Share

Bab 2

Author: Lalala
Balasanku untuk Sherly hanya terdiri dari dua kata: [Selamat ya.]

Setelah itu, aku langsung membalas pesan dosenku: [Pak Anwar, aku terima tawarannya.]

Balasan dari Sherly masuk dengan cepat. Dia mengirimkan sebuah foto. Dua tangan yang saling menggenggam erat, dengan cincin berlian di jari manis yang berkilau tajam di layar ponselku.

Tulisannya dipenuhi kegembiraan yang meluap-luap: [Dia bilang, aku wanita yang sempurna buat dia.]

Dosenku juga membalas hampir di detik yang sama: [Bagus sekali! Orang-orang dari orkestra akan segera kembali ke tanah air, tiket pesawat akan mereka urus. Ingat, kamu harus lapor diri tujuh hari lagi. Semangat!]

Aku mengembuskan napas panjang di depan layar ponsel.

Kumasukkan ijazah yang selama ini kusembunyikan ke dalam ransel. Dokumen yang awalnya ingin kujadikan kejutan untuk ulang tahun hubungan kami yang ke-7, kini justru menjadi tiket keberangkatanku untuk melarikan diri.

Layar situs rahasia itu masih menyala terang. Dengan mantap, aku menekan tombol kirim pada formulir pencarian keluarga yang sudah kupersiapkan.

Dari balik rimbunnya daun pohon-pohon di luar, aku bisa melihat siluet pria itu di dalam vila. Dia masih tampak sama, tenang dan terlihat seperti seseorang yang selalu memegang kendali atas segalanya.

Bima, kali ini aku benar-benar akan pergi.

Karena kamu yang sudah menganggap diri sebagai keluargaku saja bisa berkhianat, maka aku akan pergi mencari keluargaku yang sebenarnya.

Dengan langkah gontai, aku kembali ke apartemenku.

Sesuai dugaan, malam itu Bima tidak pulang.

Pukul tiga pagi, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk darinya.

[Rhea, di kantor ada urusan mendadak dan aku harus ke luar kota. Kamu baik-baik, ya, di rumah, tunggu aku pulang. Aku mencintaimu.]

Saat fajar hampir menyingsing, pesan dari Sherly muncul lagi, kali ini lengkap dengan sebuah video.

[Rhea, aku lagi di Kota Vedant! Kamu tahu nggak, dia ternyata bangunin aku Puri Angsa! Aku bahagia banget!]

Di dalam video itu, tepat di tengah air mancur menari seluas sepuluh ribu meter persegi, berdiri patung angsa raksasa dari kristal putih. Cahaya matahari yang menerpanya menciptakan pantulan kilau yang begitu menyilaukan mata.

Hanya separuh wajah Bima yang tertangkap kamera, tetapi suaranya terdengar begitu lembut hingga terasa memuakkan. "Sherly, kamu lagi kirim pesan ke siapa?"

"Tentu saja ke Rhea," jawab Sherly sambil tertawa manja dan mengalungkan lengannya ke leher Bima. "Kenapa, Pak Bima? Rhea 'kan teman kuliah terbaikku."

Kamera tiba-tiba bergeser, langsung menyorot wajah Bima dengan jelas.

Aku bisa melihat dengan sangat nyata bagaimana pupil matanya mengecil karena terkejut, sebelum akhirnya perlahan rileks kembali.

Benar juga. Di matanya, mana mungkin aku, Rhea, bisa menginjakkan kaki ke area kampus.

Dulu, dia selalu mendekapku erat dalam pelukannya, mengusap puncak kepalaku dengan lembut, sementara matanya memancarkan obsesi yang gila.

"Rhea, jangan pergi ke kampus, ya? Aku nggak mau Rhea ku dilirik orang lain."

Dulu, dia sering mengecup daun telingaku sambil berbisik, "Kamu cantik sekali, bagaimana kalau nanti kamu dibawa kabur sama teman kuliahmu?"

Akan tetapi, karena di dalam hatiku masih tersimpan mimpi untuk menjadi musisi, aku tetap mendaftar kuliah secara diam-diam tanpa sepengetahuannya.

