Share

Bab 8

Author: Lalala
Panggilan pertama, hanya ada nada sibuk yang monoton.

Panggilan kedua, ketiga ... hingga yang kesembilan, tetap tidak ada jawaban dari seberang sana.

Yuda berdiri di samping sambil bersedekap, sudut bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.

Hatiku perlahan tenggelam ke dasar jurang.

Pada percobaan kesepuluh, telepon itu akhirnya diangkat.

Aku hampir berteriak histeris, "Kak, tolong aku! Yuda memberiku obat."

Panggilan kakak adalah kode rahasia di antara kami.

Kami sudah berjanji, setiap kali aku memanggilnya begitu, dia akan tahu bahwa situasinya sangat genting dan dia harus datang menyelamatkanku secepat mungkin.

Akan tetapi, yang terdengar dari speaker ponsel bukan suara cemas atau panik yang kuharapkan, melainkan suara Bima yang dipenuhi kegembiraan yang tak bisa dia sembunyikan.

"Sayang, kamu hamil? Benarkah? Ini kabar luar biasa!"

Segera setelah itu, terdengar suara manja Sherly yang terisak. "Sayang, tadi aku takut sekali, tiba-tiba perutku sakit banget."

"Jangan takut, aku akan segera membawamu ke rumah sakit." Suara Bima terdengar penuh ketegangan dan rasa khawatir.

"Lalu, bagaimana dengan Rhea?"

"Sayang, sekarang yang paling penting adalah kamu dan anak kita, jangan pikirkan yang lain. Nurut, ya?"

"Lalu, pernikahan kita?"

"Tentu saja akan tetap berjalan sesuai rencana."

"Aduh, tanganku licin sampai nggak sengaja memencet layar, kumatikan dulu ya."

Nada sibuk pun terdengar, bagaikan sebuah parang berkarat yang tumpul, menghantam dan menghancurkan sisa-sisa harapan terakhirku satu demi satu.

Yuda berdecak sinis, lalu mengambil ponselnya sendiri dan menghubungi nomor Bima.

Bima mengangkatnya dalam hitungan detik, suaranya terdengar dingin dan tidak sabar. "Yuda, orangnya sudah kuberikan padamu, jangan ganggu aku lagi!"

Yuda menyalakan pengeras suara hingga volume maksimal, lalu tertawa kecil. "Oh, ya? Kalau begitu, orang ini bisa bebas kuapain saja, ya?"

"Mau kamu habisi pun jangan ganggu aku!" Bentakan Bima itu bercampur dengan teriakan kaget Sherly. "Sherly! Kamu kenapa?"

Panggilan akhirnya terputus dengan bunyi klik.

Tangan Yuda yang terasa lengket mengusap pipiku. Aku tersentak memalingkan wajah untuk menghindar, tubuhku gemetar hebat karena rasa jijik.

"Dengar sendiri, 'kan? Kali ini kamu harus benar-benar menyerah."

Aku menyambar ponselku, kembali menekan nomor itu. Di dalam benakku hanya ada satu pikiran, Bima, angkat teleponnya!

Saat suara mesin operator yang dingin berbunyi, "Nomor yang Anda tuju tidak aktif," hatiku benar-benar jatuh ke jurang terdalam yang tak berdasar.

Dia sudah mematikan ponselnya.

Menatap layar ponsel yang perlahan menggelap, aku tertawa hingga air mata membanjiri seluruh wajahku.

Jadi, inikah yang disebut cinta oleh Bima?

Di saat aku sedang berjuang di ambang neraka, dia justru sedang merayakan kehadiran nyawa baru bersama wanita lain.

Dalam pandanganku yang mulai kabur, aku seolah melihat kembali sosok Bima saat aku masih berusia tujuh tahun, saat dia menyelamatkanku dari kepungan anjing liar.

Mata remaja itu bersinar terang seperti bintang. Dia menyodorkan beberapa roti hangat padaku seraya berujar, "Makan yang kenyang, pukul mundur mereka semua, lalu aku akan membawamu pulang."

Sekejap kemudian, bayangan itu berubah saat aku berusia 16 tahun. Dia mengusir semua lelaki yang berusaha mendekatiku dengan tatapan angkuh. "Berani-beraninya kalian mengejar wanitaku."

Lalu, gambaran itu berputar drastis. Pria yang pernah berjanji akan mencintaiku selamanya kini tengah berlutut, menyodorkan cincin berlian kepada wanita lain.

