Share

Bab 7

Penulis: Lalala
"Bukan aku." Aku mengeluarkan ponselku untuk membuktikan diri. "Aku sama sekali nggak pernah menghubunginya."

Bima tiba-tiba tersenyum, lalu mengulurkan tangan dan mendekapku erat dalam pelukannya. "Rhea, apa yang kamu takutkan? Mana mungkin aku nggak memercayaimu cuma karena orang asing."

Aku menatap kosong ke arah wajahnya yang tampak menahan diri hingga terlihat sedikit terdistorsi. Untuk sesaat, aku tidak bisa membaca apa yang ada di pikirannya.

"Rhea, aku pergi periksa dulu apa yang sebenarnya terjadi."

Dia pun melepaskan pelukannya, ujung jarinya mengusap pipiku pelan. "Malam ini nggak aman, aku akan minta pengawal mengantarmu pulang ke vila sekarang. Begitu kamu bangun nanti, semuanya akan baik-baik saja."

Dia memanggil para pengawal dan mengawasiku secara langsung sampai aku benar-benar masuk ke dalam mobil.

Tepat saat pintu mobil ditutup, petir menggelegar di langit. Tetesan hujan sebesar biji jagung mulai menghantam bumi dan dalam sekejap berubah menjadi hujan badai yang sangat lebat.

Kembang api di atas kapal pesiar yang tadinya menyala terang, kini padam oleh hujan deras hingga hanya menyisakan percikan api kecil yang sekarat, persis seperti ikatan 18 tahun antara aku dan dia, padam begitu saja tanpa sempat bersiap.

Dari balik tirai hujan, aku menatap pria yang berdiri mematung di sana. Sosoknya dengan cepat tertelan oleh kabut air.

Detik berikutnya, sebuah kain hitam tiba-tiba membekap kepalaku. Bau obat yang menyengat menyeruak masuk ke indra penciumanku dan kesadaranku seketika tenggelam dalam kegelapan.

Sebelum kehilangan kesadaran, tiba-tiba aku teringat sorot mata Bima yang sedingin es sesaat sebelum aku masuk ke mobil.

Dia sengaja. Sengaja menggunakan kelembutan untuk melumpuhkanku, membuatku lengah dan menurunkan kewaspadaan.

Saat terbangun kembali, aku sudah berganti pakaian santai. Tangan dan kakiku terikat tambang kasar, sementara mulutku ditutup lakban.

Sosok Bima muncul dalam pandanganku. Dia hanya melirikku dengan dingin sebelum akhirnya membuang muka. Aku ingin memanggilnya, ingin menuntut penjelasan, tetapi tubuhku tak bertenaga.

Saat para pengawal menyeretku melewati sisinya, dia mengucapkan kata-kata yang menyayat bagai sembilu.

"Rhea, cuma karena dirimu sudah hancur oleh Keluarga Nawasena, bukan berarti kamu bisa menyeret Sherly ke lubang yang sama."

Air mataku seketika tumpah tak terbendung.

Akhirnya dia mengucapkannya juga. Ternyata selama ini dia tidak pernah percaya bahwa aku keluar dari Keluarga Nawasena dalam keadaan bersih dan suci.

Pantas saja, waktu itu saat aku ketahuan hamil, aku harus kehilangan bayiku dalam sebuah kecelakaan mobil yang tak disengaja.

Itu sama sekali bukan kecelakaan.

Ternyata, dia tidak percaya anak itu adalah darah dagingnya.

Aku menyesal.

Aku menyesal telah mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya, hanya untuk dibalas dengan rasa jijik dan pengkhianatan, bahkan hingga dia tega membunuh anak kami dengan tangannya sendiri.

"Kirim dia ke Keluarga Nawasena, tukar dengan Sherly."

Kalimat tak berperikemanusiaan itu membuatku memberontak sekuat tenaga. Tidak, aku tidak mau! Aku tidak mau kembali ke neraka itu lagi!

Akan tetapi, seluruh anggota tubuhku ditekan dengan kuat hingga aku tidak punya tenaga sedikit pun untuk melawan.

Tepat saat aku berada di ambang kehancuran, tiba-tiba kudengar suara Bima melunak. "Rhea, tunggu aku. Aku akan segera kembali untuk menyelamatkanmu."

