Share

Bab 18. Janji Yang Menjerat

Author: Min Ye-Rin
last update publish date: 2026-09-09 20:30:58
Lucien berdiri di ambang pintu. Kedua tangannya terlipat di depan dada, dengan mata yang masih memperhatikan Helena yang sedang berkemas.

“Yakin mau pulang malam ini?” pertanyaan itu berhasil membuat Helena mendongak. “Aku tidak melarang, hanya saja… setiap kamu pulang, kamu selalu mendapat luka-luka baru.”

Helena menggigit bibir bawahnya. Dia tidak menjawab, lebih tepatnya tidak memiliki jawaban. Karena sejujurnya, dia juga tidak ingin kembali bertemu Matteo.

Melihat Helena yang tampak ber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 95. Lucien, kamu gila?

    “A-AH….” Tubuh Helena gemetar. Tangan yang semula memegang milik Lucien, kini sudah meremas sofa. Dadanya membusung menyambut klimaks keduanya. Lucien menuntun Helena untuk berbalik menghadapnya. Buah dada yang menggantung di depan wajah, langsung ia sambut lembut dengan mulut dan juga tangannya.Mata pria itu semakin berkilat melihat wajah Helena yang bergairah dan terengah. Dia menarik darinya, lalu duduk. Membuat Helena ikut duduk di atas pangkuannya. “Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Helena serak. Matanya yang sayu hanya bisa pasrah memperhatikan Lucien yang sudah menuntunnya untuk berjalan menuju tangga. Lucien menyandarkan Helena ke tiang tangga, kedua tangan wanita itu sudah diikat dengan dasi ke belakang. Wajah mereka kini saling berhadapan. Lucien mencium bibir Helena sebentar, lalu tersenyum. “Kita akan mencoba hal baru, sayang…” katanya, lalu mengangkat satu kaki Helena lalu diletakkannya di atas pundak. Tubuh Helena mengejang ketika jemari kekar Lucien meraba mil

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 94. Milikku Merindukanmu

    Ada sekitar satu jam keheningan menyelimuti keduanya. Baik Lucien ataupun Helena masih saja sibuk dengan isi kepala mereka, sampai akhirnya dering ponsel Lucien berhasil membuat Helena mengerjap dan menjauhkan diri dari dada pria itu. “Apa kamu mau melihatnya?” tanya Lucien, melirik Helena yang terlihat penasaran dengan isi pesan yang baru saja dia dapatkan. Helena menatap Lucien sebentar. Ragu, tapi dia juga penasaran. Dan akhirnya mengangguk pelan. Lucien mengarahkan layar ponselnya pada Helena. Benda pipih itu menampilkan sebuah rekaman dengan suasana yang cukup gelap, tidak banyak yang terlihat. Hanya ada semak-semak tinggi, dan suara yang berhasil membuat Helena membelalakkan matanya. “Itu suara Deren,” kata Lucien, tangannya membelai puncak kepala Helena, membuat wanita itu mendongak menatapnya. “Anak buahku sudah bisa mengamankannya. Setidaknya sekarang dia tidak akan banyak bicara.”Helena mengerjap pelan. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tenggorokannya sudah lebih dulu terc

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 93. Hanya Masalalu

    Tawa hambar dari Deren membuat Helena dan Lucien menoleh ke arahnya. “Jadi kalian menjalin hubungan dengan kebohongan?” tanya Deren rendah. Lucien sudah mengepalkan kedua tangannya. Tapi dia masih menahan diri, dia lebih memilih menahan diri. “Baiklah. Selesaikan saja prahara rumah tangga yang tidak jelas ini. Aku akan menunggu keputusanmu secepatnya.” Deren mengangkat kedua bahunya, kemudian pergi. Setelah kepergian itu, momen dingin diantara Lucien dan Helena terasa semakin mencekam. Helena tidak bergerak, dia masih menatap kosong ke depan, berusaha mencerna kenyataan baru yang dia dengar. Helena bersimpuh di atas lantai marmer. Dia teringat tentang ucapan Ayah Lucien lima tahun lalu, saat pemakanan Adrian sudah selesai. Ancaman yang selama bertahun-tahun tidak memiliki alasan, kini mulai mendapat titik terang. “Kenapa kamu tidak bicara masalah ini padaku?” tanya Helena, suaranya serak menahan sesak. “Aku sudah bilang, jangan ada lagi yang kamu sembunyikan. Ini masalah besar,