Selama kuliah, aku selalu memakai masker setiap hari dan sama sekali tidak berinteraksi dengan lawan jenis. Teman-teman sekelasku bahkan menganggapku sebagai orang aneh yang antisosial.

Akan tetapi, aku tidak peduli.

Di hari aku mendapatkan ijazah, aku sempat berlatih berkali-kali dengan nada bicara yang sedikit sombong, berniat untuk memamerkan sertifikat itu saat dia pulang nanti. "Lihat, aku nggak dibawa kabur orang, 'kan?" Lalu, aku ingin menyeretnya untuk ikut menghadiri upacara kelulusanku.

Sekarang aku sadar, ternyata orang yang dibawa kabur orang itu adalah Bima.

Dulu, Sherly adalah orang yang pertama kali mendekatiku. Aku selalu merasa antusiasmenya itu sedikit berlebihan, seolah-olah dia punya maksud tersendiri. Namun, belakangan, aku menyadari kami ternyata punya banyak hobi yang sama.

Kami sama-sama suka berkuda, suka memanah, menyukai warna putih, dan kami berdua sangat suka bermain piano.

Sherly bahkan pernah berbagi rahasia kecilnya denganku. "Rhea, ada seorang pria hebat yang bilang dia menyukaiku dan ingin jadi donaturku. Aku nggak tahu harus berbuat apa."

Saat itu, aku yang sedang tenggelam dalam manisnya cinta bersama Bima, hanya tersenyum dan menasihatinya, "Ikuti saja apa kata hatimu."

Kalau saja aku tidak memergoki acara lamaran itu, aku mungkin tidak akan pernah tahu pria hebat yang selalu diceritakan Sherly adalah Bima, pria yang setiap hari membisikkan kata "aku cinta kamu" kepadaku.

Air mataku seolah mengalir masuk ke dalam hati, rasa pahitnya menjalar hingga ke seluruh ujung sarafku.

Video itu masih terus berputar.

Bima sudah mengangkat Sherly ke dalam gendongannya, suaranya terdengar sangat lembut dan penuh kasih sayang.

"Sayang, tadi kamu panggil aku apa? Pak Bima? Kamu makin berani, ya? Sekarang waktunya suamimu ini memberimu hukuman."

Video itu berakhir tiba-tiba.

Ponselku terlepas dari genggaman, merosot jatuh ke sudut sofa.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, meringkuk memeluk diriku sendiri. Bahuku gemetar hebat, tak bisa berhenti.

Panggilan seakrab dan semanis itu, Bima tidak pernah sekali pun mengucapkannya padaku.

Dulu, aku selalu mengira itu karena sifatnya yang dingin dan dia tidak pandai merangkai kata-kata manis. Sekarang, aku baru sadar. Dia bukan tidak bisa, dia hanya tidak sudi memberikannya kepadaku.

Pesan dari Sherly masih terus bermunculan satu demi satu di layar.

[Rhea, dia di ranjang hebat banget! Aku bener-bener dapet harta karun, ih jadi malu sendiri.]

[Hadiah pernikahan yang kamu kasih buat aku sampai dirobek sama dia, huhu.]

[Rhea, kamu 'kan pernah bilang suamimu juga setiap hari nempelin kamu terus, bagi-bagi tips dong, aku sudah nggak kuat melayaninya, nih.]

Hatiku rasanya seperti dirobek paksa, membiarkan angin dingin menusuk masuk ke dalamnya.

Aku teringat hadiah pernikahan yang diminta Sherly dariku. Satu set lingerie seksi yang baru bisa kutemukan setelah mendatangi tiga toko berbeda. Aku memejamkan mata dengan penuh penderitaan. Rasa mual melonjak dari dasar hatiku yang sudah mati rasa, menyumbat tenggorokanku hingga aku sesak napas.

Sahabat yang kupercaya dengan sepenuh hati dan pria yang kucintai sampai ke tulang sumsumku, mereka berdua bekerja sama menghancurkanku hingga tak ada lagi bagian tubuhku yang utuh.

Apa semua ini benar-benar hanya kebetulan?

Tiba-tiba, ponselku berbunyi, nada dering khusus untuk Bima.