Aku memejamkan mata, membiarkan air mata jatuh membasahi pipi.

Melihat punggungku yang diseret menjauh, Bima tiba-tiba merasa panik. Dia berteriak dengan suara keras, "Tunggu! Singkap lengan bajunya!"

Pengawal itu menurut dan menyibak lengan bajuku, memperlihatkan pergelangan tangan kiriku yang polos, tanpa ada perhiasan apa pun di sana.

Ketegangan yang menyelimuti saraf Bima mendadak mengendur.

Tidak ada. Tidak ada gelang tasbih itu di sana.

Wanita ini bukan Rhea.

Wajah gadis pengganti ini terlalu mirip dengan Rhea, sangat mirip sampai-sampai dia nyaris salah mengenalinya.

Kakeknya pernah bilang, keluarga mereka sudah menjamin kehidupan keluarga gadis pengganti ini. Dia melakukan ini atas kemauannya sendiri.

Sekali lagi, Bima menyuruh pengawal membuka rekaman CCTV di vila yang menunjukkan "sosokku" sedang duduk diam. Setelah memastikan orang di layar itu baik-baik saja, dia akhirnya membiarkan aku, yang dia anggap sebagai gadis pengganti, dibawa masuk ke sarang Keluarga Nawasena.

Setibanya di sana, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Sherly berjalan keluar dengan tubuh penuh lebam dan pakaian yang koyak.

Saat melewatiku, wanita itu menyeringai penuh kemenangan ke arahku. Tanpa suara, mulutnya membentuk kata, "Mati saja kamu," sebelum akhirnya dia menjatuhkan diri dengan lemah ke dalam pelukan Bima.

"Sayang, jangan takut. Aku sudah datang menjemputmu."

Bima menenangkannya dengan lembut sembari melepaskan jasnya untuk menyelimuti Sherly. Dia pun menggendong wanita itu dengan penuh kehati-hatian, lalu memacu mobilnya pergi tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Di belakangku, pintu besi yang berat tertutup dengan dentuman keras, mengunci diriku sepenuhnya di dalam neraka Keluarga Nawasena ini.

Belum sempat aku pulih dari rasa sesak akibat keputusasaan, sebuah rantai besi sudah melilit leherku. Ujung rantai lainnya berada di genggaman sang penguasa Keluarga Nawasena, Yuda Nawasena.

Dia mengenakan kacamata berbingkai emas, perlahan-lahan menggoyangkan rantai itu dengan santai. "Nona Rhea, kita bertemu lagi."

"Dulu, saat kuminta kamu menemaniku satu malam, kamu bersikeras menjaga kesucian demi Bima, bahkan berani bertaruh nyawa menerjang jebakan maut Keluarga Nawasena."

Dia lalu terkekeh pelan. "Sayangnya, Bima tetap saja menganggapmu sudah bekas mainanku, bahkan sampai tega membunuh darah dagingnya sendiri."

"Kali ini jauh lebih menarik. Demi wanita lain, dia sendiri yang menyerahkanmu kembali ke tanganku." Yuda pun membungkuk, menatapku tajam. "Rhea, kali ini kamu nggak akan bisa lari lagi."

Dia mengulurkan tangan dan merobek lakban di mulutku. Tarikannya yang kuat membuat kulitku terasa perih menyengat.

Detik berikutnya, daguku dicengkeram dengan kasar dan sebuah pil dingin dipaksa masuk ke tenggorokanku.

Yuda menyeretku ke dalam sebuah kamar bersih yang hanya berisi satu ranjang besar, lalu melemparkan ponselku ke arahku. "Sepuluh menit lagi obatnya akan bereaksi."

"Aku memberimu sepuluh kali kesempatan untuk menelepon Bima. Selama dia bisa sampai di sini dalam waktu sepuluh menit, aku akan melepaskanmu."

"Jangan macam-macam, kamu cuma boleh meneleponnya. Kalau nggak, kamu akan terjebak di sini selamanya."

