Share

Bab 7. Ancaman Lucien

Penulis: Min Ye-Rin
last update Tanggal publikasi: 2026-08-28 15:20:31

“Katakan siapa dia, Helena.”

Lucien menggoyangkan bahu Helena pelan, sampai membuat gadis itu mengerjap dari lamunannya. Dia menoleh dengan tatapan yang sulit lepas dari mata Matteo yang kini sudah menatapnya dari kejauhan.

“Di-dia—” Mulut Helena sudah terbuka, tapi tak ada satu katapun yang terucap. Matteo sudah berjalan cepat ke arah mereka dan membiarkan Yasmin pergi lebih dulu.

Gawat. Matteo memergokinya di depan tempat kerja barunya.

Helena buru-buru melangkah mundur. Meremas rok spannya dengan tangan gemetar. Ia langsung berlari, tapi Matteo sudah meraih pergelangan tangan dan menariknya.

“Dasar murahan! Apa yang kamu lakukan dengan pria asing ini, Helena Ricci?! Tidak tahu malu. Kamu—”

Pupil Lucien menggelap. Tangannya sudah terkepal, tapi dia masih berusaha untuk menahan amarahnya. Ia segera meraih bahu Matteo dan menariknya menjauh dari Helena.

“Apa yang kau lakukan, bersikap kasar pada wanita seperti itu?” desis Lucien.

Matteo menepis tangan Lucien dan mendecih. “Jadi kau, selingkuhannya?”

“Dia bosku!” potong Helena cepat. Ia langsung berdiri di sisi Matteo. Tangannya yang semula gemetar langsung mencengkram lengannya demi membujuknya.

“Dia bosku, Matteo. Aku tidak pernah melakukan apapun yang ada di dalam pikiranmu. Dan berhentilah membuat malu.” Helena menarik tangan Matteo untuk sedikit menjauh. “Kita bicarakan ini di rumah saja.”

Bagaimana pun, ia baru kerja di sini. Ia tidak mau membuat ribut di depan kantor, apalagi di hadapan bosnya sendiri.

Namun, belum sempat Helena melangkah, Matteo sudah lebih dulu mendorongnya dengan kasar.

Helena terjatuh tepat di bawah kaki Lucien. Pria itu terdiam, menatap Helena yang tersungkur, lalu melirik Matteo dengan tatapan dingin.

“Aku benci melihatmu seperti ini, Helena. Meninggikan suaramu, seolah kamu berani melawanku.” Matteo berjongkok, tangannya terulur ke arah rambut Helena, hendak menjambaknya seperti biasa. “Kamu pikir, kamu bisa seenaknya bermain di belakangku—AHH!”

Kalimat Matteo terputus ketika sebuah tangan dingin dan kekar, memelintir lengannya, lalu mendorongnya hingga terjerembab.

“Berani menyentuhnya sekali lagi, saya akan memastikan kamu tidak akan bisa menggunakan tangan itu lagi.” Lucien menatap Matteo dingin, lalu membantu Helena untuk kembali berdiri.

Matteo meludah kasar. Bukannya sadar diri, ia malah merasa egonya tersentil oleh pria lain yang lebih kuat. Dia bangun dengan tergesa, lalu menarik kerah baju Lucien penuh amarah.

“Siapa kamu berani mengancamku?” tanya Matteo sinis.

Lucien tidak menjawab. Matanya melirik sekilas tangan Helena yang sudah menariknya. Keningnya berkerut melihat wajah Helena yang penuh permohonan. Wanita itu memberinya sinyal agar tidak melanjutkan keributan ini lagi.

“Saya tidak akan memperkenalkan diri pada seorang bajingan yang berani menyakiti wanita di depan umum,” ujar Lucien dingin.

“Yang jelas, kamu harus tahu, kalau saya bisa membuatmu hilang bahkan tanpa menyentuhmu sedikitpun.”

Matteo tersenyum sinis. Kepalanya sedikit miring ke samping, melirik Helena yang gemetar di belakang Lucien.

“Lucien, cukup… kumohon,” Helena menariknya lagi, mencoba memisahkan Lucein dari Matteo, tapi pria itu tidak bergeming. Matanya masih menatap Matteo seolah menatap mangsa.

“Kamu dengar itu? Dia bahkan masih mau memohon untukmu, padahal kamu sudah mempermalukannya seperti itu.” Lucien menghempaskan tubuh Matteo hingga kembali membentur aspal.

“Cih!” Matteo menyibak rambutnya kasar. “Kamu pikir, kamu siapa? Helena jelas membelaku. Dia itu milikku, sampai kapanpun akan tetap menjadi milikku. Tanpa aku, dia tidak akan menjadi apa-apa!”

“Tutup mulutmu, sebelum saya yang menutupnya secara paksa,” potong Lucien.

