LOGINSepeninggal orang tuanya, Valentine Soedibyo berjuang sendiri sedari kecil sampai ia besar dan memutuskan untuk menjadi jurnalis. Hidupnya berjalan biasa saja sampai ia harus meliput kegiatan politik di negaranya. Dan kejadian itu mempertemukannya dengan seseorang yang mampu merubah hidupnya selama ini. Teddy Putra Iriawan selalu fokus dengan pekerjaannya, itu ia lakukan karena trauma masa lalunya dalam menjalin hubungan. Sampai ia bertemu dengan seorang jurnalis wanita disaat ia sedang bekerja menjadi ajudan untuk seorang Menteri Pertahanan di negaranya. Dan wanita itu membuatnya berani untuk menghadapi trauma nya. DISCLAIMER : INI ADALAH SEBUAH KARYA FIKSI. NAMA, TOKOH, CERITA/PERISTIWA MERUPAKAN UNSUR FIKTIF BELAKA.
View More-Eve-I've always been a good girl, chasing decent grades, nurturing friendships, and doting on my boyfriend Stephen. But now, here I am, standing in the corner with all the grace of a polite spectator, watching Stephen marry Stella, my so-called best friend.
I can still remember the exact things that he had said to me just a week ago.
"Baby, I need to go to New York to meet an important client. You know that I am doing all of this for our future right?" He kissed me goodbye with a warm smile.
"Yes, I do." He looked at Stella with a smile, the same smile he had given me a week ago.
How can he easily forget what we shared?
"I can’t believe that I have married a chef! Your food always tastes amazing. You're always working so hard. " He kissed my hands, my hands that I’m always embarrassed about because of their roughness because of all the part-time jobs I had over the years. But Stephen never minded it.
"I will always be loyal to you." Now, he kissed her hand.
I just stood there, watching my boyfriend of five years say those sweet words to my best friend. I could hardly believe my eyes and my ears. Tears streamed down my face as I struggled to come to terms with what was happening in front of me.
“Speak now or forever hold your peace,” I hear the priest say, waking me up from the limbo I was in.
“No!” A voice I am unfamiliar with shouted as all heads turned towards my direction letting me realize that the voice was indeed mine.
I watched my boyfriend and bestfriend look at me. We all looked at each other, unable to say anything at first until I heard my broken voice.
“How could you do this to me?” I asked my boyfriend as my eyes blurred. I turned to face my bestfriend, I couldn’t believe that I trusted both of them.
"You told me that you were going on a business trip and told me not to disturb you, but here you are, getting married to my best friend. What am I to you? What do all the things I've done for you in these years mean?" I choked up.
Don’t they have no shame?
Murmurs filled the whole chapel, but no one seemed bothered.
“May I know who you are?” The priest asked.
“Don’t mind her father,” my boyfriend said shaking his head, “She’s just someone who’s obsessed with me.”
My mouth dropped open as I heard what my boyfriend, no, my ex-boyfriend just said.
“Let’s continue Father,” my bestfriend urges, “Let’s not waste time listening to this nonsense.”
I felt my chest tighten making it hard for me to breathe.
“How could you do this to me,” I repeated screaming as I started walking in the middle of the aisle headed for the two of them. I don’t know which one I should take down first but it doesn’t matter because I will bring the two of them with me as I go to hell.
I was almost in front of them when a bulky guy in a suit blocked my way and two other men with the same clothes and build stood beside me. They didn’t wait for me to do anything else as they dragged me out of the chapel.
I tried to wriggle free from them but no matter how hard I struggled I just couldn’t break free from their hold.
The next thing I knew, I was on my ass in front of the door of the chapel that they had closed, securely.
One of the suited men stayed behind to guard the door making sure that I wouldn’t be coming back in.
I slowly stood from where I had fallen when I heard someone shout.
“There she is!” I turned to see where the voice was coming from and saw a group of people in headsets and with clipboards, bags, and makeup kits running towards me.
“You’re late,” the one with the clipboard said as she pulled my hand while the other girl started dubbing my face with foundation. “What’s your name again?”
“Okay, listen carefully, this is what you need to do,” the one with the clipboard started to say, but was cut off by another girl who was pulling a rack of clothes.
“Do we still need to change her clothes?” she asked as she looked at me from head to toe, “I think what she’s wearing fits the scene.”
This time it was the girl with the clipboard who looked at me from head to toe.
“Yeah,” She replied, “I think it’s fine. It seems she's already in the zone. Very professional.”
Under their constant scrutiny and actions, I was taken to a room full of mirrors, scattered cosmetics, and clothes.
"Who are you?" I asked irritably. But none of them wanted to answer my question.
"It doesn't matter. Just stay here. They'll be here soon." The girl with the clipboard said and then left in a hurry.
What the hell is going on?
Valen menatap layar komputer dengan tatapan lelah, akhirnya artikel untuk hari ini selesai. Ia bersandar ke kursi kerjanya dan meregangkan otot-otot tubuhnya dan memeriksa sudah jam berapa saat ini. Ternyata sudah jam lima sore, Valen menghela nafas panjang dan membereskan barang-barangnya untuk bersiap pulang.Valen memeriksa ponselnya dan menemukan bahwa Teddy sedari tadi berusaha menelponnya. Karena Valen selalu mematikan suara ponselnya saat di kantor, tentu saja panggilan Teddy tidak terjawab oleh Valen. Ia pun segera menelpon Teddy untuk mencari tahu mengapa Teddy menelponnya berkali-kali."Halo.." jawab Teddy, Valen baru mau menjawab tapi Teddy langsung memotong perkataannya. "Kamu dari mana aja? Kenapa telpon aku nggak diangkat?""Aku baru selesai kerja, Mas. HP ku tadi aku silent.." sahut Valen dengan nada lelah, "Ngomong-ngomong, ada apa?? Kok tumben sampe telpon berkali-kali gitu?""Oh iya, aku sampe lupa bilang. Kamu capek nggak, Len?" tanya Teddy, Valen bergumam sejenak.