Seluruh pertahananku mendadak kehilangan kekuatannya.

Gelombang panas dalam tubuhku mulai naik, bahkan membuat wajah Yuda yang munafik itu entah mengapa terlihat sedikit menggoda di mataku.

Aku menggigit lenganku kuat-kuat. Rasa sakit yang tajam itu berhasil menarik kembali kesadaranku yang mulai hilang.

Yuda memegang sebuah stopwatch. Suara detak waktu terdengar begitu jelas di keheningan kamar: 10, 9, … 1.

Brak!

Suara pintu yang didobrak paksa bergema.

Sekelompok pria berpakaian hitam menyerbu masuk dan salah satu dari mereka langsung melayangkan tinju yang membuat Yuda pingsan seketika.

Di bawah temaram lampu, aku mencoba mengarahkan pandanganku. Di depan sana berdiri seorang pria jangkung dengan perawakan atletis.

Saat dia melangkah mendekat, barulah fitur wajahnya yang rupawan terlihat jelas, membawa perasaan familier yang entah datang dari mana.

Suaranya terdengar seolah berasal dari tempat yang sangat jauh. "Rhea, aku tunanganmu. Kakakmu memintaku untuk membawamu pulang. Rhea?"

"Rhea, kamu baik-baik saja?"

"Bos, kalau obat ini nggak segera ... efek sampingnya bisa sangat parah," lapor salah satu anak buahnya dengan nada panik.

Aku merasakan sesuatu yang sangat dingin diletakkan di telapak tanganku.

Pria di hadapanku masih terus membujuk dengan suara rendah, "Rhea, aku tunanganmu. Kita akan segera menikah begitu kembali nanti. Sekarang, aku di sini untuk menyelamatkanmu."

Aku hanya merasa tubuhku hampir meleleh oleh gelombang panas yang menyiksa. Aku tidak bisa lagi mendengar apa pun dengan jelas dan secara naluriah, aku mengulurkan tangan untuk memeluk pria di depanku.

Segalanya pun terjadi begitu saja.

Saat kesadaranku masih menyisakan sedikit kejernihan, aku bergumam di dalam hati, 'Aku dan Bima tidak akan pernah bisa kembali lagi ....'

Ketika aku terbangun kembali dalam keadaan linglung, aku menyadari pemandangan di kiri dan kananku bergerak mundur dengan sangat cepat.

Barulah aku sadar bahwa aku sedang berada dalam dekapan seseorang yang membawaku berjalan.

Melihatku membuka mata, pria itu menunduk dan menyelipkan sebuah alat pengendali jarak jauh ke telapak tanganku. "Rhea, tekan ini. Begitu kamu melakukannya, kamu nggak akan punya hubungan apa pun lagi dengan semua yang ada di sini."

Aku terpaku menatap alat itu. Di bawah tatapan pria itu yang seolah memberi kekuatan, ujung jariku menekan tombolnya.

Pria itu terkekeh pelan. "Sudah selesai." Tangan besarnya mengambil alat itu, membuangnya begitu saja, lalu mengusap kepalaku dengan lembut. "Tenang saja, semua barang yang kamu butuhkan sudah disiapkan."

"Ponselmu sudah dikirimkan kepada pria itu." Pria itu lalu menjeda kalimatnya sejenak. "Di dalamnya ada semua hal yang sudah seharusnya dia ketahui."

Aku mengangguk. Terlalu banyak pertanyaan di kepalaku, tetapi tenggorokanku terasa sangat perih bahkan hanya untuk bernapas, jadi aku terpaksa mengurungkan niat.

Apa yang tidak kuketahui adalah, tepat saat aku menekan tombol tadi, dua kobaran api besar membubung tinggi ke langit.

Satu adalah markas besar Keluarga Nawasena, dan satunya lagi adalah vila yang pernah kutempati bersama Bima.

Sementara itu, di rute penerbangan khusus yang disiapkan Bima untukku, pesawat yang seharusnya terbang menuju Negara Atharwa akan jatuh ke laut dalam sepuluh menit lagi.

Saat pria itu menggendongku naik ke pesawat pribadi dan membaringkanku dengan sangat hati-hati di kursi, suaranya terdengar lembut menenangkan. "Sudah ya, ayo kita pulang."

Aku pun memejamkan mata perlahan.