Pria itu lalu menatap Helena, kemudian menghembuskan napas yang terdengar frustasi. Hembusan napasnya yang kasar berhasil membuat Helena dipenuhi rasa bersalah.

Helena menangkapnya sebagai ekspresi kecewa.

Tentu saja, pikir Helena pedih. Seorang wanita yang masih membela laki-laki yang menyakitinya pasti terlihat begitu menyedihkan. Tapi Helena tidak bisa menyalahkan Lucien. Pria itu tidak mengerti hal apa saja yang sudah ia lalui.

“Saya tidak peduli hubungan apa yang sedang kalian jalani. Tapi mulai sekarang, kalau kamu berani menyentuhnya, bukan cuma tanganmu yang akan bermasalah, reputasimu juga akan ikut hancur.” Lucien menegaskan.

Matteo mengepalkan kedua tangannya. Dadanya turun naik dengan cepat. Namun tatapannya menyusut saat tangan Lucien kembali menarik pergelangan tangan Helena dengan lembut ke arah mobilnya.

“Ayo, saya yang akan mengantarmu pulang,” ujar Lucien, tanpa memberi waktu untuk membantah.

Keduanya sudah pergi, menyisakan Matteo yang masih dibakar api amarah.

“Helena! Aku tidak akan membiarkanmu memperlakukanku seperti ini! Tidak akan pernah!”

Suara Matteo teredam oleh kabin mobil yang sudah tertutup sempurna. Helena menarik napas dengan susah payah. Dia menggigit bibir, sesekali melirik Matteo di luaar dari kaca spion.

“Tidak perlu takut, sekalipun dia kekasihmu, dia tidak berhak melakukan kekerasan ini, Helena,” ujar Lucien.

Helena melirik Lucien yang ternyata sudah menatapnya lebih dulu. Kekasih? Kata itu bagai duri yang langsung menancap di dadanya. Seolah mengingatkan dia atas keputusan bodoh yang sudah diambil empat tahun yang lalu.

Tangannya saling meremas di atas pangkuan. Air matanya kembali mengalir dengan isak tangis yang mengiris.

“Dia… dia suamiku...”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Yudatriana
Sudah habis bab nya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 122. Apa Aku Harus Membantunya?

    Suasana semakin ricuh.Tubuh Helena gemetar. Dia terus berusaha menjauhkan diri dari Deren. Helena mengangkat dagunya, menatap Lucien yang masih diam dengan mata menyipit ke arah Deren. Ia tidak mengerti kenapa Lucien justru menikmati kejadian itu, alih-alih cepat menolongnya. Namun tak lama, dua pengawal datang, lalu menarik Deren menjauh. “Siapa lagi yang menyuruhmu kali ini?” tanya Lucien dingin. Telunjuknya menuntun wajah Deren untuk menatapnya. “Bukankah urusan kita sudah selesai? Drama apalagi yang sedang kamu mainkan?” Deren tidak langsung menjawab. Matanya gelisah menatap dua pengawal di sampingnya. “Lucien, tolong! Jangan seperti ini. Aku tidak mau jauh dari putriku!” Suaranya pecah, bergetar. Orang yang mendengar, mustahil tidak merasakan kegelisahan yang Deren rasakan.Dengan susah payah, Deren menangkup kedua tangan di depan wajahnya. “Aku tidak peduli kalau aku tidak bisa kembali padanya, tapi ku mohon… bantu aku mengambil hak asuh putriku,” ujar Deren lirih. Pri

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 122. Helena Ampuni Aku

    Suasana berubah menjadi lebih tegang. Lucien mundur dua langkah, membuat jarak antara dirinya dengan sang ayah. Roy mengulas senyum. “Bereskan semua kekacauan yang sudah kamu buat selama kamu berhubungan dengan dia, Lucien.”Mata Roy yang gelap melirik Helena yang kini sudah menegang. “Kalau memang dia calon menantuku, setidaknya dia harus bersih dari masalah. “ Pria tua itu merapikan bajunya. “Urus juga mantan suaminya yang terus berteriak minta dibebaskan.” Roy beranjak pergi. Tidak peduli dengan apa yang dia tinggalkan akibat ucapannya barusan. Mendengar kata Matteo, Helena refleks meremas jemarinya. Dadanya menegang. Matanya menatap punggung Lucien yang lebar. “Benar kata ayahmu,” ujar Helena. “Lebih baik, kita serahkan Matteo pada pihak yang berwajib. Dikurung di sana, hanya akan membawa masalah baru.”Lucien tidak langsung menjawab. Namun, pundak yang semula tegang, perlahan merosot. Dia berbalik badan, menatap Helena dengan senyum yang kembali dipaksakan. “Tentu saja. An

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 121. Syarat?