Saat kubuka, itu adalah fotonya yang sedang menandatangani kontrak dengan klien. Dia memakai setelan jas lengkap, tersenyum tenang dan berwibawa. Tulisan di bawahnya memancarkan kelembutan yang biasanya.

[Rhea, rapatnya sudah selesai. Aku bisa kejar waktu untuk menemanimu makan malam, ada kejutan untukmu.]

Aktingnya benar-benar sempurna tanpa celah.

Jika aku tidak melihat video dari Sherly, aku mungkin masih akan seperti dulu, mudah terbuai oleh satu-dua kalimat manisnya, lalu dengan patuh berdiam di dalam kebohongan yang dia rajut dan terus bermimpi indah.

Pukul enam sore, Bima mendorong pintu dan melangkah masuk tepat waktu.

Setelan jas mahalnya tampak rapi tanpa kerutan sedikit pun. Tubuhnya menebarkan aroma parfum cemara yang kuhadiahkan untuknya. Leher dan pergelangan tangannya sangat bersih, tidak ada sedikit pun jejak kemesraan yang tertinggal.

Sorot matanya masih memancarkan kelembutan yang sama seperti biasanya. Dia memeluk seikat mawar putih, tangannya menjinjing cokelat favoritku, lalu dia membungkuk dan mendaratkan sebuah kecupan di keningku.

"Rhea, aku pulang."

Aku menatap dingin saat dia dengan terampil menata bunga-bunga itu ke dalam vas, lalu berbalik untuk berganti pakaian.

Makan malam diatur di sebuah restoran dengan iringan musik piano. Di luar jendela, pelabuhan di malam hari tampak begitu gelap dan tenang.

Di tengah alunan lagu piano yang lembut, Bima mendorong piring berisi potongan daging domba yang sudah dia potong rapi ke hadapanku. Dahinya sedikit berkerut. "Rhea, kamu sedang marah, ya?"

Bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan yang pasti.

"Tiga kali. Kamu sudah tiga kali nggak balas pesanku."

Bima mengulurkan tangan, menggenggam jemariku sambil menatapku lekat-lekat. "Apa kamu marah karena aku melewatkan perayaan hari jadi kita yang ke-7?"

Tanganku gemetar pelan. Jantungku rasanya seperti ditusuk jarum halus berkali-kali.

Dia tahu segalanya. Dia sadar betul hari itu adalah hari jadi kami, tetapi dia justru memilih bersimpuh di hadapan Sherly di hari yang sama. Membahas soal hari jadi sekarang rasanya benar-benar sebuah ironi yang menjijikkan.

Lagi pula, di antara kami memang tidak pernah ada pernikahan yang sesungguhnya.

Aku mendongak. Dengan tatapan dingin dan lelah, aku menatap langsung ke dalam matanya, lalu balik bertanya dengan penekanan pada setiap kata, "Kalau begitu, apa kamu pernah melakukan sesuatu yang mengkhianatiku?"

Bima mempererat genggaman tangannya di atas meja. "Rhea, aku 'kan sudah bilang, kamu itu segalanya buat aku."

Dia menatapku dengan sorot mata yang tampak sangat tulus. "Kalau aku sampai melakukan hal yang mengkhianatimu, biarlah aku kehilanganmu selamanya. Karena itu, Rhea, aku nggak akan pernah mengkhianatimu."

Aku menunduk, lalu tertawa kecil.

"Oke, aku mengerti."

Sesuai keinginanmu.

Sebentar lagi, kamu memang akan benar-benar kehilangan aku selamanya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 23