Bima, setelah ini, entah kamu akan menikah atau punya anak, semuanya tidak ada hubungannya lagi denganku ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 23

    Dalam upacara kelulusan kali ini, aku naik ke atas panggung untuk memberikan pidato sebagai lulusan terbaik.Bintang yang dulunya redup ini akhirnya berhasil menanggalkan abunya, kini bersinar terang di panggung miliknya sendiri.Di bawah panggung, Arka tampak sedang menggendong Reno yang kini sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Rafael yang terlihat makin dewasa dan tampan.Begitu pidato berakhir, Rafael naik ke panggung dan memberikan sebuket bunga matahari yang cerah kepadaku.Akan tetapi, jauh di sudut ruangan yang tersembunyi, ada seorang pria lain yang sedang menatapku dengan penuh kerinduan, seolah ingin merekam setiap lekuk wajahku dalam ingatannya.Selama tiga tahun ini, Bima telah datang ke Negara Atharwa sebanyak 160 kali. Dia tidak pernah melewatkan satu pun pertunjukanku.Bahkan pada hari aku melahirkan, dia pergi ke kuil dan berlutut menaiki seribu anak tangga hanya untuk memohon untaian gelang tasbih baru demi keselamatanku.Akan tetapi, aku tidak pernah menem

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 22

    Mimpi indah itu buyar seketika oleh suara perawat.Bima membuka matanya dengan linglung, yang pertama kali dia lihat adalah wajah asistennya yang tampak lesu.Melihat Bima sudah sadar, asistennya segera melapor, "Pak Bima, identitas Anda bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya, kita segera pulang ke tanah air."Bima mencabut jarum infus di tangannya, lalu duduk tegak. "Siapkan mobil. Kita ke rumah Keluarga Abian."Sementara itu, aku sedang menikmati ceri yang dicuci sendiri oleh Rafael, sambil berjemur di bawah sinar matahari di atas kursi malas."Rafael, soal ucapanku tempo hari, aku hanya menjadikanmu tameng karena keadaan sedang mendesak. Jangan salah paham, ya."Arka menatap Rafael yang sangat perhatian itu dengan raut wajah penuh kejengkelan.Rafael mengeluarkan sehelai selimut tipis, meletakkannya tepat di samping tanganku, memastikan aku bisa meraihnya dengan mudah jika membutuhkannya."Iya, aku nggak salah paham," jawab Rafael santai.Arka menatap wa

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 21

    Keesokan harinya, saat aku hendak keluar rumah, aku baru menyadari Bima ternyata belum pergi.Dia bersandar di pintu mobilnya dengan penampilan yang tampak kacau dan lesu. Begitu melihatku, matanya yang semula redup seketika kembali bercahaya."Rhea, kamu mau pergi ke mana? Biar aku antar."Aku tidak menghiraukannya dan langsung masuk ke mobilku sendiri.Bima pun mengemudikan mobilnya, mengikutiku dari belakang dengan raut wajah yang tampak layu.Dia tidak percaya, bagaimana mungkin hanya dalam waktu dua bulan, aku bisa jatuh cinta pada orang lain.Terlebih lagi, dalam pikiran Bima, hubungan kami retak hanyalah karena sebuah kesalahpahaman belaka. Dia yakin begitu amarahku sudah reda, aku pasti akan kembali ke pelukannya.Ketika dia tersadar dari lamunannya, dia baru menyadari bahwa tempat yang kudatangi adalah rumah sakit.Apa aku sakit? Untuk apa aku ke rumah sakit?Di satu sisi dia menyesali dirinya yang tidak menyelidiki kondisiku dengan teliti, tetapi di sisi lain dia sangat mence

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 20

    Aku sedang mengurus prosedur cuti kuliah, jadi beberapa hari terakhir ini aku sering bolak-balik antara rumah dan kampus.Tepat di belokan jalan menuju kampus, aku tidak sengaja menabrak seseorang.Aku segera memantapkan posisi berdiriku dan menunduk untuk meminta maaf. "Maaf."Akan tetapi, orang itu justru memelukku erat-erat. Suaranya terdengar tersedat karena tangis. "Rhea, akhirnya aku menemukanmu."Suara itu membuat seluruh tubuhku bergetar hebat. Aku sekuat tenaga mendorongnya menjauh. "Bima? Bagaimana bisa kamu ada di sini?"Ekspresi Bima tampak sangat terluka. "Rhea, ada banyak kesalahpahaman di antara kita. Apa bisa kamu dengar penjelasanku?"Mahasiswa yang lalu lalang menatap kami dengan rasa ingin tahu. Aku terpaksa membawanya ke kafe di sebelah kampus.Di sana, Bima menjelaskan segalanya dengan air mata yang terus mengalir.Setelah selesai bicara, dia mencoba meraih tanganku dengan nada bicara yang sangat mendesak. "Rhea, hubunganku dengan Sherly cuma sebatas kontrak. Akta

