MasukSuasana semakin ricuh.Tubuh Helena gemetar. Dia terus berusaha menjauhkan diri dari Deren. Helena mengangkat dagunya, menatap Lucien yang masih diam dengan mata menyipit ke arah Deren. Ia tidak mengerti kenapa Lucien justru menikmati kejadian itu, alih-alih cepat menolongnya. Namun tak lama, dua pengawal datang, lalu menarik Deren menjauh. “Siapa lagi yang menyuruhmu kali ini?” tanya Lucien dingin. Telunjuknya menuntun wajah Deren untuk menatapnya. “Bukankah urusan kita sudah selesai? Drama apalagi yang sedang kamu mainkan?” Deren tidak langsung menjawab. Matanya gelisah menatap dua pengawal di sampingnya. “Lucien, tolong! Jangan seperti ini. Aku tidak mau jauh dari putriku!” Suaranya pecah, bergetar. Orang yang mendengar, mustahil tidak merasakan kegelisahan yang Deren rasakan.Dengan susah payah, Deren menangkup kedua tangan di depan wajahnya. “Aku tidak peduli kalau aku tidak bisa kembali padanya, tapi ku mohon… bantu aku mengambil hak asuh putriku,” ujar Deren lirih. Pri
Suasana berubah menjadi lebih tegang. Lucien mundur dua langkah, membuat jarak antara dirinya dengan sang ayah. Roy mengulas senyum. “Bereskan semua kekacauan yang sudah kamu buat selama kamu berhubungan dengan dia, Lucien.”Mata Roy yang gelap melirik Helena yang kini sudah menegang. “Kalau memang dia calon menantuku, setidaknya dia harus bersih dari masalah. “ Pria tua itu merapikan bajunya. “Urus juga mantan suaminya yang terus berteriak minta dibebaskan.” Roy beranjak pergi. Tidak peduli dengan apa yang dia tinggalkan akibat ucapannya barusan. Mendengar kata Matteo, Helena refleks meremas jemarinya. Dadanya menegang. Matanya menatap punggung Lucien yang lebar. “Benar kata ayahmu,” ujar Helena. “Lebih baik, kita serahkan Matteo pada pihak yang berwajib. Dikurung di sana, hanya akan membawa masalah baru.”Lucien tidak langsung menjawab. Namun, pundak yang semula tegang, perlahan merosot. Dia berbalik badan, menatap Helena dengan senyum yang kembali dipaksakan. “Tentu saja. An
‘Aku sudah membatalkan semuanya, Lucien. Proyek itu, semuanya sudah selesai. Tapi kerugian kita tidak bisa tertutup.’“Lucien.” Helena menepuk pundak Lucien yang sejak pertama masuk mobil hanya melamun.Suara Adrian yang sejak tadi memenuhi kepala Lucien, langsung hilang. Pria itu menoleh pada Helena, lalu mengulas senyum tipis.“Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa masalah Novara yang mengatur pertemuan kita lagi?” tanya Helena. Ia sedikit memajukan tubuhnya untuk bisa menatap Lucien lebih dekat. Namun pria itu masih saja diam. Sorot matanya yang selalu tajam, kini berubah menjadi lebih sendu. Helena menyentuh pipi Lucien. “Kamu bisa menceritakan semuanya padaku. Aku bukan orang lain untukmu, kan?” tanya Helena lagi. Lucien menghela napas panjang. Ia mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudi. Matanya terpejam beberapa saat, sebelum akhirnya menoleh untuk kembali menatap Helena. “Ini bukan urusan yang harus kamu khawatirkan,” katanya. Suaranya pelan, nyaris tak terdeng
Suara tepuk tangan Lucien membuat perdebatan itu berhenti dalam sekejap. Semua mata kini tertuju padanya. Pria itu mengulas senyum tipis. “Sepertinya ada perdebatan yang tidak seharusnya saya dengar,” kata Lucien. Dia mengulurkan tangannya pada Helena. Wanita itu tidak langsung menyambut uluran tangan Lucien. Keningnya berkerut, seolah bertanya apa lagi yang akan dilakukan pria itu kali ini. “Tapi yang jelas, Sinclair sudah memutus semua hubungan dengan Dubois, Tuan Jordi. Entah itu urusan bisnis, atau perjodohan.”Jordi langsung duduk lemas. Wajah tegangnya semakin pucat. Napasnya terdengar kasar. “Tidak,” katanya. Suaranya tercekat. Jordi perlahan mengangkat dagunya. Menatap Lucien lekat-lekat. “Tidak boleh seperti ini, Lucien. Kamu tidak bisa membatalkan semuanya secara sepihak!” Pria tua itu berdiri. Tubuhnya bergetar dan hampir ambruk. Dia bahkan menepis Tessa ketika putrinya itu hendak membantu. “Jangan sentuh aku! Lihat apa yang sudah kamu lakukan sekarang, Tessa? Semua
“Lucien, kenapa Yasmin dan Daniel ada di sini?” Helena menyentuh ujung jari Lucien. Namun, pria itu tidak menjawab. Tatapannya beralih kepada Jordi sebelum akhirnya melangkah mendekati mereka.“Apa kabar calon menantuku?” Jordi menyambutnya dengan uluran tangan.Lucien menerima uluran tangan itu. Namun, sebelum sempat menjawab, tatapan Jordi sudah beralih kepada Helena.Kata ‘menantu’ membuat Helena menegang. Dia semakin yakin ada yang tidak beres dari pertemuan ini. “Ini siapa?” tanya Jordi. Sebelah alisnya terangkat. “Dia calon—”“Saya sekretarisnya.” Helena memotong cepat. Suaranya serak, nyaris pecah.Lucien langsung menoleh. Keningnya berkerut saat menatap Helena, seolah tidak memahami mengapa wanita itu justru menyembunyikan hubungan mereka.“Sekretaris yang sangat dekat dengan bos, iya kan?” sahut Tessa ketus. “Sekretaris yang tidak tahu diri, dan tidak tahu dimana tempatnya.” Helena meremas tas di depan tubuh. Rahang kecilnya mengeras. Tapi dia tidak sampai menundukkan kep
Setelah Roy pergi, Helena dan Lucien masih duduk tanpa suara. Sibuk dengan pikiran masing-masing.Lucien masih menatap alamat yang tertera di layar tablet. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya, membuat Helena yang duduk di sampingnya melirik dengan bingung.“Ada apa? Senyummu tidak menunjukkan kalau ini sesuatu yang lucu,” kata Helena. Matanya menyipit, tubuhnya sedikit condong ke depan.Lucien mematikan layar tablet, lalu meletakkannya di atas meja.Perlahan pria itu menoleh pada Helena. “Tidak. Aku hanya tidak menyangka keluarga Dubois akan memilih rumah mereka sendiri sebagai tempat pertemuan.”Helena mengerutkan kening. “Apa ada yang salah dengan itu?”“Bukan salah.” Lucien bersandar santai. “Aku hanya penasaran, apa mereka benar-benar ingin menyelesaikan masalah ini atau justru sedang menyiapkan sesuatu untuk menyambutku.”Suasana kembali hening. Helena yang semula sedikit membungkuk kini duduk lebih tegap. “Apa maksudmu?”Lucien mengulas senyum tipis. Dia mengusap pipi Helena







