Share

Bab 4

Penulis: Lalala
Baru saja dia hendak melangkah maju untuk memeriksanya, ponselnya berdering.

Nama Sherly muncul di layar dan suara lembut nan manja terdengar dari speaker. "Sayang, kepalaku pusing."

Bima sekali lagi melirik gelang di atas nampan itu. Ujung jarinya tampak gemetar dan mengepal di sisi tubuhnya, tetapi pada akhirnya, dia tetap berbalik dan pergi mengikuti perawat.

Malam pun tiba dan hujan mulai turun.

Luka lama itu mulai berdenyut nyeri. Aku meringkuk di balik selimut, tubuhku tidak bisa berhenti gemetar.

Dulu, setiap kali malam hujan tiba, Bima akan selalu memelukku erat, menggunakan kehangatan tubuhnya untuk mengusir segala rasa dingin yang menyiksaku.

Dengan penuh kasih sayang, dia pernah berjanji padaku, "Rhea, semua luka ini kamu dapatkan demi melindungiku. Mulai sekarang, setiap kali hujan turun, aku akan selalu ada di sampingmu."

Kini, dia mengingkari janjinya.

Ponselku bergetar, sebuah pesan kembali masuk dari Sherly.

[Rhea, ternyata di rumahnya ada seorang perempuan tua. Dia bilang perempuan itu masih di situ cuma karena dia mau balas budi doang. Aku kesal banget, makanya aku hukum dia berdiri di tengah badai biar jadi patung penunggu istri!]

Terlampir sebuah video yang memperlihatkan Bima berdiri di tengah hujan lebat tanpa payung. Setelan jas mahalnya sudah basah kuyup hingga menempel di tubuh, menonjolkan siluet tubuhnya yang tampak kurus.

Kilatan petir yang sesekali menyambar menerangi wajahnya yang pucat, tetapi terlihat keras kepala.

Aku menatap wajah yang begitu kukenali di video itu, lalu tiba-tiba tertawa. Namun, tawa itu perlahan berubah menjadi air mata yang jatuh bercucuran.

Balas budi?

Jika ini memang bentuk balas budi, mengapa dia tidak membantuku terbang tinggi ke angkasa? Mengapa dia justru menggunakan cinta sebagai sangkar dan mematahkan sayapku dengan paksa?

Di ponselku masih tersimpan pesan yang dia kirim tadi sore: [Rhea, malam ini aku ada rapat internasional, jangan menungguku.]

Betapa konyolnya. Ternyata rapat internasional yang dia maksud adalah pergi membujuk wanita lain agar kembali ceria.

Aku memejamkan mata dengan penuh penderitaan, membiarkan air mata membasahi bantal hingga lembap.

Keesokan paginya, saat aku terbangun, pintu kamar didorong terbuka perlahan.

Bima masuk dengan mengenakan pakaian santai rumahannya. Matanya tampak merah, penuh dengan guratan halus pembuluh darah yang pecah.

Dia berjalan ke tepi tempat tidur, lalu dengan lembut menggenggam tanganku yang masih terbalut kain kasa. "Rhea, siapa yang berani melukaimu? Apa si Dipta itu berulah lagi? Padahal aku sudah beri tahu dia ...."

Ucapannya terhenti di tengah jalan karena sadar dia hampir saja keceplosan. Lalu, dia mengecup keningku perlahan. "Rhea, sebentar lagi aku akan mengajakmu ke pacuan kuda untuk menyegarkan pikiran."

"Siapa pun yang sudah melukaimu, aku sendiri yang akan membalaskannya untukmu."

Aku menjawab dengan suara lirih, "Nggak perlu, aku akan mengurusnya sendiri."

Selama sisa waktu itu, dia bersikap sangat perhatian. Dia menggendongku untuk mandi dan sikat gigi, menyuapiku sarapan suap demi suap, bahkan mengganti perbanku dengan obat pemulihan terbaik.

Aku hanya menatap hampa pada bekas kemerahan di lehernya, membiarkan dia melakukan apa pun padaku, seperti sebuah boneka kayu yang tak lagi memiliki jiwa.