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 19

    Arka mengangguk dengan perasaan agak malu, lalu segera mengalihkan pembicaraan."Rhea, sekarang kamu sudah kembali, aku ingin kamu mulai melihat-lihat aset dan bisnis keluarga kita. Kalau kamu tertarik, kamu bisa ikut mengelolanya sendiri."Aku tidak membongkar niat kecilnya itu.Baginya, kembali memegang kuas lukis adalah sebuah kemajuan besar. Itu berarti tidak lama lagi dia akan benar-benar bangkit dan melangkah maju.Lagi pula, aku tidak ingin dia terus-menerus terkurung dalam rasa bersalahnya.Sepiring steak yang sudah dipotong rapi disodorkan ke hadapanku. Rafael mengedipkan matanya padaku. Melihat interaksi kami, Arka menggertakkan gigi karena kesal."Rafael, adikku nggak akan menikah. Kami cuma menerima menantu yang mau tinggal di sini dan kamu nggak memenuhi syarat.""Perjodohan masa lalu itu 'kan cuma lelucon orang tua, nggak perlu dianggap serius," balas Rafael sambil menyendokkan semangkuk sup hidangan laut untukku.Akan tetapi, entah mengapa, tiba-tiba perutku terasa berge

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 18

    Aswin membanting tongkatnya ke arah kaki Bima. "Kurang ajar! Kamu sudah berani membangkang?!"Bima menatapnya dengan pandangan dingin. "Kakek, Kakeklah yang memaksaku melakukan ini. Aku cuma menyesal kenapa nggak mengambil keputusan ini lebih awal, malah setuju dengan syarat konyolmu itu."Dia menatap kakeknya yang tampak jauh lebih tua, lalu menghela napas panjang."Kakek sebenarnya sudah tahu Rhea akan meninggalkanku, 'kan? Makanya Kakek mengajukan syarat itu. Cuma aku saja yang bodoh, percaya bahwa setelah semua drama ini berakhir, aku bisa hidup bahagia lagi dengan Rhea."Dia terdiam sejenak, seolah memantapkan tekadnya."Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Rhea, maka hubungan kakek dan cucu di antara kita pun berakhir sampai di sini."Setelah berkata demikian, dia memerintahkan orang-orangnya untuk membawa Aswin pergi.Lalu, dia segera menghubungi sebuah nomor. "Siapkan identitas baru untukku. Aku harus pergi ke Negara Atharwa.""Harus menunggu tiga bulan lagi."Bima mengerny

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 7

    "Bukan aku." Aku mengeluarkan ponselku untuk membuktikan diri. "Aku sama sekali nggak pernah menghubunginya."Bima tiba-tiba tersenyum, lalu mengulurkan tangan dan mendekapku erat dalam pelukannya. "Rhea, apa yang kamu takutkan? Mana mungkin aku nggak memercayaimu cuma karena orang asing."Aku menat

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 6

    Aku mendongak dengan tatapan tenang. "Aku pinjam dari pihak kampus. Karena aku nggak pernah kuliah, aku cuma ingin tahu rasanya seperti apa."Aku menggoyang-goyangkan tiket pesawat dan dokumen di tanganku dengan nada datar. "Kalau ini, aku menemukannya di jalan. Baru mau aku antar ke pos satpam."Me

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 5

    Di antara sadar dan tidak, aku mendengar suara percakapan dari balik pintu."Pak Bima, pihak pacuan kuda sudah memeriksanya. Ternyata ada seseorang yang menukar tali kekangnya dengan yang sudah usang. Hari itu, cuma Nona Sherly yang sempat menyentuh kuda yang biasa ditunggangi Nona Rhea."Setelah he

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 4

    Baru saja dia hendak melangkah maju untuk memeriksanya, ponselnya berdering.Nama Sherly muncul di layar dan suara lembut nan manja terdengar dari speaker. "Sayang, kepalaku pusing."Bima sekali lagi melirik gelang di atas nampan itu. Ujung jarinya tampak gemetar dan mengepal di sisi tubuhnya, tetap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status