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 92. Kedatangan Deren

    Tangan Lucien menyentuh dada Helena, meremasnya pelan, sambil sesekali mencubitnya. Helena yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Lucien hanya terkekeh ringan. “Hey, kita sudah melakukannya tadi,” katanya menggoda. “Kita tidak mungkin melakukannya lagi.”Lucien tidak menjawab. Dia justru mencium dan menghisap leher jenjang Helena, membuat wanita itu mendesah halus. “Aku tidak akan pernah bosan melakukannya denganmu, sayang…” katanya berbisik. Tangan Lucien menyentuh bekas merah di leher Helena yang baru saja dia tinggalkan. “Sudah cukup,” kata Helena pelan. Dia berbalik badan menatap Lucien, membelai rahang tegas pria itu, lalu mengecup bibirnya singkat. “Aku mau mandi, dan tidur. Hari ini begitu melelahkan. Aku tidak bertenaga untuk melakukannya.” Ada raut kecewa di wajah Lucien, dan itu berhasil membuat Helena ikut merasa bersalah. Helena menjatuhkan wajahnya di dada Lucien, melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu. “Aku lelah…” rengeknya pelan. Lucien tidak menjaw

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 91. Setelah Tekanan

    Selepas pertemuan itu, baik Lucien atau Helena tidak ada yang bergerak. Mereka sama-sama sibuk dengan isi kepala masing-masing. Hanya suara ponsel Lucien yang membuat keduanya mengerjap pelan. “Siapa?” tanya Helena, nyaris tanpa suara. Dia menatap ponsel di tangan Lucien. “Anak buahku,” katanya. “Mereka sudah mengamankan Deren.” Hening menyapa kembali. Helena memejamkan matanya sebentar, lalu menatap lurus kedepan. “Apa yang akan kamu lakukan pada Deren? Dia sepupumu, Lucien,” kata Helena serak, ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi di kantor. “Kalau kamu menghukumnya, kamu pasti akan mendapatkan masalah baru dari keluargamu—”“Aku tidak peduli,” potong Lucien. Pria itu berdiri, lalu merapikan jasnya. “Orang yang bersalah, tetap harus dihukum. Sekalipun itu keluarga, dia tetap harus menerima konsekuensi dari semua yang dia lakukan.”Helena menunduk sebentar, lalu kembali menatap Lucien dalam. “Iya, tapi jangan gegabah. Kamu dikuasai emosi, sekarang,” ujar Helena pelan. Pri

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 90. Ketegangan

    “Aku sudah mengatur waktunya,” kata Helena. Dia tersenyum, tangannya membelai pipi Lucien. “Kita akan bertemu mereka nanti malam.”Lucien tidak banyak bicara. Dia hanya mengangguk, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Helena. “Kamu banyak berubah, sayang…” bisiknya pelan. “Kamu lebih berani dan percaya diri. Aku sangat menyukainya.”Helena diam. Tatapannya lurus kedepan. Bukan karena dia berani, jantungnya justru sudah berdegup kencang. Hanya saja, dia memang harus melakukan itu. Dia tidak bisa membiarkan Lucien terus menanggung masalah karena kecerobohannya. “Itulah tugas sekretaris,” kata Helena, membuat Lucien mendongak menatapnya dengan mata merah. “Dan tugas orang yang sangat menyayangimu,” lanjutnya. Helena menepuk pundak Lucien, lalu melepaskan tangan pria itu dari pinggangnya. “Aku akan menyiapkan proposal itu,” kata Helena. “Aku kenal setiap detailnya lebih baik dari siapapun di timmu. Kalau kita harus meyakinkan investor itu untuk kembali, aku bisa membantu menje

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status