu beralih menatapku dengan binar kemenangan seorang pemenang. "Suamiku mencariku. Sampai jumpa nanti malam."

Aku segera memahami apa maksud dari kalimat "sampai jumpa nanti malam" itu.

Bima telah menyiapkan pesta ulang tahun untukku di atas sebuah kapal pesiar mewah.

Saat kembang api pembuka akan segera dinyalakan, Bima memanggil Sherly ke atas panggung, lalu menoleh menatapku.

"Rhea, kebetulan sekali, ulang tahun Sherly sama dengan harimu. Bagaimana kalau kalian melakukan pembukaan bersama?" Dia pun menambahkan, "Soal kejadian di pacuan kuda, gadis ini terus-menerus merasa bersalah. Anggap saja hari ini sebagai momen untuk berdamai dan melupakan masa lalu."

Pandanganku tertuju pada gaun pesta milik Sherly yang berkilau penuh berlian.

Itu adalah hadiah Valentine yang diberikan Bima padaku tahun lalu. Saat itu dia berkata, "Hanya Rhea-ku yang pantas mengenakan kemilau seperti ini."

Melihatku terus menatap gaun itu, Bima buru-buru menjelaskan, "Sher … maksudku, Asisten Sherly nggak bawa gaun yang cocok, jadi aku mengambil satu secara acak dari lemarimu."

Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Sayang, nanti aku belikan yang baru, yang jauh lebih bagus."

Aku mendorongnya pelan dengan raut wajah tanpa ekspresi. "Luka di tanganku belum sembuh, biarkan Asisten Sherly saja yang melakukan pembukaan acara sendiri."

Mendengar itu, Bima segera menarikku untuk duduk dan merapikan anak rambut di dahiku dengan lembut. "Maaf, aku terlalu sibuk sampai lupa. Apa tanganmu masih sakit?"

Aku menarik tanganku kembali. "Pergilah temui tamu-tamumu, aku ingin sendirian sebentar."

Setelah Bima pergi, keriuhan di aula besar itu seolah menjauh.

Lampu proyektor tiba-tiba menyala, menyorot ke arah piano di tengah ruangan. Alunan melodi familier dari lagu berjudul Cinta Rahasia mulai mengalir.

Bima dan Sherly duduk berdampingan di depan piano, memancarkan keintiman yang membuat orang lain merasa mustahil untuk menyela. Keduanya bermain dengan sangat kompak, seolah mereka adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Lagu berakhir, diikuti riuh tepuk tangan yang membahana.

Bisik-bisik para tamu pun mulai menyusup ke telingaku.

"Bukannya lagu ini wajib dimainkan oleh pasangan kekasih? Apa Pak Bima sedang melakukan pengumuman hubungan secara terselubung?"

"Jangan asal bicara, kudengar Pak Bima punya seorang kesayangan yang dia besarkan sendiri sejak kecil. Wanita itu pernah menyelamatkan nyawanya dulu, makanya dia dijaga seperti permata."

"Halah, maksudmu sang penyelamat yang pernah disekap dan disiksa selama tiga hari tiga malam di Keluarga Nawasena itu? Laki-laki mana yang bisa tahan dengan masa lalu sekotor itu."

Rasa dingin seketika menyergap seluruh tubuhku, membuatku gemetar tak terkendali.

Bima membelah kerumunan, berjalan kembali ke sisiku. "Rhea, kamu suka? Ini khusus kusiapkan untukmu. Sherly bilang dia kebetulan bisa memainkannya."

Aku hanya menatapnya tajam tanpa suara.

Suaranya pun perlahan melemah, lalu dia meraih dan menggenggam tanganku yang dingin dan gemetar.

"Kamu cemburu? Rhea, aku dan dia nggak ada hubungan apa-apa. Kita sudah bersama selama 18 tahun, kamu harus percaya padaku, di hatiku cuma ada kamu. Dia punya perjanjian beasiswa dengan kantor, kalau bukan karena itu, aku nggak akan membiarkannya ada di dekatku."

Bima pun mencengkeram tanganku dan membawaku ke dek kapal. Di kejauhan, kembang api baru saja meluncur ke angkasa, meledak satu demi satu hingga menghiasi seluruh langit malam.

"Rhea, aku ...."

Kalimatnya terputus oleh dering ponsel yang tiba-tiba.

Itu telepon dari Sherly, suaranya terdengar penuh ketakutan.

"Pak Bima, kamu tahu Rhea ada di mana? Dia mengajakku bertemu di dermaga, katanya mau mengambil kembali gaun ini. Aku sudah melepasnya dan mau mengembalikannya sekarang, tapi di sini gelap sekali. Ah! Siapa kalian?!"

