공유

Bab 19. Siasat Matteo

작가: Min Ye-Rin
last update 게시일: 2026-09-10 15:43:59

Helena menatap pintu apartemennya yang begitu tenang. Perlahan, dia membuka pintu itu. Ruangan masih gelap, tapi telinganya menangkap suara-suara aneh dari arah dapur. Wanita itu masuk dan sedikit berlari.

“Matteo,” gumamnya, ketika melihat Matteo yang sibuk di depan kompor, lengkap dengan apron yang melekat di tubuhnya. “Kamu lagi ngapain?”

Mata Helena turun pada panci kaca yang sudah mengepul di atas tungku. Namun belum selesai dengan rasa terkejutnya, dia melihat senyum di wajah Matteo.

Ma
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 118. Kediaman Dubois

    Setelah Roy pergi, Helena dan Lucien masih duduk tanpa suara. Sibuk dengan pikiran masing-masing.Lucien masih menatap alamat yang tertera di layar tablet. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya, membuat Helena yang duduk di sampingnya melirik dengan bingung.“Ada apa? Senyummu tidak menunjukkan kalau ini sesuatu yang lucu,” kata Helena. Matanya menyipit, tubuhnya sedikit condong ke depan.Lucien mematikan layar tablet, lalu meletakkannya di atas meja.Perlahan pria itu menoleh pada Helena. “Tidak. Aku hanya tidak menyangka keluarga Dubois akan memilih rumah mereka sendiri sebagai tempat pertemuan.”Helena mengerutkan kening. “Apa ada yang salah dengan itu?”“Bukan salah.” Lucien bersandar santai. “Aku hanya penasaran, apa mereka benar-benar ingin menyelesaikan masalah ini atau justru sedang menyiapkan sesuatu untuk menyambutku.”Suasana kembali hening. Helena yang semula sedikit membungkuk kini duduk lebih tegap. “Apa maksudmu?”Lucien mengulas senyum tipis. Dia mengusap pipi Helena

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 117. Aku ingin menikahinya

    Helena menggenggam tangan Lucien erat-erat saat mereka mencapai anak tangga terakhir. Matanya melirik Roy. Pria tua itu sudah duduk dengan tatapan fokus pada layar tabletnya.“Tenang saja. Aku ada di sini bersamamu.” Lucien mempererat genggamannya. Lalu kembali berjalan. Roy mendongak ketika langkah mereka semakin dekat. Keningnya berkerut melihat Lucien yang menggenggam tangan Helena. “Duduklah,” katanya. “Lepaskan saja tangannya. Lagipula dia tidak akan hilang.Lucien melirik ayahnya sekilas, tapi dia sama sekali tidak berniat melepaskan genggaman tangannya. Keegoisan ayah dan anak meluap, membuat sesak ruang keluarga itu. Helena yang memang orang asing, merasa keberadaannya hanya mengganggu. “A-aku akan pulan,” kata Helena, tapi Lucien segeran menariknya duduk kembali.Pria itu menyipit menatap Helena. “Tidak perlu. Kalau pembicaraan ini selesai, aku baru mengantarmu pulang.”Helena mengerutkan keningnya. Memberi isyarat pada Lucien untuk tidak lagi memancing emosi ayahnya. N

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 116. Pemuas Nafsu?

    “Atau kamu hanya menjadikan wanita itu sebagai pemuas nafsumu saja?”Pemuas nafsu? Selama ini Helena berusaha menepis pikiran itu dari kepalanya, tapi kali ini Roy justru mengingatkannya kembali pada semua yang telah Lucien lakukan. Pria itu seolah sedang bereksperimen dari semua imajinasi liarnya. Helena tahu itu gila, tapi yang membuatnya terlihat lebih gila adalah, dia juga menikmati itu.“Kamu tidak bisa menjawabnya, Lucien?” tanya Roy lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih tenang. “Ekspresimu terlihat ambigu, antara mengakuinya atau kamu takut jawabanmu akan membuat dia terluka.”Roy mendekat, lalu berbisik tepat di telinga Lucien. “Kamu putraku, dan aku tahu apa yang ada di pikiranmu.”Rahang Lucien terkatup erat. Matanya menyipit menatap Roy, tapi tak ada satu katapun yang terucap. Kamar itu terasa semakin sesak. Helena yang semula menunduk, perlahan menatap kedua pria yang masih sama-sama diam. Helena bisa melihat tangan Lucien yang sudah terkepal di sisi tubuh. Tapi dia ti