Area pacuan kuda keluarga Bima tersambung langsung dengan lapangan golf.

Begitu sampai di lokasi, tampak dari kejauhan sesosok bayangan putih, Sherly yang mengenakan rok pendek golf, sedang berdiri di samping seorang klien pria dengan ekspresi masam yang dipaksakan tersenyum.

Langkah kaki Bima terhenti. Dia menoleh ke arahku, nadanya dibuat seolah tidak terjadi apa-apa.

"Itu asisten baru yang direkrut kantor. Dia punya perjanjian beasiswa dengan perusahaan, baru saja lulus tahun ini."

Aku tersenyum tipis. "Nggak mau ke sana buat nemuin dia?"

Pandangan Bima terkunci rapat padaku, ekspresinya begitu serius seolah sedang mengucap sumpah. "Rhea, kamu itu satu-satunya istriku. Yang lain itu nggak penting."

Aku tidak bicara lagi. Kupacu kudaku menjauh, menarik tali kekang dan langsung melesat ke arah yang berlawanan.

Bima memacu kudanya di sampingku, tetapi tatapannya tak bisa berhenti melirik ke arah lapangan golf. Pikirannya sudah melayang jauh, seolah jiwanya tersedot ke arah Sherly berada.

Begitu melihat tangan klien pria itu nyaris menyentuh pinggang Sherly, Bima tiba-tiba menarik paksa tali kekang kudanya hingga berhenti mendadak.

"Rhea, aku baru ingat ada telepon klien yang lupa kubalas. Aku panggil petugas ya, buat menemanimu di sini."

Aku mendengus sinis, lalu memacu kudaku untuk melaju lebih cepat ke depan.

Saat aku sampai di balik rimbunnya pepohonan yang tersembunyi, lamat-lamat terdengar suara desahan manja seorang wanita.

Disusul kemudian oleh suara berat seorang pria yang terkekeh rendah. "Sayang, bagian mana saja yang dia sentuh tadi? Kasih tahu aku, biar aku bersihkan semuanya."

"Jangan ... jangan sentuh di situ."

Suara wanita itu terdengar sangat malu-malu, seperti jarum halus yang ditusukkan paksa ke gendang telingaku.

Aku menghentikan kudaku, lalu mengintip melalui celah dedaunan yang jarang.

Dua sosok manusia tampak sedang berpagut mesra. Mereka adalah Sherly dan Bima.

Amarah, rasa mual, keputusasaan ... segala macam emosi bergejolak hebat di dalam dadaku, hingga akhirnya semua itu mati dan berubah menjadi keheningan yang kelam.

Aku hendak memutar balik kudaku untuk pergi, tetapi tiba-tiba kuda yang kutunggangi terkejut dan berlari kencang tanpa kendali.

Aku mencengkeram tali kekang sekuat tenaga, berusaha menstabilkan posisi, tetapi kuda-kuda lain ikut panik dan suasana seketika menjadi kacau balau.

Para petugas berlarian mendekat dengan panik, tetapi tak ada satu pun yang berani mendekat secara gegabah.

Tepat saat aku hampir berhasil menenangkan kuda yang mengamuk itu, tali kekangnya tiba-tiba terputus. Krak!

Sentakan yang luar biasa kuat melempar tubuhku hingga melayang, lalu aku jatuh menghantam tanah dengan sangat keras.

Sebelum kesadaranku benar-benar tenggelam dalam kegelapan, aku sempat melihat wajah Bima yang pucat pasi dan mendengar teriakan pilunya memanggil namaku, "Rhea!"