    Dalam upacara kelulusan kali ini, aku naik ke atas panggung untuk memberikan pidato sebagai lulusan terbaik.Bintang yang dulunya redup ini akhirnya berhasil menanggalkan abunya, kini bersinar terang di panggung miliknya sendiri.Di bawah panggung, Arka tampak sedang menggendong Reno yang kini sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Rafael yang terlihat makin dewasa dan tampan.Begitu pidato berakhir, Rafael naik ke panggung dan memberikan sebuket bunga matahari yang cerah kepadaku.Akan tetapi, jauh di sudut ruangan yang tersembunyi, ada seorang pria lain yang sedang menatapku dengan penuh kerinduan, seolah ingin merekam setiap lekuk wajahku dalam ingatannya.Selama tiga tahun ini, Bima telah datang ke Negara Atharwa sebanyak 160 kali. Dia tidak pernah melewatkan satu pun pertunjukanku.Bahkan pada hari aku melahirkan, dia pergi ke kuil dan berlutut menaiki seribu anak tangga hanya untuk memohon untaian gelang tasbih baru demi keselamatanku.Akan tetapi, aku tidak pernah menem

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 22

    Mimpi indah itu buyar seketika oleh suara perawat.Bima membuka matanya dengan linglung, yang pertama kali dia lihat adalah wajah asistennya yang tampak lesu.Melihat Bima sudah sadar, asistennya segera melapor, "Pak Bima, identitas Anda bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya, kita segera pulang ke tanah air."Bima mencabut jarum infus di tangannya, lalu duduk tegak. "Siapkan mobil. Kita ke rumah Keluarga Abian."Sementara itu, aku sedang menikmati ceri yang dicuci sendiri oleh Rafael, sambil berjemur di bawah sinar matahari di atas kursi malas."Rafael, soal ucapanku tempo hari, aku hanya menjadikanmu tameng karena keadaan sedang mendesak. Jangan salah paham, ya."Arka menatap Rafael yang sangat perhatian itu dengan raut wajah penuh kejengkelan.Rafael mengeluarkan sehelai selimut tipis, meletakkannya tepat di samping tanganku, memastikan aku bisa meraihnya dengan mudah jika membutuhkannya."Iya, aku nggak salah paham," jawab Rafael santai.Arka menatap wa

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 21

    Keesokan harinya, saat aku hendak keluar rumah, aku baru menyadari Bima ternyata belum pergi.Dia bersandar di pintu mobilnya dengan penampilan yang tampak kacau dan lesu. Begitu melihatku, matanya yang semula redup seketika kembali bercahaya."Rhea, kamu mau pergi ke mana? Biar aku antar."Aku tidak menghiraukannya dan langsung masuk ke mobilku sendiri.Bima pun mengemudikan mobilnya, mengikutiku dari belakang dengan raut wajah yang tampak layu.Dia tidak percaya, bagaimana mungkin hanya dalam waktu dua bulan, aku bisa jatuh cinta pada orang lain.Terlebih lagi, dalam pikiran Bima, hubungan kami retak hanyalah karena sebuah kesalahpahaman belaka. Dia yakin begitu amarahku sudah reda, aku pasti akan kembali ke pelukannya.Ketika dia tersadar dari lamunannya, dia baru menyadari bahwa tempat yang kudatangi adalah rumah sakit.Apa aku sakit? Untuk apa aku ke rumah sakit?Di satu sisi dia menyesali dirinya yang tidak menyelidiki kondisiku dengan teliti, tetapi di sisi lain dia sangat mence

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 20

    Aku sedang mengurus prosedur cuti kuliah, jadi beberapa hari terakhir ini aku sering bolak-balik antara rumah dan kampus.Tepat di belokan jalan menuju kampus, aku tidak sengaja menabrak seseorang.Aku segera memantapkan posisi berdiriku dan menunduk untuk meminta maaf. "Maaf."Akan tetapi, orang itu justru memelukku erat-erat. Suaranya terdengar tersedat karena tangis. "Rhea, akhirnya aku menemukanmu."Suara itu membuat seluruh tubuhku bergetar hebat. Aku sekuat tenaga mendorongnya menjauh. "Bima? Bagaimana bisa kamu ada di sini?"Ekspresi Bima tampak sangat terluka. "Rhea, ada banyak kesalahpahaman di antara kita. Apa bisa kamu dengar penjelasanku?"Mahasiswa yang lalu lalang menatap kami dengan rasa ingin tahu. Aku terpaksa membawanya ke kafe di sebelah kampus.Di sana, Bima menjelaskan segalanya dengan air mata yang terus mengalir.Setelah selesai bicara, dia mencoba meraih tanganku dengan nada bicara yang sangat mendesak. "Rhea, hubunganku dengan Sherly cuma sebatas kontrak. Akta