    ‘Aku sudah membatalkan semuanya, Lucien. Proyek itu, semuanya sudah selesai. Tapi kerugian kita tidak bisa tertutup.’“Lucien.” Helena menepuk pundak Lucien yang sejak pertama masuk mobil hanya melamun.Suara Adrian yang sejak tadi memenuhi kepala Lucien, langsung hilang. Pria itu menoleh pada Helena, lalu mengulas senyum tipis.“Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa masalah Novara yang mengatur pertemuan kita lagi?” tanya Helena. Ia sedikit memajukan tubuhnya untuk bisa menatap Lucien lebih dekat. Namun pria itu masih saja diam. Sorot matanya yang selalu tajam, kini berubah menjadi lebih sendu. Helena menyentuh pipi Lucien. “Kamu bisa menceritakan semuanya padaku. Aku bukan orang lain untukmu, kan?” tanya Helena lagi. Lucien menghela napas panjang. Ia mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudi. Matanya terpejam beberapa saat, sebelum akhirnya menoleh untuk kembali menatap Helena. “Ini bukan urusan yang harus kamu khawatirkan,” katanya. Suaranya pelan, nyaris tak terdeng

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 120. Kita Atur Pertemuan Lagi

    Suara tepuk tangan Lucien membuat perdebatan itu berhenti dalam sekejap. Semua mata kini tertuju padanya. Pria itu mengulas senyum tipis. “Sepertinya ada perdebatan yang tidak seharusnya saya dengar,” kata Lucien. Dia mengulurkan tangannya pada Helena. Wanita itu tidak langsung menyambut uluran tangan Lucien. Keningnya berkerut, seolah bertanya apa lagi yang akan dilakukan pria itu kali ini. “Tapi yang jelas, Sinclair sudah memutus semua hubungan dengan Dubois, Tuan Jordi. Entah itu urusan bisnis, atau perjodohan.”Jordi langsung duduk lemas. Wajah tegangnya semakin pucat. Napasnya terdengar kasar. “Tidak,” katanya. Suaranya tercekat. Jordi perlahan mengangkat dagunya. Menatap Lucien lekat-lekat. “Tidak boleh seperti ini, Lucien. Kamu tidak bisa membatalkan semuanya secara sepihak!” Pria tua itu berdiri. Tubuhnya bergetar dan hampir ambruk. Dia bahkan menepis Tessa ketika putrinya itu hendak membantu. “Jangan sentuh aku! Lihat apa yang sudah kamu lakukan sekarang, Tessa? Semua

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 119. Jordi Dubois

    “Lucien, kenapa Yasmin dan Daniel ada di sini?” Helena menyentuh ujung jari Lucien. Namun, pria itu tidak menjawab. Tatapannya beralih kepada Jordi sebelum akhirnya melangkah mendekati mereka.“Apa kabar calon menantuku?” Jordi menyambutnya dengan uluran tangan.Lucien menerima uluran tangan itu. Namun, sebelum sempat menjawab, tatapan Jordi sudah beralih kepada Helena.Kata ‘menantu’ membuat Helena menegang. Dia semakin yakin ada yang tidak beres dari pertemuan ini. “Ini siapa?” tanya Jordi. Sebelah alisnya terangkat. “Dia calon—”“Saya sekretarisnya.” Helena memotong cepat. Suaranya serak, nyaris pecah.Lucien langsung menoleh. Keningnya berkerut saat menatap Helena, seolah tidak memahami mengapa wanita itu justru menyembunyikan hubungan mereka.“Sekretaris yang sangat dekat dengan bos, iya kan?” sahut Tessa ketus. “Sekretaris yang tidak tahu diri, dan tidak tahu dimana tempatnya.” Helena meremas tas di depan tubuh. Rahang kecilnya mengeras. Tapi dia tidak sampai menundukkan kep

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 118. Kediaman Dubois

    Setelah Roy pergi, Helena dan Lucien masih duduk tanpa suara. Sibuk dengan pikiran masing-masing.Lucien masih menatap alamat yang tertera di layar tablet. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya, membuat Helena yang duduk di sampingnya melirik dengan bingung.“Ada apa? Senyummu tidak menunjukkan kalau ini sesuatu yang lucu,” kata Helena. Matanya menyipit, tubuhnya sedikit condong ke depan.Lucien mematikan layar tablet, lalu meletakkannya di atas meja.Perlahan pria itu menoleh pada Helena. “Tidak. Aku hanya tidak menyangka keluarga Dubois akan memilih rumah mereka sendiri sebagai tempat pertemuan.”Helena mengerutkan kening. “Apa ada yang salah dengan itu?”“Bukan salah.” Lucien bersandar santai. “Aku hanya penasaran, apa mereka benar-benar ingin menyelesaikan masalah ini atau justru sedang menyiapkan sesuatu untuk menyambutku.”Suasana kembali hening. Helena yang semula sedikit membungkuk kini duduk lebih tegap. “Apa maksudmu?”Lucien mengulas senyum tipis. Dia mengusap pipi Helena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status