Disusul kemudian suara ponsel yang terjatuh ke tanah, bercampur dengan teriakan histeris Sherly dan tawa riuh beberapa pria.

"Siapa yang mengirim anak domba semanis ini ke wilayah Keluarga Nawasena? Teman-teman, ayo kita nikmati."

"Tolong! Jangan sentuh aku! Rhea, kamu di mana? Pergi kalian!"

Bersamaan dengan suara pakaian yang robek, panggilan itu terputus tiba-tiba.

Bima mencengkeram ponselnya kuat-kuat, lalu kepalanya tersentak menoleh menatapku tajam.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 23

    Dalam upacara kelulusan kali ini, aku naik ke atas panggung untuk memberikan pidato sebagai lulusan terbaik.Bintang yang dulunya redup ini akhirnya berhasil menanggalkan abunya, kini bersinar terang di panggung miliknya sendiri.Di bawah panggung, Arka tampak sedang menggendong Reno yang kini sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Rafael yang terlihat makin dewasa dan tampan.Begitu pidato berakhir, Rafael naik ke panggung dan memberikan sebuket bunga matahari yang cerah kepadaku.Akan tetapi, jauh di sudut ruangan yang tersembunyi, ada seorang pria lain yang sedang menatapku dengan penuh kerinduan, seolah ingin merekam setiap lekuk wajahku dalam ingatannya.Selama tiga tahun ini, Bima telah datang ke Negara Atharwa sebanyak 160 kali. Dia tidak pernah melewatkan satu pun pertunjukanku.Bahkan pada hari aku melahirkan, dia pergi ke kuil dan berlutut menaiki seribu anak tangga hanya untuk memohon untaian gelang tasbih baru demi keselamatanku.Akan tetapi, aku tidak pernah menem

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 22

    Mimpi indah itu buyar seketika oleh suara perawat.Bima membuka matanya dengan linglung, yang pertama kali dia lihat adalah wajah asistennya yang tampak lesu.Melihat Bima sudah sadar, asistennya segera melapor, "Pak Bima, identitas Anda bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya, kita segera pulang ke tanah air."Bima mencabut jarum infus di tangannya, lalu duduk tegak. "Siapkan mobil. Kita ke rumah Keluarga Abian."Sementara itu, aku sedang menikmati ceri yang dicuci sendiri oleh Rafael, sambil berjemur di bawah sinar matahari di atas kursi malas."Rafael, soal ucapanku tempo hari, aku hanya menjadikanmu tameng karena keadaan sedang mendesak. Jangan salah paham, ya."Arka menatap Rafael yang sangat perhatian itu dengan raut wajah penuh kejengkelan.Rafael mengeluarkan sehelai selimut tipis, meletakkannya tepat di samping tanganku, memastikan aku bisa meraihnya dengan mudah jika membutuhkannya."Iya, aku nggak salah paham," jawab Rafael santai.Arka menatap wa

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 21

    Keesokan harinya, saat aku hendak keluar rumah, aku baru menyadari Bima ternyata belum pergi.Dia bersandar di pintu mobilnya dengan penampilan yang tampak kacau dan lesu. Begitu melihatku, matanya yang semula redup seketika kembali bercahaya."Rhea, kamu mau pergi ke mana? Biar aku antar."Aku tidak menghiraukannya dan langsung masuk ke mobilku sendiri.Bima pun mengemudikan mobilnya, mengikutiku dari belakang dengan raut wajah yang tampak layu.Dia tidak percaya, bagaimana mungkin hanya dalam waktu dua bulan, aku bisa jatuh cinta pada orang lain.Terlebih lagi, dalam pikiran Bima, hubungan kami retak hanyalah karena sebuah kesalahpahaman belaka. Dia yakin begitu amarahku sudah reda, aku pasti akan kembali ke pelukannya.Ketika dia tersadar dari lamunannya, dia baru menyadari bahwa tempat yang kudatangi adalah rumah sakit.Apa aku sakit? Untuk apa aku ke rumah sakit?Di satu sisi dia menyesali dirinya yang tidak menyelidiki kondisiku dengan teliti, tetapi di sisi lain dia sangat mence