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 19

    Arka mengangguk dengan perasaan agak malu, lalu segera mengalihkan pembicaraan."Rhea, sekarang kamu sudah kembali, aku ingin kamu mulai melihat-lihat aset dan bisnis keluarga kita. Kalau kamu tertarik, kamu bisa ikut mengelolanya sendiri."Aku tidak membongkar niat kecilnya itu.Baginya, kembali memegang kuas lukis adalah sebuah kemajuan besar. Itu berarti tidak lama lagi dia akan benar-benar bangkit dan melangkah maju.Lagi pula, aku tidak ingin dia terus-menerus terkurung dalam rasa bersalahnya.Sepiring steak yang sudah dipotong rapi disodorkan ke hadapanku. Rafael mengedipkan matanya padaku. Melihat interaksi kami, Arka menggertakkan gigi karena kesal."Rafael, adikku nggak akan menikah. Kami cuma menerima menantu yang mau tinggal di sini dan kamu nggak memenuhi syarat.""Perjodohan masa lalu itu 'kan cuma lelucon orang tua, nggak perlu dianggap serius," balas Rafael sambil menyendokkan semangkuk sup hidangan laut untukku.Akan tetapi, entah mengapa, tiba-tiba perutku terasa berge

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 18

    Aswin membanting tongkatnya ke arah kaki Bima. "Kurang ajar! Kamu sudah berani membangkang?!"Bima menatapnya dengan pandangan dingin. "Kakek, Kakeklah yang memaksaku melakukan ini. Aku cuma menyesal kenapa nggak mengambil keputusan ini lebih awal, malah setuju dengan syarat konyolmu itu."Dia menatap kakeknya yang tampak jauh lebih tua, lalu menghela napas panjang."Kakek sebenarnya sudah tahu Rhea akan meninggalkanku, 'kan? Makanya Kakek mengajukan syarat itu. Cuma aku saja yang bodoh, percaya bahwa setelah semua drama ini berakhir, aku bisa hidup bahagia lagi dengan Rhea."Dia terdiam sejenak, seolah memantapkan tekadnya."Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Rhea, maka hubungan kakek dan cucu di antara kita pun berakhir sampai di sini."Setelah berkata demikian, dia memerintahkan orang-orangnya untuk membawa Aswin pergi.Lalu, dia segera menghubungi sebuah nomor. "Siapkan identitas baru untukku. Aku harus pergi ke Negara Atharwa.""Harus menunggu tiga bulan lagi."Bima mengerny

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 8

    Panggilan pertama, hanya ada nada sibuk yang monoton.Panggilan kedua, ketiga ... hingga yang kesembilan, tetap tidak ada jawaban dari seberang sana.Yuda berdiri di samping sambil bersedekap, sudut bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.Hatiku perlahan tenggelam ke dasar jurang.Pada percobaan

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 7

    "Bukan aku." Aku mengeluarkan ponselku untuk membuktikan diri. "Aku sama sekali nggak pernah menghubunginya."Bima tiba-tiba tersenyum, lalu mengulurkan tangan dan mendekapku erat dalam pelukannya. "Rhea, apa yang kamu takutkan? Mana mungkin aku nggak memercayaimu cuma karena orang asing."Aku menat

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 6

    Aku mendongak dengan tatapan tenang. "Aku pinjam dari pihak kampus. Karena aku nggak pernah kuliah, aku cuma ingin tahu rasanya seperti apa."Aku menggoyang-goyangkan tiket pesawat dan dokumen di tanganku dengan nada datar. "Kalau ini, aku menemukannya di jalan. Baru mau aku antar ke pos satpam."Me

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 5

    Di antara sadar dan tidak, aku mendengar suara percakapan dari balik pintu."Pak Bima, pihak pacuan kuda sudah memeriksanya. Ternyata ada seseorang yang menukar tali kekangnya dengan yang sudah usang. Hari itu, cuma Nona Sherly yang sempat menyentuh kuda yang biasa ditunggangi Nona Rhea."Setelah he

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status