Mag-log inHelena membiarkan kerinduan yang selama ini mereka pendam menemukan jalannya. Namun, ketika Lucien mulai menariknya semakin dekat, wanita itu teringat bahwa mereka masih berada di lorong yang bisa dilewati siapa saja.“Lucien, jangan. Kita tidak bisa melakukan ini di sini—”Helena menahan bahu pria itu, berusaha mengingatkannya pada keadaan sekitar. Namun, tatapan Lucien membuat kalimat berikutnya tertahan di ujung lidahnya.“Lucien,” desah Helena. “Aku menginginkanmu…” Lucien melepaskan pelukannya. Matanya mengunci tatapan Helena. Tangannya membelai lembut pipi wanita itu yang sudah memerah. “Aku juga menginginkanmu, sayang,” katanya serak. Lucien melirik mobilnya yang terparkir di ujung garasi. Ia kembali menatap Helena, seolah menunggu keputusan wanita itu.“Ikut aku,” ujarnya sambil mengulurkan tangan.Helena memandang tangan itu sejenak sebelum menyambutnya. Ia tahu keputusan tersebut bisa membawa konsekuensi, tapi ada begitu banyak hal di antara mereka yang belum sempat dibica
Belum sempat Lucien menjawab, Roy sudah berlalu pergi. Dia berjalan tegas menuju ruang kerjanya yang ada di lantai dua. Lucien masih memperhatikan tanpa melepaskan pelukannya. Barulah saat mendengar suara pintu tertutup, pelukannya yang semua rapat kini langsung mengendur. Helena meraup napas sebanyak yang dia bisa, lalu mendongak menatap Lucien. “Kenapa kamu melawan ayahmu?” suara Helena yang lirih membuat Lucien menunduk menatapnya. Wanita itu sudah kembali menangis. Pria itu menangkup wajah Helena, menghapus air matanya dengan ibu jari. “Aku lebih memilih melawannya daripada aku harus kehilanganmu,” katanya. Pria itu tersenyum, lalu mengecup kening Helena. Ekspresi Lucien tidak lagi terlihat tegang seperti ketika berhadapan dengan Roy. “Dan kamu sudah membuatku marah, Helena,” katanya. Kedua alisnya saling bertaut, tapi wajahnya masih mengulas senyum. Dia menempelkan keningnya dengan kening Helena. “Kamu menyakitiku karena sudah mengusirku dari hidupmu.”Helena berkedip ringan
Helena masih menatap wajah Lucien yang begitu tegang. Tangannya yang gemetar sedikit menarik ujung kemeja Lucien sampai membuat pria itu tersentak lalu menoleh padanya.“Bukan apa-apa. Kamu tenang saja,” kata Lucien, seolah menjawab pertanyaan hanya dari sorot mata Helena saja. “Aku akan melindungimu. Itu janjiku.”Pria itu membelai pipi Helena, sebelum akhirnya kembali menatap sang ayah. “Aku akan melepaskan Deren,” katanya. “Dan karena ini masalahku, biar aku sendiri yang menyelesaikannya.” Roy tidak menjawab. Dia berjalan menuju sofa, lalu duduk dengan kedua tangan terlentang di sandaran sofa. Matanya masih memperhatikan Lucien dan Helena silih berganti. “Itu memang sudah seharusnya,” ujar Roy datar. “Kami juga tahu bagaimana Sinclair membersihkan pengacau. Jangan pernah membuang waktu lagi. Aku tidak suka bermain-main.”Helena bisa merasakan Lucien menahan napasnya. Bahkan genggaman tangan pria itu kian menguat, seolah memberi tahu kalau ini bukan hanya sekedar peringatan biasa
“Jangan pernah berani menyentuhnya.” Lucien menegakkan tubuhnya. Napasnya terengah dengan pupil menggelap. Dia menoleh kepada Helena. Wajah wanita itu pucat, matanya dipenuhi ketakutan. Rahang Lucien mengeras. Tanpa membuang waktu, dia segera menghampiri Helena dan berdiri tepat di depannya, melindungi wanita itu dengan tubuhnya.Roy Sinclair masih dengan ekspresi dinginnya. “Jadi benar dia yang membuatmu kehilangan akal sehatmu itu, Lucien?” tanya Roy. Dia memiringkan wajah, menatap sang putra tak percaya. Lucien menarik napas panjang. Genggaman tangannya di tangan Helena mengencang. “Bukan salahnya. Aku yang memilihnya,” kata Lucien. “Aku mencintainya, Ayah.” Roy tertawa, tapi matanya sudah menyipit tajam sampai akhirnya rahanganya kembali mengeras. Dia maju selangkah, menyentuh pundak Lucien. “Ayah tidak pernah bermain-main, Lucien. Kamu tahu itu,” katanya datar. “Berhenti membahas cinta, dan kembali ke posisimu sekarang.” Di belakang, Helena bisa merasakan tangan Lucien yang
Dua hari setelah kejadian itu, akhirnya Helena memutuskan untuk kembali bekerja. Dia tidak bisa terus dia dan menghindari Lucien seperti ini. “Helena.” Suara Eve menyambutnya tepat ketika pintu apartemennya terbuka. Wanita itu terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu. Helena berusaha mengulas senyum. “Iya,” katanya singkat, mengunci pintu sambil menarik napas panjang. “Maafin aku,” kata Eve lagi. Namun Helena belum menoleh. Matanya yang kembali panas, menatap pintu, nanar.“Sudah lah. Semua sudah berlalu. Aku sudah terbiasa dengan semua ini.” Helena berbalik, menatap Eve, lalu mengulas senyum simpul. Sedikit dipaksakan. U“Aku harus bekerja. Kita akan bicara lain waktu.” Helena segera pergi, tanpa memberi kesempatan Eve untuk menjawabnya.Langkahnya tergesa sambil sesekali menoleh ke belakang, seolah takut kalau Eve mengikutinya lebih jauh. “Tidak, Helena. Dia tidak akan mengejarmu sampai sejauh ini,” gumam Helena. Dia memejamkan mata sesaat, lalu menatap mentari yang
Sudut mata Helena berkedut. Tangannya meremas pinggiran meja tanpa sadar. Lagi-lagi ada yang mengancam hidupnya. “Mata-mata?” tanya Helena, suara serak dan berat. “Ayahmu sampai mengirim mata-mata untukku?” Tubuh Helena luruh ke lantai. Dia menyandarkan kening ke lemari es, berusaha menenangkan diri meski rasa sesak dan kebingungan terus menghimpit dadanya.Lucien berjongkok di sampingnya. Tangannya membelai puncak kepala Helena. “Aku tidak tahu kenapa. Dan sampai aku tahu alasannya, aku berjanji tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku akan menjagamu, Helena.” Helena langsung menegakkan tubuhnya. Dia menoleh pada Lucien dengan mata menyipit. “Ayahmu tidak menyukaiku, Lucien,” katanya. “Berhenti memberi harapan yang kamu sendiri ragu untuk memberikannya.” Helena mendorong Lucien untuk menjauh darinya. “Setelah lepas dari Matteo, aku hanya ingin menjalani hidup biasa. Dengan cinta biasa, dan masalah yang sewajarnya.”Wanita itu memejamkan matanya yang mulai mengabur. Matanya kembal