Aku merasakan panas yang mulai menjalar cepat dari perutku. Dengan ujung jari yang gemetar, aku menekan nomor yang sudah terpatri di luar kepala itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 23

    Dalam upacara kelulusan kali ini, aku naik ke atas panggung untuk memberikan pidato sebagai lulusan terbaik.Bintang yang dulunya redup ini akhirnya berhasil menanggalkan abunya, kini bersinar terang di panggung miliknya sendiri.Di bawah panggung, Arka tampak sedang menggendong Reno yang kini sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Rafael yang terlihat makin dewasa dan tampan.Begitu pidato berakhir, Rafael naik ke panggung dan memberikan sebuket bunga matahari yang cerah kepadaku.Akan tetapi, jauh di sudut ruangan yang tersembunyi, ada seorang pria lain yang sedang menatapku dengan penuh kerinduan, seolah ingin merekam setiap lekuk wajahku dalam ingatannya.Selama tiga tahun ini, Bima telah datang ke Negara Atharwa sebanyak 160 kali. Dia tidak pernah melewatkan satu pun pertunjukanku.Bahkan pada hari aku melahirkan, dia pergi ke kuil dan berlutut menaiki seribu anak tangga hanya untuk memohon untaian gelang tasbih baru demi keselamatanku.Akan tetapi, aku tidak pernah menem

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 22

    Mimpi indah itu buyar seketika oleh suara perawat.Bima membuka matanya dengan linglung, yang pertama kali dia lihat adalah wajah asistennya yang tampak lesu.Melihat Bima sudah sadar, asistennya segera melapor, "Pak Bima, identitas Anda bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya, kita segera pulang ke tanah air."Bima mencabut jarum infus di tangannya, lalu duduk tegak. "Siapkan mobil. Kita ke rumah Keluarga Abian."Sementara itu, aku sedang menikmati ceri yang dicuci sendiri oleh Rafael, sambil berjemur di bawah sinar matahari di atas kursi malas."Rafael, soal ucapanku tempo hari, aku hanya menjadikanmu tameng karena keadaan sedang mendesak. Jangan salah paham, ya."Arka menatap Rafael yang sangat perhatian itu dengan raut wajah penuh kejengkelan.Rafael mengeluarkan sehelai selimut tipis, meletakkannya tepat di samping tanganku, memastikan aku bisa meraihnya dengan mudah jika membutuhkannya."Iya, aku nggak salah paham," jawab Rafael santai.Arka menatap wa

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 21

    Keesokan harinya, saat aku hendak keluar rumah, aku baru menyadari Bima ternyata belum pergi.Dia bersandar di pintu mobilnya dengan penampilan yang tampak kacau dan lesu. Begitu melihatku, matanya yang semula redup seketika kembali bercahaya."Rhea, kamu mau pergi ke mana? Biar aku antar."Aku tidak menghiraukannya dan langsung masuk ke mobilku sendiri.Bima pun mengemudikan mobilnya, mengikutiku dari belakang dengan raut wajah yang tampak layu.Dia tidak percaya, bagaimana mungkin hanya dalam waktu dua bulan, aku bisa jatuh cinta pada orang lain.Terlebih lagi, dalam pikiran Bima, hubungan kami retak hanyalah karena sebuah kesalahpahaman belaka. Dia yakin begitu amarahku sudah reda, aku pasti akan kembali ke pelukannya.Ketika dia tersadar dari lamunannya, dia baru menyadari bahwa tempat yang kudatangi adalah rumah sakit.Apa aku sakit? Untuk apa aku ke rumah sakit?Di satu sisi dia menyesali dirinya yang tidak menyelidiki kondisiku dengan teliti, tetapi di sisi lain dia sangat mence

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 20

    Aku sedang mengurus prosedur cuti kuliah, jadi beberapa hari terakhir ini aku sering bolak-balik antara rumah dan kampus.Tepat di belokan jalan menuju kampus, aku tidak sengaja menabrak seseorang.Aku segera memantapkan posisi berdiriku dan menunduk untuk meminta maaf. "Maaf."Akan tetapi, orang itu justru memelukku erat-erat. Suaranya terdengar tersedat karena tangis. "Rhea, akhirnya aku menemukanmu."Suara itu membuat seluruh tubuhku bergetar hebat. Aku sekuat tenaga mendorongnya menjauh. "Bima? Bagaimana bisa kamu ada di sini?"Ekspresi Bima tampak sangat terluka. "Rhea, ada banyak kesalahpahaman di antara kita. Apa bisa kamu dengar penjelasanku?"Mahasiswa yang lalu lalang menatap kami dengan rasa ingin tahu. Aku terpaksa membawanya ke kafe di sebelah kampus.Di sana, Bima menjelaskan segalanya dengan air mata yang terus mengalir.Setelah selesai bicara, dia mencoba meraih tanganku dengan nada bicara yang sangat mendesak. "Rhea, hubunganku dengan Sherly cuma sebatas kontrak. Akta