Valen menghela nafas pelan sambil bersandar di kursi mobil penumpang dan mengamati proses Quick Count yang sedang berlangsung, di sampingnya terdapat Donny yang sedang bermain game online dengan serius.Sekembalinya ia dari makam orang tuanya, Teddy mengantarnya ke depan rumah Pak Prasetyo untuk kembali meliput proses pemilu hari ini. Dikabarkan malam harinya, Pak Prasetyo akan melakukan pidato mengenai hasil Quick Count hari ini. Entah dia unggul, ataupun kalah dari Paslon lain.Jadi disinilah ia, menunggu kabar dari pihak Pak Prasetyo tentang kapan ia akan melakukan pidato tersebut sambil memantau proses Quick Count yang membosankan dan mendengarkan celotehan kesal Donny di sampingnya yang sepertinya sedang kesulitan memenangkan game nya.Ia memeriksa jam tangannya dan waktu menunjukkan pukul lima sore, waktu berjalan sangat lama dan membosankan. Valen mengerang kesal dan keluar dari mobil untuk mencari udara segar, meninggalkan Donny sendirian yang sepertinya tidak peduli kemana Va
Valen terbangun dari tidurnya saat alarm dari ponselnya mulai berbunyi, ia mengerang dan mengambil ponselnya untuk mematikan alarm dan memeriksa jam. Waktu menunjukkan pukul lima pagi dan Valen meletakkan kembali ponselnya di meja samping tempat tidurnya, ia berbaring telentang dan menatap langit-langit kamar.Damn.. I'm 30 now....Valen merenung tentang dirinya yang hari ini bertambah usia, 14 Februari boleh dibilang bukanlah hari favorit Valen. Banyak orang berkata hari ulang tahun membawa kebahagiaan bagi mereka, tapi sepertinya tidak dengan Valen. Hari ulang tahun nya selama ini sama saja seperti hari biasanya, bedanya mungkin di hari itu ia akan makan bersama teman-temannya dan terkadang mereka juga membelikan Valen kue ulang tahun. Setelah itu mereka akan meminta Valen untuk berdoa dan meminta sesuatu yang ia inginkan, yang menurut Valen sampai sekarang keinginannya belum terwujud. Well.. entah belum terwujud atau memang Valen yang tidak ingin mewujudkannya.Jadi apa keinginan V
Setelah selesai membeli tiket dan akhirnya film pun akan segera dimulai, Valen dan yang lainnya pun memasuki teater yang tertulis di tiket dan segera menuju kursi masing-masing. Valen memang memilih kursi di paling tengah, mereka duduk di urutan Donny di paling kiri, Sarah, Valen, Teddy, dan dua orang aneh yang sedari tadi mengikuti mereka, Rizki dan Aji yang kini sibuk berebut Popcorn dan minum. Teddy menegur mereka dan mereka pun akhirnya diam, Valen menggeleng heran melihat mereka berdua yang biasanya selalu serius dan tegas saat bertugas ternyata hanyalah anak kecil dibalik semua itu.Film pun dimulai dan mereka mulai menonton dengan serius. Film ini bergenre horor komedi yang cukup ringan untuk disimak, beberapa kali Valen dan yang lainnya dibuat tertawa dengan lelucon yang disampaikan. Valen melirik Teddy yang sedang tertawa dengan mata yang masih terfokus pada layar, tapi tak lama Teddy melirik ke arah Valen dan memandangnya dengan heran. Valen menggeleng pelan dan kembali foku
Akhirnya... hari tenang.Valen meregangkan badannya di tempat tidurnya dengan suasana hati yang bagus, ia melihat jam dinding dan waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Akhirnya selama tiga bulan yang sibuk, masa tenang pun tiba. Sebelum hari pemungutan suara yang akan di gelar 14 Februari nanti -tepa
Teddy menatap layar ponsel Rizki dengan seksama, pikirannya berkecamuk. Untuk apa dia melakukan ini? Bukankah dia sudah mendapatkan apa yang dia mau?Teddy mengembalikan ponsel Rizki dan menghela nafas pelan, Donny yang sedari tadi tidak diberitahu siapa sebenarnya yang mereka maksud pun mulai gemas.
Dua hari berlalu semenjak kejadian itu, kejadian yang merubah hubungan Valen dan Teddy secara instan. Sejak kejadian itu, Teddy sama sekali tidak menghubungi Valen. Teddy bahkan tidak meninggalkan pesan, tidak menelpon, dan Valen rasa ia bahkan tidak peduli dengan keadaan Valen.Hari ini, Valen dan D
Setelah Teddy meninggalkan kantornya, Valen pun memasuki kantornya seperti biasa. Ia berjalan agak cepat karena takut akan terlambat, ia melirik jam tangan dan waktu menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit. Valen lalu masuk ke lift dan menunggu untuk sampai di lantai yang ia maksud.Valen m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.