Akan tetapi, di dalam pelukannya, dia tetap mendekap erat Sherly yang tampak ketakutan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 23

    Dalam upacara kelulusan kali ini, aku naik ke atas panggung untuk memberikan pidato sebagai lulusan terbaik.Bintang yang dulunya redup ini akhirnya berhasil menanggalkan abunya, kini bersinar terang di panggung miliknya sendiri.Di bawah panggung, Arka tampak sedang menggendong Reno yang kini sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Rafael yang terlihat makin dewasa dan tampan.Begitu pidato berakhir, Rafael naik ke panggung dan memberikan sebuket bunga matahari yang cerah kepadaku.Akan tetapi, jauh di sudut ruangan yang tersembunyi, ada seorang pria lain yang sedang menatapku dengan penuh kerinduan, seolah ingin merekam setiap lekuk wajahku dalam ingatannya.Selama tiga tahun ini, Bima telah datang ke Negara Atharwa sebanyak 160 kali. Dia tidak pernah melewatkan satu pun pertunjukanku.Bahkan pada hari aku melahirkan, dia pergi ke kuil dan berlutut menaiki seribu anak tangga hanya untuk memohon untaian gelang tasbih baru demi keselamatanku.Akan tetapi, aku tidak pernah menem

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 22

    Mimpi indah itu buyar seketika oleh suara perawat.Bima membuka matanya dengan linglung, yang pertama kali dia lihat adalah wajah asistennya yang tampak lesu.Melihat Bima sudah sadar, asistennya segera melapor, "Pak Bima, identitas Anda bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya, kita segera pulang ke tanah air."Bima mencabut jarum infus di tangannya, lalu duduk tegak. "Siapkan mobil. Kita ke rumah Keluarga Abian."Sementara itu, aku sedang menikmati ceri yang dicuci sendiri oleh Rafael, sambil berjemur di bawah sinar matahari di atas kursi malas."Rafael, soal ucapanku tempo hari, aku hanya menjadikanmu tameng karena keadaan sedang mendesak. Jangan salah paham, ya."Arka menatap Rafael yang sangat perhatian itu dengan raut wajah penuh kejengkelan.Rafael mengeluarkan sehelai selimut tipis, meletakkannya tepat di samping tanganku, memastikan aku bisa meraihnya dengan mudah jika membutuhkannya."Iya, aku nggak salah paham," jawab Rafael santai.Arka menatap wa

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 21

    Keesokan harinya, saat aku hendak keluar rumah, aku baru menyadari Bima ternyata belum pergi.Dia bersandar di pintu mobilnya dengan penampilan yang tampak kacau dan lesu. Begitu melihatku, matanya yang semula redup seketika kembali bercahaya."Rhea, kamu mau pergi ke mana? Biar aku antar."Aku tidak menghiraukannya dan langsung masuk ke mobilku sendiri.Bima pun mengemudikan mobilnya, mengikutiku dari belakang dengan raut wajah yang tampak layu.Dia tidak percaya, bagaimana mungkin hanya dalam waktu dua bulan, aku bisa jatuh cinta pada orang lain.Terlebih lagi, dalam pikiran Bima, hubungan kami retak hanyalah karena sebuah kesalahpahaman belaka. Dia yakin begitu amarahku sudah reda, aku pasti akan kembali ke pelukannya.Ketika dia tersadar dari lamunannya, dia baru menyadari bahwa tempat yang kudatangi adalah rumah sakit.Apa aku sakit? Untuk apa aku ke rumah sakit?Di satu sisi dia menyesali dirinya yang tidak menyelidiki kondisiku dengan teliti, tetapi di sisi lain dia sangat mence

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 20

    Aku sedang mengurus prosedur cuti kuliah, jadi beberapa hari terakhir ini aku sering bolak-balik antara rumah dan kampus.Tepat di belokan jalan menuju kampus, aku tidak sengaja menabrak seseorang.Aku segera memantapkan posisi berdiriku dan menunduk untuk meminta maaf. "Maaf."Akan tetapi, orang itu justru memelukku erat-erat. Suaranya terdengar tersedat karena tangis. "Rhea, akhirnya aku menemukanmu."Suara itu membuat seluruh tubuhku bergetar hebat. Aku sekuat tenaga mendorongnya menjauh. "Bima? Bagaimana bisa kamu ada di sini?"Ekspresi Bima tampak sangat terluka. "Rhea, ada banyak kesalahpahaman di antara kita. Apa bisa kamu dengar penjelasanku?"Mahasiswa yang lalu lalang menatap kami dengan rasa ingin tahu. Aku terpaksa membawanya ke kafe di sebelah kampus.Di sana, Bima menjelaskan segalanya dengan air mata yang terus mengalir.Setelah selesai bicara, dia mencoba meraih tanganku dengan nada bicara yang sangat mendesak. "Rhea, hubunganku dengan Sherly cuma sebatas kontrak. Akta