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 19

    Arka mengangguk dengan perasaan agak malu, lalu segera mengalihkan pembicaraan."Rhea, sekarang kamu sudah kembali, aku ingin kamu mulai melihat-lihat aset dan bisnis keluarga kita. Kalau kamu tertarik, kamu bisa ikut mengelolanya sendiri."Aku tidak membongkar niat kecilnya itu.Baginya, kembali memegang kuas lukis adalah sebuah kemajuan besar. Itu berarti tidak lama lagi dia akan benar-benar bangkit dan melangkah maju.Lagi pula, aku tidak ingin dia terus-menerus terkurung dalam rasa bersalahnya.Sepiring steak yang sudah dipotong rapi disodorkan ke hadapanku. Rafael mengedipkan matanya padaku. Melihat interaksi kami, Arka menggertakkan gigi karena kesal."Rafael, adikku nggak akan menikah. Kami cuma menerima menantu yang mau tinggal di sini dan kamu nggak memenuhi syarat.""Perjodohan masa lalu itu 'kan cuma lelucon orang tua, nggak perlu dianggap serius," balas Rafael sambil menyendokkan semangkuk sup hidangan laut untukku.Akan tetapi, entah mengapa, tiba-tiba perutku terasa berge

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 18

    Aswin membanting tongkatnya ke arah kaki Bima. "Kurang ajar! Kamu sudah berani membangkang?!"Bima menatapnya dengan pandangan dingin. "Kakek, Kakeklah yang memaksaku melakukan ini. Aku cuma menyesal kenapa nggak mengambil keputusan ini lebih awal, malah setuju dengan syarat konyolmu itu."Dia menatap kakeknya yang tampak jauh lebih tua, lalu menghela napas panjang."Kakek sebenarnya sudah tahu Rhea akan meninggalkanku, 'kan? Makanya Kakek mengajukan syarat itu. Cuma aku saja yang bodoh, percaya bahwa setelah semua drama ini berakhir, aku bisa hidup bahagia lagi dengan Rhea."Dia terdiam sejenak, seolah memantapkan tekadnya."Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Rhea, maka hubungan kakek dan cucu di antara kita pun berakhir sampai di sini."Setelah berkata demikian, dia memerintahkan orang-orangnya untuk membawa Aswin pergi.Lalu, dia segera menghubungi sebuah nomor. "Siapkan identitas baru untukku. Aku harus pergi ke Negara Atharwa.""Harus menunggu tiga bulan lagi."Bima mengerny

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 8

    Panggilan pertama, hanya ada nada sibuk yang monoton.Panggilan kedua, ketiga ... hingga yang kesembilan, tetap tidak ada jawaban dari seberang sana.Yuda berdiri di samping sambil bersedekap, sudut bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.Hatiku perlahan tenggelam ke dasar jurang.Pada percobaan

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 3

    Sepertinya, Bima salah menangkap maksud reaksiku.Dia mengangkat tangannya, memberi sebuah isyarat, dan seketika ribuan titik cahaya menyala terang di luar jendela.Puluhan ribu pesawat tanpa awak terbang ke angkasa, membentuk siluet sepasang pria dan wanita yang sedang berpelukan di langit malam. D

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 2

    Balasanku untuk Sherly hanya terdiri dari dua kata: [Selamat ya.]Setelah itu, aku langsung membalas pesan dosenku: [Pak Anwar, aku terima tawarannya.]Balasan dari Sherly masuk dengan cepat. Dia mengirimkan sebuah foto. Dua tangan yang saling menggenggam erat, dengan cincin berlian di jari manis ya

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 1

    Hari ketika aku kembali ke kampus dengan kaki yang masih cedera, aku justru disambut oleh adegan sebuah lamaran yang sangat megah.Jalanan dari gerbang sekolah menuju asrama telah ditaburi kelopak mawar putih. Di tengahnya, karpet biru laut membentang luas, memantulkan kemilau cahaya yang seolah-ola

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status