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 20

    Aku sedang mengurus prosedur cuti kuliah, jadi beberapa hari terakhir ini aku sering bolak-balik antara rumah dan kampus.Tepat di belokan jalan menuju kampus, aku tidak sengaja menabrak seseorang.Aku segera memantapkan posisi berdiriku dan menunduk untuk meminta maaf. "Maaf."Akan tetapi, orang itu justru memelukku erat-erat. Suaranya terdengar tersedat karena tangis. "Rhea, akhirnya aku menemukanmu."Suara itu membuat seluruh tubuhku bergetar hebat. Aku sekuat tenaga mendorongnya menjauh. "Bima? Bagaimana bisa kamu ada di sini?"Ekspresi Bima tampak sangat terluka. "Rhea, ada banyak kesalahpahaman di antara kita. Apa bisa kamu dengar penjelasanku?"Mahasiswa yang lalu lalang menatap kami dengan rasa ingin tahu. Aku terpaksa membawanya ke kafe di sebelah kampus.Di sana, Bima menjelaskan segalanya dengan air mata yang terus mengalir.Setelah selesai bicara, dia mencoba meraih tanganku dengan nada bicara yang sangat mendesak. "Rhea, hubunganku dengan Sherly cuma sebatas kontrak. Akta

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 19

    Arka mengangguk dengan perasaan agak malu, lalu segera mengalihkan pembicaraan."Rhea, sekarang kamu sudah kembali, aku ingin kamu mulai melihat-lihat aset dan bisnis keluarga kita. Kalau kamu tertarik, kamu bisa ikut mengelolanya sendiri."Aku tidak membongkar niat kecilnya itu.Baginya, kembali memegang kuas lukis adalah sebuah kemajuan besar. Itu berarti tidak lama lagi dia akan benar-benar bangkit dan melangkah maju.Lagi pula, aku tidak ingin dia terus-menerus terkurung dalam rasa bersalahnya.Sepiring steak yang sudah dipotong rapi disodorkan ke hadapanku. Rafael mengedipkan matanya padaku. Melihat interaksi kami, Arka menggertakkan gigi karena kesal."Rafael, adikku nggak akan menikah. Kami cuma menerima menantu yang mau tinggal di sini dan kamu nggak memenuhi syarat.""Perjodohan masa lalu itu 'kan cuma lelucon orang tua, nggak perlu dianggap serius," balas Rafael sambil menyendokkan semangkuk sup hidangan laut untukku.Akan tetapi, entah mengapa, tiba-tiba perutku terasa berge

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 18

    Aswin membanting tongkatnya ke arah kaki Bima. "Kurang ajar! Kamu sudah berani membangkang?!"Bima menatapnya dengan pandangan dingin. "Kakek, Kakeklah yang memaksaku melakukan ini. Aku cuma menyesal kenapa nggak mengambil keputusan ini lebih awal, malah setuju dengan syarat konyolmu itu."Dia menatap kakeknya yang tampak jauh lebih tua, lalu menghela napas panjang."Kakek sebenarnya sudah tahu Rhea akan meninggalkanku, 'kan? Makanya Kakek mengajukan syarat itu. Cuma aku saja yang bodoh, percaya bahwa setelah semua drama ini berakhir, aku bisa hidup bahagia lagi dengan Rhea."Dia terdiam sejenak, seolah memantapkan tekadnya."Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Rhea, maka hubungan kakek dan cucu di antara kita pun berakhir sampai di sini."Setelah berkata demikian, dia memerintahkan orang-orangnya untuk membawa Aswin pergi.Lalu, dia segera menghubungi sebuah nomor. "Siapkan identitas baru untukku. Aku harus pergi ke Negara Atharwa.""Harus menunggu tiga bulan lagi."Bima mengerny

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 8

    Panggilan pertama, hanya ada nada sibuk yang monoton.Panggilan kedua, ketiga ... hingga yang kesembilan, tetap tidak ada jawaban dari seberang sana.Yuda berdiri di samping sambil bersedekap, sudut bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.Hatiku perlahan tenggelam ke dasar jurang.Pada percobaan

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 7

    "Bukan aku." Aku mengeluarkan ponselku untuk membuktikan diri. "Aku sama sekali nggak pernah menghubunginya."Bima tiba-tiba tersenyum, lalu mengulurkan tangan dan mendekapku erat dalam pelukannya. "Rhea, apa yang kamu takutkan? Mana mungkin aku nggak memercayaimu cuma karena orang asing."Aku menat

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 5

    Di antara sadar dan tidak, aku mendengar suara percakapan dari balik pintu."Pak Bima, pihak pacuan kuda sudah memeriksanya. Ternyata ada seseorang yang menukar tali kekangnya dengan yang sudah usang. Hari itu, cuma Nona Sherly yang sempat menyentuh kuda yang biasa ditunggangi Nona Rhea."Setelah he

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 4

    Baru saja dia hendak melangkah maju untuk memeriksanya, ponselnya berdering.Nama Sherly muncul di layar dan suara lembut nan manja terdengar dari speaker. "Sayang, kepalaku pusing."Bima sekali lagi melirik gelang di atas nampan itu. Ujung jarinya tampak gemetar dan mengepal di sisi tubuhnya, tetap

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status