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 115. Ketahuan

    “M-melakukannya?” tanya Helena. Suaranya tercekat. Pupilnya menyusut menatap kakinya yang sudah mengangkang tertahan tuas borgol. Pria itu mengangguk pelan. Ia menatap Helena lekat-lekat. “Boleh?”Helena tidak menjawab. Dia tidak mungkin menolak, karena rasa penasaran juga sudah membuat hatinya gelisah.Diamnya Helena menjadi persetujuan bagi Lucien. Lucien memanjangkan tuas borgol itu, lalu membalikkan tubuh Helena. Wanita itu memekik. Bukan karena sakit, tapi oleh rasa terkejut yang hampir membuat jantungnya copot. “Lucien, apa sebenarnya yang kamu pikirkan?” keluh Helena. Kini wanita itu sudah tidur tengkurap. Belum puas dengan aksinya, Lucien menuntun Helena untuk menungging. Pria itu menyentuh milik Helena dari belakang. “Emmhh…” Helena membenamkan wajahnya di bantal dengan tangan yang sudah meremas sprei. Merasakan tangan Lucien bergerak maju mundur di bawah sana. “Aku akan masukkan sekarang,” kata Lucien, saat Helena hampir mencapai puncaknya. Wanita itu hanya mengangg

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 114. Mainan Baru

    “Lucien, ah…” desah Helena. Helena mencengkeram bahu pria itu, berusaha menyesuaikan diri dengan kedekatan mereka. Matanya perlahan terbuka, lalu bertemu dengan tatapan Lucien yang begitu dekat. Walau belum sepenuhnya masuk, Helena sudah merasakan miliknya terasa penuh dan membengkak di bawah sana. Lucien bertumpu pada kedua tangannya, dia sedikit membungkuk, lalu mencium bibir Helena dan menekan miliknya lebih dalam. Tubuh Helena menggelinjang. “Penuh,” rancaunya. Tangannya meremas punggung Lucien, seolah meluapkan semua hasratnya di sana. “Tenanglah. Kali ini aku akan melakukannya dengan perlahan,” bisik Lucien, membuat Helena kembali membuka matanya. Wanita itu tersenyum, dia membuka mulutnya sedikit, menuntun Lucien untuk kembali menciumnya. Lucien menjaga ritmenya tetap tenang. Sesekali, tatapan mereka bertemu, seolah keduanya sedang berusaha mengingat kembali kedekatan yang sempat terenggut oleh berbagai masalah.Lucien menengadah, merasakan setiap pijatan Helena yang jus

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 113. Milik Anda Tuan Sincalir

    Lucien menangkup wajah Helena. Menatap mata coklat itu dalam. “Jangan di sini,” bisik Lucien akhirnya. Lucien menggendong Helena untuk naik ke lantai dua. Langkahnya tergesa, seolah tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Helena spontan melingkarkan kedua tangannya di leher Lucien, menyembunyikan wajahnya yang sudah merah di lekuk leher pria itu. “Tidak perlu berlari, aku tidak akan kabur,” kata Helena. Lucien terkekeh rendah. Dia sedikit menunduk, mengecup kening Helena sebentar. “Aku tahu. Tapi aku sudah terlalu lama menahan diri untuk tidak memelukmu seperti ini.”Helena mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu, membuat kalimat yang semula ingin dia ucapkan lenyap begitu saja. Sesampainya di lantai dua, Lucien membawa Helena ke kamar, lalu membaringkannya dengan hati-hati di atas ranjang. Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap.“Aku benar-benar merindukanmu,” bisik Helena. Ia menyentuh pipi Lucien, mengusap rahang tegas itu.Mendengar Helena berkata seperti itu, senyum

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status