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 19

    Arka mengangguk dengan perasaan agak malu, lalu segera mengalihkan pembicaraan."Rhea, sekarang kamu sudah kembali, aku ingin kamu mulai melihat-lihat aset dan bisnis keluarga kita. Kalau kamu tertarik, kamu bisa ikut mengelolanya sendiri."Aku tidak membongkar niat kecilnya itu.Baginya, kembali memegang kuas lukis adalah sebuah kemajuan besar. Itu berarti tidak lama lagi dia akan benar-benar bangkit dan melangkah maju.Lagi pula, aku tidak ingin dia terus-menerus terkurung dalam rasa bersalahnya.Sepiring steak yang sudah dipotong rapi disodorkan ke hadapanku. Rafael mengedipkan matanya padaku. Melihat interaksi kami, Arka menggertakkan gigi karena kesal."Rafael, adikku nggak akan menikah. Kami cuma menerima menantu yang mau tinggal di sini dan kamu nggak memenuhi syarat.""Perjodohan masa lalu itu 'kan cuma lelucon orang tua, nggak perlu dianggap serius," balas Rafael sambil menyendokkan semangkuk sup hidangan laut untukku.Akan tetapi, entah mengapa, tiba-tiba perutku terasa berge

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 18

    Aswin membanting tongkatnya ke arah kaki Bima. "Kurang ajar! Kamu sudah berani membangkang?!"Bima menatapnya dengan pandangan dingin. "Kakek, Kakeklah yang memaksaku melakukan ini. Aku cuma menyesal kenapa nggak mengambil keputusan ini lebih awal, malah setuju dengan syarat konyolmu itu."Dia menatap kakeknya yang tampak jauh lebih tua, lalu menghela napas panjang."Kakek sebenarnya sudah tahu Rhea akan meninggalkanku, 'kan? Makanya Kakek mengajukan syarat itu. Cuma aku saja yang bodoh, percaya bahwa setelah semua drama ini berakhir, aku bisa hidup bahagia lagi dengan Rhea."Dia terdiam sejenak, seolah memantapkan tekadnya."Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Rhea, maka hubungan kakek dan cucu di antara kita pun berakhir sampai di sini."Setelah berkata demikian, dia memerintahkan orang-orangnya untuk membawa Aswin pergi.Lalu, dia segera menghubungi sebuah nomor. "Siapkan identitas baru untukku. Aku harus pergi ke Negara Atharwa.""Harus menunggu tiga bulan lagi."Bima mengerny

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 8

    Panggilan pertama, hanya ada nada sibuk yang monoton.Panggilan kedua, ketiga ... hingga yang kesembilan, tetap tidak ada jawaban dari seberang sana.Yuda berdiri di samping sambil bersedekap, sudut bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.Hatiku perlahan tenggelam ke dasar jurang.Pada percobaan

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 3

    Sepertinya, Bima salah menangkap maksud reaksiku.Dia mengangkat tangannya, memberi sebuah isyarat, dan seketika ribuan titik cahaya menyala terang di luar jendela.Puluhan ribu pesawat tanpa awak terbang ke angkasa, membentuk siluet sepasang pria dan wanita yang sedang berpelukan di langit malam. D

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 2

    Balasanku untuk Sherly hanya terdiri dari dua kata: [Selamat ya.]Setelah itu, aku langsung membalas pesan dosenku: [Pak Anwar, aku terima tawarannya.]Balasan dari Sherly masuk dengan cepat. Dia mengirimkan sebuah foto. Dua tangan yang saling menggenggam erat, dengan cincin berlian di jari manis ya

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 1

    Hari ketika aku kembali ke kampus dengan kaki yang masih cedera, aku justru disambut oleh adegan sebuah lamaran yang sangat megah.Jalanan dari gerbang sekolah menuju asrama telah ditaburi kelopak mawar putih. Di tengahnya, karpet biru laut membentang luas, memantulkan kemilau cahaya yang seolah-ola

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status